Tinggal pilih .. Malaysia-nya yang pintar atau Indonesia-nya yang bego !!!
On 1/5/08, M. Risfa Rasman Mugnie <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Peneliti Malaysia Berburu Naskah Kuno Malayu Indonesia, > > > [image: Muhammad Yusuf (GATRA/Fachrul Rasyid HF)]Bak agen rahasia, para > peneliti Malaysia belakangan ini bergentayangan di pelbagai pelosok > Nusantara. Mereka berburu naskah Melayu klasik untuk diboyong ke negaranya. > Bila naskah yang dikendaki tak bisa dibeli, mereka memotretnya. > > Laku lancung orang Malay yang mengaku sebagai bangsa serumpun itu > terungkap dalam Rapat Kerja Asosiasi Budaya Tulis (ATL) di Jakarta, 10-11 > Desember lalu. Ditengarai, ratusan naskah Melayu klasik dari Indonesia kini > terbang ke Malaysia. > > "Naskah-naskah tersebut oleh mereka dibuatkan situs tersendiri. Jika kita > mau mengakses naskah-naskah itu, harus membayar," kata Al-Azhar, Ketua ATL > Riau. Para peneliti dari Malaysia atau Singapura membeli naskah-naskah > koleksi perorangan, yang mewarisi naskah klasik. > > Para pemburu naskah Melayu dari negeri jiran itu membujuk ahli waris > naskah agar sudi menjualnya. Mereka menawarnya hingga belasan juta rupiah > untuk setiap naskah. Ahli waris naskah kuno yang taraf ekonominya kurang > menguntungkan itu pun tergiur. > > Salah satu contohnya adalah naskah kuno tentang tata cara pelaksanaan > hidup dalam sebuah kerajaan Melayu. Naskah itu adalah catatan harian yang > ditulis pemuka masyarakat Pakil, Tanjung Pinang, Provinsi Riau Kepulaun. > Seorang peneliti Malaysia dikabarkan membeli naskah itu Rp 12 juta. > > Modus itu, kata Al-Azhar, sekilas tampak bisa dibenarkan. "Karena mereka > melakukan transaksi jual-beli," tuturnya. Masalahnya, menurut Undang-Undang > Perlindungan Cagar Budaya, jual-beli hanya boleh dilakukan masyarakat atau > individu pemilik naskah kuno itu kepada kalangan dalam negeri. "Jadi, jika > menjual ke pihak luar, bisa dituntut secara hukum," Al-Azhar menegaskan. > > Namun faktor ekonomi dan minimnya pengetahuan masyarakat pemilik naskah > itu akan nilai historisnya membuat mereka enteng saja melepas naskah > tersebut. "Mereka juga tak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu > melanggar hukum," kata Al-Azhar. > > Modus yang sama terjadi di Sumatera Barat. Dari penelusuran Gatra > terungkap, ada 30 lembar naskah yang dijual Rp 150 juta. Naskah yang diburu > biasanya naskah kebudayaan Minangkabau masa lampau, ilmu agama, dan rajah > atau teks yang dianggap masyarakat punya kekuatan magis. Naskah itu lazim > ditulis dengan huruf Arab Melayu, yang sebagian besar tak diketahui siapa > penulisnya. > > "Ada beberapa naskah naskah kuno yang telah dibeli secara ilegal oleh > Malaysia," kata Muhammad Yusuf, dosen filologi Fakultas Sastra Universitas > Andalas, Padang. Naskah yang dibeli orang Malay itu, antara lain, > Undang-Undang Minangkabau. Pemburu naskah dari negeri jiran membelinya dari > seseorang di Kelurahan Balaigurah, Bukittinggi, pada 1984. > > Di Malaysia, naskah itu ditulis ulang dengan aksara Latin oleh Prof. Dr. > Umar Yunus, guru besar ilmu sastra University Malaya, yang kebetulan berasal > dari Silingkang, Sumatera Barat, dan telah lama menjadi warga negara > Malaysia. Kini naskah Undang-Undang Minangkabau itu menjadi koleksi > Perpustakaan Nasional Malaysia. > > Di antara naskah yang diketahui sudah "menyeberang" ke Malaysia, yang > paling berharga, kata Yusuf, adalah naskah tentang iluminasi. Naskah ini > berisi berbagai lukisan dan gambar hiasan pinggir buku. Naskah itu berasal > dati tahun 1770 atau abad ke-18. > > Menurut Yusuf, total ada 371 manuskrip Minangkabau yang berada di luar > Sumatera Barat. Dari jumlah itu, 261 naskah ada di Belanda, 12 di Inggris, > dan 19 di Jerman. Sisanya, 78 naskah, berada di Perpustakaan Nasional, > Jakarta. > > Naskah yang belum tercatat masih banyak dan kini menjadi rebutan Fakultas > Sastra Universitas Andalas dengan para pemburu naskah dari Malaysia. > "Fakultas sastra sering kalah bersaing, terutama karena keterbatasan dana," > tuturnya. > > Meski begitu, dia tak mau menyerah. Yusuf mengaku berusaha melakukan > pendekatan kepada para pemegang naskah kuno agar tetap memeliharanya. > Misalnya, disediakan lemari, kotak, atau alat penyimpan yang lebih baik. > Sebagian yang bisa dibeli fakultas sastra disimpan di perpustakaan fakultas. > > > Pihak Museum Adityawarman, Sumatera Barat, pun kini mulai getol memburu > naskah tersebut jangan sampai jatuh ke tangan pemburu naskah dari Malasyia. > "Kami sangat mengharapkan Pemda Sumatera Barat turun mendukung perlindungan > naskah ini," ujar Yusuf. > > Toh, meski sudah tersimpan di museum pun, belum berarti aman. Buktinya, > terungkap bahwa Malaysia menerapkan modus lain untuk mendapatkan naskah yang > tersimpan di museum. Naskah-naskah itu oleh para peneliti mereka dipotret > secara diam-diam. Dalam Rapat Kerja ATL terungkap, modus ini pernah terjadi > di wilayah Buton, Sulawesi Tenggara. > > Seorang peneliti naskah Melayu klasik dari Buton, La Niampe, mengaku > pernah menangkap basah seorang peneliti Malaysia yang bersama tujuh rekannya > memotret naskah-naskah Buton. Peneliti bergelar profesor itu, kata La > Niampe, akhirnya diusir. "Tapi beberapa puluh naskah sempat mereka ambil," > katanya. > > Jika cara itu tak manjur, mereka menempuh cara baik-baik, yaitu > memintanya. Cara seperti ini ditempuh Malaysia untuk mendapatkan ratusan > hasil penelitian budayawan Riau, Tenas Effendi, atas tradisi lisan dan > naskah-naskah Melayu klasik yang dihimpun Tenas selama bertahun-tahun. > Diakui Tenas, naskah-naskah itu memang diminta pihak Malaysia untuk > dibuatkan situs tersendiri atas namanya. > > Karena naskah-naskah itu pula, Malaysia memberinya gelar doctor honoris > causa. "Mereka tak mencuri naskah milik saya," kata Tenas. Cara ini juga > ditempuh untuk mendapatkan 200-an naskah pantun Rantau Kopan, yang merupakan > tradisi lisan masyarakat sekitar Sungai Rokan, Riau. > > Al-Azhar, sang pemilik naskah, merekam pantun-pantun itu pada 1990. > Pantun-pantun tadi diminta Malaysia untuk situs budaya "Sejuta Pantun". > Meski perbuatan itu tak bisa dikategorikan mencuri, belakangan Al-Azhar > sadar bahwa tindakannya berisiko. Pasalnya, pantun-pantun itu sama sekali > belum dipatenkan. > > "Suatu saat, bisa saja 200 pantun Rantau Kopan tersebut diklaim Malaysia > sebagai miliknya," tuturnya dengan nada khawatir. Mengapa Malaysia begitu > getol berburu naskah-naskah kuno itu? Menurut Muhammad Yusuf, Malaysia > memang berambisi menjadi pusat Melayu dan pusat Islam. > > Ia menduga, gerakan itu juga sejalan dengan gerakan Dunia Melayu Islam, > yang berpusat di sana. "Dengan demikian, orang yang mau belajar tentang > Melayu harus belajar di Malaysia," kata Yusuf. Ketika berkunjung ke Kuala > Lumpur, Malaysia, dua pekan lalu, Gatra menangkap kesan itu. > > Beberapa tokoh setempat yang ditemui Gatra menyebut nenek moyang mereka > adalah orang Melayu. Termasuk orang Melayu yang ada di Indonesia, menurut > mereka, berasal dari Malaysia. Uniknya, ketika ditanya tentang prototipe > orang Melayu dan asal bahasa Melayu, mereka kesulitan menjelaskannya. > > Bahkan, pada saat sinetron Malaysia berjudul Cilok dipertontotan, tak > banyak orang muda Malaysia tahu maknanya. Maklum, kata itu berasal dari > Minangkabau yang berarti pencuri atau maling. > > Mengingat ambisi menggebu Malaysia yang tanpa malu itu, Al-Azhar meminta > pemerintah melakukan penyelamatan warisan budaya bangsa, terutama naskah > lisan di Riau dan wilayah Indonesia lainnya. "Naskah lisan akan mudah > diklaim karena tidak ada catatan yang menyatakan itu hak warisan Riau," > katanya. > > Ancaman itu, menurut dia, sangat nyata. Pada saat ini, di Riau ada 12 > melodi naskah lisan, sedangkan Malaysia memiliki tiga melodi sejenis. "Jadi, > ada sembilan melodi yang tidak ada di Malaysia," tuturnya. Tapi, jika hal > ini dibiarkan, bukan tak mungkin suatu saat 12 melodi itu diklaim sebagai > milik Malaysia. > > M. Agung Riyadi, Fachrul Rasyid HF (Kuala Lumpur), dan Luzi Diamanda > (Pekanbaru) > [Hukum, Gatra Nomor 6 Beredar Kamis, 20 Desember 2007] > <[EMAIL PROTECTED]> > > Recent Activity > > - 17 > New > Members<http://groups.yahoo.com/group/Indonesian-Business/members;_ylc=X3oDMTJnMjdtMm9zBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE3NDc4ODk0BGdycHNwSWQDMTcwNTQxNjA0NQRzZWMDdnRsBHNsawN2bWJycwRzdGltZQMxMTk5NDIwNzA1> > > Visit Your Group > <http://groups.yahoo.com/group/Indonesian-Business;_ylc=X3oDMTJmZmVzdHU5BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE3NDc4ODk0BGdycHNwSWQDMTcwNTQxNjA0NQRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzExOTk0MjA3MDU-> > Ads on Yahoo! > > Learn more > now.<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12jr9a3ar/M=493064.12016308.12445700.8674578/D=groups/S=1705416045:NC/Y=YAHOO/EXP=1199427905/A=3848643/R=0/SIG=131q47hek/*http://searchmarketing.yahoo.com/arp/srchv2.php?o=US2005&cmp=Yahoo&ctv=Groups4&s=Y&s2=&s3=&b=50> > > Reach customers > > searching for you. > Share Photos > > Put your > favorite<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12jjgtk7m/M=493064.12016255.12445662.8674578/D=groups/S=1705416045:NC/Y=YAHOO/EXP=1199427905/A=4025373/R=0/SIG=12dtn7qjm/*http://us.rd.yahoo.com/evt=44092/*http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting> > > photos and > > more online. > Green Groups > > on Yahoo! > Groups<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12jrr63gr/M=493064.12016272.12445677.8674578/D=groups/S=1705416045:NC/Y=YAHOO/EXP=1199427905/A=4776367/R=0/SIG=11mj2s6kj/*http://advision.webevents.yahoo.com/green/index.html> > > share your passion > > for the planet. > . > > __,_._,___ > > > > > > -- .:. Andry Berlianto .:. 0855.9001977 <> 99239005 http://revo-me.blogspot.com/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ ------------------------------------------------- Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ??? Mo posting, send email to [email protected] Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------------- -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
