Ada kekeliruan dalam pemikiran ini saya kira. Kerusuhan terjadi melihat dari sejarah sejak Indonesia merdeka, adalah karena ada trigger / penyulut, jadi kapanpun disulut akan muncul, tinggal strateginya saja.
Kesenjangan , sesuai prinsip2 Survival of the Fittest, maka bagi organisme yang tidak Fit akan tewas, menghilang, hingga tersisa yang fit saja. Sehingga dengan demikian tetep terjaga titik kesetimbangannya. Dan Orang miskin akan selalu berkurang dan selalu berkurang, karena tewas. Lanjutkan ...... Pada 29 Juli 2010 16:43, Satrio Arismunandar <[email protected]>menulis: > > > "Ibukota Tak Pindah, Rusuh 98 Bisa Terulang" > Arfi Bambani Amri > Kamis, 29 Juli 2010, 16:25 WIB > > > > VIVAnews - > Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas > Indonesia, Andrinof Chaniago, menyatakan pemindahan Ibukota ke luar > Pulau Jawa mendekati titik urgensi. Menurutnya, Jakarta berpotensi > mengalami ledakan sosial dalam rentang 20 tahun yang akan datang. > > "Kalau > tidak ada keputusan politik untuk pindah, kita mungkin menghadapi > ledakan sosial seperti Mei 1998," kata Andrinof dalam jumpa pers di > sebuah restoran di Jakarta, Kamis 29 Juli 2010. > > Ledakan sosial > itu, kata anggota Visi Indonesia 2033 itu, karena menajamnya > kesenjangan sosial di Jakarta. Kelas menengah ke bawah yang tak bisa > mengakses perumahan murah di tengah kota terpaksa mendiami perumahan > kumuh atau tinggal di luar kota. Ketika tinggal di luar kota, muncul > beban transportasi karena lapangan pekerjaan hanya tersedia di tengah > kota. > > Saat yang sama, pemerintah tidak memberikan pelayanan > transportasi massal, cepat dan murah sehingga beban untuk warga > menengah ke bawah semakin besar. "Muncullah cost of poverty," > kata Tata Mutasya, ekonom lulusan Universitas Indonesia dalam jumpa > pers bersama Andrinof. "Yaitu orang miskin membayar lebih mahal," kata > Tata yang mendapatkan master di bidang ekonomi dari sebuah universitas > di Turin, Italia, itu. > > Maksudnya membayar lebih mahal adalah, > orang-orang kalangan menengah atas yang bisa tinggal di dalam kota tak > membutuhkan biaya banyak untuk tiba di tempat kerja. Sementara, > kalangan menengah bawah harus berjibaku dengan kemacetan namun juga > dengan biaya yang lebih banyak untuk sampai ke tempat kerja. > > Jadinya > apa? "Satu dari sepuluh orang di Jakarta ini bisa dikatakan mengidap > gangguan jiwa ringan," kata Andrinof. Kemudian delapan dari sepuluhnya > mengalami stres. Kemudian angka kriminalitas menaik karena perbedaan > pendapatan yang semakin tajam. > > "Jelas, mempertahankan Jakarta > sebagai Ibukota sampai beberapa tahun ke depan sangat berbahaya, karena > segregasi semakin menajam," katanya. (hs) > > Satrio Arismunandar > Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3 > Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 > Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542, Fax: 79184558, 79184627 > http://satrioarismunandar6.blogspot.com > HP: 0819 0819 9163 > > "Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si > tigawarna (Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah > pekerjaan kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan > sebanyak-banyaknya keringat" > > (Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1950) > > > [Non-text portions of this message have been removed]

