http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=ec37f2b32bbd1757645bc39e6a8d2d64&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c


Polisi Belum Tahu Siapa Pelakunya 
Minggu, 9 Mei 2010 | 11:51 WIB 

SURABAYA - Operasi ofensif yang digelar Polsek Wonocolo di kawasan Siwalankerto 
tiba-tiba bubar, setelah mendapatkan serangan gerombolan bersepeda motor. 
Hingga saat ini, polisi belum mengetahui siapakah pelaku penyerangan itu. 
Polisi masih mengumpulkan keterangan.

Kapolsek Wonocolo, AKP Esti Setija Oetami saat dikonfirmasi tentang kejadian 
itu, enggan menjelaskan. Dia mengaku hingga saat ini masih belum diketahui 
identitas para penyerang yang berjumlah sekitar 20 orang itu.

Esti juga enggan mengungkapkan, apa motif dibalik penyerangan terhadap 
anggotanya yang sedang menggelar operasi ofensif. Bahkan, Esti mengelak jika 
ada anggotanya yang mengalami luka pada saat kejadian, Jumat (7/5) malam 
kemarin.

"Enggak ada. Anggota saya tidak apa-apa kok," ujar AKP Esti Setija Oetami saat 
dikonfirmasi wartawan, Sabtu (8/5).

Kabar penyerangan sekelompok orang terhadap polisi yang bertugas menggelar 
operasi ofensif, membuat aparat kepolisian di wilayah Surabaya meningkatkan 
kewaspadaan dan keamanannya. Bahkan, kabar penyerangan itu sudah tersebar di 
pesawat handy talky (HT) di seluruh jajaran Polwiltabes Surabaya.

Operasi ofensif yang digelar anggota Polsek Wonocolo tiba-tiba saja berantakan. 
Petugas yang tengah melakukan operasi antisipasi kejahatan ini tiba-tiba 
diserang oleh puluhan pria. Akibat serangan mendadak ini, 3 polisi mengalami 
luka.



Dari informasi yang dihimpun, sekitar 8 personel Polsek Wonocolo menggelar 
operasi ofensif yang rutin setiap hari digelar, dengan sasaran pelaku pencurian 
kendaraan bermotor (curanmor), pengendara motor yang ugal-uagalan dan 
penyalahgunaan narkoba, Jumat (7/5) sekitar pukul 22.30 WIB. Namun, saat 
operasi baru berjalan 10 menit, tiba-tiba sekitar 20 orang dengan menumpang 
sepeda motor menyerang petugas.

Akibat serangan itu, dua polisi mengalami luka lecet di bagian kaki dan 
tangannya karena terjatuh ke aspal, saat melarikan diri dari serangan mendadak 
yang dlancarkan sekitar 20 orang mengendarai sepeda motor. Sedangkan seorang 
polisi lainnya mengalami luka lebam di bagian tengkunya, karena dipukul dengan 
benda tumpul dari belakang.

Sedangkan petugas yang saat itu berpakaian preman, luput dari serangan 
gerombolan yang semuanya mengenakan helm. "Untung saja mas. Seandainya anggota 
yang berpakaian preman itu mengenakan seragam dinas, mungkin juga akan 
diserang," ujar sumber di kepolisian yang enggan disebutkan identitasnya, Sabtu 
(8/5).

Penyerangan yang dilakukan gerombolan itu diduga akibat salah seorang dari 
gerombolan bersepeda motor itu terjaring operasi ofensif. Saat dihentikan 
polisi, orang itu tidak dapat menunjukkan surat-surat kelengkapan sepeda motor 
yang dikendarainya. Setelah dilepaskan, tak lama kemudian, muncul sekitar 20 
orang yang langsung melakukan penyerangan terhadap petugas.dtc


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke