Ada artikel menarik di PR Online 27 Februari, tentang " urang Bandung seusia
Penagak & Pandega " yang perlu jadi renungan kita,
Tata
Generasi Cuek Bandung 1997
Oleh H. ROSIHAN ANWAR
JUDUL sebuah buku berbahasa Belanda, Dromen jagers
in Bandung twintigers in het moderne Indonesie (Pemburu-pemburu impian
di Bandung--remaja umur 20-an tahun di Indonesia modern) dikarang oleh
Yatun L.M. Sastramidjaja (Amsterdam, 2000) yang saya lihat di
perpustakaan Erasmus, Jakarta, menarik perhatian saya. Yatun
Sastramidjaja, urang Sunda, adalah antropolog yang bekerja pada
Fakultas Ilmu Masyarakat dan Perilaku Universitas Amsterdam.
Pada Oktober 1997, Yatun tiba di Bandung untuk
mengadakan riset (penelitian) selama enam bulan mengenai situasi dan
kehidupan kaum remaja usia 20-an tahun. Dia sebelumya sudah sering
berkunjung ke Bandung, bertemu dengan keluarganya, dan sempat memantau
kehidupan saudara-saudara sepupunya. Akan tetapi, kali ini dia tinggal
di sebuah rumah kos di Jalan Cihampelas untuk bisa mempelajari perilaku
dan pikiran generasi muda. Dia larut di tengah objek penelitiannya. Dia
menjelma sendiri sebagai een twintiger in Bandung, remaja berusia 20-an
tahun di Bandung.
Yatun tentu sudah paham Indonesia pada tahun 1997
berada dalam cengkeraman masyarakat Orde Baru Soeharto yang otoriter.
Segala sesuatu ditentukan oleh parpol Soeharto yaitu Golkar dan oleh
dwifungsi militer. KKN (kolusi,korupsi, nepotisme) berkecamuk dalam
birokrasi. Orde Baru telah dibangun di atas suatu iklim ketakutan
(angstklimaat).
Menurut Marsilam Simanjuntak, pendiri Forum
Demokrasi, pemuda tidak diberi kemampuan memiliki imajinasi yang
bersifat memandang ke depan. Karena tidak melihat alternatif-alternatif
ke masa depan, pemuda berorientasi pada rakyat atau masa lampau yang
heroik. Namun, lebih banyak pemuda mendapatkan alternatif dalam gaya
hidup atau lifestyle, di mana Orde Baru tidak bisa berpengaruh, di mana
generasi muda mendapatkan sebuah "tempat bebas yang otonom" (autonome
vrijplaats).
Bandung, ibu kota Jawa Barat, pusat budaya Sunda,
kota mahasiswa dengan lebih dua juta penduduk, metropolis ketiga dari
Indonesia, dinamakan kota kembang, demikian tulis Yatun. Bandung
didirikan di zaman kolonial pada tahun 1810, yang pertama punya sekolah
pendidikan untuk pegawai-pegawai pribumi (OSVIA, Opleidingsschool voor
Inlandse Ambtenaren), tahun 1920 punya Technische Hogeschool, Sekolah
Teknik Tinggi di mana Soekarno menjadi mahasiswa.
Tetapi, Bandung tahun 1990-an tidak hanya pusat
kehidupan mahasiswa. Dia juga pusat gaya kehidupan yang terpusat di
Jalan Merdeka dengan Plaza Bandung Indah. Ada hotel-hotel mewah,
restoran, toko-toko fastfood, diskotek, dan sebagainya. Ini adalah
gejala masyarakat komoditas di mana berlangsung gaya gengsi.
Dunia yang mulai dikenalnya kadang-kadang
mengingatkan kepada sebuah skenario sinetron sabun (soap scenario),
lengkap dengan skandal-skandal, duka cerita, dan emosi-emosi yang
menyertainya. Orang-orang muda yang dijumpainya tidaklah otomatis
merupakan wakil atau representatif bagi kaum remaja lain di Bandung.
Namun justru kasus-kasus yang ekstrem itu memperjelas kemungkinan dan
keterbatasan realitas sosiokultural. Yatun menceritakan kisah tiga
orang.
Dian (26), tumbuh di tengah sebuah keluarga kelas
menengah yang dihormati, konservatif, saleh, dan bersahaja. Orang
tuanya yaitu guru dan sarjana hukum mampu memberikan kehidupan ekonomi
yang pasti, kendati mereka tetap punya mobil Kijang yang sama. Dian
belajar tata buku dan berharap cepat memperoleh pekerjaan atau menikah.
Kendati memakai jilbab, Dian mengaku tidak begitu saleh, karena sudah
bertahun-tahun mengenal seks bebas dengan tunangannya. Malahan tanpa
diketahui oleh tunangannya dia juga punya hubungan seks dengan
laki-laki lain dan malah dipandang oleh mereka sebagai "favorit".
Sarah (28), menganggap masyarakat munafik dan karena
itu menolak didikte oleh aturan-aturannya. Dia terus terang mengaku
punya kecenderungan lesbian. Suka bersolek, suka shopping bila punya
uang. Selesai sekolah menengah, dia tinggal sendiri, dan semuanya mulai
serentak, seks, narkoba, pesta-pesta. Setelah mengalami macam-macam
pukulan hidup, kedua orang tuanya meninggal dunia, salah seorang
koneksinya yaitu pedagang tekstil kaya, juga pemasok tetap narkobanya,
menawarkan kepadanya suatu "pekerjaan fantastis" sebagai executive
assistant pribadi. Gajinya bagus, dapat mobil Mercedes dari perusahaan
dan bekerja sebagai field worker.
Gusman (27), lain dari Dian dan Sarah. Dia
benar-benar seorang seniman, artis dengan rambut panjang. Kebanyakan
seniman muda berusaha tampil lain dari masyarakat borjuis. "Masyarakat
Indonesia telah menjadi terlalu individualistis dan materialistis,
tetapi pada kami masih hidup idealisme. Memang mesti idealistis kalau
mau jadi seniman. Kenapa harus memilih profesi di mana tidak ada
apa-apanya sebagai pendapatan," kata Gusman. Dia mahasiswa tahun
terakhir di ITB. Ketika awal 1998 keresahan politik mulai tampak,
Gusman berteriak kepada teman-temannya agar cepat diadakan demo.
"Persis seperti dulu, rame," katanya.
Yatun memaparkan pula tentang generasi cuek, yaitu
generasi orang-orang muda yang tidak peduli, masa bodoh, tidak
mengindahkan aturan apa pun. Masalah dasar ialah bahwa masyarakat
Indonesia berada dalam kemelut, suatu krisis dari disorientasi
sosiokultural di mana dipertaruhkan "masa depan dan jati diri
masyarakat Indonesia," tulis antropolog Yatun Sastramidjaja.
Beberapa bulan setelah dia balik ke Belanda,
pecahlah demo-demo mahasiswa dan bulan Mei 1998 Presiden Soeharto
lengser keprabon. Sebagai "orang kuat" dia sudah khalas, habis.***
Penulis, wartawan senior.
[Non-text portions of this message have been removed]