Indigo: Saya adalah `Nabi Palsu' bagi `Diri Sendiri'

Ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian 
Tempat, Hari & Tanggal: Jakarta, Senin, 16 Juni 2008

Tempat diskusi tulisan ini:
http://groups.yahoo.com/group/Komunikasi_Empati/message/3748 
http://groups.yahoo.com/group/vincentliong/message/24349 
http://forum.gilaupload.com/viewtopic.php?f=105&t=7641 
(balasan tulisan harap di-cc ke email: [EMAIL PROTECTED] )



Saya adalah Nabi Palsu bagi Diri Sendiri. (Nabi adalah sebutan untuk
orang yang ber-nubuat) Saya sadar bahwa saya tidak berhak meninggikan
diri di hadapan Pencipta dengan bernubuat bagi orang lain. Dengan
menyadari dan mengakui bahwa diri saya hanyalah seorang nabi palsu,
maka saya telah menggenapi apa yang tertulis di kitab suci bahwa akan
datang nabi-nabi palsu. 

Mat 7:15-23 - "(15) `Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang
kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka
adalah serigala yang buas. (16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal
mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah
ara dari rumput duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik
menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan
buah yang tidak baik. (18) Tidak mungkin pohon yang baik itu
menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu
menghasilkan buah yang baik. (19) Dan setiap pohon yang tidak
menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
(20) Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. (21) Bukan setiap
orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di
sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu:
Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan
demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? (23) Pada
waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku
tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian
pembuat kejahatan!'".



LATARBELAKANG

Pada bulan Juni tahun 2004, melalui tulisan "Berbeda, tetapi Bukan
Anak "Aneh" (Koran Kompas : Minggu, 27 Juni 2004 Rubrik: Keluarga)
saya dilabelkan sebagai anak Indigo. Anak Indigo adalah sebagian dari
mereka lahir di periode tahun 1980-an dan memiliki aura berwarna nila
dengan ciri-ciri kemampuan spiritual bawaan dan sikap
non-kompromistis terhadap segala sesuatu yang dinilainya bersifat
pemaksaan.

Pelabelan Indigo terhadap diri saya membuat saya mengambil sikap
bermusuhan dengan sebagian dari pihak yang berlabelkan psikologi
karena dengan dilabelkan indigo saya terancam kehilangan hak-hak asasi
manusia yang paling dasar yang saya miliki diantaranya; Hak untuk
hidup, Hak untuk hidup bersama-sama seperti orang lain, Hak untuk
mendapatkan perlakuan yang sama (keadilan), Hak atas harta benda yang
saya miliki, dlsb. Sebelum dilabel indigo saya tidak pernah peduli
atau berurusan dengan organisasi Psikologi. 

Ada tiga macam manusia di dunia ini; * Manusia pemaaf yang baik bagi
orang lain. * Manusia pendendam yang selalu bertindak berdasarkan
sebab-akibat (tanpa sebab maka tidak ada akibat). * Dan manusia pemain
game virtual, yang menganggap hidup ini hanyalah permainan, dimana ada
banyak pemain yang bisa menang atau kalah, bertarung dengan darah
dingin, tidak ada sebab-akibat; permainan bisa dimulai kapan saja atau
diakhiri dengan menekan tombol reset, manusia jenis ini tidak bisa
membedakan mana game virtual dan mana dunia nyata, semua hanyalah game
yang dianggap tidak memiliki konsekwensi nyata ke kehidupan sehari-hari.

Setelah dilabel Indigo, saya harus menghadapi beberapa orang-orang
lulusan psikologi yang memiliki mentalitas "pemain game virtual" yang
memperlakukan saya dan keluarga saya sebagai sebagai sebuah object
buruan (binatang buruan) yang harus dipermainkan dan dibasmi untuk
mendapatkan kesenangan emosional. Diantara sekian ribu lulusan
psikologi di Indonesia, memang hanya sepuluh sampai dua puluh orang
yang memiliki kelainan kejiwaan "pemain game virtual" semacam ini yang
beberapa diantaranya menduduki jabatan-jabatan penting di
keorganisasian Psikologi di Indonesia. Seorang pemain game virtual
bisa memilih siapa saja orang yang tidak dia kenal yang ditemuinya di
jalan untuk dipilih menjadi object penderita sebuah permainan
perburuan. Ketika saya mendapat label Indigo, maka ada alasan untuk
melegalisasi bahwa saya boleh secara sah dijadikan object buruan para
"gamer" ini. 

Sejak dilabelkan indigo hingga sekarang, saya dan keluarga harus
menerima saja untuk mengalami mulai dari teror keluarga bertahun-tahun
(satu macam teror per minggu, non stop setiap hari tanpa liburan),
pencurian uang hingga mencapai lebih dari delapan puluh juta rupiah
dan berbagai rencana pembunuhan yang dijadikan sah dalam hukum
psikologi ala virtual gamer, sebagai usaha penyembuhan karena saya
dilabel indigo. Alasan mereka; karena Vincent Liong diasumsikan sakit
indigo dan di masa yang akan datang akan merugikan banyak orang, maka
diberi positive reinforcement, lalu gagal maka diberi negative
reinforcement (dirugikan semaksimal mungkin termasuk dibunuh dengan
cara apapun tanpa ada batasannya). Beberapa oknum psikolog ini
membutuhkan saya sebagai object buruan untuk menyeimbangkan hidup
mereka yang berusaha sangat waras dalam membantu menyelesaikan
permasalahan klien-klien mereka. 

Sampai hari ini saya belum sekalipun membalas tindakan kriminal atas
nama penerapan ilmu penyembuhan psikologis yang dilakukan oleh
sebagian kecil psikolog yang berpenyakit "gamer" ini, buat saya
setidaknya saya tidak turut gila seperti kawanan kriminal mereka ini.
Setidaknya asumsi yang mereka jadikan alasan untuk menjadikan saya
hewan buruan; bahwa diasumsikan di masa yang akan datang saya akan
banyak melakukan tindakan kelainan psikologis yang akan merugikan
masyarakat, dan hingga kini tidak terbukti, sementara mereka telah
melanggar hampir semua doktrin kewarasan psikologi mereka sendiri demi
membasmi saya dan keluarga.   



ROMANTISME DAN EKSISTENSIALISME

Pengalaman saya sekian tahun, banyak waktu saya terkooptasi dengan
permasalahan ini; saya menemukan bahwa permasalahannya tidak serumit
yang saya kira sebelumnya. Dalam filsafat ada dua sudutpandang
pemikiran besar; romantisme dan eksistensialisme. 

Penganut romantisme beranggapan bahwa seorang individu manusia adalah
bagian dari system masyarakat. Sehingga manusia seharusnya mengikuti
norma (kenormalan) yang berlaku di masyarakat kebanyakan. Bilamana
manusia itu tidak mengikuti yang berlaku di manusia kebanyakan maka
dianggap tidak normal dan harus diobati agar sembuh; kembali ke jalan
yang benar.

Penganut eksistensialisme beranggapan bahwa seorang individu manusia
berhadapan dengan apa yang ada di dalam dirinya sendiri dan yang di
luar dirinya sendiri (lingkungan, masyarakat, dlsb). Seorang manusia
harus beradaptasi dengan cara bernegosiasi dengan hal-hal di luar
dirinya agar mampu tetap bertahan hidup. 

Dalam kenyataannya baik penganut romantisme maupun eksistensialisme
sama-sama berusaha dan mampu berhubungan dengan masyarakat meskipun
cara mengartikannya berbeda; Penganut romantisme berusaha mengikuti
apa yang dilakukan masyarakat umum yang dianggap benar sehingga tetap
mampu bertahan hidup. Penganut eksistensialisme tetap bernegosiasi
dirinya sendiri untuk dapat dapat beradaptasi dalam masyarakat umum.
Pada akhirnya keduanya sama-sama dapat diterima oleh masyarakat umum. 

Permasalahannya, penganut romantisme menganggap bahwa tidak mungkin
seorang penganut eksistensialisme bisa diterima oleh masyarakat umum
karena penganut eksistensialisme memposisikan dirinya tidak sebagai
bagian dari masyarakat, tidak menganggap mengikuti kenormalan
masyarakat sebagai keharusan, melainkan sebagai pilihan untuk
dinegosiasikan demi tetap bertahan hidup. Penganut romantisme
beranggapan bahwa sudah hampir pasti seorang eksistensialis tidak
dapat beradaptasi dengan masyarakat umum, sehingga harus diobati atau
dibasmi.      

Sama seperti dalam permasalahan kelompok Psikologi dan Anak Indigo;
bahwa Psikologi sebagai polisi `superego'(norma-norma masyarakat,
hukum, dan adat), sudah berasumsi memastikan sejak awal bahwa anak
indigo tidak akan mampu beradaptasi sehingga perlu dididik,
disembuhkan dan `diberi pelajaran'. Menurut pengalaman saya pribadi,
anak-anak yang dilabelkan indigo tidak lebih dari anak-anak biasa yang
terbentuk dengan kepribadian sebagai penganut sudutpandang
eksistensialis dengan tingkat superego yang agak rendah; sehingga
mereka memposisikan diri tidak sebagai bagian masyarakat, melainkan
`berhadapan dengan masyarakat' (diri sendiri dan di luar diri sendiri).   

Selama sekian tahun, banyak waktu saya terkooptasi dengan permasalahan
ini saya telah mencoba untuk mencari titik temu antara penganut
romantisme dan eksistensialisme ; antara manusia normal dan manusia
indigo. Mungkin bisa ditemukan jalan keluar agar tidak ada lagi
perbedaan antara keduanya sehingga tidak perlu lagi ada anak-anak
indigo yang bernasib sama seperti yang saya alami. Untuk itu saya
harus mencari persamaan antara keduanya yang telah saya lakukan sekian
tahun ini dengan penelitian yang saya namai ilmu kompatiologi.



FEEL, JUDGEMENT & GENERALISASI

Sampai hari ini dalam penelitian kompatiologi saya menemukan bahwa
informasi/data yang diterima manusia diproses dalam tiga tahap yang
saya namai dengan; Feel, Judgement dan Generalisasi. Saya mencoba
menceritakan tiga tahap ini dalam analogi kegiatan meminum minuman.

Ketika saya, dan beberapa orang lain minum dari segelas minuman yang
sama, maka sangat mungkin akan ada yang berpendapat bahwa rasa minuman
itu manis, asin, pahit, asam atau pedas; tetapi dijamin 100% bahwa
informasi utuh (feel/data mentah) yang didapatkan tentang minuman
tersebut 100% sama. Tiap orang yang minum dan memberikan pendapatnya
tentang rasa minuman (Judgement) hanya mendapatkan satu sudutpandang
diantara sekian banyak sudutpandang, yang bila dikumpulkan, akan tetap
sulit memberikan kebenaran yang mendekati 100% perihal rasa minuman
tersebut (Generalisasi). Sebaliknya, bilamana ditentukan satu
sudutpandang yang dianggap benar; maka masing-masing orang yang
berusaha mengerti kebenaran tentang rasa minuman tersebut akan
menemukan imajinasi, perkiraan tentang minuman tersebut yang
berbeda-beda, yang tidak sama dengan minuman tersebut. 
(Dikutip dari e-book; Kompatiologi logika komunikasi empati / I.
Sejarah kompatiologi / Ide Dasar Kompatiologi Menggunakan Minuman
bukan Kata-Kata)   

* Feel (data mentah) adalah tahap ketika si manusia mengalami suatu
informasi/data secara utuh, alami, apa adanya dan belum diberi
pendapat, komentar, justifikasi yang bersifat verbal/pasti.

* Judgement adalah tahap ketika suatu informasi/data diberi pendapat,
komentar, justifikasi yang bersifat verbal/pasti sehingga membatasi
penjelasan/nilai/arti mengenai data tersebut dalam satu versi
sudutpandang saja.

* Generalisasi adalah tahap ketika kumpulan Judgement dari
sudutpandang yang berbeda-beda dikumpulkan untuk mendapatkan satu
logika yang utuh dalam mengimajinasikan bentuk informasi/data yang
diharapkan mendekati 100% kelengkapannya.


Penganut romantisme yang memposisikan dirinya sebagai bagian dari
masyarakat umum berusaha mengikuti informasi/data yang telah berbentuk
"pemikiran" yang telah ada di masyarakat umum yang berbentuk
"Judgement" dan "Generalisasi". Karena menganggap bahwa diri sendiri
adalah bagian dari masyarakat umum maka pengalaman individual yang
berbentuk Feel(data mentah) diabaikan.  
 
Penganut eksistensialisme yang memposisikan dirinya berhadapan dengan
hal-hal di luar dirinya (di dalam diri berhadapan dengan di luar diri
/ lingkungan, masyarakat, dlsb) mengalami pemerosesan informasi/data
dimulai dari tahap; Feel(data mentah), Judgement dan Generalisasi
secara lengkap seperti yang saya analogikan dalam kegiatan meminum
minuman yang saya telah ceritakan sebelumnya. 



SAYA ADALAH NABI PALSU BAGI DIRI SENDIRI

Berdasarkan pengamatan saya terhadap subject penelitian kompatiologi
yang telah mengikuti dekon-kompatiologi antara 6 bulan hingga 12
bulan, saya menemukan suatu fenomena yang menarik berkaitan dengan
perbedaan proses yang dialami penganut romantisme dan eksistensialisme.

Proses yang dialami penganut romantisme diawali dengan pengumpulan
Judgement (sudutpandang yang verbal) dari berbagai pihak berbeda,
hingga membentuk Generalisasi (logika yang menyeluruh dalam
pikiran/imajinasi). Untuk semakin mengerti secara mendalam tentang
suatu bidang kegiatan diperlukan membaca dan mendengarkan sebanyak
mungkin macam-macam teori hingga semakin hari didapatkan kerangka
logika yang semakin utuh. Proses belajar lebih dipengaruhi oleh
kegiatan membaca dan mendengarkan penjelasan pihak lain dibandingkan
pengalaman sendiri. Kurangnya kegiatan membaca dan mendengarkan
berakibat kurangnya pengetahuan.

Proses yang dialami penganut eksistensialisme diawali dengan mengalami
pengalaman (informasi/data secara utuh, alami, apa adanya) dan belum
diberi pendapat, komentar, justifikasi yang bersifat verbal/pasti.
Seperti misalnya kalau kita meminum segelas minuman dan belum
berpendapat atas minuman tsb. Tentunya pengalaman yang dialami akan
bisa di-Judgement atau tidak. `Pendapat atas suatu pengalaman'
(Judgement) bisa berubah dari waktu-ke waktu. Seperti misalnya kalau
kita berkali-kali meminum segelas minuman yang 100% sama maka kita
bisa memberikan `pendapat'(judgement) yang berbeda setiap kali kita
meminumnya tergantung situasi dan kondisi saat meminumnya. Sebuah
Feel(data mentah) yang sama bisa memiliki bermacam-macam Judgement.
Sebuah sample pengalaman bisa dibandingkan dengan variasi pengalaman
sejenis yang berbeda-beda range(jangkauan) dan pembandingnya. Banyak
variasi Judgement yang muncul yang membuat pertumbuhan jangkauan
kerangka logika Generalisasi yang dipahami oleh orang tersebut.
Kecepatan pertumbuhan pemahaman ini berbeda-beda tergantung apakah
orang tsb berpikir apa adanya dari pengalaman data mentah diri
sendiri, atau sudah terpengaruh oleh berbagai Judgement dan
Generalisasi dari orang lain.

Muncul fenomena dimana seseorang bisa belajar tidak dari membaca dan
mendengar teori atau pendapat orang lain, melainkan dari pengalaman
sehari-hari yang tampak sangat sepele. Fenomena menarik yang sering
tampak pada mantan peserta dekon-kompatiologi yang tidak pernah
membaca buku-buku filsafat dan psikologi; tiba-tiba saja bisa
`ber-nubuat'(menceritakan ide-idenya yang original) dalam bidang
filsafat atau psikologi, yang kalau diurutkan maka akan tampak mirip
urutannya dengan urutan daftar isi sejarah filsafat barat atau buku
sejarah teori-teori psikologi, dari paling awal hingga paling akhir.
Satu-satunya kekurangannya, mereka yang bernubuat ini samasekali tidak
tahu nama tokoh-tokoh filsafat dan psikologi yang berhubungan dengan
ide-ide yang mereka ceritakan, kadang-kadang mereka bersikap sok tahu
seolah-olah ide itu temuan mereka sendiri.

Saya jadi bertanya; Apakah memang Pencipta sudah membuat `blue print'
yang standard dalam setiap manusia tentang ilmupengetahuan seperti
misalnya psikologi dan filsafat. Jadi kalau manusia itu bisa mendapat
kesempatan yang sama untuk memulai pemerosesan informasi/data-nya;
mulai dari Feel(data mentah), berbagai variasi Judgement yang terus
bertambah seiring perjalanan waktu yang membentuk Generalisasi,
bangunan logika yang semakin hari semakin lengkap dan utuh; Tentunya
manusia itu akan mampu menceritakan perjalananan belajarnya yang
seumur hidup dari awal hingga akhir yang hanya berbeda bahasa
penceritaannya, contoh pengalaman dan sampai dimana dia seorang
pencerita yang baik, isinya sama saja. 

Masing-masing teori filsafat diwakili oleh nama seorang filsuf yang
berkutat di satu tahap proses berteori saja, mungkin karena mereka
terlalu sibuk mengikatkan diri pada satu teori saja, sehingga perlu
sekian banyak orang hingga buku filsafat menjadi lengkap.      



PENUTUP

Saya percaya bahwa; 

Saya adalah Nabi Palsu bagi Diri Sendiri. (Nabi adalah sebutan untuk
orang yang ber-nubuat.) Saya sadar bahwa saya tidak berhak meninggikan
diri dengan bernubuat bagi orang lain. Dengan menyadari dan mengakui
bahwa diri saya hanyalah seorang nabi palsu, maka saya telah
menggenapi apa yang tertulis di kitab suci bahwa akan datang nabi-nabi
palsu. 

Ketika hari ini datang seseorang mengaku sebagai Nabi Asli, merasa
lebih pintar, lebih mengerti, lebih tinggi di hadapan Pencipta dan
berusaha mengarahkan orang lain, meninggikan diri di hadapan Pencipta
dengan bernubuat bagi orang lain; 

Di masa kini Ia yang Mengaku Nabi Asli itu telah merampas Hak
manusia-manusia yang dijadikan pengikutnya, untuk bernubuat bagi diri
sendiri; Setiap manusia berhak menjadi Nabi Palsu bagi Dirinya
Sendiri, tidak untuk meninggikan diri dengan bernubuat bagi orang lain.

Tulisan ini ditulis bagi yang penganut agama-agama `samawi' (Pencipta
yang memilih manusia untuk menjadi umatnya). Seperti sejak manusia
pertama diciptakan Allah;

Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon
dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon
pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan
buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.
(Kejadian 2: 16-17)

Sejak Allah menciptakan manusia pertama yaitu; Adam dan Hawa, free
choice telah diberikan. Adam dan Hawa telah memiliki pilihan untuk
memakan buah yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dimakan. Karena
Allah maha pengasih maka berjuta-juta pohon di taman itu boleh
dimakan, tetapi hanya satu pohon saja yang tidak boleh dimakan.   
 

Ttd,
Vincent Liong / Liong Vincent Christian
(Founder of Kompatiologi)
Jakarta, Senin, 16 Juni 2008

Reply via email to