Refleksi : Kepandaian penguasa NKRI tak dapat diragukan. Hutan digundul, 
Keuntungan masuk kantong pribadi mereka. Kemudian berlagak mau 
mengrehabilitasi,  misalnya dengan memberitahukan kepada ketua Soros 
Foundation, George Soros di Jakarta, 10 Mei 2010. 

Dibalik pemberitahuan rehabilitasi tentunya terkandung permohonan minta uang 
untuk rehabilitasi hutan. Seandainya diberikan duit, dan apakah dipergunakan 
sebagaimana mestinya itu masalah lain lagi, pokoknya dapat fulus. Jadi perlu 
syukur dipanjatkan karena ada Soros Foundation yang mau mendengarkan jeritan 
kerusakan hutan di zamrud khatulistiwa.

Bagi yang mau tahu tentang kerusakan hutan lebih terperinci, bisa  melihat 
dengan memakai program Google Earth, (gratis di internet unuk download), dan 
zoom daerah di NKRI yang Anda ingin lihat. Bagi yang tidak bisa memakai Google 
Earth, dibawah ini sekadar info diberikan gambar grafik tentang kerusakan hutan 
di Kalimantan :


  



http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/walhi-hutan-indonesia-bertambah-hancur

Walhi: Hutan Indonesia Bertambah Hancur
Diterbitkan : 26 Mei 2010 - 3:04pm | Oleh Bari Muchtar (foto: Riya Darma) 
Diarsip dalam: 
  a.. hutan Indonesia
  b.. walhi
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan siap memberantas pembalakan liar 
serta menurunkan kebakaran hutan dan penggundulan hutan untuk mengatasi 
pemanasan global.

Komitmen tersebut disampaikan Presiden saat menerima Chairman Soros Fund 
Management, George Soros, di Jakarta, Senin (10/5). 

Menurut Erwin Usman dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) ucapan SBY ini hanya 
untuk menggaet dana dari luar. Tapi aktivis lingkungan ini malah menegaskan 
bahwa kenyataannya hutan Indonesia bertambah rusak. 

Erwin Usman yang juga Ketua Komite Anti Pengrusakan Hutan Indonesia (KAPHI) 
menegaskan, Walhi mencatat selama enam tahun pemerintahan SBY ini laju 
penghancuran hutan Indonesia tidak pernah kurang dari 1,8 juta hektar per 
tahun. 

Yang kedua, tambah Erwin, penegakan hukum di Indonesia sangat jauh dari rasa 
keadilan para korban pengrusakan lingkungan hidup dan juga bagi para aktivis 
lingkungan. Sebagai contoh Erwin menyebut berbagai kasus pencemaran lingkungan 
yang tidak selesai. Erwin Usman: "Empat belas perusahaan yang terindikasi 
menghancurkan hutan Riau, itu seluruhnya dibebaskan tahun lalu oleh Mabes Polri 
dan Polda Riau."

Meraih dana
Jadi ucapan SBY di depan Soros itu, tegas Erwin, adalah untuk mendapatkan dana 
iklim yang sudah tersedia. Erwin "Karena angkanya cukup besar, " tegas aktivis 
lingkungan ini.
Dengan ucapan itu, tambah Erwin, SBYjuga ingin menunjukkan bahwa Indonesia 
berkomitmen untuk menangani soal emisi. 

Namun aktivis Walhi ini menandaskan, faktanya berbeda dengan apa yang 
disampaikan Presiden. Buktinya masih banyak bupati dan gubernur yang 
mengabaikan arahan presiden dan pemerintah pusat. Masih banyak di antara mereka 
yang bekerjasama dengan para pengrusak lingkungan. 

Tidak tegas
Ketidakpatuhan para pemimpin pemerintah daerah itu, antara lain karena mereka 
dari partai yang berbeda dari Presiden. Selain itu, juga karena SBY sendiri 
tidak tegas. "Di dalam negeri SBY rapuh untuk menegakkan disiplin sebagai 
presiden untuk menyelamatkan lingkungan hidup, " katanya.

Erwin menyarankan agar pemerintah mengutamakan apa yang disebut tprogram 
restorasi ekologis Indonesia. Pertama moratorium izin-izin yang berkaitan 
dengan pengelolahan perkebunan besar, kehutanan dan pertambangan. "Karena tiga 
ini menyumbang konflik sumber daya yang paling besar di Indonesia, " tegasnya. 
Kedua agar memerintah melakukan audit secara menyuruh di tiga sektor itu.

Ambil Alih
Setelah itu Indonesia baru bisa melakukan program-program seperti menanam dan 
reboisasi dan lain-lain. Dengan demikian diketahui perusahaan mana yang 
melanggar aturan, kepala daerah mana membangkang dan aparat mana yang main mata 
dengan pelaku ilegal logging. 

Tapi sayangya, jelas Erwin, SBY tidak bersedia menyelenggarakan tindakan 
imparsialitas tersebut. Menurut Erwin, SBY menilai masalah penanganan kehutanan 
ini banyak melibatkan kepentingan-kepetingan yang tidak kecil. 

Namun demikian kalangan aktivis lingkungan hidup tetap berpendapat agar 
presiden mengambil alih kepemimpinan penanganan lingkungan.

Klik wawancara di sini:
 




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke