From: Chris Komari <[email protected]>
Subject: Re: Editorial TEMPO: Akrobat Politik Gentong Babi
Date: Tuesday, June 22, 2010, 4:37 AM



TEMPO is getting more ridiculous and ridiculous each day! 

Selamat menyaksikan a show down and selamat datang krisis konstitusional.....

Kalau ada show down of power di Indonesia antara Executive (Presiden) dan 
Legislative (Parliamen), yang akan babak belur adalah Presiden. Kerena apa? 

1). Bagaimanapun juga Presiden harus mengajukan APBN dan harus berhadapan dan 
harus mendapat persetujuan dari DPR. DPR bisa bikin Executive babak belur hanya 
dengan meminta revisi dana alokasi APBN sana sini. 

Apalagi dengan alasan yang masuk akal, DPR bisa tidak menyetujui, mengurangi 
dana alokasi dan menolak beberapa item
 dari alokasi dana dalam APBN. Kalau hal ini terus dilakukan DPR dari waktu ke 
waktu secara legal dan systematic untuk menekan, maka Executive (Presiden) bisa 
jungkir balik deh! 

2). Presiden Indonesia saat ini tidak memiliki
 HAK VETO, dan hal itu akan memudahkan sekali bagi DPR mendikte President if 
they know how to muscle their legislative power. We will be happy to show you 
how! 

Kalau TEMPO memberi isyarat agar Presiden Indonesia melakukan a show down of 
power dengan DPR, silahkan! Bring it on! If that what it takes to bring a 
change! 

Saya tertarik ingin mengetahui dari TEMPO siapa penulis dari artikle ini? 
Berapa lama dia tinggal di USA? 

Pork Barrel atau Earmark yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai politik 
gentong babi belum banyak dipahami secara menyeluruh di Indonesia, bahkan dari 
artikle-artikle yang beredar belakangan ini yang membahas issue politik Pork 
Barrel atau Earmark hanya melihat dari sisi yang negative karena disalahgunakan 
oleh politisi Amerika termasuk Presiden Obama sendiri. 

Politik Pork Barrel dan Earmark di Amerika sudah berjalan lebih dari 193 tahun 
(1817). Jadi sudah
 cukup lama. Kalau politik Pork Barrel atau Earmark itu begitu jelek dan tidak 
bermanfaat bagi kehidupan dan kemajuan rakyat biasa baik secara ekonomi dan 
politik, kenapa hal itu bisa berjalan begitu lama di Amerika hingga detik ini. 

Jawabnya tidak lain adalah politik Pork Barrel atau Earmark itu sangat berguna 
bagi konstituent atau rakyat biasa bila hal itu arahkan pada channel yang 
sebenarnya dan tidak dimanipulasi oleh politisi untuk kepentingan mereka 
sendiri seperti mendapatkan suara atau untuk memberi hadiah pada campaign 
distributors. 

Earmark atau Pork Barrel adalah dana tersendiri yang bisa diajukan oleh anggota 
DPR kepada Executive untuk membiayi proyek-proyek publik tertentu di daerah, 
atau untuk subsidi pertanian dan bisa juga untuk kepentingan nasional seperti 
dibidang pertahanan dimana daerah itu sendiri tanpa bantuan dari pusat tidak 
akan pernah bisa membiayai proyek tersebut atau biaya tersebut terlalu besar 
dan sangat
 menjadi beban APBD. Disinilah fungsi wakil rakyat dari daerah dituntut 
berjuang demi kepetingan daerah di pemerintah pusat. 

Contoh proyek Pork Barrel yang kontroversial di Amerika adalah projek BIG DIG 
di Boston, Massachusetts; 3.5 miles Interstate Highway yang akhirnya di 
relokasi dibawah tanah (tunnel) yang menghabiskan $14.6 billion. 

Tip O'Neil yang waktu itu Speaker of the House, melakukan manuever politk di 
Congress yang menekan Federal Government untuk membiaya proyek ini lewat 
Earkmark atau politk Pork Barrel. Keberhasilan Tip O'Neil mendapatkan dana 
alokasi dari pemerintah Federal ini menjadikan namanya harum dan terkenal di 
Boston, bahkan namanyapun menjadi nama dari teronwongan (tunnel) ini. 

Dari segi ekonomi, transportasi dan kepentingan daerah (rakyat di Boston, 
Massachussetts), apa yang dilakukan Speaker O'Neil terhadap negara bagian
 (massachussetts) yang diwakilinya dengan mendapatkan dana alokasi tersendiri 
untuk membiaya proyek 3.5 miles Interstate Highway dibawah tanah adalah hal 
yang sangat positive dan sangat baik. Kalau namanya harum ya wajar saja, kalau 
dia dipilih kembali untuk menjadi wakil rakyat Massachusetts di US Congress ya 
wajar saja, karena dia benar-benar berjuang di pemerintah Federal untuk 
kepentingan rakyat yang memilihnya. Bukankah hal itu lebih baik bagi konstituen 
dari pada melihatnya wakilnya cakar-cakaran rebutan jabatan di Executive? 
Kenapa hal yang sama tidak bisa dilakukan oleh anggota DPR? 

Disinilah peranan dan fungsi anggota DPR bisa melakukan manuever politk atau 
pendepakatan untuk mendapatkan earmark dari pemerintah untuk membantu daerah 
yang diwakili. Jadi politik Pork barrel dan Earmark itu sangat bagus untuk 
kepentingan konstituent dan untuk kemajuan daerah asal dana itu tidak di 
manipulasi untuk
 kepentingan lain atau worse, di korupsi! 

Yang menjadi loophole memang, politk Pork barrel atau Earmark ini sering 
disalah gunakan dan dipakai sebagai bargaining politik. Dalam historical health 
care reform di Amerika, Presiden Obama terpaksa harus menyetujui permintaan 
Senator Ben Nelson of Nebraska $38 billion dollar to secure enough vote to pass 
the historical bill. 

In my view, those political bagainings is acceptable as long as it is for the 
benefit of the ordinary people, dan bukanya untuk kepentingan politisi itu 
sendiri, golongn tertentu atau golongan elite. Kalau politisi itu mendapatkan 
grade A+ dari konstituents dari hasil kerjanya memajukan daerah, itu masuk akal 
dan wajar-wajar saja khan? 

Alangkah baiknya baik kehidupan dan kemajuan daerah bila semua anggota DPR 
bekerja dan berjuang ke arah itu? Kenapa hal yang demikain dynamik dan baik 
ditentang oleh TEMPO? 

Gagasan dana pemerataan dari politisi GOLKAR adalah
 wajar-wajar saja dan kami dari Partai Masa Depan Indonesia Mandiri (Parmadim) 
akan terus mendukung usaha itu sampai hal ini terealisasi demi kepentingan 
daerah dan nasib jutaan rakyat Indonesia yang masih tertinggal hidup 
didaerah-daerah. 

Selama ini dana alokasi APBN pemerintah pusat sangat TIDAK PROPORSIONAL, dimana 
70% dari pengahsilan negara (revenue) di habiskan oleh Pemerintah Pusat. Dan 
sisanya yang hanya 30% diturunkan ke daerah-daerah yang harus dibagi-bagi lagi 
ke 33 Pemerintah di tingkat Propinsi, harus dibagi-bagi lagi ke 491 Pemerintah 
ditingkat Kota Madya dan Kabupaten, harus dibagi-bagi lagi ke 5.263 Pemerintah 
tingkat Kecamatan, harus dibagi-bagi lagi ke 69.919 Pemerintah tingkat Desa. 

Kalau sisa dana APBN yang 30% itu dibagi katakanlah 30 Pemerintah tingkat 
Propinsi, maka tiap propinsi hanya menerima 10% dari 30% dana alokasi APBN. 

Dari 10% dana yang ada, 80% adalah untuk biaya rutin dan 20% adalah untuk biaya 
pembagunan baik itu untuk perbaikan infra struture mapun untuk merangsang 
pertumbuhan ekonomi daerah. 

Terus dana 20% dari 10% dana sisa APBN yang ada itu kira-kira jumlahnya berapa? 
Terus kalau dana yang sekecil itu harus disunat oleh pemerintah di tingkat 
Propinsi, di tingkat Kabupaten dan di tingkat Kecamatan, kira-kira berapa dana 
yang bisa turun dan diterima oleh pemerintah Desa? Tentunya sangat kecil kalau 
nggak NOL BESAR. 

Karena itu tidak heran kalau masih banyak lubang sebesar KERBAU dijalan-jalan 
dipedesaan dan pemerataan di Indonesia selama 65 tahun ini TIDAK berjalan. 
Karena apa? Karena pemerintah pusat terlalu boros dan rakus, dana alokasi APBN 
sangat, sangat dan sangat TIDAK PROPORSIONAL! 

(Quote)

Para ekonom sudah menyampaikan bahwa bila anggota DPR cermat melihat 
anggaran pemerintah, mereka akan tahu bahwa dana yang dialokasikan untuk
 pembangunan daerah sudah cukup besar.Total dana alokasi umum, dana 
alokasi khusus, dan dana bagi hasil untuk tiap provinsi melebihi Rp 1 
triliun. Adapun untuk kabupaten/kota Rp 500 miliar per tahun. Itu belum 
termasuk dana kementerian dan lembaga pemerintah lain yang disalurkan ke
 daerah lewat mekanisme dekonsentrasi.

(Unquote)

Dana alokasi umum dan khusus Rp 1 trillun untuk tuingkat Propinsi dan Rp. 500 
Milliar untuk tingkat Kabupaten itu dana dari mana dan kemana larinya? 

Harus bisa dibedakan antarag fungsi, tugas dan tanggung-jawab PEMDA (Propinsi 
dan Kabupaten) dan seorang SENATOR atau anggota DPR dalam melayani dan mewakili 
kepentingan rakyat di DAERAH. 

Gubernur, Wali Kota dan Bupati 
sebagai ketua Executive di daerah memiliki tugas dan tanggung-jawab untuk 
membuat APBD yang baik demi memperbaiki pelayanan publik, infrastrukture dan 
pertumbuhan ekonomi di daerah disamping juga biaya routine administrasi. 

PEMDA memiliki hubungan erat dan hubungan langsung dengan 
Presiden atah Executive di Pemerintah Pusat. Karena itu dalam APBN pusat selalu 
ada dana 
alokasi untuk PEMERINTAH DAERAH (PEMDA) yang terdiri dari biaya rutin dan biaya 
pembagunan baik pembangunan dibidang infrastrukture maupun untuk merangsang 
pertumbuhan EKONOMI didaerah. 

Sementara itu seorang SENATOR atau anggota DPR 
tidak harus berurusan dengan administrasi dan biaya rutin di daerah. Mereka 
mewakili kepentingan daerah dibidang, hukum, politik dan ekonomi di DPR. 
Dibidang EKONOMI inilah seorang anggota DPR berhak dan memiliki 
tanggung-jawab untuk mengajukan gagasan-gagasan di luar jalur PEMDA terhadap 
Pemerintah Pusat. Disinililah mengapa gagasan dana aspirasi itu sangat masuk 
akal 
dan berasalan (Warranted) dan di Amerika politk Pork Barrel atau Earmark sudah 
berjalan lebih dari 193 tahun hingga detik ini. 

Kami mendukung ide atau gagasan politisi Partai GOLKAR ini karena, ide ini 
adalah the FIRST STEP untuk memaksa Pemerintah Pusat to shape up (untuk 
mengencangkan sabuk pinggang) agar tidak terklalu boros dan rakus dalam 
menghabiskan dana APBN dan mau membagi-bagi kekayaan alam dan sumber alam 
Indonesia demi kepentingan RAKYAT Indonesia secara menyeluruh dengan 
mengalokasikan dana APBN secara PROPOSIONAL. 

Pemerintah Pusat perlu bekerja secara efficient dan effective. Jumlah 
MENTERI-nya perlu dikurangi setengahnya; 15 Menteri lebih dari cukup dan jumlah 
anggota DPR perlu dibatasi 350 maksimal. Department, Komisi dan lembaga-lembaga 
negara; department dan non-departmen yang tidak berjalan, tidak bermutu dan 
cuma menghabiskan dana APBN
 perlu dibubarkan atau dikonsolidasikan. 

Subsidi untuk rakyat biaya yang masih hidup miskin tidak perlu dikurangi, harga 
BBM dan Listrik tidak perlu dinaikan kalau pemerintah pusat mau dan mampu 
bekerja sevara effective dan efficient. Karena itu Rakyat perlu menuntut agar 
pemborosan Pemerintah Pusat perlu di HENTIKAN!!!


Chris Komari
Chairman
Partai Masa Depan Indonesia Mandiri (Parmadim)
www.futureindonesia.com,



--- On Mon, 6/21/10, Koran Digital <[email protected]> wrote:

From: Koran Digital <[email protected]>
Subject: [Koran-Digital] Editorial TEMPO: Akrobat Politik Gentong Babi
To:
 [email protected]
Date: Monday, June 21, 2010, 2:15 AM

Dewan Perwakilan Rakyat sungguh keterlaluan.

Orang-orang Senayan itu tetap saja mengajukan usulan dana aspirasi, cuek dan 
seperti buta-tuli atas kecaman publik. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tak 
boleh sejengkal pun beringsut dari posisi pemerintah untuk tidak menyebut 
usulan dana aspirasi dalam nota keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan 
Belanja Negara 2011, yang dibacakan dalam Sidang Paripurna DPR pada 16 Agustus 
mendatang.

Presiden bisa mengabaikan hasil Rapat Paripurna Dewan pekan lalu, yang 
meloloskan usulan dana aspirasi untuk diajukan ke pemerintah. Tak ada alasan 
bagi wakil rakyat untuk menyalurkan dana aspirasi Rp 15 miliar per tahun ke 
daerah pemilihannya. Ini jelasjelas tugas eksekutif. Lagi pula beban anggaran 
negara pasti semakin berat, mengingat untuk 560 orang anggota Dewan diperlukan 
dana aspirasi Rp 8,4
 triliun.

Sebelumnya, usulan dana aspirasi itu dibahas dan disetujui semua fraksi yang 
ada di Badan Anggaran DPR. Maka, jika beberapa fraksi belakangan seolah merasa 
“kecolongan”dengan usulan tersebut, ucapan mereka mudah terlihat sebagai 
sandiwara belaka.

Aksi saling kecam dan usir partai lain dari sekretariat gabungan partai koalisi 
pendukung pemerintah lantaran usulan dana aspirasi pun hanya terlihat seperti 
keramaian sirkus—tanpa makna. Sekalian adegan debat di panggung DPR, selain 
tidak dilengkapi argumen yang mencerahkan, terkesan sekadar basa-basi untuk 
mencuri perhatian masyarakat.

Berdasarkan pengalaman di negara lain, dana aspirasi, yang mencontoh dana 
gentong babi di Amerika, rawan korupsi suara. Alih-alih menjadi tambahan dana 
untuk membangun daerah, para politikus busuk menggunakan dana ini untuk membeli 
suara pemilih.

Sikap DPR dalam soal anggaran memang semakin mencemaskan. Mereka 
terang-terangan berani
 melanggar pagar api yang memisahkan fungsi legislatif dan eksekutif yang 
mestinya dihormati bersama. Bila seorang anggota DPR menenteng Rp 15 miliar ke 
daerah pemilihannya, sesuai dengan usulan dana aspirasi, apa perbedaan dia 
dengan seorang kepala dinas instansi pemerintah? Menteri Keuangan Agus 
Martowardojo berkata benar ketika mengingatkan bahwa dana aspirasi rawan 
bergesekan dengan sejumlah undang-undang. Agus kelihatan ingin mengatakan, 
jangan sampai, karena “ketakmengertian”anggota DPR, pejabat pemerintah ikut 
terseret ke balik terali besi.

Anggota DPR menilai banyak dana pembangunan tidak menetes sampai ke daerah 
sebagai dasar perlunya dana aspirasi. Padahal macet atau lambatnya penyerapan 
anggaran lebih karena masalah administrasi dan birokrasi pemerintahan. Di sini 
anggota DPR harus menjalankan fungsi pengawasannya, bukan malah minta 
kewenangan menyalurkan dana seperti layaknya eksekutif.

Para ekonom sudah menyampaikan bahwa
 bila anggota DPR cermat melihat anggaran pemerintah, mereka akan tahu bahwa 
dana yang dialokasikan untuk pembangunan daerah sudah cukup besar.Total dana 
alokasi umum, dana alokasi khusus, dan dana bagi hasil untuk tiap provinsi 
melebihi Rp 1 triliun. Adapun untuk kabupaten/kota Rp 500 miliar per tahun. Itu 
belum termasuk dana kementerian dan lembaga pemerintah lain yang disalurkan ke 
daerah lewat mekanisme dekonsentrasi.

Bila anggota DPR dapat memastikan dana itu dibelanjakan dengan benar, 
kesejahteraan rakyat niscaya akan meningkat. Tak perlu berakrobat melanggar 
aturan. Menjalankan pengawasan dengan baik saja sudah cukup untuk membuat 
anggota DPR lebih dekat dengan konstituennya. ●

http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/06/21/ArticleHtmls/21_06_2010_003_014.shtml?Mode=1

-- "One Touch In
 BOX"

To
 post  : [email protected]

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

Catatan : -  Gunakan bahasa yang baik dan santun
                -  Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu
                -  Hindari ONE-LINER
                -  POTONG EKOR EMAIL
                -  DILARANG SARA
               -  Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau    
                Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.
             
 -  Berdiskusilah dengan baik dan bijak.
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------
“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck.

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang 
lidahnya" -Ali bin Abi Talib.



      



-- 

"One Touch In BOX"

 

To post  : [email protected]

 

"Ketika berhenti berpikir, Anda akan kehilangan kesempatan"-- Publilius Syrus

 

Catatan : -  Gunakan bahasa yang baik dan santun

                 -  Tolong jangan mengiklan yang tidak perlu

                 -  Hindari ONE-LINER

                 -  POTONG EKOR EMAIL

                 -  DILARANG SARA

                -  Opini Anda menjadi tanggung jawab Anda sepenuhnya dan atau  

                   Moderator Tidak bertanggung Jawab terhadap opini Anda.

               -  Berdiskusilah dengan baik dan bijak.

-~----------~----~----~----~------~----~------~--~------------------------------------------------------------

“Bersikaplah sopan, tulislah dengan diplomatis, meski dalam deklarasi perang 
sekalipun seseorang harus mempelajari aturan-aturan kesopanan.” -- Otto Von 
Bismarck.

 

"Lidah orang berakal dibelakang hatinya, sedangkan hati orang dungu di belakang 
lidahnya" -Ali bin Abi Talib.




      


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke