http://cetak.kompas.com/read/2010/08/22/03291580/menuju.kiblat.busana.muslimah
MENUJU KIBLAT Busana Muslimah
Minggu, 22 Agustus 2010 | 03:29 WIB
Yulia Sapthiani
Sejak berangkat 15 Agustus, selama sepekan sejumlah perancang busana muslimah
Indonesia menjadi peserta Shanghai Expo. Dalam acara itu, Merry Pramono dan
kawan-kawan memperkenalkan busana muslimah Indonesia ke kancah internasional.
Keberangkatan para perancang yang disokong Kementerian Koordinator Perekonomian
itu diharapkan menjadi langkah pertama guna menjadikan Indonesia sebagai kiblat
busana muslimah dunia. Hal itu sebagaimana dicanangkan dalam acara Indonesia
Islamic Fashion Festival, Jumat (13/8), di Plaza Indonesia, Jakarta.
Pada pencanangan tersebut, tak kurang perwakilan dari lima kementerian negara
dan departemen menandatangani poster besar yang dibingkai dan dibawa dua orang
model. Mereka adalah perwakilan dari Menteri Koordinator Perekonomian;
Perindustrian; Kebudayaan dan Pariwisata; Koperasi dan Usaha Kecil Menengah;
hingga Pemuda dan Olahraga.
Prosesi ini menjadi tanda bahwa sejak malam itu Indonesia tengah menapak
menjadi
kiblat busana muslimah dunia. Target pencapaiannya adalah tahun 2020.
Lalu, setelah mengikutsertakan sejumlah perancang ke Shanghai Expo, apa langkah
lain yang akan dilakukan agar Indonesia bisa sejajar namanya dengan Milan,
Paris, dan New York sebagai pusat mode dunia yang selalu disebut-sebut dalam
acara tersebut? Sayang, detailnya belum ada.
Padahal, berbagai impian seperti mendatangkan lebih banyak wisatawan asing dari
Timur Tengah dan meningkatkan ekspor hingga mencapai 14 miliar dollar AS tahun
2015, dunia sudah dijabarkan.
Gilarsi Wahyu Setijono sebagai Direktur Indonesia Islamic Fashion Consortium
(IIFC) mengatakan, cetak biru untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana
muslimah akan dibuat dan diharapkan selesai tahun ini. Tentu saja dengan
melibatkan pemerintah, minimal kementerian negara dan departemen yang wakilnya
hadir pada acara pencanangan, Jumat malam.
Sebelum Gilarsi menjelaskan langkah tersebut, Esti dari Departemen Kebudayaan
dan Pariwisata menyatakan, pihaknya akan mendatangkan pembeli dari dunia
internasional yang sekaligus akan meningkatkan jumlah wisatawan.
Dirjen Industri Logam Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Anshari
Bukhari
berjanji akan memfasilitasi kerja sama antara perancang dan pengusaha tekstil
yang selama ini belum terjadi. Kerja sama ini belum terjadi karena desainer
biasanya harus membeli bahan tekstil dalam jumlah besar.
”Padahal, dengan perkembangan teknologi sekarang ini, sudah ada mesin yang bisa
memproduksi tekstil dalam jumlah kecil,” kata Anshari.
Tersaingi Malaysia
Waktu 10 tahun menuju 2020 memang masih lama. Namun, jika tak ada langkah nyata
yang bisa dilakukan, berbagai impian yang diutarakan dalam acara pencanangan
rasanya secara perlahan akan terlupakan.
Diberi kesempatan untuk berbicara pada acara jumpa pers, desainer Ida Royani
seolah menyentil Pemerintah Indonesia dengan mengutarakan apa yang dilakukan
Malaysia dengan menggelar Islamic Fashion Festival (IFF) sejak 2006. Selain
digelar di Malaysia dan Indonesia, peragaan busana acara ini pernah
diselenggarakan di Abu Dhabi, Dubai, dan New York.
Selain mempromosikan perancang negaranya, Malaysia juga menggaet beberapa
perancang dari Indonesia. Untuk tahun ini, di antaranya ada Ida Royani, Itang
Yunasz, Ghea Panggabean, Merry Pramono, dan Iva Latifah. ”Acara tersebut
dibiayai penuh oleh kerajaan,” kata Ida, yang sudah 32 tahun merancang busana
muslim.
Desainer lainnya, Itang Yunasz, berharap, menjadikan Indonesia sebagai kiblat
busana muslimah dunia tidak sebatas pencanangan atau hanya sebagai reaksi
karena
negara tetangga sudah terlebih dulu memiliki program promosi busana muslimah
internasional. Melalui IFF pula, Itang memiliki konsumen untuk rancangannya
dari
Malaysia dan beberapa negara Timur Tengah.
”Aksi untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia seperti
apa?” kata Itang, yang berharap banyak pada peran pemerintah untuk mewujudkan
target tersebut.
Apalagi, Itang pernah mengalami kesulitan saat meminta bantuan pemerintah untuk
meringankan biaya bagasi guna mengikuti IFF. Surat permohonan yang disampaikan
kepada salah satu departemen tak direspons.
Itang mengatakan, Indonesia memiliki modal untuk menjadi pusat mode busana
muslimah. Tak lain karena keberadaan berbagai budaya daerah yang bisa
dieksplorasi untuk dijadikan busana muslimah. ”Kerudung dengan berbagai model
yang diberi hiasan gemerlap pun hanya ada di Indonesia,” ujar Itang.
Dengan modal inilah, ditambah pasar busana muslim yang cukup besar di negara
sendiri, Indonesia memang seharusnya bisa menjadi pusat perhatian dunia untuk
mode busana muslim.
Seperti dikatakan Direktur Budaya dan Pendidikan IIFC Jetti R Hadi, pekerjaan
rumah untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat busana muslim dunia sangat
banyak dan akan dilakukan selangkah demi selangkah.
[Non-text portions of this message have been removed]