Kalau orang Pramuka harusnya mengatakan, "Kegiatan Pramuka menjadi 
tidak menarik dan tidak diminati generasi muda karena 
dilaksanakannya tidak sesuai dengan prinsip dasar dan metodik 
kepramukaan."

" Kegiatan Kepramukaan adalah kegiatan di lingkungan ketiga, di luar 
RUMAH dan SEKOLAH. Hilangnya KESUKARELAAN menyebabkan mutu pembinaan 
makin merosot. JUmlah anak yang diwajibkan jadi Pramuka terlalu 
banyak sehingga tidak terbina dengan baik. Semua guru, suka tidak 
suka, terpanggil atau tidak terpanggil hatinya, semua menjadi 
pembina tanpa memahami seperti apa jalannya proses pembinaan di 
gerakan Pramuka."

" Kita semua harus menginsafi bahwa kualitas lebih penting dari 
kuantitas, bila Gerakan Pramuka mau memberikan sumbangsihnya pada 
Nusa dan bangsa."

Wah, cakep betul kalau ini yang disampaikan oleh pejabat Pramuka.

Hendro Prakoso, MT

Catatan :
Kurikulum ? = maksudnya SKU-SKK ???
Sistem pengajaran ?= metodik kepramukaan ?
Pola pengajaran ?= jenis kegiatan ?

Ya memang membingungkan.




--- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
>  
> Andalan Kwarda  ( Wakil Sekretaris Kwartir Daerah Jabar) 
berbicara  Pramuka , 
> kok sepertinya pejabat Kanwil Pendidikan
> Ingat Kang, Kwarda ngurus Pramuka, 
> Saya belum tahu apa yang dimaksud " KURIKULUM PRAMUKA " 
> dan POLA PEMBINAAN YANG MONOTON  ( 
> Saya sependapat  dengan KMD
>  
> Dan kita harus mulai merubah pengertian kemajuan Pramuka bukan 
seorang jadi  
> lima orang angota, tapi seorang anak setelah menjadi anggota 
Pramuka, jadi  
> Kreatif, Sehat rohani & jasmaninya, menjadi anggota masyarakat 
yang aktif. (  
> lihat Try Satya & Dasa dharma Pramuka ) 
>  
> Salam
> Tata
>  
>  
>      
> Pola Pembinaan Pramuka Monoton
> ( dari : _http://www.klik-galamedia.com/_ (http://www.klik-
galamedia.com/)   
> 23 - 01 - 2008 )
> 
> 
> CIKUTRA,  (GM).-
> Sinyalemen mundurnya minat siswa terhadap Pramuka, disebabkan  
adanya pola 
> pembinaan yang monoton. Idealnya, pembina Pramuka adalah orang 
yang  minimal 
> lulus kursus pembina mahir dasar (KMD). Saat ini, jumlah pembina 
Pramuka  di 
> sekolah-sekolah yang pernah mengikuti KMD hanya sekitar 20%. 
> 
> "Pembina  Pramuka yang pernah mengikuti pelatihan KMD, minimal 
mengetahui 
> kurikulum  Pramuka dan menerapkan sistem pengajaran yang tepat 
guna," ujar  Wakil 
>  Sekertaris Kwartir Daerah ( Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Barat, 
Drs. H. Bana 
>  Subarna kepada "GM" di ruang kerjanya, Jln. Cikutra, Senin (21/1).
> 
> Jika  pembina tidak pernah mengikuti KMD, menurutnya mungkin saja 
pola 
> pembinaan yang  diterapkan tidak sesuai dengan kurikulum Pramuka. 
Sehingga, materi 
> yang  disampaikan sangat monoton dan membosankan. "Kondisi itu 
berimbas pada  
> menurunnya minat siswa untuk mengikuti kegiatan ini," ujarnya.
> 
> Menurut  Bana, untuk menciptakan kecintaan siswa terhadap kegiatan 
Pramuka, 
> setiap  sekolah harus memiliki pembina dari golongan KMD. 
Pasalnya, lulusan KMD 
> mampu  mengajarkan materi yang inovatif dan variatif dalam 
kegiatan Pramuka.  
> 
> "Kenyataan yang ada saat ini menunjukkan, di beberapa sekolah, 
kegiatan  
> Pramuka dibina oleh guru-guru yang tidak tahu persis kurikulum 
Pramuka. Sehingga  
> pola pengajaran Pramuka kurang variatif," katanya.
> 
> Kurang  serius
> 
> Menurut Bana, fenomena yang menyebutkan Pramuka kurang  diminati 
siswa tidak 
> sepenuhnya benar. Munculnya sinyalemen itu disebabkan  kurang 
seriusnya 
> pembinaan Pramuka di sekolah-sekolah.
> 
> "Bagaimana bisa  berkembang, jika sekolah tidak serius dalam 
menangani 
> Pramuka," katanya.  Dikatakannya, untuk meningkatkan pembinaan 
Pramuka, antara 
> Kwarda Pramuka dengan  pihak sekolah harus ada kerja sama. Kedua 
pihak, katanya, 
> harus sejalan.  
> 
> "Jika pihak sekolah ingin meningkatkan pembinaan, namun dari 
kwarda  tidak 
> menyuplai pembina, maka proses pembinaan Pramuka tidak akan jalan. 
Begitu  juga 
> sebaliknya, jika kwarda memotivasi pembinaan, namun pihak sekolah 
tidak  punya 
> perhatian terhadap Pramuka, juga sama saja," paparnya.
> 
> Ia  mengungkapkan, selain perhatian dari pihak sekolah, 
peningkatan kecintaan 
> pada  Pramuka juga sangat dipengaruhi peran dan fungsi  pemerintah.
> 
> Dicontohkannya, pada zaman dulu, pemerintah menetapkan  kebijakan, 
setiap 
> siswa yang ingin menjadi anggota pasukan pengibar bendera  
(paskibra), terlebih 
> dahulu harus bergabung dalam kegiatan Pramuka. Namun, saat  ini 
hal itu sudah 
> tidak diperhatikan lagi. Siapa pun bisa menjadi anggota  
paskibra," tuturnya. 
> 
> Bana menambahkan, Kwarda Pramuka Jabar terus  berupaya mendorong 
peningkatan 
> jumlah peminat Pramuka. Cara yang ditempuh  kwarda, katanya, yaitu 
dengan 
> menginstruksikan kwartir cabang (kwarcab) untuk  melakukan 
pelatihan pada 
> pembina-pembina Pramuka.
> 
> "Jika dibandingkan  dengan provinsi lain yang ada di Indonesia, 
kondisi 
> Pramuka di Jabar lebih baik.  Pada Musyarwarah Nasional (Munas) 
Gerakan Pramuka 
> 2003, Jabar merupakan provinsi  dengan kwarda tergiat dalam 
penyelenggaraan 
> Pramuka. Pada Munas 2008, Kwarda  Jabar berusaha mempertahankan 
predikat ini,"  
> tuturnya. 
> 
> 
> 
> 
>    
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke