waaah mas Andry ini ga ada matinya tuk hal yang satu ini.....
gambar doong kiriim......haaaahaaaaahaaaaa......
--- On Thu, 7/17/08, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Andry B <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Akibat Main Mobil Goyang
To: [email protected]
Date: Thursday, July 17, 2008, 11:25 PM

nih fan, puas dah lu nanyain cerita mulu ... 

---------- Forwarded message ----------












Akibat 
Main Mobil Goyang 

Nama saya Citra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 5 
di salah satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Pusat, dan apa 
yang 
akan saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar beberapa tahun 
yang 
lalu.

Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika semester 
lima, bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata kuliah, dua yang pertama 
mulai 
jam 9 sampai jam tiga dan yang terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, 
belum 
lagi kalau ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru menyerahkan tugas 
diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan teman sekelompokku, si 
Dimas 
selesai, di kelas masih tersisa enam orang dan Pak Didi, sang 
dosen.

"Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra?" ajak Dimas
"Jauh 
nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi"

Dimas pulang berjalan kaki 
karena kostnya sangat dekat dengan kampus. Sebenarnya kalau menemaniku dia 
harus 
memutar agak jauh dari jalan keluar yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin 
memperlihatkan naluri prianya dengan menemaniku ke tempat parkir yang kurang 
penerangan itu. Dia adalah teman seangkatanku dan pernah terlibat one night 
stand denganku. Orangnya sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan 
selalu memakai pakaian bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya 
kampus.

Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir 
itu. Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka 
pintu mobil dan berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku 
dikejutkan oleh Dimas yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke 
mobilku.
"Eeii.. mau ngapain kamu?" tanyaku sambil meronta karena Dimas 
mencoba mendekapku.
"Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan 
hubungan badan nih, saya kangen sama vagina kamu nih" katanya sambil menangkap 
tanganku.
"Ihh.. nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di tempat 
parkir gila!" tolakku sambil berusaha lepas.
Karena kalah tenaga dia makin 
mendesakku hingga mepet ke pintu mobil dan tangan satunya berhasil meraih 
payudaraku lalu meremasnya.
"Dimas.. jangan.. nggak mmhh!" dipotongnya 
kata-kataku dengan melumat bibirku.

Jantungku berdetak makin kencang, 
apalagi Dimas menyingkap kaos hitam ketatku yang tak berlengan dan tangannya 
mulai menelusup ke balik BH-ku. Nafsuku terpancing, berangsur-angsur rontaanku 
pun melemah. Rangsangannya dengan menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku 
memaksaku membuka mulut sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu 
telak rongga mulutku, mau tidak mau lidahku juga ikut bermain dengan lidahnya. 
Nafasku makin memburu ketika dia menurunkan cup BH ku dan mulai memilin-milin 
putingku yang kemerahan. Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya 
dulu. Kini aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada lehernya 
dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kira-kira setelah lima menitan kami 
ber-French kiss, dia melepaskan mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok kemudi 
membuat posisi tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai bawahan 
berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia membuka kakiku, 
langsung terlihat olehnya pahaku yang putih mulus dan celana dalam 
pink-ku.

"Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi nih" 
katanya sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai mengelusnya.

Ketika 
elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu dari luar celana 
dalamku 
sehingga aku merintih dan menggeliat. Reaksiku membuat Dimas makin bernafsu, 
jari-jarinya mulai menyusup ke pinggiran celana dalamku dan bergerak seperti 
ular di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil mendesah nikmat saat 
jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan pelan pada pahaku, aku membuka 
mata dan melihatnya menundukkan badan menciumi pahaku. Jilatan itu terus 
merambat dan semakin jelas tujuannya, pangkal pahaku. Dia makin mendekatkan 
wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi sedikit rokku.
Dan.. oohh.. 
rasanya seperti tersengat waktu lidahnya menyentuh bibir vaginaku, tangan 
kanannya menahan celana dalamku yang disibakkan ke samping sementara tangan 
kirinya menjelajahi payudaraku yang telah terbuka.

Aku telah lepas 
kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah dan menggeliat, lupa bahwa ini 
tempat yang kurang tepat, goyangan mobil ini pasti terlihat oleh orang di luar 
sana. Namun nafsu membuat kami terlambat menyadari semuanya. Di tengah 
gelombang 
birahi ini, tiba-tiba kami dikejutkan oleh sorotan senter beserta gedoran pada 
jendela di belakangku. Bukan main terkejutnya aku ketika menengok ke belakang 
dan melihat dua orang satpam sampai kepalaku kejeduk jendela, begitu juga 
Dimas, 
dia langsung tersentak bangun dari selangkanganku. Satu dari mereka menggedor 
lagi dan menyuruh kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi sepertinya 
sudah tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan memanggil yang 
lain akan semakin terbongkar skandal ini, maka kamipun memilih turun 
membicarakan masalah ini baik-baik dengan mereka setelah buru-buru kurapikan 
kembali pakaianku.

Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal 
kampus dan harus dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal itu terjadi 
sehingga terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Kemudian yang 
agak 
gemuk dan berkumis membisikkan sesuatu pada temannya, entah apa yang dibisikkan 
lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang tinggi dan 
berumur 40-an itu lalu berkata,
"Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam 
sebentar cewek kamu buat biaya tutup mulut?"

Huh, dasar pikirku semua 
laki-laki sama saja pikirannya tak jauh dari selangkangan. Rupanya dalam hal 
ini 
Dimas cukup gentleman juga, walaupun dia bukan pacarku, tapi dia tetap 
membelaku 
dengan menawarkan sejumlah uang dan berbicara agak keras pada mereka. Di tengah 
situasi yang mulai memanas itu akupun maju memegangi tangan Dimas yang sudah 
terkepal kencang.

"Sudahlah Mas, nggak usah buang-buang duit sama tenaga, 
biar saya saja yang beresin" kataku
"Ok, bapak-bapak saya turuti kemauan 
kalian tapi sesudahnya jangan coba ungkit-ungkit lagi masalah 
ini!"

Walaupun Dimas keberatan dengan keputusanku, namun dia mau tidak 
mau menyerah juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga menginginkannya untuk 
menuntaskan libidoku yang tanggung tadi, lagipula bermain dengan orang-orang 
seperti mereka bukan pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring 
mereka ke gedung psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung koridor kami 
disuruh masuk ke suatu ruangan yang adalah toilet pria. Salah seorang menekan 
sakelar hingga lampu menyala, cukup bersih juga dibanding toilet pria di 
fakultas lainnya pikirku.

"Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, 
perhatiin baik-baik kita ngerjain cewek kamu!" perintah yang tinggi itu pada 
Dimas.

Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku menatapi 
tubuhku dalam pakaian ketat itu. Sorot mata mereka membuatku nervous dan 
jantungku berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan 
sehingga aku menyandarkan punggungku ke tembok.

Kini aku dapat melihat 
nama-nama mereka yang tertera di atas kantong dadanya. Yang tinggi dan berusia 
sekitar pertengahan 40 itu namanya Egy, dan temannya yang berkumis itu bernama 
Romli. Pak Egy mengelusi pipiku sambil menyeringai mesum.

"Hehehe.. 
cantik, mulus.. wah beruntung banget kita malam ini!" katanya
"Kenalan dulu 
dong non, namanya siapa sih?" tanya Pak Romli sambil menyalami tanganku dan 
membelainya dari telapak hingga pangkalnya, otomatis bulu-buluku merinding dan 
darahku berdesir dielus seperti itu.
"Citra" jawabku dengan agak 
bergetar.
"Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya juga 
indah" Pak Egy menimpali dan disambut gelak tawa mereka.
"Non Citra coba sun 
saya dong, boleh kan?" pinta Pak Romli memajukan wajahnya
Aku tahu itu bukan 
permintaan tapi keharusan, maka kuberikan satu kecupan pada wajahnya yang tidak 
tampan itu.
"Ahh..non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma 
ngecup aja sih, gini dong harusnya" Kata Pak Egy seraya menarik wajahku dan 
melumat bibirku.

Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas 
menciumiku ditambah lagi tangannya sudah mulai meremas-remas payudaraku dari 
luar. Lidahnya masuk bertemu lidahku, saling menjilat dan berpilin, bara birahi 
yang sempat padam kini mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada 
sebelumnya. Aku makin berani dan memeluk Pak Egy, rambutnya kuremas sehingga 
topi satpamnya terjatuh. Sementara dibawah sana kurasakan sebuah tangan yang 
kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, disana Pak Romli mulai 
menyingkap rokku dan merabai pahaku.

Pak Egy melepas ciumannya dan 
beralih ke sasaran berikutnya, dadaku. Kaos ketatku disingkapnya sehingga 
terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus BH pink, itupun juga langsung 
diturunkan.
"Wow teteknya montok banget non, putih lagi" komentarnya sambil 
meremas payudara kananku yang pas di tangannya.
Pak Romli juga langsung 
kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia melumat yang kiri. Mereka kini 
semakin liar menggerayangiku. Putingku makin mengeras karena terus 
dipencet-pencet dan dipelintir Pak Egy sambil mencupangi leher jenjangku, dia 
melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak Romli yang memperlakukan payudara 
kiriku dengan kasar, dia menyedot kuat-kuat dan kadang disertai gigitan 
sehingga 
aku sering merintih kalau gigitannya keras. Namun perpaduan antara kasar dan 
lembut ini justru menimbulkan sensasi yang khas.

Tak kusadari rokku sudah 
terangkat sehingga angin malam menerpa kulit pahaku, celana dalamku pun 
tersingkap dengan jelas. Pak Romli menyelipkan tangannya ke balik celana 
dalamku 
sehingga celana dalamku kelihatan menggembung. Tangan Pak Egy yang lainnya 
mengelusi belakang pahaku hingga pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya 
memejamkan mata dan mengeluarkan desahan-desahan menggoda. Aku merasakan 
vaginaku semakin basah saja karena gesekan-gesekan dari jari Pak Romli, bahkan 
suatu ketika aku sempat tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu 
mencubit pelan biji klitorisku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. 
Pak Romli meraih tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia 
keluarkan.

"Waw..keras banget, mana diamaternya lebar lagi" kataku dalam 
hati
"bisa mati orgasme nih saya"
Aku mengocoknya perlahan sesuai 
perintahnya, semakin kukocok benda itu makin membengkak saja.

Pak Romli 
menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya basah oleh cairan 
vaginaku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. Kemudian aku disuruh 
berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku pada mereka, kusandarkan 
kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku.

"Asyik nih, malam ini 
kita bisa ngerasain pantat si non yang putih mulus ini" celoteh Pak Romli 
sambil 
meremasi bongkahan pantatku yang sekal.

Aku menoleh ke belakang melihat 
dia mulai menurunkan celana dalamku, disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar 
bisa meloloskan celana dalam. Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging 
dengan celana dalamku masih menggantung di kaki kanan.

"Pak masukin 
sekarang dong" pintaku yang sudah tidak sabar marasakan batang-batang besar itu 
menjejali vaginaku.
"Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama 
vagina non, wangi sih!" kata Pak Romli yang sedang menjilati vaginaku yang 
terawat baik.

Pak Usep mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah 
becek oleh lendirku dan ludahnya, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang 
tebal tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan 
merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu 
beradaptasi, dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang 
semakin lama semakin tinggi. Pak Egy sejak posisiku ditunggingkan masih betah 
berjongkok diantara tembok dan tubuhku sambil mengenyot dan meremas payudaraku 
yang tergantung persis anak sapi yang sedang menyusu dari induknya. Pak Romli 
terus menggenjotku dari belakang sambil sesekali tangannya menampar pantatku 
dan 
meninggalkan bercak merah di kulitnya yang putih. Genjotannya semakin mambawaku 
ke puncak birahi hingga akupun tak dapat menahan erangan panjang yang bersamaan 
dengan mengejangnya tubuhku.

Tak sampai lima menit dia pun mulai 
menyusul, penisnya yang terasa makin besar dan berdenyut-denyut menggesek makin 
cepat pada vaginaku yang sudah licin oleh cairan orgasme.

"Ooohh.. oohh.. 
di dalam yah non.. sudah mau nih" bujuknya dengan terus mendesah
"Ahh.. 
iyahh.. di dalam aja.. ahh" jawabku terengah-engah di tengah sisa-sisa orgasme 
panjang barusan.

Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan 
genjotannya dengan penis menancap hingga pangkalnya pada vaginaku, tangannya 
meremas erat-erat pinggulku. Terasa olehku cairan hangat itu mengalir memenuhi 
rahimku, dia baru melepaskannya setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin 
sudah ambruk kalau saja mereka tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga dan 
nafasku yang tercerai-berai. Setelah mereka melepaskan pegangannya, aku 
langsung 
bersandar pada tembok dan merosot hingga terduduk di lantai. Kuseka dahiku yang 
berkeringat dan menghimpun kembali tenaga dan nafasku yang tercerai-berai, 
kedua 
pahaku mengangkang dan vaginaku belepotan cairan putih seperti susu kental 
manis.

"Hehehe..liat nih, air sperma saya ada di dalam vagina wanita 
kamu" kata Pak Romli pada Dimas sambil membentangkan bibir vaginaku dengan 
jarinya, seolah ingin memamerkan cairan spermanya pada Dimas yang mereka kira 
pacarku.

Opps..omong-omong tentang Dimas, aku hampir saja melupakannya 
karena terlalu sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak tadi dia 
menikmati liveshow ini di sudut ruangan sambil mengocok-ngocok penisnya 
sendiri. 
Kasihan juga dia pikirku cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar 
buaya sih, begitu pikirku. Sekarang, Pak Romli menarik rambutku dan menyuruhku 
berlutut dan membersihkan penisnya, Pak Egy yang sudah membuka celananya juga 
berdiri di sebelahku menyuruhku mengocok penisnya.

Hhmm..nikmat sekali 
rasanya menjilati penisnya yang berlumuran cairan kewanitaanku yang bercampur 
dengan sperma itu, kusapukan lidahku ke seluruh permukaannya hingga bersih 
mengkilap, setelah itu juga kuemut-emut daerah helmnya sambil tetap mengocok 
milik Pak Egy dengan tanganku. Aku melirik ke atas melihat reaksinya yang 
menggeram nikmat waktu kugelikitik lubang kencingnya dengan 
lidahku.

"Hei, sudah dong saya juga mau disepongin sama si non ini" 
potong Pak Egy ketika aku masih asyik memain-mainkan penis Pak Romli.

Pak 
Egy meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang langsung dijejali ke 
mulutku. 
Miliknya memang tidak sebesar Pak Romli, tapi aku suka dengan bentuknya lebih 
berurat dan lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang mungil karena tidak 
setebal Pak Romli, tapi tetap saja tidak bisa masuk seluruhnya ke mulut karena 
cukup panjang. Aku mengeluarkan segala teknik menyepongku mulai dari 
mengulumnya 
hingga mengisap kuat-kuat sampai orangnya bergetar hebat dan menekan kepalaku 
lebih dalam lagi. Waktu sedang enak-enak menyepong, tiba-tiba Dimas mengerang, 
memancingku menggerakkan mata padanya yang sedang orgasme swalayan, spermanya 
muncrat berceceran di lantai. Pasti dia sudah horny banget melihat 
adegan-adegan 
panasku.

Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Egy mengangkat 
tubuhku hingga berdiri, lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok dengan tubuhnya, 
kaki 
kananku diangkat sampai ke pinggangnya. Dari bawah aku merasakan penisnya 
melesak ke dalamku, maka mulailah dia mengaduk-aduk vaginaku dalam posisi 
berdiri. Berulang-ulang benda itu keluar-masuk pada vaginaku, yang paling 
kusuka 
adalah saat-saat ketika hentakan tubuh kami berlawanan arah, sehingga penisnya 
menghujam vaginaku lebih dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, kalau sudah 
begitu wuihh.. seperti terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, aku hanya bisa 
mengekspresikannya dengan menjerit sejadi-jadinya dan mempererat pelukanku, 
untung gedung ini sudah kosong, kalau tidak bisa berabe nih. Sementara mulutnya 
terus melumat leher, mulut, dan telingaku, tanganya juga menjelajahi payudara, 
pantat, dan pahaku. Gelombang orgasme kini mulai melandaku lagi, terasa sekali 
darahku bergolak, akupun kembali menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia 
sedang melumat bibirku sehingga yang keluar dari mulutku hanya erangan-erangan 
tertahan, air ludah belepotan di sekitar mulut kami. Di sudut lain aku melihat 
Pak Romli sedang beristirahat sambil merokok dan mengobrol dengan 
Dimas.

Pak Egy demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika aku 
orgasmepun dia bukannya berhenti atau paling tidak memberiku istirahat tapi 
malah makin kencang. Kakiku yang satu diangkatnya sehingga aku tidak lagi 
berpijak di tanah disangga kedua tangan kekar itu. Tusukan-tusukannya terasa 
makin dalam saja membuat tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum aku 
dibuatnya karena dia masih mampu menggenjotku selama hampir setengah jam bahkan 
dengan intensitas genjotan yang stabil dan belum menunjukkan tanda-tanda akan 
klimaks. Sesaat kemudian dia menghentikan genjotannya, dengan penis tetap 
menancap di vaginaku, dia bawa tubuhku yang masih digendongnya ke arah kloset. 
Disana barulah dia turunkan aku, lalu dia sendiri duduk di atas tutup 
kloset.

"Huh..capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong" 
perintahnya

Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti 
ini aku dapat lebih mendominasi permainan dengan goyangan-goyangan mautku. 
Tanpa 
disuruh lagi aku menurunkan pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah 
licin itu dan kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku 
terlebih dahulu melepaskan baju dan bra-ku yang masih menggantung supaya lebih 
lega, soalnya badanku sudah panas dan bemandikan keringat, yang masih tersisa 
di 
tubuhku hanya rokku yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang sepatu 
hak di kakiku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan 
naik-turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Egy mengerang 
karena penisnya terasa diplintir. Kedua tangannya meremasi payudaraku dari 
belakang, mulutnya juga aktif mencupangi pundak dan leherku.

Tiba-tiba 
aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak rambutku dan mendongakkan 
wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak Romli mendekat dan langsung melumat 
bibirku. Dimas yang sudah tidah bercelana juga mendekatiku, sepertinya dia 
sudah 
mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan menggenggamkannya pada 
batang penisnya.

"Mmpphh.. mmhh!" desahku ditengah keroyokan ketiga orang 
itu.

Toilet yang sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara terasa 
makin panas dan pengap.

"Ayo dong Citra.. emut, sepongan kamu kan mantep 
banget"

Dimas menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut 
dengan kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, 
lidahku 
terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, 
kupakai ujung lidah untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang 
kencingnya. Ini tentu saja membuat Dimas blingsatan sambil meremas-remas 
rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Egy dan 
mengocok penisnya Pak Romli, sibuk sekali aku dibuatnya.

Sesaat kemudian 
penisnya makin membesar dan berdenyuk-denyut, lalu dia menepuk punggungku dan 
menyuruhku turun dari pangkuannya. Benar juga dugaanku, ternyata dia ingin 
melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan posisi berlutut aku memainkan 
lidahku pada penisnya, dia mulai merem-melek dan menggumam tak jelas. Seseorang 
menarik pinggangku dari belakang membuat posisiku merangkak, aku tidak tahu 
siapa karena kepalaku dipegangi Pak Egy sehingga tidak bisa menengok belakang. 
Orang itu mendorongkan penisnya ke vaginaku dan mulai menggoyangnya perlahan. 
Kalau dirasakan dari ukurannya sih sepertinya si Dimas karena yang ini 
ukurannya 
pas dan tidak menyesakkan seperti milik Pak Romli. Ketika sedang enak-enaknya 
menikmati genjotan Dimas penis di mulutku mulai bergetar

"Aahhkk.. saya 
mau keluar.. non"

Pak Egy kelabakan sambil menjambaki rambutku 
dan
creett..creett,
beberapa kali semprotan menerpa menerpa langit-langit 
mulutku, sebagian masuk ke tenggorokan, sebagian lainnya meleleh di pinggir 
bibirku karena banyaknya sehingga aku tak sanggup menampungnya lagi.

Aku 
terus menghisapnya kuat-kuat membuatnya berkelejotan dan mendesah tak karuan, 
sesudah semprotannya berhenti aku melepaskannya dan menjilati cairan yang masih 
tersisa di batangnya. Dengan klimaksnya Pak Egy, aku bisa lebih berkonsentrasi 
pada serangan Dimas yang semakin mengganas. Tangannya merayap ke bawah 
menggerayangi payudaraku. Dimas sangat pandai mengkombinasikan serangan halus 
dan keras, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang orgasme sudah 
diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Dimas menyuruhku bertahan 
sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia meremas pantatku 
erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan yang kutahan-tahan itu 
pun kucurahkan juga. Kami orgasme bersamaan dan dia menumpahkannya di dalamku. 
Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat dan kental itu, sperma yang 
tidak tertampung meleleh keluar di daerah selangakanganku.

Aku langsung 
terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah peluh, untung lantainya kering 
sehingga tidak begitu jorok untuk berbaring di sana. Vaginaku rasanya panas 
sekali setelah bergesekan selama itu, dengan 3 macam penis lagi. Lututku juga 
terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. Setelah merasa cukup tenaga, 
aku berusaha bangkit dibantu Dimas. Dengan langkah gontai aku menuju wastafel 
untuk membasuh wajahku, lalu kuambil sisir dari tasku untuk membetulkan 
rambutku 
yang sudah kusut. Aku memunguti pakaianku yang berserakan dan memakainya 
kembali. Kami bersiap meninggalkan tempat itu.

"Lain kali kalau melakukan 
hubungan badan hati-hati, kalau ketangkap kan harus bagi-bagi" begitu kata Pak 
Egy sebagai salam perpisahan disertai tepukan pada pantatku.

"Citra.. 
Citra.. sori dong, kamu marah ya!" kata Dimas yang mengikutiku dari belakang 
dalam perjalananku menuju tempat parkir.

Dengan cueknya aku terus 
berjalan dan menepis tangannya ketika menangkap lenganku, dia jadi tambah 
bingung dan memohon terus. Setelah membuka pintu mobil barulah aku membalikkan 
badanku dan memberi sebuah kecupan di pipinya seraya berkata

"Saya nggak 
marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba yang lebih gila yah, see 
you, 
good night"

Dimas hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu 
menyaksikan mobilku yang makin menjauh 
darinya.

*****



-- 
<Fred the Red B 6123 KMJ>
KHCC 011 <> F.S.R.J 
http://www.jalanraya.net/
http://gueandry.blogspot.com/

http://redd.dagdigdug.com/
----------------------------------------------








      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
-------------------------------------------------
Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ???
Mo posting, send email to [email protected]
Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke