Ya jelas beda, eranya aja beda masa mau disamain.


On 2/5/08, M. Risfa Rasman Mugnie <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bung Karno dan Pak Harto, Mantan Presiden yang Beda Perlakuan
> Mereka sama-sama mantan presiden tapi nasib mereka berlainan. Jika
> Soeharto dirawat supermaksimal, maka Soekarno tidak. Bahkan Soeharto pun tak
> pernah menyempatkan membesuk Soekarno yang tergolek lemah di RSPAD Gatot
> Soebroto kecuali melayat di hari kematiannya.
> FAROUK ARNAZ, Jakarta
>
> Air mata Rachmawati membasahi pipi. Garis waktu tampaknya belum mampu
> meredam kekecewaannya mengenang perlakuan pemerintahan Soeharto terhadap
> ayahnya, mantan Presiden Soekarno, di penghujung hayatnya. "Sudah ya
> ceritanya," kata Rachmawati sesenggukan sambil mengusap air matanya dengan
> tisu saat ditemui dikediamannya di kawasan Jakarta Selatan, kemarin (19/1).
>
> Kendati sudah berulang kali membagi cerita tentang perlakuan Soeharto
> kepada Bung Karno yang menutup mata pada 21 Juni 1970 itu, namun perempuan
> kelahiran Jakarta, 27 September 1950, itu tak bisa menyembunyikan emosinya.
> Bung Karno menutup mata di tengah-tengah konsolidasi politik pasca-G30S/1965
> yang dilakukan Soeharto tidak hanya dengan membersihkan tubuh birokrasi dan
> militer dari unsur-unsur PKI, tapi juga dari Soekarnois.
>
> Tak heran Soekarno pun mendapatkan perawatan minim yang menjadi kontras
> dengan perawatan supermaksimal yang dilakukan pada Soeharto saat ini.
> Presiden pertama Indonesia itu menutup mata sebelas hari setelah dirawat di
> RSPAD Gatot Soebroto. Pada 11 Juni 1970 Bung Karno dilarikan ke RSPAD karena
> kritis. "Tapi tak ada perawatan maksimal. Alat hemodialisis untuk pengidap
> gagal ginjal pun tak diberi," kenang anggota Dewan Pertimbangan Presiden
> itu.
>
> Asupan makan untuk Sang Proklamator itu pun seadanya. Kendati juga
> didiagnosis mengidap darah tinggi, namun menu makanan untuk Bung Karno
> terasa asin saat dicicipi Rahmawati yang paling rajin membesuk di hari-hari
> terakhir Sang Putra Fajar itu. Adik kandung Megawati itu pun langsung protes
> dan baru setelah itu diganti. "Bung Karno seperti dibiarkan mati
> perlahan-lahan," imbuhnya.
>
> Soal besuk juga bukan urusan mudah dan jangan dibayangkan seperti keluarga
> Cendana yang saat ini bisa hilir mudik ke RSPP setiap saat. Tak gampang
> untuk mengakses Bung Karno yang saat itu statusnya diambangkan laiknya
> tahanan rumah. Pun tak ada kolega Soekarno yang datang mengalir seperti yang
> terlihat pada Soeharto hari-hari ini. Obat-obatan pun tak datang dari
> langit, melainkan harus mereka beli sendiri.
>
> "Pokoknya beda, beda banget. Ini perjalanan sejarah yang pahit," sambung
> Rachmawati yang harus tidur di mobil jika hendak menunggu ayahnya yang
> dirawat di RSPAD. Bahkan Rachmawati yang pada 6 Juni 1970 sempat memotret
> Bung Karno yang saat itu diasingkan di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria
> Mandala, Red) di Jakarta Selatan harus berurusan dengan Polisi Militer di Jl
> Guntur, Jakarta Pusat. Pasalnya foto yang menunjukkan kondisi terakhir Bung
> Karno itu dikirimkan Rachmawati ke Associated Press yang kemudian
> memublikasikannya ke seluruh dunia.
>
> Pun pada saat kematian menjemput Bung Karno pada usia 69 tahun. Pelayanan
> minimal begitu kentara. Saat itu bahkan untuk pertama kalinya Soeharto
> datang ke RSPAD untuk melihat kondisi jenazah Soekarno. Pertemuan itu,
> menurut Rachmawati, adalah yang pertama antara ayahnya—yang telah
> tiada—dengan Soeharto semenjak ayahnya jatuh dari kursi presiden dalam
> Sidang Istimewa 7 Maret 1967. Soeharto juga kembali datang ke Wisma Yaso
> saat jenazah Soekarno hendak diterbangkan ke Blitar melalui Malang, Jawa
> Timur.
>
> Di Blitar upacara pemakaman Soekarno dilaksanakan dengan sederhana dan
> singkat dipimpin Jenderal M Panggabean. "Rasa-rasanya hari itu begitu
> mencekam. Kami hanya menurut saja saat pemerintah memakamkan Bung Karno di
> Blitar, bukan sesuai permintaannya di Batu Tulis, Bogor, Jawa Barat," kenang
> mantan Ketua Umum Partai Pelopor itu. Bendera setengah tiang pun berkibar
> kendati setelah itu tak semua orang bebas datang ke kubur Bung Karno.
>
> Dendamkah dia? Rachmawati mengaku dia sama sekali tak menaruh dendam
> dengan tindakan Soeharto pada ayahnya itu. Secara pribadi dan sebagai
> manusia dirinya memaafkan Soeharto. Tapi dia tetap menuntut penyelesaian
> hukum pada jenderal bintang lima yang berkuasa selama 32 tahun itu. Kalaupun
> pemerintah memutuskan untuk mencabut Tap MPR No XI/MPR/1998 tentang
> penyelenggara Negara yang bersih dan bebas KKN yang menyakut Soeharto,
> Rachmawati juga meminta pencabutan Tap XXXIII/MPRS/1967 tentang Pencabutan
> Kekuasaan Pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno.
>
>
> >
>


-- 
.:. Andry Berlianto .:.
0815.9405884 <> 99239005
http://revo-me.blogspot.com/

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke