Sebenarnya kisah ini sudah lama terjadi dan telah saya tulis di blog saya, dan
saat saya membacanya kembali saya kembali tersentuh dan ingin membaginya.
Semoga bermanfaat.
Kemarin aku membaca sebuah harian (Surya: 16/5), ada secuil cerita yang sangat
membuatku trenyuh. tragis memang, tetapi apa daya ini kenyataan dan mungkin
akan ada juga ditempat-tempat lain atau malah di sekitar kita sendiri.
Di sebuah kota atau desa yang aku sendiri tidak pernah tahu di mana itu. Kota/
desa itu bernama Bhubaneshwar. Gara-gara tidak bisa membayar tiket bus,
seorang pekerja miskin dan putrinya yang berumur 4 tahun tewas terlindas bus
kemarin (15/5). uang Sasnchar Toppo (40), kurang dari 10 rupee (Rp. 2000) dari
ongkos tiket. Kondektur itu marah karenanya. saksi mata melihat mereka
bertengkar. Tiba-tiba kondektur itu mendorong Toppo dari bus yang sedang
melaju. Pekerja malang yang sedang menggendong putrinya itu jatuh dari bus yang
kemudian melindasnya.
Melihat kejadian itu para penumpang sangat marah. mereka mengamuk lalu membakar
bus itu. peristiwa ini terjadi di dekat Jharsuguda, sebuah desa yang terletak
sekitar 380 km bhubaneshwar, negara bagian Orissa.
mengapa hal ini bisa terjadi? salah siapa ? apakah hati nurani kondektur tadi
sudah mati? sebagai sesama manusia yang mungkin jug sama-sama miskin, apakah
pekerja itu yang terlalu memaksakan diri dan tidak mau tahu? bagaimana dengan
sianak yang berumur 4 tahun yang tidak tahu apa-apa, yang hanya mengikuti saja
apa yang dilakukan orang tuanya. kejadian ini sangat memukul perasaan saya
sebagai manusia. cerminan bahwa mengapa manusia menjadi egois, menjadi
individualis, bukankah satu sama lain saling membutuhkan. meskipun saat ini
kita diberi keberuntungan, tidak menutup kemungkinan suatu saat ketika kita
tidak beruntung kita akan sangat butuh bantuan orang lain. apakah semua ini
karena kemiskinan dan ketidkamakmuran. tetapi kalaupun negaranya makmur dan
kaya, orang-orangnyapun kaya, apakah juga ada jaminan untuk tidak egois, untuk
tidak individualis. mungkin sama saja. manusia kaya, merasa punya banyak uang
dan kekuasaan, sehingga dapat bertindak apa saja,
bahkan membeli apa saja, karena sifat dasar manusia yang memiliki nafsu dan
keinginan. tetapi semua itu sebenarnya kembali lagi pada hati nurani. kaya atau
miskin jika hati nuraninya masih ada, maka kejadian seperti itu tidak akan
pernah ada. minimal diberi pengertian dan diturunkan dengan sopan. Atau
dibiarkan saja mereka ikut, toh tidak rugi-rugi amat. Padahal sebenarnya Tuhan
sudah Maha adil dengan memberikan realita yang beragam untuk menjadikan kita
berpikir karena kita diberi akal. Semoga kita masih diberi hati yang tulus,
yang jujur dan ikhlas terhadap apapun skenario Allah. sehingga kita dapat masuk
ke dalam orang-orang yang dicintai-NYA. amin.
[Non-text portions of this message have been removed]