naaah ky gini doong artikel yg bagus......

On 11/19/07, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> dari WIKIMU
>
> Supervisor, Bemper atau Burger?
>
> Jumat, 16-11-2007 10:36:57 oleh: surjo sulaksono
> Kanal: Opini
>
> Dalam pembicaraan dengan para supervisor yang mengikuti pelatihan
> Supervisory saya sering mendengar keluhan: nggak enak jadi supervisor karena
> sering diperlakukan seperti 'bemper'. Eddy Sud Rachmat Kartolo - Maksud lo?
> Gitu saya meniru anak muda sekarang untuk minta penjelasan lebih lanjut.
>
> Maksud saya, dulu sewaktu jadi staf biasa, saya hanya bertanggung jawab
> terhadap hasil kerja saya. Bos hanya bisa mengomentari apa yang saya lakukan
> atau hasilkan. Sekarang, kalau anak buah saya melakukan kesalahan, saya kena
> teguran. Ibarat terjadi tabrakan di depan, bempernya yang penyok.
> Sebaliknya, kalau bawahan nuntut ini itu dan belum atau tidak dipenuhi,
> mereka bilang saya ga peduli pada bawahan. Tabrakan dari belakang, lagi-lagi
> bempernya penyok. Padahal, yang selalu menikmati fasilitas, ya manajer,
> alias dia aman di dalam. Bawahan juga aman karena terlindungi oleh saya dari
> kemarahan manajer.
>
> Betulkah nasib supervisor seperti bemper yang maju kena - mundur kena? Ya,
> benar, jika mereka tidak tahu tugasnya dengan pasti, tidak tahu
> karakteristik supervisor ideal, dan buta tentang kemampuan yang disyaratkan.
>
>
> Pertama, apa sih tugas supervisor? Ada Tridarma Supervisor: Mengelola Diri
> Sendiri, Mengelola Pekerjaan, dan Mengelola Bawahan. Supervisor harus
> seorang yang mampu mengelola dirinya. Mengelola emosi, cara berpikir, tutur
> kata, dan tindak tanduknya harus benar. Dia harus meningkatkan skill,
> kowledge, dan attitudenya secara konsisten dan berkesinambungan. Supervisor
> juga harus mampu mengelola pekerjaannya. Dia harus memiliki cara cara baru,
> berinovasi dan kreatif untuk melakukan pekerjaannya dengan efektif dan
> efisien. Hasil karyanya haruslah meningkat, baik kualitas maupun
> kuantitasnya. Supervisor juga harus mampu mengelola bawahannya, merekrut
> anggota terbaiknya, menilai hasil kerja mereka, mengawasi, mengarahkan,
> memotivasi, membimbing, dan memberdayakan bawahan.
>
> Kedua, Supervisor harus mengetahui 4 K dari karakteristik supervisor
> ideal. K- Karakter, Supervisor haruslah seorang yang jujur, artinya mengakui
> semua perbuatannya: benar atau salah. Supervisor juga haruslah
> berintegritas, artinya melaksanakan apa yang diucapkannya, menjadi teladan,
> walk the talk - tidak 'asbun'.
>
> K- Koperatif, Supervisor harus bisa bekerja sama dengan bawahan, klien,
> supplier, sesama supervisor, dan atau manajernya. Dia tidak dapat bekerja
> soliter lagi.
>
> K- Kompeten, Supervisor haruslah orang yang kompeten di bidangnya.
> Bersyukurlah bila Anda memulai dari bawah, karena mungkin saja Anda
> dipromosikan karena Anda dinilai kompeten di bidang tersebut. Jika Anda
> fresh graduate dan mendapat rejeki nomplok sebagai supervisor, cobalah Anda
> mendalami bidang yang Anda geluti. Jangan malu untuk bertanya pada bawahan
> Anda. Lebih mudah bagi Anda untuk memberikan pengarahan, misalnya, jika Anda
> tahu persis apa yang terjadi di gemba.
>
> K- Komunikatif. Karena anda berhubungan dengan manusia, bukan robot atau
> mesin, Anda harus berbicara dalam 'bahasa manusia'. Jadilah pendengar yang
> baik, berikan respon yang tepat - bukan menggurui - bukan menasehati apalagi
> mengecam. Latihlah diri Anda untuk mengucapkan artikulasi dengan jelas,
> bangunlah kepercayaan diri untuk berani berbicara di depan umum. Latihan
> presentasi, memberikan briefing, melakukan coaching, memberikan feedback,
> membantu problem solving, memimpin meeting, meningkatkan negotiating skills,
> melakukan komunikasi telpon, surat menyurat, menulis laporan, membuat
> pengumuman, membuat grafik, dll sesuai dengan bidang pekerjaan Anda.
>
> Terakhir, Supervisor harus mengetahui tiga kemampuan yang harus dimiliki.
> Kemampuan pertama adalah technical skills. Seperti diutarakan di depan;
> seorang Sales Supervisor harus bisa melakukan penjualan, misalnya. Penting
> bagi supervisor untuk melakukan joint visit dengan salesman (baru maupun
> lama) untuk lebih mengetahui kondisi pasar maupun kemampuan bawahan. Seorang
> Supervisor Bengkel Mobil, misalnya, harus tahu cara membetulkan mesin yang
> benar sehingga dia dapat menegur bawahan yang keliru mengencangkan baut,
> misalnya. Dia dapat menilai montir yang bekerja baik dan yang asal-asalan
> sehingga performance appraisal yang dilakukannya dapat akurat. Di tingkat
> supervisor kemampuan teknis menjadi sangat dominan dibanding level
> manajerial di atasnya. Mengapa? Karena dialah tempat bertanya bagi staf, di
> kantor, di pabrik, maupun di lapangan. Dia menjadi guru bagi bawahannya.
>
> Kemampuan kedua adalah interpersonal skills. Lebih dari 8 jam masa terjaga
> seorang supervisor dikelilingi oleh manusia. Sekalipun dia bekerja
> diindustri manufaktur yang fully automatic dikerjakan oleh mesin atau robot,
> tetap saja ada operatornya. Supervisor berinteraksi dengan manusia yang
> memiliki rasio dan emosi. Mereka membutuhkan pujian, sapaan, senyum
> persahabatan, didengarkan keluhannya, dibantu persoalannya, ditegur jika
> melakukan kekeliruan, diajari, diacungi jempol, disalam dengan hangat, dll.
> Anda menjadi sahabat bagi mereka yang menjadi konstituen Anda. Sampai level
> puncak pun interpersonal skills ini tetap diperlukan.
>
> Kemampuan terakhir adalah conceptual thinking. Meski tugas Anda sebagian
> besar adalah mengerjakan kebijakan perusahaan, tetapi karena Anda sudah
> menjadi bagian manajemen di lini depan, maka Anda perlu meningkatkan
> kemampuan berpikir konsep. Anda perlu belajar untuk memahami visi-misi
> perusahaan dan menterjemahkannya menjadi SOP yang mudah dipahami bawahan
> karena sederhana dan sistematis. Anda juga perlu memperjuangkan usulan dari
> bawah dan menyisipkannya kedalam proposal yang dapat mendukung tercapainya
> visi-misi perusahaan. Karena itu Anda perlu belajar grafik, diagram, table
> dsb seperti bahasa yang dipahami oleh para 'dewa' di puncak kekuasaan. Tanpa
> itu semua, proposal maupun report Anda hanya akan dipandang sebagai surat
> cinta anak monyet (?)
>
> Kalau demikian, apakah Anda masih merasa sebagai bemper? Bukankah sekarang
> mestinya anda menganggap sebagai bagian tengah dari burger yang diapit oleh
> roti di atas dan di bawahnya? Iya dong, Anda justru paling berharga.
> Sepotong burger tentu tidak nikmat jika tidak ada daging, selada, mayonaise
> dan bumbu lain di tengahnya. Tapi jangan juga besar kepala, nanti yang makan
> bisa jadi mblenger, klenger dan keblinger!!!!
>
>
> --
> --- Rider B 6537 KCL ---
> http://lampuhijau.wordpress.com/
> http://revo-me.blogspot.com/
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke