--- On Thu, 4/29/10, hery susanto <[email protected]> wrote:
Date: Thursday, April 29, 2010, 9:30 AM

 
MEMORI PENJELASAN MENGAPA KELUAR DARI PAN ?
 
Oleh: 
HERY SUSANTO, MSi
(KADER PAN/CALEG DPR RI PAN JAWA BARAT VIII)
 
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
 
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT serta teriring salam dan doa kita 
panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan 
hidayah-Nya kepada kita semua sehingga kita masih dapat beraktivitas dalam 
kehidupan sehari-hari.  

Di tengah-tengah kesibukan kita semua, pasca Pemilu 2009 lalu, saya yakin kita 
masih terngiang nostalgia perjuangan pemilu, banyak suka dan duka yang kita 
alami waktu itu.  Dan kini, setelah saya pernah terbitkan Mengapa Somasi, 
bersama ini saya sengaja menyusun memori penjelasan Mengapa Keluar dari PAN?

Reformasi itulah yang pernah menggelora secara nasional 11 tahun lalu dari 
Sabang sampai Merauke.  Sebuah gerakan yang diawali oleh Gerakan Mahasiswa 98 
yang menuntut perubahan total terhadap sistem kehidupan kebangsaan kita yang 
telah terpuruk secara ekonomi, sosial, politik, budaya, dan pertahanan keamanan 
bangsa.  Krisis kepercayan terhadap kepemimpinan nasional waktu itu Soeharto 
adalah biang dari seluruh krisis yang terjadi.  

Berhasilnya gerakan mahasiswa mengusung reformasi dan menurunkan Soeharto 
sebagai Presiden RI mendorong munculnya perubahan tatanan kehidupan bangsa 
meski hingga saat ini reformasi belum bisa terwujud secara total karena terus 
mencari bentuknya dalam masa transisi menuju demokrasi sejati.

Partai Amanat Nasional (PAN) yang lahir sejalan dengan momentum reformasi 
hingga akhirnya mengklaim sebagai partai reformis, di usianya yang  sudah 11 
tahun lebih ini, telah mengalami masa pasang surut selama mengikuti 3 kali 
proses pemilu.  Hingga akhirnya, saya sebagai salah satu pelaku sejarah gerakan 
reformasi 98 kontan bergabung bersama PAN yang dinilai senafas dan mampu 
menjalankan amanat reformasi.  Sebagai kader PAN, Saya pun pertama kalinya ikut 
andil dalam Pemilu 2009 sebagai Caleg DPR RI nomor urut 3, untuk daerah 
pemilihan Jawa Barat VIII yang meliputi wilayah Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon 
dan Indramayu.  

Yang mendasari saya ikut dalam Pemilu 2009 sebagai caleg PAN, adalah pertama, 
saya ingin sekali turut aktif mendorong perubahan untuk bangsa ini, bahwa 
ternyata tidak saja cukup melalui gerakan ekstra parlemen dimana saya juga 
pernah sebagai aktivis mahasiswa, sehingga saya musti memasuki gelanggang 
politik dalam parpol dan memilih PAN sebagai kendaraan politik.  Kedua, ada 5 
agenda besar bangsa yang akan saya perjuangkan melalui PAN, yakni : Memerangi 
korupsi, memerangi kemiskinan, memerangi penggangguran, memerangi ketidakadilan 
hukum dan memerangi ketergantungan terhadap luar negeri.  Dimana hal ini saya 
harapkan bisa diperjuangkan melalui PAN yang kita kenal sebagai partai reformis.

Namun, ternyata yang saya alami dalam proses pencalegan 2009 lalu bersama PAN, 
banyak yang bertolak belakang dengan penilaian idealisme yang saya anut.  PAN 
ternyata tidak konsisten menerapkan sistem suara terbanyak dan memiliki 
manajamen pemilu yang sangat rapuh.  Sistem suara terbanyak yang sejatinya 
menerapkan netralitas partai terhadap caleg-calegnya ternyata tidak ditemukan 
di PAN.  

Ada banyak keberpihakan partai terhadap caleg tertentu utamanya kepada nomor 
urut 1, yang mendapat fasilitas dari partai berupa sejumlah dana santunan, dana 
saksi partai dan dana kampanye, juga fasilitas penunjang lainnya misalnya : 
atribut partai (bendera, kaos, dll), sumbangan mobil ambulans bergambar caleg 
nomor urut 1 dari partai (meskipun patut diduga tidak ber-STNK alias bodong), 
serta kartu anggota berasuransi yang diberikan partai kepada caleg nomor urut 1 
untuk merekrut warga sebagai konstituen PAN.  Kartu anggota memuat foto caleg 
tersebut. Dengan memberikan premi senilai Rp 5000,- (lima ribu rupiah) maka 
anggota tersebut akan mendapat tunjangan senilai           Rp. 1.000.000,- 
(satu juta rupiah) manakala telah meninggal dunia.  

Penerapan program itu akhirnya menuai sejumlah masalah, sebab banyak warga yang 
tidak tertanggulangi untuk diselesaikan klaim atas asuransinya dan tidak jelas 
kelanjutannya.  Sejumlah dana partai yang diberikan kepada caleg nomor 1, untuk 
santunan warga, dana saksi partai dan dana kampanye yang mustinya digunakan 
untuk menggadang partai malah digunakan ajang kampanye pribadi yang 
bersangkutan.  Jelas ini bertentangan dengan semangat kebersamaan membesarkan 
partai dan sistem suara terbanyak antar caleg.  Mengapa, karena dengan begitu 
caleg yang lain dalam satu partai menjadi tahu soal itu, sehingga malas 
bergerak untuk memenangkan partai. Akibatnya yang bekerja hanya segelintir 
saja, dan akhirnya suara PAN dalam pemilu 2009 khusus untuk Jawa Barat VIII 
jeblok merosot sekali dibandingkan pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Sejatinya sistem suara terbanyak faktor netralitas partai adalah sebuah 
keharusan, ketika yang diiinginkan adalah munculnya kompetisi antar caleg untuk 
berlomba-lomba membesarkan partai.  Bukan dengan memfasilitasi bahkan 
mendominasi permainan untuk caleg tertentu.  Bantuan partai mustinya untuk 
membesarkan dan memilih partai itu sendiri, slogan dan simbol partai lah yang 
musti mengemuka bukannya personal.  Dana saksi partai yang jumlahnya mencapai 
Rp 300 juta lebih itu, dalam hal penerapannya pun patut diduga disalahgunakan 
untuk kepentingan pribadi, dengan mengarahkan kepada saksi-saksi partai untuk 
memilih caleg nomor urut 1, bukannya untuk mengamankan suara partai tetapi 
malah mengamankan suara pribadi caleg tersebut.  Singkatnya akibat manajemen 
pemilu yang demikian itu menyebabkan suara PAN di Jawa Barat VIII jeblok dan 
tidak ada memperoleh kursi baik di tingkat pusat, propinsi dan kabupaten, 
kecuali Kota Cirebon yang memperoleh 3 kursi, turun
1 kursi dari 4 kursi pada pemilu 2004 lalu.

Alhamdulillah, saya sendiri dalam hal kampanye dan mobilisasi pemilu 2009, sama 
sekali satu sen pun tidak pernah memperoleh dana maupun bantuan fasilitas 
lainnya dari partai.  Semua saya lakukan secara mandiri, mulai dari 
sosialisasi, atribut partai, cetak kartu anggota PAN untuk warga, dana 
kampanye, dana saksi dan lain-lainnya.  Dan akhirnya, saya pun melakukan somasi 
kepada tergugat ketua-ketua DPD PAN se-Cirebon-Indramay u serta caleg nomor 
urut 1 DPR RI PAN, atas dugaan penggelapan/ penyalahgunaan dana/bantuan 
fasilitas dari DPP PAN yang tidak digunakan sebagaimana mestinya.  Tetapi 
hingga saat ini, somasi tersebut tidak ditanggapi baik oleh DPP PAN maupun 
tergugat.  Jujur saya sulit meneruskan perkara ini, sebab data-data  atas bukti 
kasus tersebut di atas ada di tangan DPP PAN, dan saya tidak mendapat respons 
dari DPP PAN yang seakan-akan melindungi para tergugat.

Dalam situasi dan kondisi perolehan suara PAN 2009 di Jawa Barat VIII yang 
merosot itu, kini menjadi sangat rentan lagi dengan adanya kasus Bank Century.  
Temuan dan kesimpulan Pansus Bank Century DPR RI yang menawarkan 2 opsi, yakni 
opsi A (kebijakan bail out Bank Century tidak bermasalah) dan opsi C (kebijakan 
bail out Bank Century bermasalah dan terindikasi tindak pidana).  Fraksi PAN 
dalam sidang paripurna DPR RI pada 3 Maret 2010 memilih opsi A yang membuat 
banyak kalangan mencibir PAN banci dan penjilat kekuasaan.  Pihak-pihak yang 
bertanggung jawab atas kasus Bank Century tersebut adalah diantaranya Wapres RI 
Boediono (saat itu Gubernur Bank Indonesia) dan Sri Mulyani Indrawati (Menkeu 
RI).  

PAN tidak lagi reformis, tidak berpihak pada rakyat tapi berpihak pada 
kekuasaan, bahkan Ketua MPP PAN seolah bukan Amien Rais yang nota bene menilai 
bail out bank century bermasalah, tetapi justeru SBY sang presiden lah yang 
dianggap seakan-akan lebih diperhitungkan dari pada Ketua MPP PAN tersebut.  
Sebab Ketua Umum PAN Hatta Rajasa adalah anak buah SBY sekaligus Ketua Tim 
Sukses SBY-Boediono.  Ini jelas sangat menggangu dan menyakiti hati kader 
sekaligus hati rakyat, dan bila pemilu dilakukan saat ini PAN tidak mungkin 
bisa lolos electoral treshold sebab pemilihnya sudah banyak lari tinggalkan 
PAN.  Sudah jeblok perolehan suaranya di Jawa Barat VIII ditambah lagi 
penyikapan PAN atas kasus Bank Century yang tidak berpihak pada kepentingan 
rakyat.  Jika begini PAN sudah bukan lagi tempat yang cocok untuk para reformis 
dan sudah semakin mendekati lonceng kematiannya karena bisa ditinggalkan 
konstituen.  PAN sesungguhnya sadar bahwa kasus century lah
yang menyebabkan turunnya perolehan kursi partai dan di sisi lain menaikkan 
jumlah kursi partai tertentu sebagai user kasus century.

PAN MEMANG SETIA BAGI SBY dan DEMOKRAT, TAPI TIDAK ADA MANFAATNYA BAGI PARTAI 
KE DEPAN, HANYA DAPAT JABATAN MENTERI SAJA DAN TIDAK BERIMBAS PADA PARTAI. DULU 
GOLKAR YANG DAPAT WAPRES PLUS MENTERI SAJA KOALISI DENGAN SBY DAN DEMOKRAT 
MALAH TURUN JUMLAH KURSINYA DI 2009, BAGAIMANA PAN YANG HANYA DAPAT JATAH 
MENTERI???

Belum lagi, kini Ketua DPD PAN Kota Cirebon, WW terlibat kasus korupsi APBD 
Gate senilai Rp 4 milyar lebih secara berjamaah dengan oknum anggota dan mantan 
anggota DPRD Kota Cirebon lainnya.  Ini juga menambah beban berat bagi 
kader-kader PAN khususnya PAN Kota Cirebon, meskipun belum ada vonis dan azas 
praduga tak bersalah namun ini sudah menjadi stigma negatif bagi publik daerah 
terhadap PAN.

Argumentasi tersebut di atas adalah sejumlah alasan Mengapa Keluar Dari PAN.  
Memori penjelasan ini adalah sebuah tawaran wacana menuju gerakan massal ke 
arah sikap politik baru yang lebih baik untuk menampung aspirasi, gagasan dan 
program yang sesuai dengan idealisme perjuangan kita bersama. Oleh karena itu, 
semoga ini bisa dipahami, dimaklumi dan didukung oleh segenap kader PAN 
khususnya di Jawa Barat VIII Cirebon-Indramayu, para teman-teman tim sukses dan 
relawan saya semasa Pemilu 2009 lalu, serta para konstituen yang memilih PAN 
dan saya pribadi dalam Pemilu 2009.  

Saya mengucapkan terima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan kepada saya 
selama bergabung bersama dalam proses Pemilu 2009 melalui PAN.  DENGAN 
MENGUCAPKAN BISMILLAAHIRRAHMAAN IRRAHIIM SAYA MENGUNDURKAN DIRI DARI 
KEANGGOTAAN PARTAI AMANAT NASIONAL.  Semoga Allah SWT meridhoi apa yang selama 
ini kita perjuangkan, amien.
 
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Jakarta, 25 April 2010
Hormat Saya,
 
HERY SUSANTO, MSi  
 




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke