Menyangkut kepindahan Menkeu, Ibu Sri Mulyani, ke kursi Managing Director World
Bank, begitu banyak harapan muluk-muluk dicetuskan sejumlah pihak tentang peran
yang bisa dimainkan di lembaga yang didominasi para dedengkot kapitalisme dunia
tersebut.Mas
Budiarto Shambazy (redaktur senior Kompas) mungkin perlu mengutip lagi buku John
Perkins (Bandit ekonomi) tentang peran IMF, World Bank, dll dalam
penghancuran ekonomi Indonesia dan negara berkembang, menciptakan
ketergantunganlewat utang, menjalin kerjasama dengan para komprador di
pemerintahan. Biar banyak orang makin MELEK MATANYA (dan berhenti
bersujud di altar World Bank).
Banyak
orang Indonesia adalah korban kekerasan simbolik (ciri korban kekerasan
simbolik menurut filsuf Pierre Bourdieu: korban
"menyetujui" bahkan "mendukung" kekerasan terhadap dirinya sendiri).
Contoh: Memuja-muji World Bank, memberi aspirasi berlebihan pada
jabatan (utk Sri Mulyani) di World Bank. Padahal banyak policy WB
justru menghancurkan ekonomi Indonesia dan memiskinkan rakyat Indonesia, serta
banyak negara berkembang lain.Kalau
dalam wacana kriminalitas/penculikan, ada yang disebut "Stockholm
syndrome" di mana sandera "jatuh cinta" pada para penculiknya. Sama
seperti sebagian rakyat Indonesia yang hanya bisa memuja, mengulang
mantera-mantera, yang dijejalkan oleh tuan-tuan penyanderanya di tahta
IMF, World Bank, dsb...
Penyair Wiji Tukul bilang: "Hanya satu kata: Lawan!" Saya tidak
sehebat Wiji tukul.
Jadi saya cuma bisa bilang: "Saya tidak mau ikut-ikutan edan seperti kalian.
Mungkin selama hidup di dunia saya kurang banyak beramal dan berbuat
kebajikan. Jadi kebajikan yang saya lakukan adalah minimal sudah menjaga
satu orang manusia (baca: diri saya sendiri) agar tidak ikut-ikutan edan..Salam
dari dunia antahberantahRio
[Non-text portions of this message have been removed]