Persiapan Kita Dalam Menghadapi Pandemi


APAKAH KITA SIAP?
Berkali-kali kita ditimpa berbagai bencana, sejak tsunami, longsor, gempa,
banjir bandang hingga berbagai kecelakaan pesawat. Hal ini membuat kita
merenungi apa sebetulnya yang sedang terjadi.

Jika kita meyakini bahwa seburuk apa pun kejadiannya, pada hakikatnya adalah
demi kebaikan kita sendiri, maka sampailah pada kesimpulan bahwa kemungkinan
akan muncul bencana yang lebih besar lagi. Bahwa semua rentetan bencana
besar sekarang ini, bisa jadi untuk melatih kita agar -ketika datang yang
lebih besar lagi- kita sudah siap lahir dan batin.


Bencana besar apa yang akan menimpa kita?
Belum ada yang mengabarkannya. Namun, salah satu hal terburuk yang mungkin
terjadi adalah pandemi flu burung. Di seluruh dunia sampai tahun 2006 saja
sudah mencapai jumlah 247 diantaranya meninggal dunia (tertinggi di
Indonesia).

Jika pandemi terjadi, seluruh kawasan akan lumpuh. Bisa saja pada setiap
sektor kegiatan ada yang terjangkit dan harus dikarantina. Akan berkurang
tenaga yang mengurus kelancaran listrik, air, makanan, bahkan rumah sakit.
Semakin hari akan berkurang orang yang menjalankan roda kegiatan
sehari-hari. Setiap yang sehat akan dibutuhkan tenaga dan keahliannya.
Hingga sampai pada posisi di mana siapa pun yang sehat diharap memiliki
kemampuan dasar untuk berbuat sesuatu bagi kelancaran aktivitas
lingkungannya yang mulai lumpuh.

Merupakan buah dari kegalauan bahwa masyarakat kita tidak dilatih dan tidak
terlatih untuk menghadapi situasi emergency. Sebagian besar dari kita
masing-masing tidak tahu apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana.
Teman dari Eropa terheran: kalian hidup di kepulauan tapi ga bisa berenang?
Juga, jarang yang tahu bahwa kalau terjadi kebakaran, cara terbaik untuk
menyelamatkan diri adalah dengan merangkak. Hal-hal mendasar ini jelas bisa
mengurangi jumlah korban dan memudahkan penyelamatan.

ANALISIS
Kerugian Bisa Capai Rp 48 Triliun Akibat Pandemi Flu Burung
Flu burung bukan hanya menyebabkan korban manusia saja. Kasus flu burung
pada kondisi pandemi juga dapat menyebabkan kerugian ekonomi jauh lebih
besar. Simulasi ekonomi (dengan basis data 2006), menunjukkan apabila
terjadi pandemi, kerugian langsung jangka pendek akan mencapai antara Rp.
14-48 trilyun.

Ketua Pelaksana Harian Komisi Nasional Pengendalian Flu Burung dan
Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (KOMNAS FBPI) Bayu Krisnamurthi
mengatakan, "Flu burung telah menimbulkan korban manusia, di Indonesia
terdapat seratusan lebih korban flu burung meninggal, 10 korban diantaranya
meninggal dunia di tahun 2008."

Kasus flu burung telah menimbulkan kerugian ekonomi sejak 2004 dalam bentuk
ayam yang dimusnahkan, berkurangnya permintaan ayam dan telur, berkurangnya
konsumsi ayam dan telur di restoran, tambahan biaya yang harus dikeluarkan
peternak dan pemerintah dalam penanganan flu burung, serta dampak terhadap
sektor lain terutama pariwisata. Nilai kerugian sejak tahun 2004 hingga 2007
diperkirakan telah mencapai Rp 4,1 triliun. Nilai tesebut belum termasuk
hilangnya kesempatan kerja dan kerugian akibat berkurangnya konsumsi protein
oleh masyarakat.

Flu burung dapat menyebabkan korban lebih besar setelah memasuki tahap
prapandemi (stage 4 & 5) dan pandemi (stage 6). Tidak ada yang tahu kapan
dan dimana dimulai serta tidak juga bisa diperkirakan dengan tepat korban
melihat pengalaman masa lalu. Menurut Bayu, "Simulasi untuk menghitung
dampak pandemi influenza menunjukkan bahwa jika terjadi pandemi saat ini
diperkirakan dapat terjadi situasi di mana 66 juta orang akan mengalami
sakit dan terjadi 150.000 orang meninggal dunia.

MUNGKINKAH TERJADI PANDEMI?
Menurut I Nyoman Kumara Rai, ancaman pandemi flu burung di Indonesia pada
tahun ini merupakan kelanjutan yang dialami pada 2005. Jadi ancaman itu
tidak pernah hilang. Indonesia menjadi ancaman nomor satu karena jumlah
penderita dan yang meninggal akibat flu burung sangat tinggi dibandingkan
negara lain.

Pandemi Keempat 
Kendati demikian WHO bukan hanya mengkhawatirkan Indonesia saja, negara lain
juga dikhawatirkan karena di beberapa negara lain di benua Asia, Eropa, dan
Afrika juga terjadi kasus flu burung. Karena itu WHO mengingatkan kepada
negara-negara anggotanya agar menyadari bahaya pandemi keempat flu burung.
Pandemi adalah wabah yang melampaui batas negara dan meliputi wilayah sampai
satu benua atau lebih. Pandemi flu burung biasanya bersiklus 40 tahun.
. Pandemi pertama (1918): korban meninggal 40-50 juta orang
. Pandemi kedua (1957): korban meninggal 4-5 juta orang
. Pandemi ketiga (1967): korban meninggal sekitar 1 juta orang
. Pandemi keempat: ....?

Selain korban jiwa, pandemi juga akan menghancurkan perekonomian dan kondisi
sosial keamanan suatu negara. "Jika terjadi pandemi, negara akan kacau
karena orang pasti akan berebut obat," kata Nyoman Kumara.

BAGAIMANA BILA TERJADI PANDEMI...? LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN PADA
PERIODE KEWASPADAAN
Pada periode ini penularan antar manusia sudah terjadi namun kasusnya masih
jarang terjadi dan dalam kontak yang sangat dekat. 

Pesan pendorong pada perilaku yang mudah dilakukan dan dipromosikan saat
wabah didaerah tertentu terjadi untuk menghindari kepanikan yang meluas.


PESAN UTAMA BAGI KELUARGA :

*        Siapkan suplai air bersih dan makanan untuk satu minggu
Dasar Pemikiran : Adalah jumlah suplai yang diperlukan oleh sebuah keluarga
untuk bisa bertahan hingga datangnya informasi lebih lanjut dari pemerintah.

*         Siapkan radio beserta baterai cadangan, tv atau media elektronik
lainnya
Dasar Pemikiran : Untuk mendengarkan pengumuman resmi dari pemerintah yang
disiarkan melalui media, sedangkan batu baterai cadangan untuk berjaga jika
listrik mati.

*         Siapkan peralatan dan suplai bahan bakar untuk memasak.
Dasar Pemikiran : Sebagai tenaga cadangan untuk memasak makanan selama
tinggal di rumah.

PERIODE WABAH
Yaitu masa dimana penularan antar manusia sudah mulai sering terjadi di
daerah yang lebih luas. Pada periode ini akan ada garis komunikasi yang
tegas dan berasal dari satu sumber yang dipercaya (credible and
authoritative).

Pemerintah pusat dan daerah akan saling bekerjasama dengan pembagian tugas
dan metode yang jelas. Perlu kerjasama lintas sektoral antar lembaga
pemerintah dan swasta.

PESAN NASIONAL :

*       Larangan untuk bepergian ke daerah lain.
*       Tidak boleh memasuki daerah yang terinfeksi
*       Memastikan public tidak panic dan tetap tenang dengan melakukan:
*       Pembatasan mobilisasi bagi semua warga masyarakat.
*       Kemudahan mengakses Tamiflu bagi petugas kesehatan dan atau yang
berwenang.
*       Kemudian mendapatkan Alat Perlindungan Diri bagi petugas yang
berwenang.
*       Distribusi Antibiotika untuk infeksi sekunder bagi petugas yang
berwenang.
*       Menyiapkan rumah sakit khusus.


PESAN PADA DAERAH YANG TERKENA WABAH:

*       Jangan meninggalkan rumah.
*       Segera laporkan ke petugas jika ada yang sakit.
*       Pembatasan mobilisasi penduduk
*       Penutupan tempat public seperti pasar, sekolah, kantor, mall dll.
*       Pemusnahan unggas secara massal oleh petugas.
*       Pembagian masker secara massal.
*       Melakukan karantina pada area yang terinfeksi. 

 Oleh Hendry Risjawan

 



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke