di dalem mulut mas bre, tenang ga bikin hamil kok ..........
2008/7/18 BraM <[EMAIL PROTECTED]>: > eh emangnya ngeluarin didalem ga bikin hamil yah... > kok bisa sih... > gimana caranya ya? > ajarin dong... > nubie nih :) > > 2008/7/18 rahmatul irfan <[EMAIL PROTECTED]>: > > idih sejak kapan gw minta kaya ginian.......... elu pasti punya banyak buku >> stensilan yang isinya kaya gini yee? >> >> >> On 7/18/08, Andry B <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>> >>> nih fan, puas dah lu nanyain cerita mulu ... >>> >>> ---------- Forwarded message ---------- >>> >>> >>> >>> >>> >>> *Akibat Main Mobil >>> Goyang*<http://www.bb17.org/viewtopic.php?f=18&t=618&sid=3505b857acbe654315f8db08871a7307#p2867> >>> >>> Nama saya Citra (samaran), dan saya adalah mahasiswa semester 5 di salah >>> satu universitas swasta ternama di bilangan Jakarta Pusat, dan apa yang akan >>> saya ceritakan disini adalah kisah yang terjadi sekitar beberapa tahun yang >>> lalu. >>> >>> Hari Rabu adalah hari yang paling melelahkan bagiku ketika semester lima, >>> bagaimana tidak, hari itu aku ada tiga mata kuliah, dua yang pertama mulai >>> jam 9 sampai jam tiga dan yang terakhir mulai jam lima sampai jam 7 malam, >>> belum lagi kalau ada tugas bisa lebih lama deh. Ketika itu aku baru >>> menyerahkan tugas diskusi kelompok sekitar jam 7 lebih. Waktu aku dan teman >>> sekelompokku, si Dimas selesai, di kelas masih tersisa enam orang dan Pak >>> Didi, sang dosen. >>> >>> "Bareng yuk jalannya, parkir dimana Citra?" ajak Dimas >>> "Jauh nih, di deket psikologi, rada telat sih tadi" >>> >>> Dimas pulang berjalan kaki karena kostnya sangat dekat dengan kampus. >>> Sebenarnya kalau menemaniku dia harus memutar agak jauh dari jalan keluar >>> yang menuju ke kostnya, mungkin dia ingin memperlihatkan naluri prianya >>> dengan menemaniku ke tempat parkir yang kurang penerangan itu. Dia adalah >>> teman seangkatanku dan pernah terlibat one night stand denganku. Orangnya >>> sih lumayan cakep dengan rambut agak gondrong dan selalu memakai pakaian >>> bermerek ke kampus, juga terkenal sebagai buaya kampus. >>> >>> Malam itu hanya tinggal beberapa kendaraan saja di tempat parkir itu. >>> Terdengar bunyi sirine pendek saat kutekan remote mobilku. Akupun membuka >>> pintu mobil dan berpamitan padanya. Ketika aku menutup pintu, tiba-tiba aku >>> dikejutkan oleh Dimas yang membuka pintu sebelah dan ikut masuk ke mobilku. >>> "Eeii.. mau ngapain kamu?" tanyaku sambil meronta karena Dimas mencoba >>> mendekapku. >>> "Ayo dong Citra, kita kan sudah lama nggak melakukan hubungan badan nih, >>> saya kangen sama vagina kamu nih" katanya sambil menangkap tanganku. >>> "Ihh.. nggak mau ah, saya capek nih, lagian kita masih di tempat parkir >>> gila!" tolakku sambil berusaha lepas. >>> Karena kalah tenaga dia makin mendesakku hingga mepet ke pintu mobil dan >>> tangan satunya berhasil meraih payudaraku lalu meremasnya. >>> "Dimas.. jangan.. nggak mmhh!" dipotongnya kata-kataku dengan melumat >>> bibirku. >>> >>> Jantungku berdetak makin kencang, apalagi Dimas menyingkap kaos hitam >>> ketatku yang tak berlengan dan tangannya mulai menelusup ke balik BH-ku. >>> Nafsuku terpancing, berangsur-angsur rontaanku pun melemah. Rangsangannya >>> dengan menjilat dan menggigit pelan bibir bawahku memaksaku membuka mulut >>> sehingga lidahnya langsung menerobos masuk dan menyapu telak rongga mulutku, >>> mau tidak mau lidahku juga ikut bermain dengan lidahnya. Nafasku makin >>> memburu ketika dia menurunkan cup BH ku dan mulai memilin-milin putingku >>> yang kemerahan. Teringat kembali ketika aku ML dengannya di kostnya dulu. >>> Kini aku mulai menerima perlakuannya, tanganku kulingkarkan pada lehernya >>> dan membalas ciumannya dengan penuh gairah. Kira-kira setelah lima menitan >>> kami ber-French kiss, dia melepaskan mulutnya dan mengangkat kakiku dari jok >>> kemudi membuat posisi tubuhku memanjang ke jok sebelah. Hari itu aku memakai >>> bawahan berupa rok dari bahan jeans 5 cm diatas lutut, jadi begitu dia >>> membuka kakiku, langsung terlihat olehnya pahaku yang putih mulus dan celana >>> dalam pink-ku. >>> >>> "Kamu tambah nafsuin aja Citra, saya sudah tegangan tinggi nih" katanya >>> sambil menaruh tangannya dipahaku dan mulai mengelusnya. >>> >>> Ketika elusannya sampai di pangkal paha, diremasnya daerah itu dari luar >>> celana dalamku sehingga aku merintih dan menggeliat. Reaksiku membuat Dimas >>> makin bernafsu, jari-jarinya mulai menyusup ke pinggiran celana dalamku dan >>> bergerak seperti ular di permukaannya yang berbulu. Mataku terpedam sambil >>> mendesah nikmat saat jarinya menyentuh klistorisku. Kemudian gigitan pelan >>> pada pahaku, aku membuka mata dan melihatnya menundukkan badan menciumi >>> pahaku. Jilatan itu terus merambat dan semakin jelas tujuannya, pangkal >>> pahaku. Dia makin mendekatkan wajahnya ke sana sambil menaikkan sedikit demi >>> sedikit rokku. >>> Dan.. oohh.. rasanya seperti tersengat waktu lidahnya menyentuh bibir >>> vaginaku, tangan kanannya menahan celana dalamku yang disibakkan ke samping >>> sementara tangan kirinya menjelajahi payudaraku yang telah terbuka. >>> >>> Aku telah lepas kontrol, yang bisa kulakukan hanya mendesah dan >>> menggeliat, lupa bahwa ini tempat yang kurang tepat, goyangan mobil ini >>> pasti terlihat oleh orang di luar sana. Namun nafsu membuat kami terlambat >>> menyadari semuanya. Di tengah gelombang birahi ini, tiba-tiba kami >>> dikejutkan oleh sorotan senter beserta gedoran pada jendela di belakangku. >>> Bukan main terkejutnya aku ketika menengok ke belakang dan melihat dua orang >>> satpam sampai kepalaku kejeduk jendela, begitu juga Dimas, dia langsung >>> tersentak bangun dari selangkanganku. Satu dari mereka menggedor lagi dan >>> menyuruh kami turun dari mobil. Tadinya aku mau kabur, tapi sepertinya sudah >>> tidak keburu, lagian takutnya kalau mereka mengejar dan memanggil yang lain >>> akan semakin terbongkar skandal ini, maka kamipun memilih turun membicarakan >>> masalah ini baik-baik dengan mereka setelah buru-buru kurapikan kembali >>> pakaianku. >>> >>> Mereka menuduh kami melakukan perbuatan mesum di areal kampus dan harus >>> dilaporkan. Tentu saja kami tidak menginginkan hal itu terjadi sehingga >>> terjadi perdebatan dan tawar-menawar di antara kami. Kemudian yang agak >>> gemuk dan berkumis membisikkan sesuatu pada temannya, entah apa yang >>> dibisikkan lalu keduanya mulai cengengesan melihat ke arahku. Temannya yang >>> tinggi dan berumur 40-an itu lalu berkata, >>> "Gini saja, bagaimana kalau kita pinjam sebentar cewek kamu buat biaya >>> tutup mulut?" >>> >>> Huh, dasar pikirku semua laki-laki sama saja pikirannya tak jauh dari >>> selangkangan. Rupanya dalam hal ini Dimas cukup gentleman juga, walaupun dia >>> bukan pacarku, tapi dia tetap membelaku dengan menawarkan sejumlah uang dan >>> berbicara agak keras pada mereka. Di tengah situasi yang mulai memanas itu >>> akupun maju memegangi tangan Dimas yang sudah terkepal kencang. >>> >>> "Sudahlah Mas, nggak usah buang-buang duit sama tenaga, biar saya saja >>> yang beresin" kataku >>> "Ok, bapak-bapak saya turuti kemauan kalian tapi sesudahnya jangan coba >>> ungkit-ungkit lagi masalah ini!" >>> >>> Walaupun Dimas keberatan dengan keputusanku, namun dia mau tidak mau >>> menyerah juga. Aku sendiri meskipun kesal tapi juga menginginkannya untuk >>> menuntaskan libidoku yang tanggung tadi, lagipula bermain dengan orang-orang >>> seperti mereka bukan pertama kalinya bagiku. Singkat cerita kamipun digiring >>> mereka ke gedung psikologi yang sudah sepi dan gelap, di ujung koridor kami >>> disuruh masuk ke suatu ruangan yang adalah toilet pria. Salah seorang >>> menekan sakelar hingga lampu menyala, cukup bersih juga dibanding toilet >>> pria di fakultas lainnya pikirku. >>> >>> "Nah, sekarang kamu berdiri di pojok sana, perhatiin baik-baik kita >>> ngerjain cewek kamu!" perintah yang tinggi itu pada Dimas. >>> >>> Di sudut lain mereka berdiri di sebelah kanan dan kiriku menatapi tubuhku >>> dalam pakaian ketat itu. Sorot mata mereka membuatku nervous dan jantungku >>> berdetak lebih cepat, kakiku serasa lemas bak kehilangan pijakan sehingga >>> aku menyandarkan punggungku ke tembok. >>> >>> Kini aku dapat melihat nama-nama mereka yang tertera di atas kantong >>> dadanya. Yang tinggi dan berusia sekitar pertengahan 40 itu namanya Egy, dan >>> temannya yang berkumis itu bernama Romli. Pak Egy mengelusi pipiku sambil >>> menyeringai mesum. >>> >>> "Hehehe.. cantik, mulus.. wah beruntung banget kita malam ini!" katanya >>> "Kenalan dulu dong non, namanya siapa sih?" tanya Pak Romli sambil >>> menyalami tanganku dan membelainya dari telapak hingga pangkalnya, otomatis >>> bulu-buluku merinding dan darahku berdesir dielus seperti itu. >>> "Citra" jawabku dengan agak bergetar. >>> "Wah Citra yah, nama yang indah kaya orangnya, pasti dalemnya juga indah" >>> Pak Egy menimpali dan disambut gelak tawa mereka. >>> "Non Citra coba sun saya dong, boleh kan?" pinta Pak Romli memajukan >>> wajahnya >>> Aku tahu itu bukan permintaan tapi keharusan, maka kuberikan satu kecupan >>> pada wajahnya yang tidak tampan itu. >>> "Ahh..non Citra ini di mobil lebih berani masak di sini cuma ngecup aja >>> sih, gini dong harusnya" Kata Pak Egy seraya menarik wajahku dan melumat >>> bibirku. >>> >>> Aku memejamkan mata mencoba meresapinya, dia makin ganas menciumiku >>> ditambah lagi tangannya sudah mulai meremas-remas payudaraku dari luar. >>> Lidahnya masuk bertemu lidahku, saling menjilat dan berpilin, bara birahi >>> yang sempat padam kini mulai terbakar lagi, bahkan lebih dahsyat daripada >>> sebelumnya. Aku makin berani dan memeluk Pak Egy, rambutnya kuremas sehingga >>> topi satpamnya terjatuh. Sementara dibawah sana kurasakan sebuah tangan yang >>> kasar meraba pahaku. Aku membuka mata dan melihatnya, disana Pak Romli mulai >>> menyingkap rokku dan merabai pahaku. >>> >>> Pak Egy melepas ciumannya dan beralih ke sasaran berikutnya, dadaku. Kaos >>> ketatku disingkapnya sehingga terlihatlah buah dadaku yang masih terbungkus >>> BH pink, itupun juga langsung diturunkan. >>> "Wow teteknya montok banget non, putih lagi" komentarnya sambil meremas >>> payudara kananku yang pas di tangannya. >>> Pak Romli juga langsung kesengsem dengan payudaraku, dengan gemas dia >>> melumat yang kiri. Mereka kini semakin liar menggerayangiku. Putingku makin >>> mengeras karena terus dipencet-pencet dan dipelintir Pak Egy sambil >>> mencupangi leher jenjangku, dia melakukannya cukup lembut dibandingkan Pak >>> Romli yang memperlakukan payudara kiriku dengan kasar, dia menyedot >>> kuat-kuat dan kadang disertai gigitan sehingga aku sering merintih kalau >>> gigitannya keras. Namun perpaduan antara kasar dan lembut ini justru >>> menimbulkan sensasi yang khas. >>> >>> Tak kusadari rokku sudah terangkat sehingga angin malam menerpa kulit >>> pahaku, celana dalamku pun tersingkap dengan jelas. Pak Romli menyelipkan >>> tangannya ke balik celana dalamku sehingga celana dalamku kelihatan >>> menggembung. Tangan Pak Egy yang lainnya mengelusi belakang pahaku hingga >>> pantatku. Nafasku makin memburu, aku hanya memejamkan mata dan mengeluarkan >>> desahan-desahan menggoda. Aku merasakan vaginaku semakin basah saja karena >>> gesekan-gesekan dari jari Pak Romli, bahkan suatu ketika aku sempat >>> tersentak pelan ketika dua jarinya menemukan lalu mencubit pelan biji >>> klitorisku. Reaksiku ini membuat mereka semakin bergairah. Pak Romli meraih >>> tangan kiriku dan menuntunnya ke penisnya yang entah kapan dia keluarkan. >>> >>> "Waw..keras banget, mana diamaternya lebar lagi" kataku dalam hati >>> "bisa mati orgasme nih saya" >>> Aku mengocoknya perlahan sesuai perintahnya, semakin kukocok benda itu >>> makin membengkak saja. >>> >>> Pak Romli menarik tangannya keluar dari celana dalamku, jari-jarinya >>> basah oleh cairan vaginaku yang langsung dijilatinya seperti menjilat madu. >>> Kemudian aku disuruh berdiri menghadap tembok dan menunggingkan pantatku >>> pada mereka, kusandarkan kedua tanganku di tembok untuk menyangga tubuhku. >>> >>> "Asyik nih, malam ini kita bisa ngerasain pantat si non yang putih mulus >>> ini" celoteh Pak Romli sambil meremasi bongkahan pantatku yang sekal. >>> >>> Aku menoleh ke belakang melihat dia mulai menurunkan celana dalamku, >>> disuruhnya aku mengangkat kaki kiri agar bisa meloloskan celana dalam. >>> Akhirnya pantatku yang sudah telanjang menungging dengan celana dalamku >>> masih menggantung di kaki kanan. >>> >>> "Pak masukin sekarang dong" pintaku yang sudah tidak sabar marasakan >>> batang-batang besar itu menjejali vaginaku. >>> "Sabar non, bentar lagi, bapak suka banget nih sama vagina non, wangi >>> sih!" kata Pak Romli yang sedang menjilati vaginaku yang terawat baik. >>> >>> Pak Usep mendorong penisnya pada vaginaku, walaupun sudah becek oleh >>> lendirku dan ludahnya, aku masih merasa nyeri karena penisnya yang tebal >>> tidak sebanding ukurannya dengan liang senggamaku. Aku merintih kesakitan >>> merasakan penis itu melesak hingga amblas seluruhnya. Tanpa memberiku waktu >>> beradaptasi, dia langsung menyodok-nyodokkan penisnya dengan kecepatan yang >>> semakin lama semakin tinggi. Pak Egy sejak posisiku ditunggingkan masih >>> betah berjongkok diantara tembok dan tubuhku sambil mengenyot dan meremas >>> payudaraku yang tergantung persis anak sapi yang sedang menyusu dari >>> induknya. Pak Romli terus menggenjotku dari belakang sambil sesekali >>> tangannya menampar pantatku dan meninggalkan bercak merah di kulitnya yang >>> putih. Genjotannya semakin mambawaku ke puncak birahi hingga akupun tak >>> dapat menahan erangan panjang yang bersamaan dengan mengejangnya tubuhku. >>> >>> Tak sampai lima menit dia pun mulai menyusul, penisnya yang terasa makin >>> besar dan berdenyut-denyut menggesek makin cepat pada vaginaku yang sudah >>> licin oleh cairan orgasme. >>> >>> "Ooohh.. oohh.. di dalam yah non.. sudah mau nih" bujuknya dengan terus >>> mendesah >>> "Ahh.. iyahh.. di dalam aja.. ahh" jawabku terengah-engah di tengah >>> sisa-sisa orgasme panjang barusan. >>> >>> Akhirnya diiringi erangan nikmat dia hentikan genjotannya dengan penis >>> menancap hingga pangkalnya pada vaginaku, tangannya meremas erat-erat >>> pinggulku. Terasa olehku cairan hangat itu mengalir memenuhi rahimku, dia >>> baru melepaskannya setelah semprotannya selesai. Tubuhku mungkin sudah >>> ambruk kalau saja mereka tidak menyangganya kuhimpun kembali tenaga dan >>> nafasku yang tercerai-berai. Setelah mereka melepaskan pegangannya, aku >>> langsung bersandar pada tembok dan merosot hingga terduduk di lantai. Kuseka >>> dahiku yang berkeringat dan menghimpun kembali tenaga dan nafasku yang >>> tercerai-berai, kedua pahaku mengangkang dan vaginaku belepotan cairan putih >>> seperti susu kental manis. >>> >>> "Hehehe..liat nih, air sperma saya ada di dalam vagina wanita kamu" kata >>> Pak Romli pada Dimas sambil membentangkan bibir vaginaku dengan jarinya, >>> seolah ingin memamerkan cairan spermanya pada Dimas yang mereka kira >>> pacarku. >>> >>> Opps..omong-omong tentang Dimas, aku hampir saja melupakannya karena >>> terlalu sibuk melayani kedua satpam ini, ternyata sejak tadi dia menikmati >>> liveshow ini di sudut ruangan sambil mengocok-ngocok penisnya sendiri. >>> Kasihan juga dia pikirku cuma bisa melihat tapi tidak boleh menikmati, dasar >>> buaya sih, begitu pikirku. Sekarang, Pak Romli menarik rambutku dan >>> menyuruhku berlutut dan membersihkan penisnya, Pak Egy yang sudah membuka >>> celananya juga berdiri di sebelahku menyuruhku mengocok penisnya. >>> >>> Hhmm..nikmat sekali rasanya menjilati penisnya yang berlumuran cairan >>> kewanitaanku yang bercampur dengan sperma itu, kusapukan lidahku ke seluruh >>> permukaannya hingga bersih mengkilap, setelah itu juga kuemut-emut daerah >>> helmnya sambil tetap mengocok milik Pak Egy dengan tanganku. Aku melirik ke >>> atas melihat reaksinya yang menggeram nikmat waktu kugelikitik lubang >>> kencingnya dengan lidahku. >>> >>> "Hei, sudah dong saya juga mau disepongin sama si non ini" potong Pak Egy >>> ketika aku masih asyik memain-mainkan penis Pak Romli. >>> >>> Pak Egy meraih kepalaku dan dibawanya ke penisnya yang langsung dijejali >>> ke mulutku. Miliknya memang tidak sebesar Pak Romli, tapi aku suka dengan >>> bentuknya lebih berurat dan lebih keras, ukurannya pun pas dimulutku yang >>> mungil karena tidak setebal Pak Romli, tapi tetap saja tidak bisa masuk >>> seluruhnya ke mulut karena cukup panjang. Aku mengeluarkan segala teknik >>> menyepongku mulai dari mengulumnya hingga mengisap kuat-kuat sampai orangnya >>> bergetar hebat dan menekan kepalaku lebih dalam lagi. Waktu sedang enak-enak >>> menyepong, tiba-tiba Dimas mengerang, memancingku menggerakkan mata padanya >>> yang sedang orgasme swalayan, spermanya muncrat berceceran di lantai. Pasti >>> dia sudah horny banget melihat adegan-adegan panasku. >>> >>> Merasa cukup dengan pelayanan mulutku, Pak Egy mengangkat tubuhku hingga >>> berdiri, lalu dihimpitnya tubuhku ke tembok dengan tubuhnya, kaki kananku >>> diangkat sampai ke pinggangnya. Dari bawah aku merasakan penisnya melesak ke >>> dalamku, maka mulailah dia mengaduk-aduk vaginaku dalam posisi berdiri. >>> Berulang-ulang benda itu keluar-masuk pada vaginaku, yang paling kusuka >>> adalah saat-saat ketika hentakan tubuh kami berlawanan arah, sehingga >>> penisnya menghujam vaginaku lebih dalam, apalagi kalau dengan tenaga penuh, >>> kalau sudah begitu wuihh.. seperti terbang ke surga tingkat tujuh rasanya, >>> aku hanya bisa mengekspresikannya dengan menjerit sejadi-jadinya dan >>> mempererat pelukanku, untung gedung ini sudah kosong, kalau tidak bisa >>> berabe nih. Sementara mulutnya terus melumat leher, mulut, dan telingaku, >>> tanganya juga menjelajahi payudara, pantat, dan pahaku. Gelombang orgasme >>> kini mulai melandaku lagi, terasa sekali darahku bergolak, akupun kembali >>> menggelinjang dalam pelukannya. Saat itu dia sedang melumat bibirku sehingga >>> yang keluar dari mulutku hanya erangan-erangan tertahan, air ludah belepotan >>> di sekitar mulut kami. Di sudut lain aku melihat Pak Romli sedang >>> beristirahat sambil merokok dan mengobrol dengan Dimas. >>> >>> Pak Egy demikian bersemangatnya menyetubuhiku, bahkan ketika aku >>> orgasmepun dia bukannya berhenti atau paling tidak memberiku istirahat tapi >>> malah makin kencang. Kakiku yang satu diangkatnya sehingga aku tidak lagi >>> berpijak di tanah disangga kedua tangan kekar itu. Tusukan-tusukannya terasa >>> makin dalam saja membuat tubuhku makin tertekan ke tembok. Sungguh kagum aku >>> dibuatnya karena dia masih mampu menggenjotku selama hampir setengah jam >>> bahkan dengan intensitas genjotan yang stabil dan belum menunjukkan >>> tanda-tanda akan klimaks. Sesaat kemudian dia menghentikan genjotannya, >>> dengan penis tetap menancap di vaginaku, dia bawa tubuhku yang masih >>> digendongnya ke arah kloset. Disana barulah dia turunkan aku, lalu dia >>> sendiri duduk di atas tutup kloset. >>> >>> "Huh..capek non, ayo sekarang gantian non yang goyang dong" perintahnya >>> >>> Akupun dengan senang hati menurutinya, dalam posisi seperti ini aku dapat >>> lebih mendominasi permainan dengan goyangan-goyangan mautku. Tanpa disuruh >>> lagi aku menurunkan pantatku di pangkuannya, kuraih penis yang sudah licin >>> itu dan kutuntun memasuki vaginaku. Setelah menduduki penisnya, aku terlebih >>> dahulu melepaskan baju dan bra-ku yang masih menggantung supaya lebih lega, >>> soalnya badanku sudah panas dan bemandikan keringat, yang masih tersisa di >>> tubuhku hanya rokku yang sudah tersingkap hingga pinggang dan sepasang >>> sepatu hak di kakiku. Aku menggoyangkan tubuhku dengan gencar dengan gerakan >>> naik-turun, sesekali aku melakukan gerakan meliuk sehingga Pak Egy mengerang >>> karena penisnya terasa diplintir. Kedua tangannya meremasi payudaraku dari >>> belakang, mulutnya juga aktif mencupangi pundak dan leherku. >>> >>> Tiba-tiba aku dikejutkan oleh tangan besar yang menjambak rambutku dan >>> mendongakkan wajahku ke atas. Dari atas wajah Pak Romli mendekat dan >>> langsung melumat bibirku. Dimas yang sudah tidah bercelana juga mendekatiku, >>> sepertinya dia sudah mendapat ijin untuk bergabung, dia menarik tanganku dan >>> menggenggamkannya pada batang penisnya. >>> >>> "Mmpphh.. mmhh!" desahku ditengah keroyokan ketiga orang itu. >>> >>> Toilet yang sempit itu menjadi penuh sesak sehingga udara terasa makin >>> panas dan pengap. >>> >>> "Ayo dong Citra.. emut, sepongan kamu kan mantep banget" >>> >>> Dimas menyodorkan penisnya kemulutku yang langsung kusambut dengan >>> kuluman dan jilatanku, aku merasakan aroma sperma pada benda itu, lidahku >>> terus menjelajah ke kepala penisnya dimana masih tersisa sedikit cairan itu, >>> kupakai ujung lidah untuk menyeruput cairan yang tertinggal di lubang >>> kencingnya. Ini tentu saja membuat Dimas blingsatan sambil meremas-remas >>> rambutku. Aku melakukannya sambil terus bergoyang di pangkuan Pak Egy dan >>> mengocok penisnya Pak Romli, sibuk sekali aku dibuatnya. >>> >>> Sesaat kemudian penisnya makin membesar dan berdenyuk-denyut, lalu dia >>> menepuk punggungku dan menyuruhku turun dari pangkuannya. Benar juga >>> dugaanku, ternyata dia ingin melepaskan maninya di mulutku. Sekarang dengan >>> posisi berlutut aku memainkan lidahku pada penisnya, dia mulai merem-melek >>> dan menggumam tak jelas. Seseorang menarik pinggangku dari belakang membuat >>> posisiku merangkak, aku tidak tahu siapa karena kepalaku dipegangi Pak Egy >>> sehingga tidak bisa menengok belakang. Orang itu mendorongkan penisnya ke >>> vaginaku dan mulai menggoyangnya perlahan. Kalau dirasakan dari ukurannya >>> sih sepertinya si Dimas karena yang ini ukurannya pas dan tidak menyesakkan >>> seperti milik Pak Romli. Ketika sedang enak-enaknya menikmati genjotan Dimas >>> penis di mulutku mulai bergetar >>> >>> "Aahhkk.. saya mau keluar.. non" >>> >>> Pak Egy kelabakan sambil menjambaki rambutku dan >>> creett..creett, >>> beberapa kali semprotan menerpa menerpa langit-langit mulutku, sebagian >>> masuk ke tenggorokan, sebagian lainnya meleleh di pinggir bibirku karena >>> banyaknya sehingga aku tak sanggup menampungnya lagi. >>> >>> Aku terus menghisapnya kuat-kuat membuatnya berkelejotan dan mendesah tak >>> karuan, sesudah semprotannya berhenti aku melepaskannya dan menjilati cairan >>> yang masih tersisa di batangnya. Dengan klimaksnya Pak Egy, aku bisa lebih >>> berkonsentrasi pada serangan Dimas yang semakin mengganas. Tangannya merayap >>> ke bawah menggerayangi payudaraku. Dimas sangat pandai mengkombinasikan >>> serangan halus dan keras, sehingga aku dibuatnya melayang-layang. Gelombang >>> orgasme sudah diambang batas, aku merasa sudah mau sampai, namun Dimas >>> menyuruhku bertahan sebentar agar bisa keluar bersama. Sampai akhirnya dia >>> meremas pantatku erat-erat dan memberitahuku akan segera keluar, perasaan >>> yang kutahan-tahan itu pun kucurahkan juga. Kami orgasme bersamaan dan dia >>> menumpahkannya di dalamku. Vaginaku serasa banjir oleh cairannya yang hangat >>> dan kental itu, sperma yang tidak tertampung meleleh keluar di daerah >>> selangakanganku. >>> >>> Aku langsung terkulai lemas di lantai dengan tubuh bersimbah peluh, >>> untung lantainya kering sehingga tidak begitu jorok untuk berbaring di sana. >>> Vaginaku rasanya panas sekali setelah bergesekan selama itu, dengan 3 macam >>> penis lagi. Lututku juga terasa pegal karena dari tadi bertumpu di lantai. >>> Setelah merasa cukup tenaga, aku berusaha bangkit dibantu Dimas. Dengan >>> langkah gontai aku menuju wastafel untuk membasuh wajahku, lalu kuambil >>> sisir dari tasku untuk membetulkan rambutku yang sudah kusut. Aku memunguti >>> pakaianku yang berserakan dan memakainya kembali. Kami bersiap meninggalkan >>> tempat itu. >>> >>> "Lain kali kalau melakukan hubungan badan hati-hati, kalau ketangkap kan >>> harus bagi-bagi" begitu kata Pak Egy sebagai salam perpisahan disertai >>> tepukan pada pantatku. >>> >>> "Citra.. Citra.. sori dong, kamu marah ya!" kata Dimas yang mengikutiku >>> dari belakang dalam perjalananku menuju tempat parkir. >>> >>> Dengan cueknya aku terus berjalan dan menepis tangannya ketika menangkap >>> lenganku, dia jadi tambah bingung dan memohon terus. Setelah membuka pintu >>> mobil barulah aku membalikkan badanku dan memberi sebuah kecupan di pipinya >>> seraya berkata >>> >>> "Saya nggak marah kok, malah enjoy banget, lain kali kita coba yang lebih >>> gila yah, see you, good night" >>> >>> Dimas hanya bisa terbengong di tengah lapangan parkir itu menyaksikan >>> mobilku yang makin menjauh darinya. >>> >>> ***** >>> >>> >>> >>> -- >>> <Fred the Red B 6123 KMJ> >>> KHCC 011 <> F.S.R.J >>> http://www.jalanraya.net/ >>> http://gueandry.blogspot.com/ >>> http://redd.dagdigdug.com/ >>> ---------------------------------------------- >>> >>> > > > > -- .:. Andry Berlianto .:. 0815.9405884 <> 08989.899088 http://www.jalanraya.net/ http://gueandry.blogspot.com/ ---------------------------------------------- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ ------------------------------------------------- Milisnya Pro28 - Milisnya Wong Edannn .... tapi Profesional .... Betull ??? Mo posting, send email to [email protected] Mo keluar, send email to [EMAIL PROTECTED] -------------------------------------------------- -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
