Terima kasih Kak Joko, Semangat batin kita tak pernah padam dan tak kan pernah padam walau api unggun kita padam Kita tidak pernah kekurangan api spirit kita Api spirit untuk batin kita Namun untuk masalah lahiriah kita? Karena lahir kita ada di alam fana Alam yang penuh noda maka kita terseret dosa Dan dosa-dosa itu menyeret batin kita batin kita yang suci Maka dari itu kita hunus pedang mengusir dosa dosa-dosa yang merusak batin kita Batin yang mempersatukan kita Wassalam, TN
--- On Sat, 28/3/09, Joko Mursitho <[email protected]> wrote: From: Joko Mursitho <[email protected]> Subject: [Pramuka] Fw: RENUNGAN PEMBINA To: [email protected] Date: Saturday, 28 March, 2009, 8:49 AM --- On Fri, 3/27/09, Joko Mursitho <jokomursitho@ yahoo.com> wrote: From: Joko Mursitho <jokomursitho@ yahoo.com> Subject: RENUNGAN PEMBINA To: "kwarnas Pramuka" <kwar...@pramuka. or.id> Cc: alfianamura@ yahoo.com, adyat...@yahoo. com Date: Friday, March 27, 2009, 6:20 PM (Oleh: Joko Mursitho) Ketika kami tegak di sini…., melingkari bongkahan bara unggun yang mulai padam, kami … bagaikan tiang-tiang bayangan hitam Suatu bentuk yang sangat rapuh….., mudah goyang tertiup arah cahaya nafsu. Tetapi ketika tangan-tangan ini semua kita pertautkan….., Kita bentuk rantai persaudaraan yang kokoh….., Kita dapat merasakan denyut jantung saudara-saudaraku di sebelah kiri dan kanan.., Bahkan….., ketika jiwa kita lebih hening….., kita rasakan degup-degup seluruh jantung kehidupan saudara-saudaraku seluruhnya dalam lingkaran ini. Lingkaran persaudaraan…..telah kita bentuk, kami ini bagaikan mata rantai……, yang satu sama lain saling memperkuat, …..satu sama lain saling memberikan arti. Letak rantai yang terlemah adalah rantai yang merasa dirinya terkuat. Kini kami bukan bayang-bayang lagi……, tetapi kami unsur kehidupan yang memiliki arti. Kami ini mata rantai Republik ini……., kami ini garda terdepan perekat ikatan persatuan anak negeri. Kami tidak pernah peduli terdiri dari suku apa mata rantai ini….., terbuat dari agama apa mata rantai ini, terdiri dari golongan kaya atau miskin, ksatria ataupun sudra kami tidak pernah peduli. Kami telah menyatu….., Kami adalah tonggak merah-putih negeri ini. Dengarlah detak hati nurani kita yang terdalam……, biar bumi ini terbelah sungai bumi, atau laut, benua atau samudera ……kita tetap satu darah. Kita harus menjadi darah terbersih dari bangsa ini, yang bisa mencuci darah-darah kotor yang telah salah bekerja…., darah kotor yang telah letih dan lemah. Kami ini darah-darah segar generasi yang senantiasa beredar, mengalir menurut hukum negeri ini…….. menyelesaikan sisa peredaran hidup menurut janji dan ketentuan moral……satya yang terpateri dan diamalkan, darma yang teguh dan dibaktikan. Di susun di Barito Utara, 24 Agustus 2007. JOKO MURSITHO Oleh: Joko Mursitho Dalam lingkaran ini hilangkanlah dahagamu, Dalam lingkaran ini hilangkanlah dukamu, Dalam lingkaran ini raihlah kebanggaanmu, Karena kita telah menjadi rantai dan jeruji satya dan darma, Kita telah ikatkan tali persaudaraan, kita telah getarkan semangat berkorban, Hilangkan niat buruk kita, yang hanya memikirkan pujian karena pekerjaan yang telah kita lakukan, Mari kita tarik benang sebab akibat, Kesuksesan kita, bukan karena kita sendiri, Tetapi karena pekerjaan teman-teman lainnya, Jangan risau ketika bukan engkau yang dihargai, bukan engkau yang dielukan, Karena Tuhan melihat, tangan kita telah bekerja melalui kebenaran yang difirmankannya, Karena Tuhan melihat tangan dan jiwa kita telah meluruskan langkah-langkah mereka, Ada yang kecewa, ada yang tidak suka, ketika kita telah mencapainya, Tapi itu hal biasa, karena mereka masih manusia biasa, Terkadang ia iri, dengki, kemudian mengadu yang bukan-bukan kepada atasan kita,... biar dia dianggap yang paling setia, dan paling berjasa. Teruslah berjalan, karena dia bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Teruslah berjalan walau kegelapan menghadang, Karena kita yakin kita telah menuju cahaya-Nya, Waktu dan tempat akan menunjukkan siapa mereka, Karena mereka adalah benalu kehidupan, benalu Gerakan Pramuka, yang mencari hidup dan keuntungan pribadi karenanya. Tapi kamu adalah ilalang-ilalang yang tidak bisa ditempeli benalu itu, Kamu tetap akan bertahan walau kader-kadermu dicabut, dicampakkan, Walau namamu dibusukkan, kamu akan terus menurunkan generasi ilalang yang punya rasio dan rasa. Generasi ilalang yang punya budi dan nurani. Biarlah kamu dipandang rendah, Biarlah kamu dipandang kecil, Karena kamu hanyalah ilalang, Kadang kamu dibakar, Kadang kamu dinjak-injak, Tapi tak ingatkah bahwa kamu lebih sering dijadikan atap untuk berteduh, memayungi mereka?; Tak ingatkah bahwa kamu lebih sering dijadikan alas tidur, ... untuk Pramuka pengembara, Biarlah dalam perkaderan ini engkau tetap menjadi ilalang, yang senantiasa meneruskan generasimu, Biarlah sang bayu bertiup menggontai dahan dan bungamu, Biarlah sang angin sahabatmu itu, menaburkan bungamu ke tempat lain, karena di sana tunasmu akan tumbuh. Kita tidak malu sebagai ilalang di tempat yang rendah, Karena seharusnya ada orang-orang yang malu menjadi benalu di tempat yang tinggi. Iklas bakti bina bangsa ber budi bawa laksana. Amin. Nangro Aceh Darussalam, 8 Januari, 2009. Oleh: Joko Mursitho Andaikan alam selalu ramah walau diperlakukan oleh manusia sesuka hatinya, Andaikan manusia tidak pernah merasa menderita walau disakiti, diperas, diperbudak, ditindas oleh manusia lainnya, Andaikan keluhuran budipekerti manusia adalah lilin cair yang mudah kita bentuk, Andaikan tangan kami dapat menjangkau seluruh bumi Nusantara, dan mampu mengubah manusia serta tatanannya seperti yang tertera pada adi cita bangsa, Andaikan manusia senantiasa mengamalkan dasadarma kita. Maka tak perlu ada aku berdesis panjang di sini, Tak perlu pula ada engkau tertegun mendengar ungkapan hati ini di situ, Ketika tarikan nafas panjang mengisi rongga, dari udara yang disediakan Sang Khaliq untuk kita, Biarkanlah hatiku, hatimu melebur mencari relung kebenaran, Mengalir ke muara hening bersama riak kesadaran, Seribu langkah berderap, Seribu tunas tumbuh, Dari tangan-tangan kita para Pembina Pramuka, Tak perlu sejarah mencatat apa yang kita perbuat, Namun kita terus berkutat, Sampai jantung tiada berdetak Barangkali, apakah kami cukup pantas, sebagai sang penabur, Biar sampai batas umur, Kami telah dan akan terus membentuk kader umat secara teratur, ... bagaikan ombak samudera yang senantiasa berdebur. Sibolangit, 5 Januari 2009 Oleh: Joko Mursitho Kecil, mungil, menyendiri, Tegak, mandiri, di tengah sawah, Tempat berlindung petani, menjaga padi, Tempat berlindung siapa saja yang melewatinya, Gubug bukan rumah megah di tengah kota, Karena rumah megah itu hanya dipakai sendiri untuk yang punya, Gubug bersifat terbuka, ia membiarkan angin berhembus dari arah mana ia suka, Gubug sederhana, dan berjiwa perwira, Engkau membawa ketenteraman dan perdamaian, bagi siapa saja yang menyambanginya. Engkau bagaikan seorang Pembina, engkau seperti kita, biarlah kecil, Tetapi bersih apa yang kita pikirkan, Jelas apa yang kita lakukan, Ikhlas apa yang kita kerjakan, Damai apa yang kita timbulkan. Japakeh, NAD, January 8th 2008. [Non-text portions of this message have been removed] New Email addresses available on Yahoo! Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. Hurry before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]

