Bung Karno dan Pak Harto, Mantan Presiden yang Beda Perlakuan
Mereka sama-sama mantan presiden tapi nasib mereka berlainan. Jika Soeharto
dirawat supermaksimal, maka Soekarno tidak. Bahkan Soeharto pun tak pernah
menyempatkan membesuk Soekarno yang tergolek lemah di RSPAD Gatot Soebroto
kecuali melayat di hari kematiannya.
FAROUK ARNAZ, Jakarta

Air mata Rachmawati membasahi pipi. Garis waktu tampaknya belum mampu
meredam kekecewaannya mengenang perlakuan pemerintahan Soeharto terhadap
ayahnya, mantan Presiden Soekarno, di penghujung hayatnya. "Sudah ya
ceritanya," kata Rachmawati sesenggukan sambil mengusap air matanya dengan
tisu saat ditemui dikediamannya di kawasan Jakarta Selatan, kemarin (19/1).

Kendati sudah berulang kali membagi cerita tentang perlakuan Soeharto kepada
Bung Karno yang menutup mata pada 21 Juni 1970 itu, namun perempuan
kelahiran Jakarta, 27 September 1950, itu tak bisa menyembunyikan emosinya.
Bung Karno menutup mata di tengah-tengah konsolidasi politik pasca-G30S/1965
yang dilakukan Soeharto tidak hanya dengan membersihkan tubuh birokrasi dan
militer dari unsur-unsur PKI, tapi juga dari Soekarnois.

Tak heran Soekarno pun mendapatkan perawatan minim yang menjadi kontras
dengan perawatan supermaksimal yang dilakukan pada Soeharto saat ini.
Presiden pertama Indonesia itu menutup mata sebelas hari setelah dirawat di
RSPAD Gatot Soebroto. Pada 11 Juni 1970 Bung Karno dilarikan ke RSPAD karena
kritis. "Tapi tak ada perawatan maksimal. Alat hemodialisis untuk pengidap
gagal ginjal pun tak diberi," kenang anggota Dewan Pertimbangan Presiden
itu.

Asupan makan untuk Sang Proklamator itu pun seadanya. Kendati juga
didiagnosis mengidap darah tinggi, namun menu makanan untuk Bung Karno
terasa asin saat dicicipi Rahmawati yang paling rajin membesuk di hari-hari
terakhir Sang Putra Fajar itu. Adik kandung Megawati itu pun langsung protes
dan baru setelah itu diganti. "Bung Karno seperti dibiarkan mati
perlahan-lahan," imbuhnya.

Soal besuk juga bukan urusan mudah dan jangan dibayangkan seperti keluarga
Cendana yang saat ini bisa hilir mudik ke RSPP setiap saat. Tak gampang
untuk mengakses Bung Karno yang saat itu statusnya diambangkan laiknya
tahanan rumah. Pun tak ada kolega Soekarno yang datang mengalir seperti yang
terlihat pada Soeharto hari-hari ini. Obat-obatan pun tak datang dari
langit, melainkan harus mereka beli sendiri.

"Pokoknya beda, beda banget. Ini perjalanan sejarah yang pahit," sambung
Rachmawati yang harus tidur di mobil jika hendak menunggu ayahnya yang
dirawat di RSPAD. Bahkan Rachmawati yang pada 6 Juni 1970 sempat memotret
Bung Karno yang saat itu diasingkan di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria
Mandala, Red) di Jakarta Selatan harus berurusan dengan Polisi Militer di Jl
Guntur, Jakarta Pusat. Pasalnya foto yang menunjukkan kondisi terakhir Bung
Karno itu dikirimkan Rachmawati ke Associated Press yang kemudian
memublikasikannya ke seluruh dunia.

Pun pada saat kematian menjemput Bung Karno pada usia 69 tahun. Pelayanan
minimal begitu kentara. Saat itu bahkan untuk pertama kalinya Soeharto
datang ke RSPAD untuk melihat kondisi jenazah Soekarno. Pertemuan itu,
menurut Rachmawati, adalah yang pertama antara ayahnya—yang telah
tiada—dengan Soeharto semenjak ayahnya jatuh dari kursi presiden dalam
Sidang Istimewa 7 Maret 1967. Soeharto juga kembali datang ke Wisma Yaso
saat jenazah Soekarno hendak diterbangkan ke Blitar melalui Malang, Jawa
Timur.

Di Blitar upacara pemakaman Soekarno dilaksanakan dengan sederhana dan
singkat dipimpin Jenderal M Panggabean. "Rasa-rasanya hari itu begitu
mencekam. Kami hanya menurut saja saat pemerintah memakamkan Bung Karno di
Blitar, bukan sesuai permintaannya di Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat," kenang
mantan Ketua Umum Partai Pelopor itu. Bendera setengah tiang pun berkibar
kendati setelah itu tak semua orang bebas datang ke kubur Bung Karno.

Dendamkah dia? Rachmawati mengaku dia sama sekali tak menaruh dendam dengan
tindakan Soeharto pada ayahnya itu. Secara pribadi dan sebagai manusia
dirinya memaafkan Soeharto. Tapi dia tetap menuntut penyelesaian hukum pada
jenderal bintang lima yang berkuasa selama 32 tahun itu. Kalaupun pemerintah
memutuskan untuk mencabut Tap MPR No XI/MPR/1998 tentang penyelenggara
Negara yang bersih dan bebas KKN yang menyakut Soeharto, Rachmawati juga
meminta pencabutan Tap XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan Kekuasaan
Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno.

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke