Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr

yang sampai sekarang sudah dikunjungi  lebih dari  630  100  kali



 = = = =   = = =   = = =





Revolusi, Bung Karno dan 17 Agustus

adalah satu dan senyawa





Membikin Rakyat Indonesia kranjingan kepada

masyarakat adil dan makmur





Tidak lama lagi kita semua akan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
Untuk menyambut hari proklamasi kemerdekaan bangsa kita itu, maka di bawah
berikut ini disajikan lanjutan tulisan-tulisan yang lalu mengenai  Revolusi,
satu gagasan besar  (dan amat bersejarah!)  bagi bangsa Indonesia, yang
sudah disampaikan oleh Bung Karno.



Memperingati 17 Agustus dengan mengangkat kembali ajaran-ajaran Bung Karno
tentang Revolusi adalah cara baik untuk menyatukan hari yang keramat ini
dengan satu-satunya tokoh agung dan yang paling besar jasanya bagi bangsa
dan negara Republik Indonesia.



Sebab, pada hakekatnya, sosok Bung Karno adalah pengejawantahan Revolusi
Indonesia, yang mencerminkan juga gagasan besar Revolusi bagi ummat manusia,
di Asia-Afrika, atau di  bagian dunia lainnya, yang tertindas dalam
penghisapan dan pemerasan.



Oleh karena itu, memperingati 17 Agustus tanpa memperingati  kebesaran Bung
Karno dalam sejarah bangsa adalah suatu kekurangan, atau suatu kesalahan,
bahkan, pada hakekatnya,  suatu pengkhianatan. Memperingati 17 Agustus
dengan sengaja melupakan Bung Karno adalah sikap politik yang keliru dan
sikap moral yang nista.



Revolusi dan Bung Karno dan 17 Agustus adalah satu dan senyawa serta  tidak
bisa dipisahkan. Bung Karno adalah jiwa paling utama dari 17 Agustus, di
samping adanya tokoh lainnya, yaitu Bung Hatta.  Seperti yang dirumuskan
oleh alm Subadio Sastrosatomo (pendiri dan tokoh PSI) “Bung Karno adalah
Indonesia dan Indonesia adalah Bung Karno”.



Revolusi tidak boleh mandeg dan menyeleweng



Dalam pidatonya “Vivere Pericoloso” dalam tahun 1964 Bung Karno dengan
pajang lebar, dan berkali-kali, mengatakan bahwa bangsa Indonesia perlu
meneruskan Revolusi, yang pada hakekatnya adalah satu proses, satu
perjalanan, satu gerak, yang tidak boleh mandeg dan tidak boleh menyeleweng.



Ketika kita semua akan memperingati Hari 17 Agustus dalam tahun 2010 ini,
maka kita bisa merasakan atau menyaksikan bahwa Revolusi Rakyat Indonesia
yang sudah pernah berkobar begitu hebat dan menggelora begitu dahsyat di
bawah pimpinan  Bung Karno bersama-sama rakyat sekarang telah mandeg atau
kelihatan mati.



Kita bisa melihat sendiri di sekeliling kita sendiri bahwa tidak sedikit
orang yang tidak mengerti lagi apa arti sebenarnya Revolusi, tidak memahami
tujuan proklamasi 17 Agustus, tidak mengenal kebesaran Bung Karno bagi
bangsa, acuh-tak-acuh  terhadap kesengsaraan orang lain.



Kita mengetahui  bahwa situasi yang demikian itu disebabkan karena Revolusi
Rakyat Indonesia, yang telah menjadikan bangsa Indonesia pernah mempunyai
sikap revolusioner, patriotik, nasionalis, dan internasionalis sesuai dengan
ajaran-ajaran Bung Karno telah dibunuh oleh rejim militer Suharto.



Revolusi Rakyat Indonesia telah dimatikan oleh Orde Baru, dengan lebih dulu
menghancurkan kekuatan kiri, dengan membunuh jutaan manusia tidak bersalah
(di antaranya terutama golongan PKI) dan memenjarakan ratusan ribu lainnya
selama jangka waktu yang lama sekali.



Dengan dilumpuhkannya kekuatan kiri dengan senjata secara luar iasa
kejamnya,  kemudian disusul dengan digulingkannya Bung Karno secara khianat
oleh Suharto, maka Revolusi Rakyat jadinya ikut mandeg. Sebab, kekuatan
kirilah yang menjadi kekuatan utama, menjadi pendorong, dan menjadi sokoguru
Revolusi Rakyat Indonesia bersama-sama Bung Karno.



Dengan mandegnya Revolusi rakyat itu  maka tujuan revolusi 17 Agustus telah
nyeleweng  atau diselewengkan, sehingga keadaan negara dan bangsa dalam
situasi yang serba menyedihkan sekarang ini.



Situasi sekarang berbeda sekali dengan di bawah Bung Karno



Banyak hal yang buruk dan busuk yang kelihatan merajalela sekarang ini  --
antara lain : kerusakan moral yang parah di  kalangan tokoh-tokoh
masyarakat, korupsi besar-besaran yang merajalela di seluruh negeri,
bermacam-macam kejahatan di banyak kalangan – tidak terdapat di jaman
pemerintahan di bawah pimpinan Bung Karno.



Kalau sekarang kita melihat adanya apatisme politik di sebagian besar
masyarakat, atau tipisnya perasaan kerakyatan, dan lunturnya semangat
kegotongroyongan, atau hilangnya semangat pengabdian kepada rakyat, maka
berlainan sekali dengan situasi di bawah pimpinan Bung Karno. Sejarah telah
berbicara sendiri, dan dengan jelas pula.



Karena adanya Revolusi di bawah pimpinan Bung Karno maka moral revolusioner
dan semangat mengabdi kepada kepentingan rakyat pernah mendominasi seluruh
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada waktu itu, tidak ada orang-orang
yang berkelakuan seperti jenderal-jenderal polisi yang berrekening gendut,
atau jaksa-jaksa yang terima suap sampai bermilyar-milyar, atau hakim-hakim
yang memperjual-belikan hukum, dan pejabat-pejabat lainnya yang ramai-ramai
menjadi penjahat.



Sedangkan sekarang kerusakan moral kelihatan dimana-mana, penyalahgunaan
kekuasaan meluas, korupsi merajalela di seluruh negeri, pertentangan
horizontal meletup di banyak tempat, ormas-ormas “agama” dan etnik dan
preman bikin onar, rumah-rumah ibadah dirusak atau dibakar.



Suatu waktu akan tiba saatnya di kemudian hari ketika segala kebusukan
moral, kebejatan akhlak, dan kesesatan iman yang sekarang merusak tubuh
bangsa kita itu akan disapu bersih dan habis-habisan oleh Revolusi Rakyat
menurut ajaran-ajaran revolusioner Bung Karno. Hanya Revolusi Rakyat yang
dijalankan menurut ajaran-ajaran Bung Karno-lah yang bisa membersihkan
segala penyakit dan kebusukan yang disandang bangsa kita sekarang ini.



Revolusi Rakyat yang dijalankan menurut petunjuk ajaran-ajaran revolusioner
Bung Karno, -- yang bisa dilengkapi dengan ajaran-ajaran revolusioner
lainnya  -- merupakan jalan untuk mewujudkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus
45.



Sebagian kecil dari gagasan-gagasan Bung Karno tentang Revolusi Indonesia
tercermin dalam beberapa kutipan pidatonya berikut ini.



Revolusi adalah satu perjalanan, satu proses, satu gerak.



Kata Bung Karno ;”Sebab, jangan lupa ; Revolusi kita masih terus berjalan,
dan bukan saja berjalan, tetapi harus bertumbuh, dalam arti pengluasan,
bertumbuh dalam arti pemekaran konsepsi-konsepsi, sesuai dengan tuntutan
jaman, sesuai dengan tuntutan Amanat Penderitaan Rakyat, sesuai dengan
tuntutan The Universal Revolution of Man. Karena itulah, maka tiap kali saya
berdiri di atas Podium 17 Agustus ini, saya bukan saja berdialoog dengan
Rakyat Indonesia yang ber-Revolusi, tetapi juga berdialoog dengan seluruh
Ummat Manusia yang juga dalam Revolusi.



Bagaimana jalannya Revolusi kita ini ? Bagaimana maju-mundurnya Revolusi
kita ini ? Bagaimana « gatuknya » derap-irama Revolusi kita ini dengan
derapmu, hai Umat Manusia di seluruh muka bumi ini ? Dan selalu, dalam
memberikan « stock-opname » yang demikian itu , hati saya  berganti-ganti
terharu-gembira dan terharu-sedih, berganti-ganti mongkok-senang dan
mengkeret-kecewa, ---mongkok-kagum dalam melihat titik-titik- gemilang dalam
jalannya Revolusi kita ini, mengkeret-kecewa dan kadang-kadang
mengkeret-cemas kalau melihat penyelewengan-penyelewengan yang dapat
membahayakan jalannya Revolusi kita itu.



Pendek-kata, saya selalu memberikan balans dari Revolusi kita itu,  --
pasang-surutnya dan pasang-naiknya, dentam-majunya dan geram-deritanya
Revolusi kita itu.



Pada tiap 17 Agustus saya mengajak saudara-saudara menoleh ke belakang
sejenak. Lihat ! Hai saudara-saudara ! Lihat ! Peristiwa-peristiwa di
belakang kita ini, peristiwa-peristiwa di masa yang lampau, merupakan
pelajaran bagi kita semua, pelajaran agar jalannya Revolusi dapat
dipercepat, pelajaran agar yang pahit-getir tidak diulang lagi. Dan
selanjutnya juga selalu saya  lantas mengajak rakyat untuk melihat ke muka :
selalu saya lantas memberikan jurusan, memberikan arah, memberikan direction
selanjutnya, dalam menghadapi masalah-masalah yang akan datang.



Pelajaran dari pengalaman yang sudah,dan jurusan untuk yang di muka, dua hal
itu adalah penting-maha-penting dalam Revolusi yang sedang berjalan, ---
Revolusi yang pada hakekatnya adalah satu perjalanan, satu proses, satu
gerak.



Apalagi bagi satu Revolusi yang sedang dikepung seperti Revolusi kita
sekarang ini, satu Revolusi yang hendak dihancurkan orang, satu Revolusi
yang harus mempertahakan  kepalanya di atas samudera subversi dan intervensi
dari fihak imperialis dan kolonialis, -- satu Revolusi  yang harus
menyelamatkan badannya dan jiwanya dari serangan-serangan yang  maha-dahsyat
dari segala jurusan,  -- dari luar, dari dalam, dari kanan, dari kiri, dari
atas dari bawah. (Dikutip dari Dibawah Bendera Revolusi - DBR, halaman
560-561)



Revolusi kita harus bergerak terus, kata Bung Karno


Kata Bung Karno:”Saya tandaskan sekarang sekali lagi : dus.. Revolusi minta
tiga syarat-mutlak : romantik, dinamik, dialektik.  Romantik, dinamik, dan
dialektik yang bukan saja  bersarang di dada pemimpin, tetapi
romantik,dinamik, dialektik yang menggelora di seluruh hatinya Rakyat, --
romanatik, dinamik, dan dialektik yang mengelektriksir sekujur badannya
Rakyat dari Sabang sampai Merauke.



Tanpa romantik yang mengelektriktrisir seluruh Rakyat tu, Revolusi tak akan
tahan. Tanpa dinamik yang laksana mengkranjingankan seluruh Rakyat itu,
Revolusi akan mandeg di tengah jalan. Tanpa dialektik yang bersambung kepada
angan-angan seluruh Rakyat, Rakyat tak akan bersatu dengan raising
demands-nya Revolusi, dan Revolusi akan pelan-pelan ambles dalam
padang -pasirnya kemasabodohan, seperti kadang-kadang ada sungai
ambles–hilang dalam gurun-gurun pasir sebelum ia mencapai samudera lautan.



Karena itu maka kita harus memasukkan romantik, dinamik, dan dialektik
Revolusi itu dalam dada kita semua, kita pertumbuhkan, kita gerakkan, kita
gemblengkan dalam dada kita semua, sampai ke puncak-puncaknya kemampuan
kita, agar Revolusi kita dan Revolusi Ummat Manusia dapat bergerak-terus,
menghantam dan membangun terus, mendobrak segala rintangan yang direncanakan
dan dipasangkan oleh fihak imperialis dan kolonialis.

Revolusi bukan karena sakt hati pribadi



Dari kutipan yang berikut ini, Bung Karno mengungkapkan pandangannya tentang
Revolusi yang hanya didorong oleh impuls (rangsangan atau gerak hati yang
timbul tiba-tiba, atau mengikuti dorongan hati)  perseorangan, ambisi dari
seorang-orang, atau rasa sakit-hati-pribadi.



Artinya, menurut  Bung Karno Revolusi haruslah bersifat massal, mendapat
dukungan rakyat, dan sesuai dengan harapan atau kemauan rakyat, dan bukan
hanya karena kemauan  atau ambisi perseorangan.



Kata Bung Karno :”Adakah Revolusi tanpa tiga syarat-mutlak itu tadi ? Ada!
Tetapi Revolusi yang tanpa romantik, dinamik,dialektik massal, Revolusi yang
hanya didorong oleh impuls perseorangan, ambisi pribadi dari seorang-orang
atau rasa– sakit-hati-pribadi sebagai dinamik dari kekuatan , -- revolusi
yang demikian itu hanyalah merupakan “revolusi istana” saja,  -- satu “
palace revolution”, yang sekarang muncul,  besok sudah hilang kembali.



Revolusi yang demikian itulah yang sering ditunggangi oleh kaum imperialis !
Revolusi yang demikian itulah yang sering dibuat oleh kaum imperialis,
dengan mengadakan “coup”, pembunuhan pemimpin, dan  lain sebagainya.



Juga di Indonesia kaum imperialis kadang-kadang mencoba mengadakan revolusi
yang demikian itu, dengan maksud hendak mematikan Revolusi kita! Tetapi kita
selalu waspada! Rakyat Indonesia, Alhalmdulillah selalu wapada ! Rakyat
Indonesia telah mengganyang berkali-kali percobaan-percobaan kaum imperialis
itu!. (Kutipan dari DBR halaman    564-565)





Kranjingan untuk selalu sibuk dalam aksi



Kutipan yang di bawah ini dengan jelas sekali menunjukkan bahwa Bung Karno
senang sekali mengamati (pada waktu itu, artinya sebelum rejim militer
Suharto membunuh Revolusi Indonesia ) bangsa Indonesia mempunyai sikap yang
kranjingan (tergila-gila) kepada segala yang berkaitan dengan perjuangan
untuk masyarakat adil dan makmur. Bung Karno menginginkan bahwa bangsa
Indonesia tidak masa-bodoh saja, dan mengharapkan supaya kalbunya selalu
bergelora dan selalu sibuk dalam aksi.



Kata Bung Karno:“Syukur Alhamdullillah ! Demikan itulah memang Bangsa
Indonesia ! Bewust! Bewust! Sadar!  Ia tidak boleh masa-bodoh. Ia tidak
seperti rumput. Ia selalu “gito-gito lir gabah den interi”. Kalbunya
senantiasa bergelora. Fikirannya selalu bergerak. Jiwanya senantiasa
“kranjingan”.



Kranjingan seperti ditiup Malaikat! Kranjingan dengan cita-cita. Kranjingan
dengan idee. Kranjingan dengan tujuan perjoangan. Kranjingan dengan
kemerdekaan. Kranjingan dengan idee masyarakat adil dan makmur. Kranjingan
dengan hapusnya “exploitation de l’homme par l’homme”. Kranjingan dengan
lenyapnya “exploitation de nation par nation”. Kranjingan dengan benci
mati-matian kepada imperialisme dan kolonialisme. Kranjingan dengan hidup
berjoang.  Kranjingan, ya kranjingan, maka karena itulah ia selalu sibuk
dalam aksi”. (Kutipan dari DBR, halaman   592)



Mengingat itu semua, kiranya jelas bahwa untuk mengatasi keterpurukan dab
kerusakan atau pembusukan yang terjadi di banyak bidang di negara kita
dewasa ini, perlu diteruskan Revolusi Rakyat yang sudah dijalankan di bawah
pimpinan Bung Karno, dengan mentrapkan ajaran-ajaran revolusionernya, sesuai
dengan kondisi kongkrit sekarang.



Paris, 2 Agustus  2010



A. Umar Said






[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke