pokoknya WARKOP is the best lah...tora, aming, atawa extravaganza lawakannya
kgk lucu

Pada tanggal 29/11/07, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
>
> ---------- Forwarded message ----------
> From: Andriansyah B <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
>
>   Gw sih belom lihat quickie express ini.. bosen juga di film indonesia
> adanya tampang si tora melulu... tapi banyak yg bilang model2 warkop gitu..
> jadi penasaran jg..
>
>
> Quickie Express:
> Mengkhianati "WARKOP"
> oleh Hikmat Darmawan <http://www.rumahfilm.org/hubungi_hikmat.htm>
> Redaktur Rumahfilm.org <http://www.rumahfilm.org/>
>
> *Jojo: "Anjing!"*
>
> *Om Mudakir: "Masya Allah!" *
>
> Dan apakah "Warkop"?
>
> Dimas Djayadiningrat, sutradara* QuickieExpress*, mengaku dalam konferensi
> pers bahwa film ini adalah sebuah *tribute *(pengenangan-penghormatan)
> terhadap film-film komedi Warkop (Warung Kopi) Dono Kasino Indro. Dimas
> segera menyebutkan contoh, betapa ia mempermainkan sinematografi agar tampak
> seperti film-film Warkop zaman dulu.
>
> Memang, terutama di bagian awal, fotografi tampak agak buram kecoklatan,
> selayak film tua. Tata cahaya sengaja dibuat terlalu terang, seperti biasa
> film-film kita saat itu. Malah, judul dan *title *nama-nama tokoh pun
> dibuat merapat ke kanan-kiri layar, seolah hampir terpotong. Memang, jika
> kita melihat film-film Warkop di video atau televisi, rasio gambar tak
> disesuaikan, sehingga (1) gambar jadi lonjong, atau (2) bagian kanan dan
> kiri gambar terpotong, dan yang terlihat di layar TV adalah "(Do) *
> no-Kasino-In*(dro)".
>
> Apakah itu hakikat film "warkop"? Tentu tidak. "Penampakan" film Warkop
> yang demikian itu *kan *sama saja untuk film-film Indonesia lain di era
> Trio Video Tara, bukan? (Bagi yang, ehm, terlalu muda untuk ingat: pada
> 1980-an, marak *rental* video berformat Betamax. Nah, perusahaan pengganda
> film yang memonopoli peredaran film nasional dalam bentuk video Beta adalah
> Trio Video Tara. Logonya selalu tampak di pojok kanan atas layar.)
>
> Sebagai pelahap rakus film yang dibesarkan antara lain oleh film-film
> Warkop, saya punya "standar" sendiri jika ada pembuat film yang
> "berani-beraninya" mengaku akan bikin *tribute *buat film-film Warkop.
> Saya sempat skeptis sewaktu mendengar bahwa cerita *Quickie Express*.
> Kisah Jojo (Tora Sudiro), Marley (Amink), dan Piktor ( Lukman Sardi) yang
> menjadi gigolo. Ini sebuah *high concept *untuk film Indonesia.
>
> Apakah film-film Warkop pernah punya *high concept*? Hm. Mereka pernah
> jadi detektif partikelir dalam *Pintar-pintar Bodoh *(Arizal, 1980), dan
> jadi "polisi swasta" dalam *CHIPS-Cara Hebat Ikut Penanggulanan Masalah
> Sosial *(Iksan Lahardi, 1982). Atau jadi organisasi rahasia yang
> menjadikan Dono sebagai manusia bionik setelah ditabrak bemo, dalam *Manusia
> 6.000.000 Dollar *(Ali Shahab, 1981)*.* Di awal karir dan di akhir karir,
> mereka memang lebih sering melontarkan premis cerita sederhana: kehidupan
> sehari-hari mahasiswa/anak kos, biasanya ditambah persoalan mencari
> perhatian cewek cakep. Seperti dalam film-film awal mereka, *Mana Tahan *(Nawi
> Ismail, 1979), atau *Gengsi Dong!* (Nawi Ismail, 1980). Tapi, oke lah,
> premis cerita tentang gigolo lulus masuk daftar "layak Warkop".
>
> Apa lagi? "Menarik perhatian cewek" –oke. Tepatnya, "melakukan hal-hal
> konyol untuk menarik perhatian cewek". Sebagai gigolo, banyak polah konyol
> dilakukan (atau menimpa) Jojo, Marley, Piktor ketika menghadapi para klien
> yang (rata-rata) perempuan. Khususnya, adegan ketiganya menghadapi para
> klien pertama mereka. Film-film Warkop, khususnya pada periode akhir
> kejayaan mereka, ketika dalam setahun mereka rutin mengeluarkan dua film
> (yakni, waktu lebaran, dan waktu tahun baru), selalu agak *horny*. Dengan
> premis dunia gigolo, tentu saja *Quickie Express *punya dosis *horny *lebih
> besar lagi.
>
> Lalu, nah, ini penting, lawakan *slapstick *(komedi fisik)? Ada. Tepatnya,
> dalam film-film Warkop, lawakan *slapstik *lekat pula dengan komedi
> situasi. Dalam *Quickie Express*, lawakan *slapstick *dan komedi situasi
> cukup terjaga.Lihat adegan pelatihan jadi gigolo di Quickie Express
> Training Centre. Khususnya, adegan latihan " *body language*". Si
> instruktur sangat berhasil jadi *scene stealer*, karena dengan cemerlang
> menampilkan parodi gerakan mesum yang luar biasa tak tahu malu –dengan
> serius!
>
> Tapi, saya tetap merasa bahwa *Quickie Express*, jika benar diniatkan jadi
> *tribute *untuk Warkop, sama sekali tak terasa "ke-Warkop-warkop-an". *Quickie
> Express*, dalam banyak hal, mengkhianati Warkop. Tak cukup Dimas berkelit
> bahwa karena zaman sekarang sudah beda, lantas humornya pun beda dari zaman
> Warkop. Film ini terlalu banyak mengada-adakan yang tak ada di film-film
> Warkop, sehingga sang "Warkop" tak tertangkap nyaris sepenuhnya. Cobalah
> kita buat daftar.
>
> Yang tak ada di film-film Warkop (tapi ada dalam *Quickie Express*):
>
>    1. Tak ada retorika kamera.
>    2. Tak ada aktor watak berperan melawak dalam trio itu –semuanya
>    pelawak.
>    3. Bukan *plot driven. *
>    4. Tak ada narasi *off screen.*
>    5. Tak ada *music score *yang rapi atau canggih.
>    6. Tak ada *sound track *lagu-lagu latar yang *keren* (warkop sering
>    membuat lagu-lagu sendiri, biasanya parodi).
>    7. Tak ada tema besar.
>
> *Quickie Express *memang tampak tak hendak menyampaikan wacana. Ia hanya
> menggambarkan individu yang ingin mencari tempat yang tepat, bukan dalam dan
> untuk masyarakat, tapi untuk mendapat kesenangan dan kenyamanan hidup
> pribadi. Dan terasa ada keinginan untuk menampik pesan ("tendens", jika kita
> pinjam istilah dalam polemis sastra lama). Pada saat Jojo merenungi
> pekerjaannya, dan berniat berhenti, ia lantas memikirkan –dalam sebuah
> narasi *off screen* yang saya sukai– berbagai pikiran *ala* pelajaran PMP
> melintas. "Aku harus punya pekerjaan bermartabat...aku harus bermanfaat bagi
> masyarakat..." Sampai tiba-tiba pikiran itu di-*jedot*-kan pada sebuah
> moralitas yang lebih jujur: "Ah, *tai *lah!"
>
> Justru kecenderungan antiwacana dan antisosial itulah yang jadi wacana dan
> moral film ini. Keinginan mencari tempat terbaik dan ternyaman untuk
> bersenang-senang –individualisme/pragmatisme/hedonisme– sesungguhnya adalah
> sebuah tema besar. Sesuatu yang tak ada dalam film-film Warkop. Film-film
> Warkop juga tentang keinginan untuk bersenang-senang. Tapi film-film itu
> lebih mampu tak hirau pada pesan, karena lebih asyik menciptakan
> anekdot-anekdot belaka. Film-film Warkop lebih berani mengorbankan segala
> hal –pesan, logika, koherensi cerita, karakterisasi– demi anekdot-anekdot
> sesaat.
>
> Dalam *Quickie Express*, aura pesan lebih terasa karena film dinarasikan
> oleh sebuah suara luar kamera –suara Jojo, renungan-renungan dan segala
> komentarnya terhadap segala yang terjadi dalam film. Ini jelas tak pernah
> ada dalam film-film Warkop. Kalau dipikir-pikir, narasi *off screen *memang
> hampir tak ada dalam film-film Indonesia pada umumnya di masa jaya film
> nasional, 1970-an hingga 1980-an. Angkatan mutakhir film kita lah, yang
> berkiprah sejak 1997-8, yang cukup gandrung pada narasi *off screen*.
> Sejak *Kul De Sak*, saya kira. Dan untuk komedi, *Janji Joni *(Joko Anwar,
> 2005) terhitung jadi pelopor dalam mengandalkan diri pada narasi *off
> screen *ini.
>
> Malah, dalam banyak hal, *Quickie Express *lebih mengingatkan saya pada *Janji
> Joni*. Tentu saja, faktor Joko Anwar yang menulis skenario kedua film itu
> sangat berperan penting untuk persamaan itu. Selalu ada adegan kejar-kejaran
> dengan berlari dalam film-film (yang ditulis) Joko. (Ingat juga *Jakarta
> Undercover* dan *Kala*). Seperti *Janji Joni*, adegan kejar-kejaran *Quickie
> Express *juga dalam gang-gang sempit dan jalan kumuh dengan deretan
> bangunan tua di kanan kiri. Seperti *Janji Joni *, juga *Arisan* (Nia
> Dinata, 2003)* *dan *Jakarta Undercover *(Lance, 2006), *Quickie Express 
> *dimeriahkan
> *cameo *orang-orang film kita. Seperti *Janji Joni*, di bagian awal ada
> narasi kocak yang mempersiapkan penonton bukan hanya pada sosok Jojo sang
> narator, tapi juga pada apologia Jojo untuk profesi "unik" yang ia pilih.
>
> Seperti* Janji Joni*, film ini sangat didera maju oleh plot (*plot driven*).
> Ini memang gaya Joko, sebagai salah satu penulis skenario terbaik kita saat
> ini bersama Musfar Yasin (masing-masing dengan kelemahannya sendiri). Joko
> gandrung dengan kelokan alur yang tiba-tiba dan tak terduga. Banyak *twist
> *dalam cerita *Quickie Express *(dan lebih baik Anda menikmatinya sendiri,
> daripada minta saya menceritakannya!). Sifat penceritaan macam begini
> bergantung setidaknya pada dua hal: (1) struktur keseluruhan yang tepat,
> yang mampu memaksa penonton ke arah ekspektasi kejadian tertentu, dan dengan
> begitu ekspektasi itu bisa dihancurkan dengan spektakuler; dan (2)
> penyampaian para aktor yang harus piawai.
>
> Soal struktur, Joko Anwar sungguh beres. Sayang, penyutradaraan dari Jay
> kadang agak kendor, seperti adegan Om Mudakir (Tino Saroengallo) dan Jojo
> berjalan pertama kali ke pusat pelatihan gigolo Quickie Express. Tapi,
> secara umum, cukup lancarlah *Quickie Express* bertutur. Nah, tinggal soal
> aktor. Dalam *Quickie Express*, Ira Maya Sopha, Rudy Wowor, dan Tio
> Pakusadewo (sudah saya bilang dia salah satu aktor terkuat kita saat ini?
> Nah, dia salah satu aktor terkuat kita saat ini!) berhasil lolos dari ujian
> ini. Lihatlah perubahan yang terjadi pada Rudy Wowor saat ia, sebagai
> seorang penjahat kakap, menyelinap ke rumah Jojo. Perhatikan juga perubahan
> Tio Pakusadewo dari beringas menjadi patah hati, sambil tetap mempertahankan
> karikatur begundal minim akal. Yang jelas, semua gaya penuturan yang
> terhitung rumit ini, sangat "tidak Warkop".
>
> Dan, lagi-lagi seperti *Janji Joni*, film ini mengerahkan siasat visual
> dan retorika kamera yang cukup beragam, plus *music score *dan *soundtrack
> *yang *keren*. Yang terbaik adalah dalam adegan di kincir pasar malam,
> saat Jojo dikejar seorang begundal (yang bicara tak jelas –sesuatu yang ada
> dalam beberapa film Warkop, khususnya Jack John dalam *Manusia Enam Juta
> Dollar*) asal Ambon, yang psikopat* *dan sedang patah hati (dimainkan
> dengan komikal dan cukup cerdas –Tio Pakusadewo memang salah satu aktor
> terbaik kita!).
>
> Dalam adegan itu, kamera berganti-ganti posisi, dan editing dengan cekatan
> mengikuti pengejaran memanjat tiang-tiang besi sang kincir yang semakin
> tinggi dari tanah itu, dan dengan pas pula mengikuti ritme *music score *yang
> semakin menanjak dalam komposisi orkestral yang mengingatkan pada *music
> score *untuk film *Hawai Five-O*. Beberapa saat setelah itu, kerja sama
> yang baik antara gerakan kamera-musik-editing juga terjadi dalam adegan Jojo
> sendirian memandang tempat pelatihan Quickie Express yang telah
> porak-poranda karena tawuran. (Walau, saya akui, kecekatan kerjasama
> antarunsur film ini lebih sering tak optimal di sepanjang film.) Nah, mana
> pernah segi-segi teknik ini begitu diperhatikan dalam film-film Warkop?
>
> Demikian juga *sound track *dari sederet musisi pop/rock-progresif yang
> sebagian besar bergaya retro macam grup Berandals, The Adams, Tika,
> Goodnight Electric, Sore, atau White Shoes & The Couples Company yang
> bersemangat alternatif dan, dari sudut pandang antargolongan (yang tak boleh
> dimasalahkan di zaman Orba), "borjuis"? Jelas tak pernah ada yang macam
> begini dalam film-film Warkop.
>
> Lagu-lagu dalam film-film Warkop lazimnya parodi. Kadang, Warkop
> memarodikan lagu Barat, seperti yang dibawakan kelompok "Wah Gede Banget"
> (sebetulnya, Dono-Kasino-Indro juga) yang memarodikan *Black Dog *dari Led
> Zeppelin jadi sebuah lagu Cina. Lebih sering, Warkop membawakan lagu
> bermusik "orkes", dengan syair-syair parodi penuh ledekan sosial. Untuk
> urusan musik, tampak Kasino jeniusnya. Yang lebih penting, semangat
> lagu-lagu Warkop adalah "merakyat", "kampungan", tapi berhibridasi dengan
> kecerdasan kritis mahasiswa yang tampil santai. Lagu-lagu dalam *Quickie
> Express *terlalu menonjol "kecerdasan musikal" mereka.
>
> Tapi, pengkhianatan terbesar *Quickie Express *terhadap film-film Warkop
> adalah hilangnya *ensamble *peran trio pemeran utama. Di awal, di tengah,
> di akhir, hanya ada cerita Jojo. Di sebagian bagian awal dan sebagian bagian
> tengah, Marley dan Piktor kebagian cerita juga. Memang, terutama di masa
> akhir kejayaan mereka, Warkop sendiri lebih banyak menjadikan Dono sebagai "
> *primadono*". Tapi, Indro dan Kasino tak pernah sampai kehilangan cerita.
>
> Lebih-lebih, trio yang ada dalam *Quickie Express*, memang agak timpang.
> Lukman Sardi, yang sebetulnya aktor watak cukup berbakat, agak salah peran (
> *miscast*)* *di sini. Tora (lepas dari Citra yang ia dapat sebagai "aktor
> terbaik") dan Amink memang bukan aktor watak. Keduanya bahkan adalah sesama
> pelawak dalam acara Extravaganza di Trans-TV. Mereka memiliki *screen
> persona* yang kuat, tapi tak pernah bisa keluar-masuk watak selain menjadi
> diri sendiri di dalam layar. Persis seperti Dono-Kasino-Indro. Kenapa tak
> sekalian memasang Indra Birawa saja dalam trio *Quickie Express *ini?
>
> Saya hanya menemukan satu-dua *tribute *yang nyata: adegan Jojo dikerubuti
> adik Lila* *(Sandra Dewi, yang manis sekali seperti donat Dunkin isi
> srikaya), dua anak lelaki yang badung bukan main, dan Jojo lantas *
> nyeletuk*, kurang lebih, *badung banget sih ini anak*. Satu lagi, tentu,
> adegan menari dalam pentas disko seperti Dono dalam *Pintar-pintar Bodoh*yang 
> sebetulnya merupakan parodi dari disko ala John Travolta dalam
> *Stayin' Alive*. Yang jelas, jika *Quickie Express *seluruhnya dianggap
> sebuah *tribute *bagi film-film Warkop, tentu ini berlebihan.
>
> Lagipula, tak perlu. Mestinya, saya memang tak terpengaruh ucapan Dimas
> itu, sehingga ekspektasi saya terbentuk: mencari-cari yang "Warkop" dalam
> *Quickie Express*. Ini bukan film Warkop. Ini adalah komedi di "zaman
> baru" film nasional –zaman yang dikuasai kaum muda yang lebih rileks untuk
> menjadi amoral, lebih pragmatis dan hedon; zaman yang gandrung pada
> aspek-aspek teknis, siasat visual, dan aneka retorika kamera dalam pembuatan
> film; zaman DVD yang dibebani limpahan informasi dan referensi film dunia.
> Dalam zaman inilah, komedi seks ala *Quickie Express* mungkin muncul dalam
> film kita.
>
> Wartawan senior Yan Wijaya, dalam wawancara yang ditayangkan pada acara 
> *Behind
> The Scene: Quickie Express* di salah satu TV swasta kita, menyebut ini
> adalah "komedi seks pertama di Indonesia". Dulu, kata Yan, memang banyak
> film-film seks, tapi tidak komedi seks. Tapi, dulu kita pernah punya 
> *Permainan
> Cinta *(Pitrajaya Burnama, 1983, dibintangi oleh Richie Ricardo) atau 
> *Montir-Montir
> Cantik *(BZ Kadaryono, 1984) yang dimaksud sebagai komedi seks juga
> –komedi yang menjadikan seks sebagai subjek. Bedanya, komedi seks kita zaman
> dulu malu-malu, *Quickie Express* lebih serba tahu dan jelas tak
> malu-malu. *Tagline*-nya saja, "*Di mana ada kemaluan, di situ ada jalan!*"
> (dan selamanya merusak pepatah klasik itu dalam kenangan saya!) Yang
> dikomedikan oleh *Quickie Express *bukan hanya perilaku seks, tapi juga
> preferensi seks.
>
> Mungkin saya akan menonton lagi film ini, kali ini dengan ekspekstasi yang
> benar: menonton komedi seks kiwari. Jadi, saya bisa menikmati lagi rangkaian
> adegan Marley dan piranha; adegan seks piano antara Jojo dan Tante Mona yang
> diperani oleh "tante" Ira Maya Sopha nan anggun (dan mengingatkan saya pada
> adegan seks oral di mimbar dalam *Police Academy*); atau adegan yang bakal
> klasik di *layartancap.com*, yakni tarian mesum sang pelatih *body
> language* di pusat pelatihan gigolo Quickie Express. Saya hanya terganggu
> melihat boneka seks berulangkali dibawa keliling ruangan dalam sebuah adegan
> di bagian awal –mestinya Dimas, atau Joko, bisa mengeksplorasi mainan seks
> lain yang "eksotis" dan menggelikan.
>
> Oh, dan saya akan menikmati lagi adegan yang buat saya bakal klasik,
> narasi "Ah, *tai *lah!" Hei, itu kalimat yang sangat *catchy*. Dan
> konsisten dengan awal dan akhir film. Juga, menikmati lagi *footage 
> *adegan-adegan
> gagal di bagian *credit title*,* *seperti film-film Jacky Chan, yang lucu
> juga. Dengan segala kekurangannya, inilah bagian suara zaman baru itu.
> Bagian dari bibit industri film kita di masa depan. Bagian dari *creative
> industry *yang harus kita majukan di negeri ini. Bagian dari gerakan....
>
> Ah, *tai *lah!***
>
> QUICKIE EXPRESS
>
> Sutradara: Dimas Djayadiningrat. Skenario: Joko Anwar.
> Musik: Aghi Nakkotama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro.
> Produksi: Kalyana Shira Film, 2007.
> Pemeran: Tora Sudiro, Amink, Lukman Sardi, Sandra Dewi, Tino Saroengallo,
> Ira Maya Sopha, Rudy Wowor, Tio Pakusadewo.
>
> Thanks & Regards,
>
> [Andri]
>
>
>  ------------------------------
> *From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> Behalf Of *Yunus Arsyi
> *Sent:* Thursday, November 29, 2007 10:08 AM
> *To:* [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; ahmad fauzi; aman
> budi; anton Brain; ardhie; astrit febrilianty; atie anas; barry ardoko; Bayu
> Janitra; bernez ardhi; brur ejah; dayat; dewa ayu; feb thing; Febrian Luhur
> Aryono; Hengky gundul; intan ucritz; LoveLy NIA !!!; onied Prayugi;
> paramitha srihayuningsih; Qiting Qibo; ratih; shinta; suci nurleni; sukma
> pawidya; tiwi; veronika ekasari; vony; winDiaA; [EMAIL PROTECTED]
> *Subject:* [warkopdki] Jadilah Pemegang Rekor MURI ...Undangan untuk para
> Diver....
>
>
>  Numpang numpang... numpang promosi... :D
>
>
> Salam Diving….
>
> Berani menerima Tantangan?
> Jadilah pemegang rekor baru MURI
>
> PT Exhibition Network Indonesia bekerja sama dengan Supermal Karawaci dan
> Museum Rekor Indonesia mengundang anda, penyelam berani untuk menorehkan
> Rekor baru MURI di akhir tahun 2007.
>
> "Penyelam dengan Menggunakan Alat Bantu di dalam Aquarium Terlama"
>
> Dalam acara SCUBEX – Supermal Karawaci 1 – 9 Desember 2007
> (acara Rekor Muri 1-4 Desember 2007)
>
>
> *Persyaratan:*
> 1.      Pria / Wanita berusia minimal 15 tahun,
> 2.      Berbadan sehat,
> 3.      Mengisi  formulir kepesertaan,
> 4.      Kepesertaan terbatas dan tidak dipungut biaya.
>
> *Peraturan Pelaksanaan* :
>
> 1. Pelaksanaan pencapaian rekor baru MURI diadakan pada tanggal 1-4
> Desember 2007 dimulai pukul 11.00 WIB.
>
> 2. Peserta wajib mengikuti technical briefing pada tanggal 1 Desember 2007
> pukul 10.00 WIB.
>
> 3. Urutan lomba peserta ditentukan secara diundi.
>
> 4. Peserta wajib berada ditempat perlombaan setengah jam sebelum
> jadwalnya.
>
> 5. Peserta akan diberikan 1 (satu) buah tabung udara bertekanan 3000 psi.
>
> 6. Penghitungan waktu akan dimulai pada waktu  kepala peserta masuk
> kedalam air dan dihentikan pada saat  kepala peserta keluar dari dalam
> air.
>
> 7. Pemenang adalah peserta yang paling lama bertahan di dalam air dengan
> menggunakan tabung udara yang diberikan.
>
> 8. Peserta yang akan naik kepermukaan air harus memberi tanda kepada
> panitia agar dapat bersiap melakukan perhitungan waktu.
>
> 9. Apabila peserta  naik ke permukaan air tanpa memberi tanda terlebih
> dahulu akan didiskwalifikasi.
>
>
>
> *Hadiah Bagi Penyandang Rekor Baru MURI :*
>
>
>
> Pemenang hanya *satu orang* ( Penyandang Rekor Baru MURI ) dan akan
> mendapatkan Piagam MURI serta Hadiah Uang sebesar Rp. 5.000.000,- ( Lima
> juta rupiah ).
>
> Nama peserta akan dicantumkan dalam MURI.
>
>
>
> Segera Daftar …Tempat Sangat terbatas
>
> Pendaftaran dan Informasi, hubungi :
>
> PT Exhibition Network Indonesia
> Tel: 021 532 8878, 021 5369 0165
> Contact Person : Hilda, Agus
>
> Atau email ke [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>
> Pendaftaran ditutup tanggal :
> 29 November 2007
>
>
>
> ------------------------------
> Be a better pen pal. Text or chat with friends inside Yahoo! Mail. See
> how. <http://us.rd.yahoo.com/evt=51732/*http://overview.mail.yahoo.com/>
> __._,_.___ Messages in this topic
> <http://groups.yahoo.com/group/warkopdki/message/1735;_ylc=X3oDMTM1NDBtcW5qBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRtc2dJZAMxNzM2BHNlYwNmdHIEc2xrA3Z0cGMEc3RpbWUDMTE5NjMxMjQ3NQR0cGNJZAMxNzM1>
> (0) Reply (via web post)
> <http://groups.yahoo.com/group/warkopdki/post;_ylc=X3oDMTJxbWVwMm52BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRtc2dJZAMxNzM2BHNlYwNmdHIEc2xrA3JwbHkEc3RpbWUDMTE5NjMxMjQ3NQ--?act=reply&messageNum=1736>|
> Start a new topic
> <http://groups.yahoo.com/group/warkopdki/post;_ylc=X3oDMTJmNW01aHIwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDZnRyBHNsawNudHBjBHN0aW1lAzExOTYzMTI0NzU->
> Messages<http://groups.yahoo.com/group/warkopdki/messages;_ylc=X3oDMTJmdWFwcXJwBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDZnRyBHNsawNtc2dzBHN0aW1lAzExOTYzMTI0NzU->|
> Members<http://groups.yahoo.com/group/warkopdki/members;_ylc=X3oDMTJmaTBpcDkyBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDZnRyBHNsawNtYnJzBHN0aW1lAzExOTYzMTI0NzU->
> [image: Yahoo! 
> Groups]<http://groups.yahoo.com/;_ylc=X3oDMTJlbnA5ZmdwBF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDZnRyBHNsawNnZnAEc3RpbWUDMTE5NjMxMjQ3NQ-->
> Change settings via the 
> Web<http://groups.yahoo.com/group/warkopdki/join;_ylc=X3oDMTJnY3E2MTlqBF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDZnRyBHNsawNzdG5ncwRzdGltZQMxMTk2MzEyNDc1>(Yahoo!
>  ID required)
> Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest<[EMAIL 
> PROTECTED]:+Digest>| Switch
> format to Traditional
> <[EMAIL PROTECTED]:+Traditional>
> Visit Your Group
> <http://groups.yahoo.com/group/warkopdki;_ylc=X3oDMTJlOW9pNmQ0BF9TAzk3NDc2NTkwBGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDZnRyBHNsawNocGYEc3RpbWUDMTE5NjMxMjQ3NQ-->|
> Yahoo! Groups Terms of Use <http://docs.yahoo.com/info/terms/>| Unsubscribe
> <[EMAIL PROTECTED]>
>  Visit Your Group
> <http://groups.yahoo.com/group/warkopdki;_ylc=X3oDMTJmaXBzOWY4BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzEzMzI0ODAyBGdycHNwSWQDMTcwNTAyMDY1NQRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzExOTYzMTI0NzU->
>  Only on Yahoo!
>
> Star Wars 
> galaxy<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12j2hh9tr/M=493064.11711023.12182481.9963301/D=groups/S=1705020655:NC/Y=YAHOO/EXP=1196319675/A=5008816/R=0/SIG=10sulld0b/*http://starwars.yahoo.com/>
>
> Create a profile
>
> and meet fans.
>  Food Lovers
>
> Real Food 
> Group<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12j044nk1/M=493064.11036139.11614791.8674578/D=groups/S=1705020655:NC/Y=YAHOO/EXP=1196319675/A=4763757/R=0/SIG=1192rfjiu/*http://groups.yahoo.com/group/realfood/>
>
> on Yahoo! Groups
>
> find out more.
>  Yahoo! Groups
>
> Wellness 
> Spot<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12ks2dq7r/M=493064.11674772.12153082.11322765/D=groups/S=1705020655:NC/Y=YAHOO/EXP=1196319675/A=4990214/R=0/SIG=11d53kq3t/*http://advision.webevents.yahoo.com/curves/>
>
> A resource for living
>
> the Curves lifestyle.
> .
>
> __,_._,___
>
>
> --
> <B 6123 KMJ Blaze Red Vario>
> KHCC 011 <> F.S.R.J
> http://lampuhijau.wordpress.com/
> http://revo-me.blogspot.com/
> ----------------------------------------------
> >
>


-- 
- R 15 FA -
mail : [EMAIL PROTECTED]
ym   : [EMAIL PROTECTED]
hp    : 62.855.789.050.0

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke