.From: nyaksih phaisal <[email protected]>
Date: Friday, May 14, 2010, 9:46 AM







 



  


    
      
      
      Meulaboh| GSFAceh Penerima Bea siswa penuh Ilmu Kedokteran, dalam 

kategori mahasiswa Berprestasi dan tidak mampu, ternyata diduga sarat 

manipulasi. Pasalnya yang mendapat bea siswa tersebut anak pejabat 

yang bertugas di jajaran Dinas Pendidikan, hal itu diakui Kepala 

Sekolah Menengah Atas Negeri II (SMA N II) Meulaboh yang mengaku 

merasa tertekan dengan atasannya. 



Edy Nasution, ayah dari Putri Adis Fadilah, salah seorang siswa SMA N 

II Meulaboh, kepada wartawan Sabtu (2/5) mengaku kecewa karena 

terzalimi oleh pihak sekolah tempat anak belajar, pasalnya anak dia 

selama ini kerap mendapat prestasi di sekolah, selain itu dia juga 

mempunyai peringkat tinggi atas kepandaiannya di Sekolah itu, namun 

baru ini ia dikirim nama Oleh Kepala Sekolah Ke Provinsi sebagai 

siswa berprestasi dan kurang mampu, guna mendapatkan bea siswa penuh 

Ilmu Kedokteran, namun ketika pengumuman hasil seleksi keluar, muncul 

nama anak pejabat. 



Menurut Edi, keluarganya terhitung kurang mampu, ironisnya yang 

diberikan bea siswa itu kepada Aulia Urrahman, kelas yang sama. “ 

dia itu anak pejabat di Dinas Pendidikan dan ibunya seorang bidan, 

selain itu dia juga rangking lima belas disekolah itu” katanya. 



Sementara itu, Kepala SMA N II Meulaboh, Marwanto. Mengakui pihaknya 

mengajukan dua nama dari kelas yang sama, sebab setelah nama Putri 

Adis Fadilah diajukannya, ayah dari Aulia yang juga atasannya datang 

ke Sekolah menemui dirinya, guna meminta agar nama anaknya turut 

diajukan. 



Ia mengakui, sempat menolak dengan alasan telah mengajukan nama 

Putri, namun merasa tertekan terpaksa saya mengajukan dua nama. 

“kalau menurut saya memang si Putri yang pantas mendapatkan bea 

siswa itu, bahkan dari Provinsi juga pernah menanyakan kepada saya, 

siapa yang pantas, saya bilang putri. Tapi kenapa nama dia yang 

keluar saya juga tak tahu” ceritanya. 



Guru SMA N II pada tim gsf yang meminta dirahasiakan namanya 

menuturkan AULIA bukan Siswa prestasi namun dia siswa yang pindah 

dari sekolah unggul dari banda aceh ke SMA N II di SMA unggul dia 

tidak ada kemampuan sehingga harus pindah sekolah....apalagi fakultas 

kedoktoran mungkin juga satu smester sudah minggat kan sayang peluang 

dari aceh barat katanya. 



Menurut sang guru tersebut ini pemaksaan dari orang tua padahal 

anaknya tidak mampu...kan terzalimi siswa yang berpretasi. maunya 

sadar orang tua aulia, jangan dipaksa takut rugi...dan kalau jadi 

dokter pun nanti ujungnya malas kerja....atau pindah-pindah kerja 

Marwanto, mengakui hal yang ia lakukan itu salah, sebab Aulia 

merupakan salah seorang siswa yang tergolong mampu dan peringkat 

rendah, selain itu juga mengajukan dua nama dalam satu kelas, namun 

karena atasan yang meminta apa hendak dikata, kepada wartawan ia 

meminta agar kasus tersebut tidak ditulis di media. 



Cerita mirip juga terjadi SMA negeri 4  Wira Bangsa, siswa yang 

dinyatakan berprestasi oleh sekolah bersangkutan sehingga 

direkomendasikan  untuk memperoleh bia seiswa penuh untuk fakultas 

kedokteran ini adalah Siti Mardhiah. 



Menurut informasi yang kami kami himpunan, siti Mardhiah adalah putri 

dari Kepala SD Cot Darat,  ketika di SMA unggul  dari kelas I-II 

ditempatkan dalam rombongan belas Kelas A, tapi berdasarkan hasil 

seleksi internal di SMA tersebut  siswa tersebut saat kelas III ( 

XII) ditempatkan dalam rombongan Kelas B. 



Dikleas B pun ia hanya mampu menduduki peringkat 15. “ ini 

permainan dari mafia pendidikan’ ujar sumber kami, bayangkan kalau 

mau fair sementinya yang direkomendasikan adalah siswa peringkat 10 

besar  Kelas A. Yaitu  Laura Nisngsih, Putri, Mauidhatun, Rauzatul  

cs.   



Karena itu, mengingat  cara rekruitment  yang tidak tepat seperti 

ini, kami menghimbau pihak – pihak yang terkait, termasuk  fakultas 

Kedokteran Unsyiah untuk meninjau ulang sebab demi pendidikan 

sendiri, semestinya kita menghargai usaha anak –anak dalam mencapai 

prestasi.



Pengakuan prestasi anak anak selamat ini disepakati adalah rangking, 

dan siapapun tahu, bahwa rangking pertama dalam adalah juara kelas 

dan juga prestasi terbaik. Cuma aneh dalam rekruitment peserta bea 

siswa berprestasi untuk mendapat bea siswa ini justru telah 

mengabaikan rangkingan tersebut. 



Disudut lain, Kepala SMA 4 Wira Bangsa, telah bertelanjang bulat 

didepan 70 siswa dan wali siswa, karena sudah bukan harasia umum bagi 

mereka  bahwa Laura Ningsih adalah peringkat pertama yang diperoleh 

sejak dari kelas I. 



Yang kita sayangkan dimana Wibawa  dengan mengatakan bahwa pendidikan 

menanamkan nilai kebenaran dan kejujuran. Masak bisa kebenaran dan 

kejujuran ditanakan oleh orang-orang yang tidak mempertahan nilai  

kebenaran dan kejujuran. (tim)



    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke