Kamis, 29/07/2010 17:41 WIB

        KSAU : Tidak Selamanya TNI AU Harus Bergantung Pada AS

        
                Bagus Kurniawan - detikNews
          
        
        

                Yogyakarta
- Indonesia tidak bisa sepenuhnya bergantung pada Amerika Serikat (AS)
dalam hal teknologi kedirgantaraan. Diperlukan Kerjasama dengan negara
lain untuk mengurangi ketergantungan teknologi pada satu negara saja.

Demikian
disampaikan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), Marsekal Imam Sufaat
dalam acara peringatan Hari Bakti TNI AU ke-63 di Akademi Angkatan
Udara, (AAU) di Maguwo, Yogyakarta, Kamis (29/7/2010).

"Ada
banyak tawaran kerjasama. Salah satunya kerjasama dengan pemerintah
Korea Selatan dalam pembuatan pesawat. Diharapkan bisa dihasilkan
pesawat tempur pada 2020 mendatang. Ada juga tawaran kerjasama dengan
Pakistan untuk membuat pesawat tempur dengan kemampuan di atas F-16
buatan AS," kata Imam.

Diakui Imam, selama ini Indonesia membeli
peralatan kedirgantaraan hanya dari Amerika Serikat saja. Namun
beberapa pabriknya ada yang tidak memproduksi lagi. Kerjasama dengan
Korea Selatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi
ketergantungan. 
"Rencana pembuatan pesawat tempur ini untuk
spesifikasi teknologi pesawatnya lebih handal dibanding dengan F-16
buatan AS," katanya.

Dia menjelaskan kerjasama penguasaan
teknologi pembuatan pesawat itu sudah ada dalam nota kesepahaman (MoU)
yang telah dibuat oleh Departemen Pertahanan dengan cara penyertaan
saham sebanyak 20 persen. Di luar kerjasama itu ada upaya
pembuatan
pesawat tempur seperti yang dilakukan India-China. Dua negara ini
sekarang sudah mampu menghasilkan pesawat tempur dengan kemampuan di
atas pesawat tempur F16 buatan AS.

"Saat ini kita juga
mendapatkan tawaran kerjasama dari Pakistan. Kalau membuat pesawat
tempur sendiri kita bisa dapatkan break event poin untuk 200 produksi
pesawat tempur," kata Imam.

Ditanya mengenai alat utama sistem
persenjataan (alusista) yang dimiliki, Imam mengatakan sebenarnya
kekuatan militer Indonesia sudah mampu untuk memproduksi bom maupun
penguasaan teknologi roket dengan sasaran dari udara ke darat. Khusus
untuk pengembangan roket sudah dilakukan oleh Lembaga Penerbangan
Antariksa Nasional (LAPAN) yang berupaya meluncurkan roket sendiri.

"Namun
untuk peluru kendali, Indonesia masih perlu transfer teknologi dan
dukungan  pengembangan teknologi dirgantara. Buatan PT Pindad sudah
kita pakai. Soal isian kita tak mengalami masalah hanya untuk sistem
pengendalian memang harus lebih kita kuasai," pungkas Imam Sufaat.

                 (djo/djo)
                




Satrio Arismunandar 
Executive ProducerNews Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 3542,  Fax: 79184558, 
79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com
HP: 0819 0819 9163

"Janganlah mengira kita semua sudah cukup berjasa dengan turunnya si tigawarna 
(Belanda). Selama masih ada ratap tangis di gubuk-gubuk, belumlah pekerjaan 
kita selesai! Berjuanglah terus dengan mengucurkan sebanyak-banyaknya keringat"

(Pidato Bung Karno, 17 Agustus 1950)



 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke