http://nasional. kompas.com/ read/2010/ 08/21/17153073/ TNI.Belum. 
Berminat. .NATO.Sudah. Pesan-3



Perlengkapan Militer

TNI Belum Berminat, NATO Sudah Pesan

Sabtu, 21 Agustus 2010 | 17:15 WIB



(21/08/2010) . Banyak perlengkapan militer yang bisa diproduksi sendiri oleh 

putera Indonesia. Namun belum ada goodwill pemerintah untuk menggunakan produk 

dalam negeri. 



TERKAIT:

        * Srinti, Pesawat Bikinan Anak Negeri 

        * Sebagian Besar Bahan Baku Nano Masih Impor 

        * Radar Buatan Indonesia Dipamerkan 

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia ternyata bisa menciptakan perlengkapan perang 

secara mandiri. Ini diungkapkan Achmad Joing, salah satu peneliti dari Badan 

Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) TNI disela-sela acara R&D Ritech Expo 

2010 di Jakarta, Sabtu (21/8/2010) .

Pemerintah belum mau pakai ini, malahan yang beli ini adalah NATO, tiap tahun 

kita mendapatkan order sebanyak 30 ribu setel pakaian tentara. 



-- Achmad Joing

Salah satunya yang paling sederhana adalah membuat pakaian tentara dari rami, 

pengganti kapas. Selama ini Indonesia selalu mengimpor kapas sebagai bahan baku 

kain. Namun Balitbang TNI menemukan tanaman rami, yang tumbuh di dataran tinggi 

mempunyai kualitas lebih baik dari kapas. "Rami ini seratnya lebih halus dari 

kapas, lebih nyaman dipakai, lebih kuat, dan membuat suhu tubuh tetap rendah 

jadi tentara tidak kepanasan," ujar Achmad. 



Pakaian ini telah diteliti dari tahun 2004 sampai 2007. Namun ternyata 

pemerintah Indonesia sampai saat ini masih enggan untuk menggunakan karya anak 

bangsa ini. Menurut Achmad, sejak dipasarkan tahun 2007, pemerintah belum 

melirik pakaian ini, justru mereka mendapatkan pesanan tetap dari Pakta 

Pertahanan Atlantik Utara (NATO). 



"Pemerintah belum mau pakai ini, malahan yang beli ini adalah NATO, tiap tahun 

kita mendapatkan order sebanyak 30 ribu setel pakaian tentara (topi, baju, 

celana, dan sepatu)," ujarnya. 



Selain pakaian, putera Indonesia juga sudah mampu membuat laras untuk senjata 

api, baik laras pendek maupun laras panjang. Pesawat pengintai tanpa awak, alat 

komunikasi militer, panser militer, kapal patroli, sampai rompi anti peluru 
juga 

telah diciptakan dari tangan-tangan generasi muda Indonesia. "Semua terbukti 

lebih baik dan lebih murah," tegas Achmad. 



Namun masalahnya, lanjut Achmad, pemerintah tidak memiliki goodwill untuk 

memberdayakan putera bangsa. "Laras saja kita beli dari Belgia, padahal kita 

sudah bisa buat laras sendiri yang lebih baik dan lebih murah, ini semua hanya 

karena tidak adanya goodwill dari pemerintah," ujarnya.





 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke