Allah menganugerahkan kepada manusia nikmat berupa akal pikiran yang dengannya manusia 
terangkat kepada tingkatan taklif ilahiyyah (memikul beban syariat sebagai hamba yang 
mukallaf). Dengan akal itu pula manusia mengetahui taklif tersebut dan dapat 
memahaminya.1 Allah bekali pula manusia dengan fithrah yang bersesuaian dengan wahyu 
yang mulia dan agama yang haq, yang dibawa oleh para rasul Allah alaihimush shalatu 
wassalam, yang Allah syariatkan dan Allah jadikan sebagai jalan hidup bagi manusia 
tersebut, yang mana wahyu dan agama yang haq ini tersampaikan lewat lisan para rasul 
yang mulia shalawatullahi wa salamuhu alaihim ajma�in. (Manhajul Anbiya fid Da�wah 
ilallahi fihil Hikmah wal �Aql, Asy-Syaikh Rabi�, hal. 33) 

Dengan demikian, Islam tidaklah menelantarkan akal, dan tidak pula mengangkatnya lebih 
dari porsinya namun akal ditempatkan pada tempatnya dan digunakan dengan semestinya. 

Al Qur�an yang mulia telah banyak memberikan dorongan kepada kita untuk mempergunakan 
akal pikiran. Kita diperintahkan untuk memikirkan Al Qur�an hingga sampai pada 
keyakinan tentang kebenarannya, sebagaimana kita diperintah untuk memikirkan ciptaan 
Allah untuk menambah keyakinan kita kepada-Nya. 

�Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur�an (memikirkan dan merenungkannya)? 
Kalau sekiranya Al Qur�an itu bukan dari sisi Allah, niscaya mereka akan mendapatkan 
pertentangan yang banyak di dalamnya.� (An-Nisa: 82) 

�Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka ? Allah tidak 
menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan 
yang benar dan waktu yang ditentukan�� (Ar-Rum: 8)

Allah membuat banyak permisalan dalam Al Qur�an agar kita memikirkannya, seperti 
ketika Dia menceritakan tentang permisalan kehidupan dunia: 
�Permisalan kehidupan dunia itu hanyalah seperti air yang Kami turunkan dari langit 
lalu bercampurlah dengannya tumbuh-tumbuhan bumi dari apa yang dimakan oleh manusia 
dan hewan. Hingga ketika bumi itu telah memakai perhiasannya dan indah (subur 
menghijau dengan berbagai jenis tanamannya) sementara pemiliknya yakin mereka akan 
mampu memetik dan menikmati hasilnya (dari tanam-tanaman tersebut), datanglah perintah 
Kami pada waktu malam dan siang (sehingga rusak dan hancurlah tanaman yang sudah 
diharapkan tadi). Lalu Kami jadikan tanaman itu seperti sudah dituai seakan-akan ia 
tidak pernah ada di hari kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat Kami bagi 
orang-orang yang mau berpikir.� (Yunus: 24)

Islam Membimbing Akal
Akal memiliki kemampuan yang terbatas sehingga ia tidak dapat mencapai seluruh hakikat 
yang ada. Bila akal dilepaskan begitu saja tanpa bimbingan niscaya ia bisa keliru dan 
terjerumus dalam kesesatan. Sebagaimana kemaksiatan pertama yang dilakukan oleh 
makhluk terhadap Rabbnya, ketika Iblis diperintah untuk sujud kepada Adam 
'alaihissalam sebagai tanda penghormatan kepada Adam, Iblis enggan karena ia merasa 
lebih mulia dan lebih tinggi daripada Adam. Ia diciptakan dari api sementara Adam dari 
tanah. Menurut akal Iblis, api itu lebih mulia daripada tanah. 

�Aku lebih baik daripadanya (Adam), Engkau ciptakan aku dari api sementara dia Engkau 
ciptakan dari tanah liat.� (Al-A�raf: 12) 

Dengan begitu, akal perlu dibimbing oleh wahyu dan harus tunduk dengan wahyu, karena 
wahyu itu dari firman Allah dan perkataan-Nya yang suci sementara akal adalah makhluk 
yang diciptakan oleh Allah. Karena akal itu terbatas, syariat menetapkan ia tidak 
boleh berdalam-dalam membahas perkara yang tidak mungkin dijangkau, seperti di 
antaranya memikirkan Dzat Allah Subhanahu wa Ta'ala dan hakikat-Nya, karena Allah 
Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 
#1608;#1614; #1604;#1575;#1614; 
#1610;#1615;#1581;#1616;#1610;#1618;#1591;#1615;#1608;#1618;#1606;#1614; 
#1576;#1616;#1607;#1616; #1593;#1616;#1604;#1618;#1605;#1611;#1575; 
�Ilmu mereka (makhluk) tidak dapat meliputi Allah.� (Thaha: 110) 

Selain itu juga wahyu dan akal yang sehat tidaklah saling bertentangan. Wahyu sebagai 
dasar pijakan, timbangan dan pengoreksi akal ketika ia menyimpang dari kebenaran. 
Dengan begitu akal harus menganggap baik apa yang dianggap baik oleh syariat dan 
mengganggap jelek apa yang dianggap jelek oleh syariat. Akal seperti inilah yang 
dikatakan akal sehat.

Agama Bukan dari Akal Pikiran 
Al-Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata: �Agama ini datang dari Allah tabaraka wa 
ta`ala, bukan dari akal dan pendapat manusia. Ilmunya dari sisi Allah melalui 
Rasul-Nya, maka janganlah engkau mengikuti agama dengan hawa nafsumu yang 
menyebabkanmu terpisah dari agama hingga engkau keluar darinya. Tidak ada dalil bagimu 
untuk menolak syariat dengan akal atau hawa nafsu karena Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam telah menjelaskan agama ini (As Sunnah) kepada para shahabat. Para 
shahabat adalah Al-Jama�ah dan As-Sawadul A�zham. As-Sawadul A�zham adalah kebenaran 
dan orang yang berpegang dengannya.� (Syarhus Sunnah, hal. 66) 

Yang Berbicara Agama dengan Akal adalah Penghujat Allah dan Rasul-Nya
Para perusak agama dari kalangan aqlaniyyun menempatkan akal di atas Al Qur�an dan As 
Sunnah. Nama kelompok mereka bisa berbeda-beda namun sama dalam sikap memposisikan 
akal mereka. Satu dari sekian kelompok tersebut yang sekarang ini para da�inya sedang 
berteriak-teriak memasarkan kesesatannya di negeri ini adalah kelompok yang 
diistilahkan Jaringan Islam liberal (JIL) ataupun yang sejenis pemikirannya. 
Orang-orang dalam jaringan ini berbicara tentang agama seenak perut mereka dan menurut 
akal-akalan mereka, tidak dilandasi dengan Al Qur�an, tidak pula dengan Sunnah 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang shahih, dan tidak pula dengan bimbingan 
para ulama pendahulu kita yang shalih. 

Padahal posisi keilmuan mereka terhadap agama ini sangat memprihatinkan. Bahkan 
kebanyakan mereka adalah orang-orang bodoh namun tidak tahu bahwa dirinya bodoh. 
Walaupun ada di antara mereka yang bergelar profesor, doktor dan gelar kesarjanaan 
lainnya, namun mereka tidak paham sama sekali terhadap agama Allah ini. Sekilas kami 
membaca apa yang mereka tulis dalam buku-buku mereka dan juga dalam situs mereka di 
internet. Sungguh kita tidak mendapatkan dalil. Mungkin ada penyebutan dalil, namun 
tidak pada tempatnya atau apa yang dibawakan itu lemah dari sisi ilmu riwayah wa 
dirayah. 

Ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang batil. 
Terlebih lagi dalam ilmu hadits, ilmu yang mulia ini mereka tidak paham sama sekali 
sehingga biasa kita dapati mereka menolak hadits dengan perkataan yang membuat tertawa 
orang awam terlebih lagi orang yang alim, seperti ketika mereka menolak hadits-hadits 
tentang jilbab dinyatakan hadits-haditsnya ahad (Kritik atas Jilbab, situs JIL, 
4/6/2003). 

Mereka membantah Al Qur�an dengan akal mereka atau dengan ucapan orang kafir. Begitu 
pula terhadap hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahkan mereka 
menghinakan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Demikian kenyataan yang ada pada kelompok sesat antek-antek Yahudi ini. Jangankan 
orang rendahan mereka, orang yang ditokohkan di kalangan mereka sebagai da�i mereka, 
seperti Ulil Abshar Abdalla, kenyataan sesungguhnya adalah orang yang bodoh. Jangankan 
terhadap syariat, dalam masalah bahasa Arab pun terlihat kedunguannya. Satu contoh, 
ketika ia ditantang untuk mubahalah (saling berdoa agar dilaknat Allah bagi yang 
berdusta) dalam satu seminar di Bandung, ia mengelak dengan beralasan bahwa mubahalah 
itu berarti mengajak goblok, karena mubahalah itu dari kata bahlul (goblok). 

Lihatlah kebodohan orang ini. Tidakkah kau tahu, Rasulullah pernah diperintah oleh 
Allah untuk menantang mubahalah kepada ahlul kitab, apakah mungkin dikatakan Allah 
menyuruh Nabi-Nya berlaku goblok?!! 

�Maka siapa yang mendebatmu dalam perkara ini setelah datang kepadamu ilmu maka 
katakanlah: �Marilah kita memanggil anak-anak kami dan (panggil pula) anak-anak 
kalian, (kami panggil) istri-istri kami dan istri-istri kalian, diri kami dan diri 
kalian, kemudian marilah kita bermubahalah dan kita mohon kepada Allah agar laknat 
Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.� (Ali �Imran: 61) 

Bila dalam bahasa saja orang semacam ini ketahuan bodohnya lalu apatah lagi dalam 
masalah syariat. Orang sebodoh ini berniat menyusun kitab tafsir Al Qur�an (Situs JIL, 
12/1/2004), maka tentu kita akan bertanya kepadanya, dengan ilmu apa dia akan menulis 
tafsir? Adakah pengetahuan dia dalam masalah ini, ataukah ia kembali pada hawa 
nafsunya dan pada ucapan najis orang-orang kafir/orientalis yang punya hasad kepada 
Islam dan muslimin?

Catatan Hitam Penghujat Allah dan Rasul-Nya
Catatan-catatan yang dibawakan di sini tidaklah secara keseluruhan mengingat 
keterbatasan halaman yang ada, sehingga hanya kita bawakan beberapa di antaranya 
beserta bantahan singkat terhadap mereka: 

   - Mereka menganggap hukum Islam itu zalim sehingga bila diterapkan syariat Islam 
yang pertama jadi korban adalah kaum wanita (situs JIL, 16/9/2001). Padahal justru 
hukum di luar Islamlah yang zalim, sementara hukum Allah adalah seadil-adil dan 
sebaik-baik hukum. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

�Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki padahal hukum siapakah yang lebih baik 
daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?� (Al-Maidah: 50)

   - Mereka menggugat kebenaran Islam karena kata mereka kebenaran agama itu relatif 
(situs JIL, 24/8/2002). Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memilih agama Islam 
ini sebagai agama yang Dia ridhai: 
#1608;#1614; #1585;#1614;#1590;#1616;#1610;#1618;#1578;#1615; 
#1604;#1614;#1603;#1615;#1605;#1615; 
#1575;#1604;#1573;#1616;#1587;#1618;#1604;#1575;#1614;#1605;#1614; 
#1583;#1616;#1610;#1618;#1606;#1611;#1575;
�Dan Aku ridha Islam sebagai agama kalian.� (Al-Maidah: 3)
Adakah seorang yang beriman akan meyakini bahwa Allah meridhai Islam yang belum tentu 
kebenarannya? Na�udzubillah min dzalik.

   - Mereka menyamakan semua agama. Jelas hal ini menyelisihi firman Allah Subhanahu 
wa Ta'ala: 
#61484;#1573;#1616;#1606;#1617;#1614; 
#1575;#1604;#1583;#1617;#1616;#1610;#1618;#1606;#1614; 
#1593;#1616;#1606;#1618;#1583;#1614; #1575;#1604;#1604;#1607;#1616; 
#1571;#1604;#1573;#1616;#1587;#1618;#1604;#1575;#1614;#1605;#1615;#61485;
�Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam.� (Ali �Imran: 19)
�Siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan diterima agama itu darinya dan 
dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.� (Ali �Imran: 85)

   - Mereka mengajak melihat kebenaran pada agama lain, tanpa menganggap hanya Islam 
agama yang benar (Zuly Qodir, Islam Liberal, hal. 134, Sufyanto, Masyarakat Tamaddun, 
hal. 138-143). Sementara Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyatakan dengan gamblang 
kekafiran orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim lainnya: 

�Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: �Sesungguhnya Allah adalah 
Al-Masih putera Maryam,� padahal Al-Masih sendiri bekata: �Wahai Bani Israil, 
sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.� Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah 
dengan sesuatu maka pasti Allah mengharamkan jannah baginya dan tempatnya adalah 
an-naar, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya 
kafirlah orang-orang yang mengatakan: �Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga,� 
padahal sekali-kali tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali sesembahan yang 
satu (Allah). Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti 
orang-orang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.� (Al-Maidah: 72-73)

   - Nurcholis Majid membatasi musyrikin dengan para penyembah berhala Arab sementara 
paganis India, China dan Jepang dimasukkannya sebagai ahli kitab karena dianggap 
memiliki kitab suci yang intinya tauhid, sehingga agama yang tidak diterima disisi 
Allah hanyalah agama penyembah berhala Arab. (Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam, 
Ulil Abshar Abdalla, situs JIL). Ketahuilah, musyrikin itu adalah semua orang yang 
menyekutukan Allah dalam peribadatan sehingga paganis India, China dan Jepang ataupun 
selainnya dari kalangan Yahudi dan Nasrani, semuanya itu musyrikin. 

   - Lontaran yang dilemparkan oleh Ulil Abshar Abdalla juga tak kalah sesatnya. Dalam 
harian Kompas, terbitan Senin 18-10-2002, ia menulis artikel Menyegarkan Kembali 
Pemahaman Islam yang isinya ia membagi syariat Islam menjadi ibadah dan muamalah. Yang 
ibadah untuk diikuti, sedang yang muamalah seperti berjilbab, pernikahan, jual beli, 
hukum qishash, dsb, tidak usah diikuti. Ia menyatakan Islam adalah nilai generis yang 
bisa ada di Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, Yahudi, Taoisme, dan bisa jadi kebenaran 
Islam ada dalam filsafat Marxisme. Ia juga menghina dan mengolok-olok Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menyatakan bahwa Rasulullah adalah tokoh historis 
yang harus dikaji dengan kritis (sehingga tidak hanya menjadi mitos yang dikagumi 
saja, tanpa memandang aspek-aspek beliau sebagai manusia yang juga banyak 
kekurangannya). (situs JIL, 18/11/2022). Memang orang bodoh ini tidak memahami firman 
Allah Subhanahu wa Ta'ala: 

�Dan jika engkau tanyakan kepada mereka tentang apa yang mereka lakukan itu, tentulah 
mereka akan menjawab: �Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main 
saja.� Katakanlah: �Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian 
berolok-olok?� Tidak perlu kalian minta udzur karena kalian telah kafir setelah kalian 
beriman.� (At-Taubah: 65-66) 

   - Si Ulil ini pula dengan lancangnya menganggap halal apa yang diharamkan oleh 
Allah I seperti pernyataannya bahwa vodka (sejenis minuman keras) bisa dihalalkan di 
Rusia karena daerahnya sangat dingin. Padahal dalam kasus yang sama, Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Dailam Al-Himyari tentang minuman 
memabukkan yang diminum untuk mengatasi hawa dingin di daerah yang sangat dingin, maka 
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam melarangnya. Bahkan mereka yang tidak mau 
berhenti meminumnya diperintahkan untuk dibunuh (HR. Ahmad, 4/231, dishahihkan oleh 
guru kami Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam Al-Jami�us Shahih, 1/122-123). 

   - Sama pula nyeleneh-nya ucapan Prof. Dr. Said Aqiel Siradj yang menyatakan agama 
Yahudi, Kristen dan Islam semuanya membawa misi tauhid. 

   - Demikian pula ucapan DR. Jalaluddin Rakhmat bahwa kafir itu bukanlah label aqidah 
dan keyakinan namun merupakan label moral (situs JIL, 15/9/2003).

   - Mereka memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir dengan mencintai dan 
mengagumi pemikiran mereka, sehingga orang-orang ini bangga bisa menimba ilmu di 
negeri Barat (situs JIL, 8/3/2004). Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

�Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan 
Nasrani sebagai kekasih/ teman dekat kalian, karena sebagian mereka adalah kekasih 
bagi yang lainnya. Siapa di antara kalian yang loyal terhadap mereka maka sungguh ia 
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang 
yang zalim.� (Al-Maidah: 51) 


Catatan-catatan hitam yang ada ini tak jauh dari apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim 
rahimahullah ketika memberikan gambaran tentang kaum munafiqin: 
�Mereka itu telah berpaling dari Al Qur�an dan As-Sunnah dengan mengolok-olok dan 
merendahkan orang yang berpegang dengan keduanya. Mereka menolak untuk terikat dengan 
hukum dua wahyu tersebut karena merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka dari 
ilmu yang sebenarnya tidaklah bermanfaat banyaknya ilmu tersebut bagi diri mereka, 
kecuali hanya menambah kejelekan dan kesombongan. Maka engkau lihat mereka 
selama-lamanya berpegang teguh untuk mengolok-olok wahyu yang pasti. 

#61484;#1575;#1604;#1604;#1607; #1610;#1587;#1578;#1607;#1586;#1574; 
#1576;#1607;#1605; #1608; #1610;#1605;#1583;#1607;#1605; #1601;#1610; 
#1591;#1594;#1610;#1575;#1606;#1607;#1605; #1610;#1593;#1605;#1607;#1608;#1606;#61485;
�Allah akan membalas olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang ambing dalam 
kesesatan mereka yang melampaui batas.� (Al-Baqarah: 15) [Shifatul Munafiqin, hal. 7] 

Hukuman bagi Penghujat Allah dan Rasul-Nya 
Dengan sebagian catatan hitam yang telah dituliskan, maka wajib bagi penguasa kaum 
muslimin memberikan hukuman yang keras bagi pengikut hawa nafsu ini dalam rangka 
menunaikan nasehat terhadap agama Allah. Kalau perlu ditangkap, maka ditangkap. Atau 
dipenjara, dipukul, diasingkan, ataupun dipenggal lehernya dan hendaknya jangan 
diberikan keringanan sebagai peringatan akan bahaya perbuatan hawa nafsu yang 
mengkaburkan agama Allah. 

Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah dalam kitabnya Asy-Syari�ah, bab Hukuman yang diberikan 
Al-Imam dan Penguasa kepada penghujat Allah dan Rasul-Nya (pengikut hawa nafsu) 
mengatakan: �Sepantasnya bagi pemimpin kaum muslimin dan para gubernurnya di setiap 
negeri bila telah sampai padanya kabar yang pasti tentang pendapat/madzhab seseorang 
dari pengikut hawa nafsu yang menampakkan pendapat/madzhabnya tersebut, agar menghukum 
orang tersebut dengan hukuman yang keras. Siapa di antara pengekor hawa nafsu itu yang 
pantas untuk dibunuh maka dibunuh. Siapa yang pantas untuk dipukul, dipenjara dan 
diperingatkan maka dilakukan hal tersebut padanya. Siapa yang pantas untuk diusir maka 
diusir dan manusia diperingatkan darinya.� 

Bila ada yang bertanya: �Apa argumen perkataanmu itu?�
Maka dijawab dengan jawaban yang tidak akan ditolak oleh para ulama yang Allah 
memberikan manfaat dengan ilmunya. Lihatlah bagaimana �Umar ibnul Khaththab 
radhiallahu 'anhu mencambuk Shabigh At-Tamimi4 dan beliau menulis surat pada para 
pegawai beliau agar mereka memerintahkan Shabigh berdiri di hadapan manusia hingga 
Shabigh ini mengumumkan kejelekan dirinya. 

�Umar juga menetapkan larangan kepada manusia untuk memberi sesuatu pada Shabigh dan 
manusia diperintah pula untuk memboikotnya (tidak mengajaknya bicara, tidak duduk 
bersamanya). Demikianlah keadaan Shabigh seterusnya ia hina di tengah-tengah manusia. 

Lihat pula Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu. Di Kufah ia membunuh sekelompok orang 
yang mengaku-aku bahwa Ali adalah tuhan mereka. Ali menggali parit untuk mereka lalu 
membakar mereka dengan api. 
Begitu pula �Umar ibnu Abdil �Aziz menulis surat kepada �Adi ibnu Arthah berkenaan 
dengan kelompok Qadariyyah5: �Engkau minta mereka untuk bertaubat dari pemahaman sesat 
mereka. Bila mereka mau maka diterima taubatnya, bila tidak maka penggallah leher 
mereka.�

Adapun Hisyam bin Abdil Malik (dari kalangan umara Bani Umayyah) telah memenggal leher 
Ghailan6 dan menyalibnya setelah ia memotong tangan Ghailan.

Demikian pula yang terus menerus berlangsung, para penguasa setelah mereka pada setiap 
zaman berbuat demikian terhadap pengekor hawa nafsu. Bila telah pasti hal itu di sisi 
mereka, mereka pun memberikan hukuman pada si pengekor hawa nafsu tersebut dengan 
hukuman yang sesuai dengan apa yang mereka pandang, sementara para ulama tidak 
mengingkari perbuatan penguasa tersebut. (Kitab Asy-Syariah, Al-Al-Imam Al-Ajurri, 
hal. 967-968) 7

Penutup
Terlalu banyak yang bisa kita tuliskan dan paparkan untuk membongkar kesesatan 
kelompok akal-akalan seperti JIL ini. Sebagaimana yang kami sebutkan di atas, sampah 
kesesatan yang mereka muntahkan kepada umat tidak dibangun di atas dalil sedikitpun. 
Semoga tulisan ini membuka mata hati masyarakat kita untuk mewaspadai 
kelompok-kelompok sesat yang ada agar mereka mencari jalan keselamatan dengan kembali 
kepada agama Allah I dan berpegang teguh dengan Sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa 
sallam. 
Wallahu ta�ala a�lam bish-shawab.


   Berbeda halnya dengan hewan yang tidak diberikan akal oleh Allah maka hewan tidak 
dibebani dengan perintah-perintah dan larangan-larangan syariat.

   Namun nama yang sepantasnya buat mereka adalah Jaringan Sesat Pengkaburan dan 
Pembinasa Islam yang disokong dan dikoordinasi oleh kuffar Yahudi.

   Shabigh ini suka mempertanyakan ayat-ayat yang mutasyabihah.

   Qadariyyah adalah kelompok yang sesat dalam memahami taqdir Allah. Mereka 
mengatakan bahwa af�alul �ibaad (perbuatan-perbuatan hamba) terjadi semata-mata karena 
iradah (kehendak) dan qudrah (kemampuan) makhluk, tidak ada di dalamnya pengaruh 
iradah dan qudrah Allah. (Syarhu Tsalatsatil Ushul, Asy-Syaikh Ibnu �Utsaimin, hal. 
116) 
Sehingga hamba berbuat sekehendak mereka, dengan iradah dan qudrah mereka, dan bukan 
karena Allah yang menghendaki mereka untuk berbuat.

   Ghailan ini berbicara tentang taqdir dengan pemahaman yang sesat. (Asy-Syariah, 
hal. 970)

   Inilah yang menimpa setiap pengekor hawa nafsu. Bila mereka yang memikul kesalahan 
sedemikian rupa harus menanggung hukuman-hukuman yang sedemikian berat, maka bagaimana 
kiranya orang yang keluar dari mulutnya ucapan-ucapan kufur, penghinaan dan 
pengolok-olokan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta agama-Nya.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke