Refleksi : Antara 300 dosen ini dan Sri yang dapat kedudukan di World Bank, bedanya ialah gaji dan kedudukan. Gaji Sri jauh lebih besar dan juga lebih dikenal di dunia internasional. Jadi barangkali tak pelu dihebohkan tentang Sri, apakah beliau ini termasuk pahlawan devisa adalah masalah lain. Hehehehe
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ef7b5a18a7235cf6cc5a8db2c2918a7c&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c Ke Malaysia Mereka Mengabdi. Sabtu, 8 Mei 2010 | 12:01 WIB Kuala Lumpur - Indonesia tidak hanya mengekspor tenaga kerja kelas buruh dan pembantu umah tangga ke Malaysia. Jumlah dosen dan peneliti Indonesia di Malaysia pun mengalami peningkatan signifikan. Saat ini terdapat sekitar 300 dosen dan peneliti asal Indonesia yang mengabdikan ilmunya di negeri jiran itu. "Dalam data kami yang tercatat memang baru 80 orang saja. Tapi melihat yang hadir sekarang dan informasi dari berbagai pihak, jumlah dosen dan peneliti Indonesia di Malaysia hampir 300 orang. Para peneliti ini tersebar (di banyak wilayah Malaysia)," kata Ketua Indonesian Lecturer and Researcher Association in Malaysia (ILRAM), Dr Riza Muhida di sela-sela Silaturahim KBRI Kuala Lumpur dengan ILRAM, Jumat (7/5). Menurut Riza, sedikitnya ada dua alasan yang mendorong banyaknya dosen dan peneliti Indonesia mengabdikan keilmuannya di Malaysia. Pertama, lingkungan akademik dan penelitian yang lebih kondusif dibandingkan di tanah air. Lingkungan kondusif yang dimaksud, kata Riza, adalah kebebasan mengembangkan kemampuan akademik dan penelitian karena ditunjang beragam fasilitas seperti akses jurnal yang luas dan dukungan dana yang cukup besar. Kedua, kenyamanan bagi diri sendiri dan keluarga. "Misalnya, kalau di Jakarta kondisi kemacetan yang sudah cukup parah seringkali mempengaruhi jadwal kerja dan privasi kita untuk bisa berkumpul dengan keluarga tepat waktu. Di sini saya bisa pergi dan pulang kerja tepat waktu, jadi hak keluarga untuk berkumpul bisa terpenuhi. Dan gaji yang diperoleh dari pekerjaan sangat cukup, jadi tidak perlu lagi cari sampingan," kata kata Riza yang juga Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) di Malaysia ini. Selain daya tarik di Malaysia, banyaknya dosen dan peneliti Indonesia yang hijrah ke sana juga karena kurang welcome-nya Indonesia sendiri. Menurut Riza, banyak sarjana dan peneliti Indonesia yang sulit memperoleh pekerjaan sepulang mereka dari luar negeri. Riza sendiri adalah contohnya. "Seperti saya, setelah tamat S2 dan S3 dari Jepang, saya pernah mencoba masukkan banyak lamaran ke berbagai institusi di Indonesia, tapi sayangnya tidak ada satu pun yang merespon. Saya lalu coba apply di Malaysia, ternyata langsung direspon cepat," ujar Dosen Fakultas Teknik di Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM) ini. Jumlah dosen asal Indonesia yang mengajar di Malaysia cenderung meningkat, khususnya dalam 4 tahun terakhir. Ketika ILRAM berdiri pada Desember 2007, jumlah dosen Indonesia yang mengajar di UIIM mencapai 30 orang. Kini, jumlah itu meningkat menjadi 40 orang. "Trennya setiap tahun ada kecenderungan bertambah 4 sampai 5 orang," ujarnya. Meningkatnya jumlah dosen dan peneliti Indonesia di Malaysia juga dipicu oleh besarnya jumlah universitas dan fakultas baru yang dibuka di negara itu. Penyebab lainnya, tidak semua universitas di Malaysia menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Banyak universitas menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, hingga memudahkan dosen Indonesia mengajar di sana. ntr, [Non-text portions of this message have been removed]

