Jika berita ini benar, maka problema politik menjadi teleng keterbelakangan Indonesia dan hanya dipecahkan dengan penyelesaian politis. Wujudnya bisa macam-macam seperti yang pernah terjadi di masa lampau, hanya harapan saya generasi kini dan mendatang dapat mengambil pelajaran yang bijak. Jangan oportunis dan pragmatis. Tempuh jalan yang bisa diterima oleh semua golongan masyarakat seperti yang pernah ditempuh oleh para pendiri bangsa. Kompromi di atas dasar prinsip-prinsip Islam, sebab mayoritas penduduk menerima Dinul Islam sebagai jalan hidup mereka.
From: Satrio Arismunandar Sent: Sunday, August 22, 2010 5:29 PM To: [email protected] ; ppiindia ; Indonesia Rising ; sastra pembebasan ; [email protected] ; ex menwa UI 2 ; HMI Kahmi Pro Network ; Forum Kompas ; news Trans TV ; kampus tiga ; technomedia Subject: [ppiindia] NATO lebih hargai karya anak bangsa, ketimbang Pemerintah RI http://nasional. kompas.com/ read/2010/ 08/21/17153073/ TNI.Belum. Berminat. .NATO.Sudah. Pesan-3 Perlengkapan Militer TNI Belum Berminat, NATO Sudah Pesan Sabtu, 21 Agustus 2010 | 17:15 WIB (21/08/2010) . Banyak perlengkapan militer yang bisa diproduksi sendiri oleh putera Indonesia. Namun belum ada goodwill pemerintah untuk menggunakan produk dalam negeri. TERKAIT: * Srinti, Pesawat Bikinan Anak Negeri * Sebagian Besar Bahan Baku Nano Masih Impor * Radar Buatan Indonesia Dipamerkan JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia ternyata bisa menciptakan perlengkapan perang secara mandiri. Ini diungkapkan Achmad Joing, salah satu peneliti dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) TNI disela-sela acara R&D Ritech Expo 2010 di Jakarta, Sabtu (21/8/2010) . Pemerintah belum mau pakai ini, malahan yang beli ini adalah NATO, tiap tahun kita mendapatkan order sebanyak 30 ribu setel pakaian tentara. -- Achmad Joing Salah satunya yang paling sederhana adalah membuat pakaian tentara dari rami, pengganti kapas. Selama ini Indonesia selalu mengimpor kapas sebagai bahan baku kain. Namun Balitbang TNI menemukan tanaman rami, yang tumbuh di dataran tinggi mempunyai kualitas lebih baik dari kapas. "Rami ini seratnya lebih halus dari kapas, lebih nyaman dipakai, lebih kuat, dan membuat suhu tubuh tetap rendah jadi tentara tidak kepanasan," ujar Achmad. Pakaian ini telah diteliti dari tahun 2004 sampai 2007. Namun ternyata pemerintah Indonesia sampai saat ini masih enggan untuk menggunakan karya anak bangsa ini. Menurut Achmad, sejak dipasarkan tahun 2007, pemerintah belum melirik pakaian ini, justru mereka mendapatkan pesanan tetap dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). "Pemerintah belum mau pakai ini, malahan yang beli ini adalah NATO, tiap tahun kita mendapatkan order sebanyak 30 ribu setel pakaian tentara (topi, baju, celana, dan sepatu)," ujarnya. Selain pakaian, putera Indonesia juga sudah mampu membuat laras untuk senjata api, baik laras pendek maupun laras panjang. Pesawat pengintai tanpa awak, alat komunikasi militer, panser militer, kapal patroli, sampai rompi anti peluru juga telah diciptakan dari tangan-tangan generasi muda Indonesia. "Semua terbukti lebih baik dan lebih murah," tegas Achmad. Namun masalahnya, lanjut Achmad, pemerintah tidak memiliki goodwill untuk memberdayakan putera bangsa. "Laras saja kita beli dari Belgia, padahal kita sudah bisa buat laras sendiri yang lebih baik dan lebih murah, ini semua hanya karena tidak adanya goodwill dari pemerintah," ujarnya. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

