Peneliti Malaysia Berburu Naskah Kuno Malayu Indonesia,

[image: Muhammad Yusuf (GATRA/Fachrul Rasyid HF)]Bak agen rahasia, para
peneliti Malaysia belakangan ini bergentayangan di pelbagai pelosok
Nusantara. Mereka berburu naskah Melayu klasik untuk diboyong ke negaranya.
Bila naskah yang dikendaki tak bisa dibeli, mereka memotretnya.

Laku lancung orang Malay yang mengaku sebagai bangsa serumpun itu terungkap
dalam Rapat Kerja Asosiasi Budaya Tulis (ATL) di Jakarta, 10-11 Desember
lalu. Ditengarai, ratusan naskah Melayu klasik dari Indonesia kini terbang
ke Malaysia.

"Naskah-naskah tersebut oleh mereka dibuatkan situs tersendiri. Jika kita
mau mengakses naskah-naskah itu, harus membayar," kata Al-Azhar, Ketua ATL
Riau. Para peneliti dari Malaysia atau Singapura membeli naskah-naskah
koleksi perorangan, yang mewarisi naskah klasik.

Para pemburu naskah Melayu dari negeri jiran itu membujuk ahli waris naskah
agar sudi menjualnya. Mereka menawarnya hingga belasan juta rupiah untuk
setiap naskah. Ahli waris naskah kuno yang taraf ekonominya kurang
menguntungkan itu pun tergiur.

Salah satu contohnya adalah naskah kuno tentang tata cara pelaksanaan hidup
dalam sebuah kerajaan Melayu. Naskah itu adalah catatan harian yang ditulis
pemuka masyarakat Pakil, Tanjung Pinang, Provinsi Riau Kepulaun. Seorang
peneliti Malaysia dikabarkan membeli naskah itu Rp 12 juta.

Modus itu, kata Al-Azhar, sekilas tampak bisa dibenarkan. "Karena mereka
melakukan transaksi jual-beli," tuturnya. Masalahnya, menurut Undang-Undang
Perlindungan Cagar Budaya, jual-beli hanya boleh dilakukan masyarakat atau
individu pemilik naskah kuno itu kepada kalangan dalam negeri. "Jadi, jika
menjual ke pihak luar, bisa dituntut secara hukum," Al-Azhar menegaskan.

Namun faktor ekonomi dan minimnya pengetahuan masyarakat pemilik naskah itu
akan nilai historisnya membuat mereka enteng saja melepas naskah tersebut.
"Mereka juga tak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan itu melanggar
hukum," kata Al-Azhar.

Modus yang sama terjadi di Sumatera Barat. Dari penelusuran Gatra terungkap,
ada 30 lembar naskah yang dijual Rp 150 juta. Naskah yang diburu biasanya
naskah kebudayaan Minangkabau masa lampau, ilmu agama, dan rajah atau teks
yang dianggap masyarakat punya kekuatan magis. Naskah itu lazim ditulis
dengan huruf Arab Melayu, yang sebagian besar tak diketahui siapa
penulisnya.

"Ada beberapa naskah naskah kuno yang telah dibeli secara ilegal oleh
Malaysia," kata Muhammad Yusuf, dosen filologi Fakultas Sastra Universitas
Andalas, Padang. Naskah yang dibeli orang Malay itu, antara lain,
Undang-Undang Minangkabau. Pemburu naskah dari negeri jiran membelinya dari
seseorang di Kelurahan Balaigurah, Bukittinggi, pada 1984.

Di Malaysia, naskah itu ditulis ulang dengan aksara Latin oleh Prof. Dr.
Umar Yunus, guru besar ilmu sastra University Malaya, yang kebetulan berasal
dari Silingkang, Sumatera Barat, dan telah lama menjadi warga negara
Malaysia. Kini naskah Undang-Undang Minangkabau itu menjadi koleksi
Perpustakaan Nasional Malaysia.

Di antara naskah yang diketahui sudah "menyeberang" ke Malaysia, yang paling
berharga, kata Yusuf, adalah naskah tentang iluminasi. Naskah ini berisi
berbagai lukisan dan gambar hiasan pinggir buku. Naskah itu berasal dati
tahun 1770 atau abad ke-18.

Menurut Yusuf, total ada 371 manuskrip Minangkabau yang berada di luar
Sumatera Barat. Dari jumlah itu, 261 naskah ada di Belanda, 12 di Inggris,
dan 19 di Jerman. Sisanya, 78 naskah, berada di Perpustakaan Nasional,
Jakarta.

Naskah yang belum tercatat masih banyak dan kini menjadi rebutan Fakultas
Sastra Universitas Andalas dengan para pemburu naskah dari Malaysia.
"Fakultas sastra sering kalah bersaing, terutama karena keterbatasan dana,"
tuturnya.

Meski begitu, dia tak mau menyerah. Yusuf mengaku berusaha melakukan
pendekatan kepada para pemegang naskah kuno agar tetap memeliharanya.
Misalnya, disediakan lemari, kotak, atau alat penyimpan yang lebih baik.
Sebagian yang bisa dibeli fakultas sastra disimpan di perpustakaan fakultas.


Pihak Museum Adityawarman, Sumatera Barat, pun kini mulai getol memburu
naskah tersebut jangan sampai jatuh ke tangan pemburu naskah dari Malasyia.
"Kami sangat mengharapkan Pemda Sumatera Barat turun mendukung perlindungan
naskah ini," ujar Yusuf.

Toh, meski sudah tersimpan di museum pun, belum berarti aman. Buktinya,
terungkap bahwa Malaysia menerapkan modus lain untuk mendapatkan naskah yang
tersimpan di museum. Naskah-naskah itu oleh para peneliti mereka dipotret
secara diam-diam. Dalam Rapat Kerja ATL terungkap, modus ini pernah terjadi
di wilayah Buton, Sulawesi Tenggara.

Seorang peneliti naskah Melayu klasik dari Buton, La Niampe, mengaku pernah
menangkap basah seorang peneliti Malaysia yang bersama tujuh rekannya
memotret naskah-naskah Buton. Peneliti bergelar profesor itu, kata La
Niampe, akhirnya diusir. "Tapi beberapa puluh naskah sempat mereka ambil,"
katanya.

Jika cara itu tak manjur, mereka menempuh cara baik-baik, yaitu memintanya.
Cara seperti ini ditempuh Malaysia untuk mendapatkan ratusan hasil
penelitian budayawan Riau, Tenas Effendi, atas tradisi lisan dan
naskah-naskah Melayu klasik yang dihimpun Tenas selama bertahun-tahun.
Diakui Tenas, naskah-naskah itu memang diminta pihak Malaysia untuk
dibuatkan situs tersendiri atas namanya.

Karena naskah-naskah itu pula, Malaysia memberinya gelar doctor honoris
causa. "Mereka tak mencuri naskah milik saya," kata Tenas. Cara ini juga
ditempuh untuk mendapatkan 200-an naskah pantun Rantau Kopan, yang merupakan
tradisi lisan masyarakat sekitar Sungai Rokan, Riau.

Al-Azhar, sang pemilik naskah, merekam pantun-pantun itu pada 1990.
Pantun-pantun tadi diminta Malaysia untuk situs budaya "Sejuta Pantun".
Meski perbuatan itu tak bisa dikategorikan mencuri, belakangan Al-Azhar
sadar bahwa tindakannya berisiko. Pasalnya, pantun-pantun itu sama sekali
belum dipatenkan.

"Suatu saat, bisa saja 200 pantun Rantau Kopan tersebut diklaim Malaysia
sebagai miliknya," tuturnya dengan nada khawatir. Mengapa Malaysia begitu
getol berburu naskah-naskah kuno itu? Menurut Muhammad Yusuf, Malaysia
memang berambisi menjadi pusat Melayu dan pusat Islam.

Ia menduga, gerakan itu juga sejalan dengan gerakan Dunia Melayu Islam, yang
berpusat di sana. "Dengan demikian, orang yang mau belajar tentang Melayu
harus belajar di Malaysia," kata Yusuf. Ketika berkunjung ke Kuala Lumpur,
Malaysia, dua pekan lalu, Gatra menangkap kesan itu.

Beberapa tokoh setempat yang ditemui Gatra menyebut nenek moyang mereka
adalah orang Melayu. Termasuk orang Melayu yang ada di Indonesia, menurut
mereka, berasal dari Malaysia. Uniknya, ketika ditanya tentang prototipe
orang Melayu dan asal bahasa Melayu, mereka kesulitan menjelaskannya.

Bahkan, pada saat sinetron Malaysia berjudul Cilok dipertontotan, tak banyak
orang muda Malaysia tahu maknanya. Maklum, kata itu berasal dari Minangkabau
yang berarti pencuri atau maling.

Mengingat ambisi menggebu Malaysia yang tanpa malu itu, Al-Azhar meminta
pemerintah melakukan penyelamatan warisan budaya bangsa, terutama naskah
lisan di Riau dan wilayah Indonesia lainnya. "Naskah lisan akan mudah
diklaim karena tidak ada catatan yang menyatakan itu hak warisan Riau,"
katanya.

Ancaman itu, menurut dia, sangat nyata. Pada saat ini, di Riau ada 12 melodi
naskah lisan, sedangkan Malaysia memiliki tiga melodi sejenis. "Jadi, ada
sembilan melodi yang tidak ada di Malaysia," tuturnya. Tapi, jika hal ini
dibiarkan, bukan tak mungkin suatu saat 12 melodi itu diklaim sebagai milik
Malaysia.

M. Agung Riyadi, Fachrul Rasyid HF (Kuala Lumpur), dan Luzi Diamanda
(Pekanbaru)
[Hukum, Gatra Nomor 6 Beredar Kamis, 20 Desember 2007]
 <[EMAIL PROTECTED]>

  Recent Activity

   -  17
   New 
Members<http://groups.yahoo.com/group/Indonesian-Business/members;_ylc=X3oDMTJnMjdtMm9zBF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE3NDc4ODk0BGdycHNwSWQDMTcwNTQxNjA0NQRzZWMDdnRsBHNsawN2bWJycwRzdGltZQMxMTk5NDIwNzA1>

Visit Your Group
<http://groups.yahoo.com/group/Indonesian-Business;_ylc=X3oDMTJmZmVzdHU5BF9TAzk3MzU5NzE0BGdycElkAzE3NDc4ODk0BGdycHNwSWQDMTcwNTQxNjA0NQRzZWMDdnRsBHNsawN2Z2hwBHN0aW1lAzExOTk0MjA3MDU->
 Ads on Yahoo!

Learn more 
now.<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12jr9a3ar/M=493064.12016308.12445700.8674578/D=groups/S=1705416045:NC/Y=YAHOO/EXP=1199427905/A=3848643/R=0/SIG=131q47hek/*http://searchmarketing.yahoo.com/arp/srchv2.php?o=US2005&cmp=Yahoo&ctv=Groups4&s=Y&s2=&s3=&b=50>

Reach customers

searching for you.
 Share Photos

Put your 
favorite<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12jjgtk7m/M=493064.12016255.12445662.8674578/D=groups/S=1705416045:NC/Y=YAHOO/EXP=1199427905/A=4025373/R=0/SIG=12dtn7qjm/*http://us.rd.yahoo.com/evt=44092/*http://smallbusiness.yahoo.com/webhosting>

photos and

more online.
 Green Groups

on Yahoo! 
Groups<http://us.ard.yahoo.com/SIG=12jrr63gr/M=493064.12016272.12445677.8674578/D=groups/S=1705416045:NC/Y=YAHOO/EXP=1199427905/A=4776367/R=0/SIG=11mj2s6kj/*http://advision.webevents.yahoo.com/green/index.html>

share your passion

for the planet.
.



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke