(Dikutip dari posting Hanibal W. di Facebook)
Dagelan Penggerebegan Teroris
Share Yesterday at 8:20pm
Ada banyak kejanggalan dalam operasi penggerebegan teroris di Solo hari ini.
Ada apa sebenarnya?
Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi
penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap
di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas
Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang
ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara
mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang
timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan
Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.
Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah
tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat
dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu.
Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom
Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang
tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom
Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.
Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo,
termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai
kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat
memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, “Akan ada gunung meletus
di Solo.” Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah
di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat
inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku
jihad (!)… Hmmm… Sigap nian polisi kita.
Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini.
Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing
terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah
makan. Di tempat itu pula –di pinggir jalan— mereka baru memakai rompi
anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka,
memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan
lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of
force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. “Wah, iki
Densus 88 yo, Mas, edan tenan…,” kata seorang warga.
Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu
saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada
penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian
tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta.
Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat
di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik
sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani
mengambil momentum bersejarah ini…
Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu
masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba
mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak
mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai
menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai
tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran
sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya
200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!
Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan
bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para
anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat.
Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka
juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para
cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa
mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.
Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman
Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk
mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian
mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, “Nanti dulu-nanti
dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat
bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para
wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.
Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan
teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota
Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan
adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka
menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan
kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan
sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.
Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk
komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah
bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam
posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan
kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera
atau menghapus gambar yang ada dirinya.
Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa
sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah
orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi…. “Ya mirip
mereka-mereka itu, mas…,” kata mereka.
Lalu, apa artinya semua ini?
.
[Non-text portions of this message have been removed]