Rupiah kuat malah takut.. payah tuh orang".. Lihat ada yang ingin dolar >10ribu.. rusak banget..
Opini waras malah cuma secuil dikutip.. ".. Meski demikian, tekanan terhadap ekspor itu diyakini Menko Perekonomian Hatta Rajasa hanya sementara. Karena, penguatan rupiah juga menunjukkan fundamental Indonesia yang makin kuat. .." Berapa banyak sih eksportir di Indonesia? Berapa banyak rakyat yang terpukul dengan besarnya nilai dolar dibanding rupiah? Pejabat/penguasa lebih membela eksportir(?).. Apakah ada kolusi antara mereka? Rakyat? Ke laut aja luh.. kata penguasa yang kolusi (jahat) dengan pengusaha.. Wakil rakyat yang eling, bagaimana responnya nih??? Dari twitterland.. * chicohakim <http://twitter.com/chicohakim>* �...@faisalbasri<%e2%80...@faisalbasri>: Ke-byk-an petinggi negeri lbh gundah & kebakaran jenggot klu RP menguat ketimbang melemah. Mrk mnumpuk $, t'msk Presiden Gubrak !! Pantas saja negara ini rusak.. lah wong penguasa yang harusnya menjadi pengelola negara malah mencintai negara lain melebihi negaranya sendiri.. :-( Kalau harga produk dalam negeri mahal, pangkaslah itu ekonomi biaya tinggi.. Jangan pengusaha 'diperas' dengan berbagai pungutan resmi apalagi liar.. Jangan siksa rakyat dengan harga" barang tinggi akibat rendahnya nilai tukar rupiah.. Meningkatkan daya saing industri bukan dengan menaikkan nilai tukar mata uang asing a m r i k (negeri pujaan para penjilat).. -- Wassalam, Irwan.K "Better team works could lead us to better results" http://irwank.blogspot.com/ fb/twitter/skype <http://irwank.blogspot.com/fb/twitter/skype>: irwank2k2 ------------ http://bisnis.vivanews.com/news/read/170463-kenapa-pemerintah-bi-tak-suka-rupiah-kuat Kenapa Pemerintah-BI Tak Suka Rupiah Kuat "Rupiah di level 9.000 per dolar AS cukupmembahayakan industri." Kamis, 12 Agustus 2010, 06:58 WIB Arinto Tri Wibowo VIVAnews - Rabu sore, 11 Agustus 2010, nilai tukar rupiah masih bertahan di bawah 9.000 per dolar AS. Hampir sepekan terakhir, pergerakannya cukup fluktuatif. Awal pekan ini, berdasarkan data kurs tengah BankIndonesia (BI), rupiah sempat menyentuh 8.932 per dolar AS. Level tersebut adalah posisi terkuat rupiah pekan ini sebelum melemah pada Selasa dan Rabu. Pada Selasa 10 Agustus 2010, rupiah menggapai 8.953 per dolar AS,sebelum terbenam menjadi 8.966 per dolar AS hingga Rabu sore. Gerak rupiah yang seolah dikemas di bawah 9.000 dolar AS itu ternyata tak membuat petinggi ekonomi dan moneter senang. Hampir senada, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) tidak terlalu suka dengan penguatan rupiah yang cukup tajam. Pemerintah dan BI justru menginginkan rupiahterkendali di level tertentu, sehingga posisi ekspor Indonesia tetap kompetitif dibanding negara lain. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, jika rupiah terlalu menguat, eksportir akan dirugikan. Daya saing produk ekspor Indonesia bisa kalah dengan negara lain. "Bila barang impor sudah murah,harga (barang di dalam negeri) bisa dianggap terlalu tinggi," kata Agusdi kantor Menko Perekonomian, Jakarta, 11 Agustus 2010. Agus pun menyatakan keinginannya agar rupiah berada di kisaran 9.000 per dolarAS hingga akhir tahun ini. Penguatan rupiah yang terjadi saat inikarena ada kepercayaan investor pada pasar Indonesia. Senada dengan pemerintah, BI pun akan terus menjaga rupiah agar stabil pada kisaran tertentu dan dianggap menguntungkan semua pihak. "BI tidak suka melihat rupiah terlalu menguat. Karena itu untuk menjaga daya saing," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah. Bahkan, menurut Halim, Indonesia sebenarnya masuk fase dengan ekspor yang membaik. Namun, fase membaiknya ekspor itu tidak dinikmati kalanganeksportir. Porsi ekspor tahun ini sekitar 25 persen justru belum tercapai separuhnya. "Rupiah di level 9.000 per dolar AS cukup membahayakan industri," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Aneka Keramik, Achmad Wijaya, ketika dihubungi VIVAnews. Penguatan rupiah, dia melanjutkan, dapat membuat daya beli terhadap produk domestik turun, karena kalah bersaing dengan produk impor. "Kalau rupiah terlalu dijaga, pemerintah justru tidak mendorong ekspor,"ujarnya. Apalagi, pemerintah berencana menaikkan porsi ekspor menjadi 30 persen."Rupiah yang kuat akan menyulitkan kami di industri keramik, tekstil, dan juga bahan bangunan," kata dia. Namun, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor atas dasar harga berlaku naik dari Rp362,2 triliun pada triwulan I-2010 menjadiRp374 triliun pada triwulan II-2010. Peningkatan ekspor tersebutterjadi pada komoditas barang dan jasa. Nilai ekspor pada triwulan II-2010 berdasarkan harga konstan 2000 meningkat sebesar 2,7 persen dibanding triwulan I-2010 (qtq), yaitu dari Rp248,8 triliun menjadi Rp255,5 triliun. Apabila dibandingkan dengan triwulanyang sama pada 2009 (yoy), nilai ekspor atas dasar harga konstan 2000 triwulan II-2010 meningkat sebesar 14,6 persen. Demikian juga pertumbuhan ekspor secara kumulatif (ctc) meningkat sebesar 17,2 persen. Kontribusi ekspor pada triwulan II- 2010 mencapai 23,8 persen. *** Keinginan eksportir tersebut sebenarnya sudah disikapi BI. Otoritas moneter terus memantau agar rupiah tidak merugikan eksportir. Namun,menurut Halim, karena menganut sistem mengambang bebas, nilai tukar rupiah cenderung dinamis. Meski demikian, tekanan terhadap ekspor itu diyakini Menko Perekonomian Hatta Rajasa hanya sementara. Karena, penguatan rupiah juga menunjukkan fundamental Indonesia yang makin kuat. Eksportir sebenarnya berharap nilai tukar rupiah dapat bergerak di kisaran Rp10.000 hingga 10.500 per dolar AS. "Setelah lebaran, nilai tukar rupiah semestinya dilepas saja. Tidak perlu dikurung (intervensi) terus," ujar Achmad. Kepala Ekonom PT Bank Danamon Tbk, Anton Gunawan, mengatakan nilai tukar riil rupiah yang menguat di antaranya bisa disebabkan nilai nominal yang menguat dibanding mata uang negara mitra dagang. BI sebenarnya juga sudah berusaha menahan laju penguatan rupiah itu. Meski diakui, laju rupiah terkadang tidak bisa dihindarkan. "Apalagi, hampir seluruh negara berkembang mengalami lonjakan masuknya dana-dana asing," tuturnya. Untungnya, negara-negara tersebut, seperti Brasil, Korea, dan lainnya memiliki kontrol terhadap modal yang masuk (capital control), sedangkan Indonesia tidak. "BI kemudian hanya melakukan intervensi agar rupiah tidak terlalu kuat," ujarnya. Menurut Anton, eksportir di industri manufaktur akan mengalami imbas cukup signifikan dari penguatan rupiah tersebut. Hal itu karena harga produk yang diekspor tereduksi dari penguatan rupiah terhadap mata uang negara mitra dagang. Apalagi bila komponen bahan baku ekspor diperoleh dari dalam negeri, dibanding dari impor yang lebih murah karena penguatan rupiah. Berdasarkan data transaksi di Bloomberg, Rabu pukul 16.00 WIB, nilai tukar rupiah bercokol di posisi 8.974 per dolar AS daritransaksi sesi pertama yang berada di level 8.972 per dolar AS. Sedangkan berdasarkan data kurs tengah BI, rupiah sore ini berakhir di posisi 8.966 per dolar AS. Pada perdagangan Selasa 10 Agustus 2010, mata uang lokal tersebut berakhir di level 8.953 per dolar AS. • VIVAnews Pada 19 Agustus 2010 20.37, Sandy Dwiyono <[email protected]> menulis: > > > > http://www.antaranews.com/berita/1282220122/rupiah-menguat-ke-8957-per-dolar > > *Rupiah Menguat ke 8.957 Per Dolar* > > Kamis, 19 Agustus 2010 19:15 WIB > > *Jakarta (ANTARA News)* - Nilai tukar rupiah di pasar uang spot antarbank > Jakarta Kamis sore menguat akibat kuatnya aksi beli oleh pelaku pasar asing > sebagaimana terjadi di pasar saham. > > Rupiah ditransaksikan pada kisaran *8.957/8.967* per dolar AS, lebih baik > 18 poin dibanding posisi penutupan hari sebelumnya 8.975 per dolar AS. > > Ekspektasi positif investor terhadap pasar luar negeri mendorong rupiah > menguat, namun menurut analis Bank Himpunan Persaudaraan Rully Nova, > intervensi Bank Indonesia yang kemungkinan akan memperlambat penguatan > rupiah selanjutnya. > > Pemerintah mengharapkan rupiah kembali ke level 9.000 per dolar AS agar > ekspor Indonesia di pasar ekspor bisa kompetitif. > > Meski demikian, menurut dia rupiah berpeluang untuk kembali naik karena > investasi asing di pasar terus meningkat. > > Hal ini terlihat dari investasi asing di pasar saham yang sampai Kamis > pukul 14.00 sudah mencapai Rp1,4 triliun, ujarnya. > > Kondisi ini, menurut dia akan mendorong rupiah bisa berada dibawah angka > 8.900 per dolar. > > (H-CS/A011/S026) > [Non-text portions of this message have been removed]

