--- On Fri, 3/27/09, Joko Mursitho <[email protected]> wrote:

From: Joko Mursitho <[email protected]>
Subject: RENUNGAN PEMBINA
To: "kwarnas  Pramuka" <[email protected]>
Cc: [email protected], [email protected]
Date: Friday, March 27, 2009, 6:20 PM






   

 

   

(Oleh: Joko Mursitho) 

   

Ketika
kami tegak di sini…., melingkari bongkahan bara unggun yang mulai padam, kami …
bagaikan tiang-tiang bayangan hitam  

Suatu
bentuk yang sangat rapuh….., mudah goyang tertiup arah cahaya nafsu. 

Tetapi ketika tangan-tangan ini semua kita
pertautkan….., 

Kita bentuk rantai persaudaraan yang kokoh….., 

Kita dapat merasakan denyut jantung
saudara-saudaraku di sebelah kiri dan kanan.., 

Bahkan….., ketika jiwa kita lebih hening….., kita
rasakan degup-degup seluruh jantung kehidupan saudara-saudaraku seluruhnya
dalam lingkaran ini. 

   

Lingkaran persaudaraan…..telah kita bentuk, kami
ini bagaikan mata rantai……, yang satu sama lain saling memperkuat, …..satu sama
lain saling memberikan arti.  

Letak rantai yang terlemah adalah rantai yang
merasa dirinya terkuat.    

Kini kami bukan bayang-bayang lagi……, tetapi kami
unsur kehidupan yang memiliki arti. Kami ini mata rantai Republik ini……., kami
ini garda terdepan perekat ikatan persatuan anak negeri.  

   

Kami tidak pernah peduli terdiri dari suku apa mata rantai ini….., terbuat
dari agama apa mata rantai ini,
terdiri dari golongan kaya atau miskin,
ksatria ataupun sudra  kami tidak
pernah peduli.  

   

Kami telah menyatu….., Kami adalah tonggak
merah-putih negeri ini.  

   

Dengarlah detak hati nurani kita yang terdalam……, biar
bumi ini terbelah sungai bumi, atau laut, benua atau samudera  ……kita tetap 
satu darah. Kita harus menjadi
darah terbersih dari bangsa ini,  yang
bisa mencuci darah-darah kotor yang telah salah bekerja…., darah kotor yang
telah letih dan lemah. Kami ini darah-darah segar generasi yang senantiasa
beredar, mengalir menurut hukum negeri ini…….. menyelesaikan sisa peredaran
hidup menurut janji dan ketentuan moral……satya yang terpateri dan diamalkan,
darma yang teguh dan dibaktikan.  

   

Di susun di Barito Utara, 24
Agustus 2007.     

JOKO MURSITHO    

   

   





   

 

   

Oleh: Joko Mursitho 

   

Dalam lingkaran ini
hilangkanlah dahagamu, 

Dalam lingkaran ini hilangkanlah dukamu, 

Dalam lingkaran ini raihlah kebanggaanmu,  

Karena kita telah menjadi rantai dan jeruji satya dan darma, 

   

Kita telah ikatkan tali persaudaraan, kita telah getarkan semangat
berkorban, 

Hilangkan niat buruk kita, yang hanya memikirkan pujian karena pekerjaan
yang telah kita lakukan, 

   

Mari kita tarik benang sebab akibat, 

Kesuksesan kita, bukan karena kita sendiri,  

Tetapi karena pekerjaan teman-teman lainnya, 

   

Jangan risau ketika bukan engkau yang dihargai, bukan engkau yang dielukan, 

Karena Tuhan melihat, tangan kita telah bekerja melalui kebenaran yang
difirmankannya, 

Karena Tuhan melihat tangan dan jiwa kita telah meluruskan langkah-langkah
mereka, 

   

Ada yang kecewa, ada yang tidak suka, ketika kita telah mencapainya, 

Tapi itu hal biasa, karena mereka masih manusia biasa,  

   

Terkadang ia iri, dengki, kemudian mengadu yang bukan-bukan kepada atasan
kita,... biar dia dianggap yang paling setia, dan paling berjasa. 

   

Teruslah berjalan, karena dia bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. 

Teruslah berjalan walau kegelapan menghadang, 

Karena kita yakin kita telah menuju cahaya-Nya, 

   

Waktu dan tempat akan menunjukkan siapa mereka,  

Karena mereka adalah benalu kehidupan, benalu Gerakan Pramuka, yang mencari
hidup dan keuntungan pribadi karenanya. 

   

Tapi kamu adalah
ilalang-ilalang yang tidak bisa ditempeli benalu itu, 

Kamu tetap akan bertahan walau
kader-kadermu dicabut, dicampakkan, 

Walau namamu dibusukkan, kamu akan terus menurunkan generasi ilalang yang
punya rasio dan rasa. Generasi ilalang yang punya budi dan nurani. 

   

Biarlah kamu dipandang rendah, 

Biarlah kamu dipandang kecil, 

Karena kamu hanyalah ilalang, 

Kadang kamu dibakar, 

Kadang kamu dinjak-injak, 

Tapi tak ingatkah bahwa kamu lebih sering dijadikan atap untuk berteduh,
memayungi mereka?;  

Tak ingatkah bahwa kamu lebih sering dijadikan alas tidur, ... untuk
Pramuka pengembara, 

   

Biarlah dalam perkaderan ini engkau tetap menjadi ilalang, yang senantiasa
meneruskan generasimu, 

Biarlah sang bayu bertiup menggontai dahan dan bungamu, 

Biarlah sang angin sahabatmu itu, menaburkan bungamu ke tempat lain, karena
di sana tunasmu akan tumbuh. 

   

Kita tidak malu sebagai ilalang di tempat yang rendah, 

Karena seharusnya ada orang-orang yang malu menjadi benalu di tempat yang
tinggi. 

   

Iklas bakti bina bangsa ber budi bawa laksana. 

   

Amin. 

   

   

Nangro
Aceh Darussalam, 8 Januari, 2009. 

   

  





  

   

Oleh: Joko Mursitho 

   

Andaikan alam selalu ramah walau diperlakukan oleh
manusia sesuka hatinya, 

Andaikan manusia tidak pernah merasa menderita
walau disakiti, diperas, diperbudak, ditindas oleh manusia lainnya,  

Andaikan keluhuran budipekerti manusia adalah
lilin cair yang mudah kita bentuk, 

Andaikan tangan kami dapat menjangkau seluruh bumi
Nusantara, dan mampu mengubah manusia serta tatanannya seperti yang tertera
pada adi cita bangsa, 

Andaikan manusia senantiasa mengamalkan dasadarma
kita. 

   

Maka tak perlu ada aku berdesis panjang di sini, 

Tak perlu pula ada engkau tertegun mendengar
ungkapan hati ini di situ, 

   

Ketika tarikan nafas panjang mengisi rongga, dari
udara yang disediakan Sang Khaliq untuk kita,  

Biarkanlah hatiku, hatimu melebur mencari relung
kebenaran, 

Mengalir ke muara hening bersama riak kesadaran, 

   

Seribu langkah berderap, 

Seribu tunas tumbuh, 

Dari tangan-tangan kita para
Pembina Pramuka, 

Tak perlu sejarah mencatat
apa yang kita perbuat,  

Namun kita terus berkutat,  

Sampai jantung tiada
berdetak 

Barangkali, apakah kami
cukup pantas, sebagai sang penabur, 

Biar sampai batas umur, 

Kami telah dan akan terus membentuk kader umat
secara teratur, ...  

bagaikan ombak samudera yang senantiasa berdebur. 

   

Sibolangit, 5 Januari 2009 

   





   

   

 

   

Oleh: Joko Mursitho 

   

Kecil, mungil, menyendiri, 

Tegak, mandiri, di tengah sawah, 

Tempat berlindung petani, menjaga padi, 

Tempat berlindung siapa saja yang melewatinya, 

   

Gubug bukan rumah megah di tengah kota,  

Karena rumah megah itu hanya dipakai sendiri untuk
yang punya, 

   

Gubug bersifat terbuka, ia membiarkan angin
berhembus dari arah mana ia suka, 

Gubug sederhana, dan berjiwa perwira, 

   

Engkau membawa ketenteraman dan perdamaian, bagi
siapa saja yang menyambanginya. 

   

Engkau bagaikan seorang
Pembina, engkau seperti kita, biarlah kecil, 

Tetapi bersih apa yang kita pikirkan,  

Jelas apa yang kita lakukan, 

Ikhlas apa yang kita kerjakan, 

Damai apa yang kita timbulkan. 

   

Japakeh, NAD, January 8th 2008. 

   

  





      


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke