Republika Kamis, 28 Oktober 2004 Menimbang Gagasan Islam Progresif Oleh : Ahmad Fuad Fanani Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)) Tragedi 11 September 2001, bom Bali 2002, bom Marriot 2003, serta bom di depan Kedutaan Besar Australia 2004 kemarin, secara tidak langsung menyebabkan wajah Islam banyak tercoreng oleh kelakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Memang, tuduhan bahwa pelakunya adalah orang Islam sampai saat ini masih menjadi kontroversi yang belum berakhir. Akan tetapi, sosok seperti Osama bin Laden, Amrozi, dan Imam Samudra yang mengaku sebagai Muslim dan yang menjadi idola di sebagian kaum Muslimin, secara tidak langsung meneguhkan prasangka itu. Belum lagi, semarak kehadiran Islam militan seperti Front Pembela Isla (FPI), Laskar Jihad, Laskar Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan lainnya, semakin menambah beban wajah Islam sebagai agama yang toleran dan terbuka.
Sebagai wacana pembanding (counter discourse) terhadap Islam militan dan ekstrim yang akhir-akhir banyak mengemuka, Islam Progresif sangat signifikan untuk diwacanakan dan dibumikan. Istilah Islam Progresif ini sebetulnya bukan sesuatu yang baru, sebelum ini telah hadir, misalnya istilah Wahyu Progresif dari Farid Esack ataupun ''Islam yang berkemajuan'' dari KH Ahmad Dahlan. Secara sederhana, Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, serta responsif terhadap persoalan-persoalan kemanusiaan. Hal ini tentu berbeda dengan Islam militan dan ekstrimis yang tetap berusaha menghadirkan wacana penafsiran masa lalu serta menutup diri terhadap ide-ide baru yang berasal dari luar kelompoknya. Bahkan, seringkali untuk meneguhkan keyakinannya, mereka bertindak dengan mengklaim diri sebagai pemilik otoritas kebenaran untuk bertindak secara otoriter terhadap paham dan agama lain. Menurut Omid Safi (2003), Islam Progresif menawarkan sebuah metode ber-Islam yang menekankan pada terciptanya keadilan sosial, kesetaraan gender, dan pluralisme keagamaan. Maka, seorang Muslim yang progresif haruslah mau untuk berjuang untuk menegakkan keadilan sosial di muka bumi ini. Perjuangan itu bisa berwujud pada advokasi hak-hak orang yang termarjinalisasi, orang yang tertindas, orang yang terkena polusi lingkungan, serta orang yang ''yatim'' secara sosial dan politik. Islam progresif meyakini bahwa semua pembelaan itu mempunyai dasar dan tradisi yang kuat dalam Alquran dan hadist. Banyak ayat-ayat Alquran yang meneguhkan tentang pentingnya kepedulian sosial, seperti yang tertera dalam surat al-Maun. Begitu juga, sejarah kehidupan dan dakwah Nabi pun juga tampak jelas membela terhadap hak-hak golongan mustadz'afin, fakir miskin, dan anak yatim. Dari hal di atas nampak bahwa yang menjadi ciri khas Islam Progresif adalah pada aspek pembebasannya terhadap hak-hak kemanusiaan. Oleh karenanya, untuk membumikan agendanya tersebut, Islam progresif juga mengadopsi ide-ide pembebasan dari Gustavo Guiterrez, Leornardo Boff, Rebecca S Chopp, serta humanisme sekulernya Noam Chomsky dan Edward Said. Misalnya, Islam Progresif berusaha mengkombinasikan suara Tuhan untuk keadilan sebagaimana tercantum dalam Alquran dengan keberanian menyuarakan kebenaran terhadap kekuasaan seperti yang dilakukan oleh Edward Said. Dengan kombinasi itu, Islam Progresif berusaha mengawal proses sosial sebagai sebuah upaya transformasi untuk menciptakan keadilan sosial. Prinsip keterlibatan Untuk melakukan transformasi sosial itu, maka Islam Progresif menekankan adanya sinergi antara pemikiran dan aksi di lapangan. Hal itu sekaligus untuk mengkritik sebagian pembaharu keagamaan yang banyak menekankan pada keterbukaan pemikiran, namun jarang sekali melakukan aksi sosial untuk membumikan gagasannya itu. Maka, dalam Islam Progresif tidak ada dikotomi antara seorang pemikir dan aktivis dalam membumikan gagasannya. Justru, jika yang dilakukan hanya sebuah sosialisasi pemikiran baru, yang seringkali terjadi adalah wacana itu hanya mampu diserap oleh kalangan akademis dan elite tertentu. Padahal, masyarat di akar rumput juga sangat perlu diperkenalkan dengan ide-ide baru yang terbuka, toleran, serta membebaskan. Oleh karenanya, untuk menjembatani jurang wacana antara masyarakat bawah (grassroots) dan masyarakat kelas menengah dan atas (the middle and high class) itu, perlu adanya sebuah keterlibatan sosial. Keterlibatan ini sangat penting untuk mensinergikan visi tentang keadilan sosial dan perdamaian dengan transformasi jiwa untuk membentuk komunitas sosial yang berkeadilan. Seperti dinyatakan oleh Leonardo Boof, bahwa yang dibutuhkan bukan hanya liberalisasi pemikiran, namun juga pembebasan sosial. Ia mengatakan: liberaco (liberation) links the concepts liber (free) and acao (action). There is no liberation without action. Omid Safi juga menambahkan, bahwa: Vision and activism are both necessary. Activism without vision is doomed from the start. Vision without activism quickly becomes irrelevant. Dari penegasan itu tampak, bahwa sebuah model keterlibatan dan sinergi antara visi dan aksi, adalah agenda yang mesti dilakukan oleh Islam Progresif (In Progressive Muslims: On Justice, Gender, and Pluralism, 2003). Bukti keterlibatan para pemikir Islam Progresif ini sudah banyak tampak dilakukan. Misalnya oleh Chandra Muzaffar dan Farish A Noor dengan gerakan International Justice dan hak azasi manusia (HAM); Farid Esack dengan solidaritas menentang rezim apartheid dan advokasi korban HIV-AIDS di Afrika Selatan; serta Shirin Abadi dengan komunitas perjuangan hak-hak anak di Iran. Selain itu, banyak aktivis-aktivis Islam lainnya yang juga menggerakkan diri dan organisasinya untuk gerakan perdamaian dan keadilan sosial, pengorganisasian grassroots, serta penegakan hak asasi manusia di berbagai tempat. Hal ini relevan dengan penegasan Farid Esack, bahwa yang membedakan Islam Progresif dan Islam lainnya adalah adanya aksi atau keterlibatan sosial entah sekecil apapun yang mereka lakukan. Agenda ke Depan Terlepas dari perbedaan antara Islam Progresif, Islam Moderat, ataupun Islam Liberal, saya pikir mereka bisa bersinergi untuk mengkampanyekan wajah Islam yang ramah, terbuka, dan anti kekerasan. Dengan wajah Islam yang seperti itulah, maka umat agama lain dapat merasa aman dan umat Islam sendiri dapat memberikan sumbangan yang signifikan terhadap kemajuan bangsa dan dunia. Wacana Islam yang terbuka terhadap ide-ide segar seperti HAM, keadilan gender, pluralisme, demokrasi, serta keadilan sosial, saya kira sangat relevan dengan masyarakat Indonesia yang pada dasarnya sangat terbuka dan menginginkan kehidupan yang adil, aman, dan sejahtera. Meski Barat banyak terbukti tidak konsisten dengan ide-ide pencerahannya, namun perlawanan terhadap mereka jangan sampai menggunakan cara-cara ekstrim. Barat memang tidak adil ketika menangani kasus perselisihan Israel-Palestina, Afghanistan, maupun Irak, namun di masyarakat mereka sendiri pada dasarnya juga terdapat penentangan yang dilakukan secara terbuka terhadap kebijakan pemerintahnya. Kita harus ingat, bahwa sebagaimana masyarakat Islam sendiri, masyarakat Barat tidaklah berwajah tunggal, namun banyak sekali paham-paham yang berkembang. Oleh karenanya, untuk melawan ketidakadilan (kedzaliman) Barat itu, jangan sampai kita juga menciptakan kedzaliman yang baru dengan melakukan kekerasan, sweeping, jihad kekerasan, atau bom dan tindakan teror lainnya. Agenda mendesak yang perlu dilakukan oleh Islam Progresif di masa mendatang adalah bersinergi dengan kekuatan Islam lainnya untuk mengkampanyekan wajah Islam yang ramah, damai, dan berkeadilan sosial. Harus dilakukan pemahaman terus-menerus bahwa pada dasarnya tidak ada ajaran agama yang menyerukan umatnya untuk melakukan tindakan yang ekstrim dan menghalalkan kekerasan. Oleh karenanya, dialog dengan kalangan Islam militan dan ekstrimis juga harus digalakkan pelaksanaannya. Selain itu, untuk mengurangi dan mengakhiri tindakan ekstrim dan teror itu, mereka harus senantiasa kritis terhadap segala bentuk kebijakan Barat dan negara yang kadang kerap menyimpang. Dengan begitu, di samping mengkampanyekan perlunya keterbukaan dalam hal pemikiran, kita juga berjuang untuk membela orang-orang yang tertindas oleh ketidakadilan sosial, politik, dan ekonomi. Dan masa depan Islam Progresif, saya kira sangat ditentukan oleh kemampuannya melakukan pembaharuan pemikiran, kekritisannya terhadap segala bentuk ketidakadilan, serta keterlibatnnya dalam proses transformasi sosial secara terus-menerus. Apabila hal itu mampu dilakukan secara konsisten, Islam Progresif akan menjadi mazhab baru yang dianut dan dipercayai oleh masyarakat luas, jadi bukan hanya menjadi konsumsi elite akademis saja. Sudah saatnya, kita menjadi --meminjam istilah Farid Esack-- The Muslim Vanguard dalam menegakkan perdamaian dan keadilan sosial pada percatural regional dan global. Wallahu A'lam [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
