http://www.radartarakan.co.id/berita/index.asp?Berita=OPINI&id=4325
Kamis, 13 Februari 2003 Otonomi Daerah Sebuah Tantangan terhadap Morfologi dan Perkembangan Kota di Luar Jawa Oleh: Rd Pekik G Pratidino ABSTRAK Kebijaksanaan pemberian otonomi daerah memberikan kesempatan kepada daerah untuk merumuskan sendiri inisiatif dan proses pembangunannya termasuk pembiayaan yang mendukung proses pembangunan tersebut. Program pembangunannya sendiri. Hal ini berarti bahwa kota dan kabupaten berkesempatan dalam kaitannya pembentukan fisik kota, dan perkembangan budaya lokal akan tampak dari perkembangan morfologi kota. Morfologi kota dapat dipandang sebagai sekumpulan data yang dapat dimanfaatkan sebagai titik awal dari setiap langkah pengembangan kota. Gambaran morfologi yang tepat akan membawa perencana kepada bentuk pengembangan yang dapat diterima masyarakat, sementara dalam penyusunan pola pengembangan tersebut peran serta masyarakat menjadi lebih intensif. Kota Indonesia hingga hari ini merupakan hasil dari suatu perjalanan sosio-kultural yang panjang serta mencerminkan pasang surut berbagai pemikiran yang melantari perkembangannya. Berkembang dari kota tradisional, yang seringkali dipandang bukan sebagai kota. Dilanjutkan oleh kota kolonial tahap awal yang dipengaruhi oleh tipologi kota-kota Eropa abad ke-17, yang selanjutnya berkembang menjadi kota-kota kolonial tahap lanjut yang membawa semangat modernitas. Setelah diselingi oleh suatu masa jeda selama dua dasawarsa, mengantarkan kota-kota Indonesia kepada bentuk Kota Indonesia Kontemporer yang dilengkapi dengan kompleksitas masalah pembangunannya. Telah banyak literatur dan kajian yang dilahirkan dalam memandang perkembangan morfologi kota di Indonesia. Sebagian besar kajian tersebut berkembang dan bertitik tolak dari perspektif serta asumsi bahwa Kota Indonesia identik dengan "Kota Jawa". Padalah, sesungguhnya di luar sana, di wilayah lain dari kepulauan Indonesia terdapat ratusan kota yang tidak pernah mengalami pola morfologi yang sama dengan yang digambarkan di atas. Ratusan kota yang tidak mengenal konsep alun-alun sebagai titik orientasi, ratusan kota yang tidak mengenal kraton sebagai pusat kosmos, ratusan kota yang tidak turut gegap gempitanya kapitalisme revolusi industri, ratusan kota yang tidak sempat menikmati sentuhan tangan orang-orang seperti Thomas Karsten dan rekan-rekannya. Ratusan kota inilah, yang beberapa di antaranya tidak banyak mengalami perubahan dalam lima puluh tahun terakhir dan beberapa yang lain menjadi korban tirani penyeragaman budaya, yang saat ini diharapkan menjadi tumpuan bagi perkembangan Indonesia melepaskan diri dari segenap kesulitan yang dihadapinya. Ratusan kota inilah yang diharapkan menjadi juru selamat bagi Indonesia, sebuah bangsa yang dihadapkan pada ancaman perpecahan. Suatu kekhawatiran muncul saat pendekatan sosio-ekonomi seolah telah menjadi satu-satunya paradigma dalam pengembangan kota. Kota-kota Luar Jawa yang merasa tertinggal perkembangannya apabila dibandingkan dengan kota-kota yang berada di Pulau Jawa akan berusaha meningkatkan kemampuan finansialnya untuk mengembangkan kota-kota masa depannya. Bagaimanakah masa depan kota-kota di Luar Jawa tersebut? Para penentu kebijakan di daerah Luar Jawa mengharapkan kotanya akan muncul sebagai Jakarta-Jakarta baru di masa depan. Dan hal itu tidak lain Tokyo-Tokyo baru, New York-New York baru, atau kota-kota sejenis lainnya. Sungguh sangat disayangkan bahwa kota-kota di luar Jawa yang seharusnya mendukung pertumbuhan nilai-nilai budaya lokal harus terjebak dalam budaya massal. Karena diakui atau tidak nilai-nilai budaya itulah yang pada akhirnya akan membentuk nilai kita sebagai sebuah bangsa. Hal yang akan lebih disesalkan lagi adalah apabila dalam mewujudkan perspektif tersebut kota-kota di luar Jawa akan mengorbankan potensi sumber daya alamnya, yang walaupun sangat menghasilkan merupakan sumber-sumber daya yang tidak dapat diperbaharui (bahan tambang dan hasil hutan). Tetapi cara pandang kota tidaklah hanya terbatas pada perspektif sosio-ekonomi. Lebih jauh lagi masyarakat membutuhkan kota sebagai sebuah karya manusia, sebuah bentukan fisik yang kehadiran serta manfaatnya dapat dirasakan. Hal ini hanya dapat terjadi apabila kota tetap dipandang sebagai sebuah bentukan fisik karya arsitektural. Bentuk fisik yang dapat dipandang, diraba serta dirasakanlah yang kemudian diapresiasikan oleh masyarakat (penduduk kota) dengan rasa nyaman atau tidak nyaman. Perubahan paradigma pembangunan nasional yang lebih memperhatikan tumbuhnya aspirasi dari tingkat bawah memberikan kesempatan bagi kota-kota Indonesia tumbuh dengan bentuk yang bervariasi sesuai dengan latar belakang budaya serta elemen-elemen lokal yang dimiliki masing-masing daerah. Demikian pula, perkembangan paradigma perencanaan dan perancangan kota perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut. Dalam proses penyesuaian tersebut, pemahaman terhadap sejarah perkembangan bentuk-bentuk arsitektural merupakan jalan untuk memahamai perkembangan morfologi masing-masing kota. Tidak terbatas hanya pada pemahaman sejarah, para arsitek, perencana serta perancang kota perlu bersikap kritis dalam mengakomodasikan nilai-nilai lokal yang terus berkembang dalam kegiatan pengembangan kota. Pertanyaan yang mendasar adalah mengapa peranan budaya lokal (mohon tidak dirancukan dengan budaya tradisional) harus menjadi dominan dalam era otonomi daerah? Permasalahannya dalam otonomi daerah peran masyarakat harus menggantikan peran pemerintah dalam menentukan kebijaksanaan pengembangan kota. Tingkat keterlibatan masyarakat sebagai stakeholder (Pihak-pihak yang terkena dampak) bergantung kepada persepsi setiap individu dalam memandang kota sebagai bagian dari lingkungannya. Kevin Lynch mengembangkan gagasan bahwa perilaku spasial manusia bergantung pada peta kognitif individu yang bersangkutan terhadap lingkungan spasialnya. Peta kognitif atau peta mental adalah bentukan ruang yang terbentuk dalam benak setiap individu sebagai hasil interaksi secara kontinyu dengan lingkungan. Dalam pembentukan persepsi inilah budaya menjadi suatu unsur yang menentukan. Sebuah contoh sederhana dalam pembentukan peta mental adalah pada saat seorang anak diminta menggambarkan lingkunganny, maka yang akan ia gambarkan adalah tempat-tempat bermain, atau bila seorang anak remaja diminta menggambarkan Jalan Dago maka ia pasti tidak melupakan Superindo Supermarket. Pada saat manusia sudah dapat merasa bahwa dirinya menjadi bagian dari lingkungannya maka saat itulah proses keterlibatan dalam permasalahan lingkungan menjadi besar. Saat itulah ia akan memposisikan dirinya sebagai "Stakeholder" (pihak yang terkena dampak). Jadi dengan demikian muncul sebuah hipotesa bahwa pengembangunan kota yang dikaitkan dengan budaya lokal akan lebih efektif. Dalam kaitannya dalam pembentukan fisik kota, perkembangan budaya lokal akan tampak dari perkembangan morfologi kota. Morfologi kota dapat dipandang sebagai sekumpulan data yang dapat dimanfaatkan sebagai titik awal dari setiap langkah pengembangan kota. Gambaran morfologi yang tepat akan membawa perencana kepada bentuk pengembangan yagn dapat diterima masyarakat, sementara dalam penyusunan pola pengembangan tersebut peran serta masyarakat menjadi lebih intensif. : Demikianlah terbentuk sebuah skenario bahwa pengembangaan kota di luar Jawa diharapkan berangkat dari kasus-kasus morfologis yang mewakili budaya lokal. Kota akan memunculkan cirinya masing-masing sebagai bagian dari kota Indonesia. Sebuah harapan besar bahwa kota-kota yang sedang berkembang di luar Pulau Jawa dapat tumbuh berkelanjutan (sustainable) atas dasar karifan-kearifan tradisional (indigenous knowledge) yang dapat dipahami dan dapat dirasakan oleh masyarakat lokal di masing-masing kota. Dengan demikian perkembangan kota yang diharapkan bukanlah perkembangan yang sia-sia, melainkan perkembangan kota yang dapat memenuhi kriteria pengembangan kota yang digambarkan oleh Bob Cowherd sebagai Does The Form, Function and Meaning of the City Foster Greater Social Division or a greater common good" *) Penulis adalah pemerhati dari Fakultas Teknik Komputer Universitas Indonesia [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
