http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/29/opini/1511857.htm

 Sabtu, 29 Januari 2005 

Subsidi BBM dan Pengalaman Venezuela

Oleh I Basis Susilo

TULISAN Franz Magnis-Suseno, "Jangan Tunda Pencabutan Subsidi BBM"
(Kompas, 14/1), mengguncang conventional wisdom yang berkembang selama ini 
bahwa pencabutan subsidi BBM lebih merupakan tuntutan kaum neoliberalis 
penganjur mekanisme pasar bebas dan pasti akan menyengsarakan masyarakat 
sehingga pemerintah selalu merasa terpaksa dan amat hati-hati tiap kali harus 
memutuskan kenaikan harga BBM.

Tulisan itu tentu melegakan eksekutif karena merupakan dukungan moral dari 
tokoh terkemuka dari massa kritis Indonesia. Namun, meski menganjurkan 
pencabutan subsidi bahan bakar minyak (BBM), tulisan itu jelas bukan didasari 
semangat neoliberalisme karena pada dasarnya ia tidak antisubsidi. Tulisan itu 
menganjurkan subsidi BBM dialihkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang 
lebih strategis, khususnya kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan, dengan 
menggratiskan biaya pendidikan dasar selama sembilan tahun dan membiayai 
sebagian besar fundamental asuransi kesehatan dasar.

Memang, masyarakat membutuhkan kebijakan populis yang memenuhi kebutuhan 
pendidikan dan kesehatan, tetapi pemerintah tetap harus hati-hati menaikkan 
harga BBM karena yang dirugikan tidak hanya kaum miskin, tetapi lebih banyak 
justru kelas menengah dan atas. Pemerintah perlu lebih serius, total, dan siap 
"tahan banting" jika mau menyubsidi kebutuhan dasar masyarakat di bidang 
pendidikan dan kesehatan. Pengalaman Hugo Ch�vez di Venezuela memberi harapan 
dan semangat, sekaligus peringatan bahwa misi kemanusiaan itu tidak semudah 
diucapkan.

SAYA mengalami dan menyaksikan betapa banyak keluarga kian hari kian sulit 
memenuhi dua kebutuhan dasar mereka: pendidikan dan kesehatan. Kini makin 
banyak keluarga Indonesia mengalami kesulitan tiap kali berurusan dengan 
kebutuhan pendidikan, serta seperti mengalami "gempa" dan "tsunami" tiap kali 
berurusan dengan rumah sakit.

Setiap tahun ajaran baru, banyak keluarga mengalami kesulitan. Yang anaknya 
naik kelas, orangtua harus menyiapkan dana untuk buku-buku baru. Yang anaknya 
mau masuk sekolah baru, orangtua harus pontang-panting mencari sekolah yang 
tepat untuk anaknya dan menyediakan dana tidak sedikit untuk ukuran pengeluaran 
keluarga. Apalagi jika anaknya mau masuk perguruan tinggi, kesulitan 
menjadi-jadi karena perguruan tinggi negeri kian membatasi jumlah calon 
mahasiswa reguler, tetapi kian meningkatkan jumlah calon mahasiswa yang mau 
bayar lebih mahal.

Bila salah satu anggota keluarga sakit dan harus dirawat di rumah sakit, 
keluarga akan amat kesulitan memenuhi biayanya. Yang tidak sakit bisa ikut 
"sakit" karena panik mencari jalan bagaimana membayar tagihan rumah sakit. 
Mencari pinjaman, menjual apa yang bisa dijual karena polis asuransi kesehatan 
yang dipegang tidak bisa menjamin.

Bila pegawai golongan IV pun kesulitan menutup biaya kesehatan, bagaimana 
dengan keluarga kelas bawah? Soal pendidikan dan kesehatan mungkin bukan lagi 
"gempa", tetapi "tsunami" bagi keluarga mereka. Bisa dipahami bila Wardah 
Hafidz memilih pencabutan subsidi BBM asal dialihkan untuk pendidikan.

PROTES dan kerusuhan massal selalu mengiringi tiap pengumuman kenaikan harga 
BBM. Menurut Juha Y Auvinen, IMF intervention and political protest in the 
Third World: a conventional wisdom refined, dalam Third World Quarterly (No 3, 
1996), di semua negara yang mengikuti anjuran IMF untuk mengurangi subsidi 
bahan pokok, tiap pengumuman kenaikan harga selalu menuai protes keras dari 
masyarakat, terutama di perkotaan, karena kenaikan harga bahan pokok menghantam 
kehidupan kaum miskin perkotaan (urban poor). Menurutnya, persoalan bukan 
terletak pada kenaikan harga BBM, tetapi lebih pada bangunan sosial-politik 
masyarakatnya, apakah mampu menahan "gempa" sosial-politik akibat kenaikan 
harga BBM atau tidak.

Pendapat Auvinen bahwa korban paling berat kenaikan harga BBM adalah urban 
poor, justru menyesatkan. Benar kaum miskin perkotaan mengalami hantaman paling 
kuat tiap ada kenaikan harga BBM, tetapi karena pada dasarnya kaum ini tidak 
berdaya secara sosial-politik (powerless), sulit membayangkan keresahan dan 
protes mereka menimbulkan "gempa" sosial-politik.

Sebenarnya yang merasa dirugikan justru kaum menengah dan atas perkotaan (urban 
rich) karena semakin kaya seseorang kian diuntungkan subsidi BBM. Kelas 
menengah dan atas itulah yang berkepentingan dan gencar menolak pencabutan 
subsidi BBM. Karena mereka mempunyai kekuatan politik, mereka bisa merekayasa 
penolakan dan protes-termasuk mengatasnamakan dan menggunakan kaum miskin 
perkotaan-sehingga menjadi "gempa" sosial-politik yang berarti bagi, dan 
ditakuti pemerintah.

Jika kepentingan kelas menengah dan atas tidak diperhitungkan, pengumuman 
kenaikan harga BBM bisa menjadi lebih rumit. Komplikasi bisa makin berat jika 
kekuatan politik tidak solid dan dukungan politik kurang memadai.

MISI mengangkat harkat kehidupan rakyat lewat subsidi pendidikan dan kesehatan 
sedang dilakukan Hugo Ch�vez di Venezuela. Secara sistematis, Ch�vez 
menjalankan misi kemanusiaan dengan menggratiskan biaya pendidikan dan 
kesehatan. Chavez menganggarkan 30 persen anggaran investasi Petr�leos de 
Venezuela (Pertamina-nya Venezuela) untuk proyek-proyek sosial. Tahun ini 
anggaran proyek mencapai 2 miliar dollar AS (sekitar Rp 19 triliun), angka 
besar bagi negeri berpenduduk 24 juta jiwa itu.

Bagi rakyat biasa, kebijakan Ch�vez itu amat menyentuh kebutuhan paling utama 
mereka. Selain itu, Ch�vez bicara bahasa yang bisa dimengerti orang-orang 
miskin. Ch�vez satu-satunya presiden yang pernah mengunjungi daerah-daerah 
kumuh. Psikologi rakyat yang miskin dibuat percaya bahwa Ch�vez "diutus Tuhan" 
dan satu-satunya harapan dan penyelamat bagi yang miskin.

Karena itu, meski statistik menunjukkan jumlah yang miskin bertambah dan angka 
pengangguran meningkat, rakyat miskin tetap menggantungkan harapannya pada 
Ch�vez. Rahasianya sederhana, rakyat tidak menilai apa yang dihasilkan, tetapi 
merasakan betapa kekuasaan dan kepemimpinan secara otentik hadir, menyapa, dan 
solider terhadap kehidupan nyata rakyat miskin.

Namun, pilihan Ch�vez itu merugikan kelas menengah dan atas sehingga 
memunculkan oposisi kuat dari mereka. Massa kritis negeri itu menilai, misi 
kerakyatan terlalu mahal dan akan membangkrutkan keuangan negara, terutama jika 
harga minyak jatuh. Kaum oposisi juga melancarkan gelombang protes melalui 
demonstrasi dan pemogokan sejak Ch�vez berkuasa. Oposisi didukung pekerja 
Petr�leos, karyawan bank, dan white-collar. Bentrok fisik pun mewarnai aksi 
mereka. Bahkan, didukung Amerika Serikat, oposisi melakukan kudeta 
(12/04/2002), lalu referendum (15/8/2004), meski keduanya gagal.

"Gempa" demi "gempa" sosial-politik yang dihadapi pemerintah Ch�vez bisa 
dihadapi karena negeri itu relatif kecil dan homogen (ketimbang Indonesia) 
sehingga komplikasi masalah tidak terjadi.

PENCABUTAN subsidi BBM memang merupakan tanggung jawab moral asal disertai 
kebijakan yang nyata mengalihkan subsidi untuk kebutuhan masyarakat paling riil 
selama ini: pendidikan dan kesehatan. Merealisasi subsidi kemanusiaan tidak 
bisa hanya untuk kepentingan kepopuleran sesaat. Ia harus didasari dan terus 
didukung semangat, keberanian, dan kekuatan politik guna menggerakkan misi 
kemanusiaan, menahan kritik, dan protes dari massa kritis yang bisa berlangsung 
lama dan didukung kepentingan neoliberalis dari dalam dan luar negeri.

Indonesia jauh lebih besar dan kompleks daripada Venezuela sehingga lebih 
rentan terhadap "gempa" sosial-politik. Karena itu, hanya pemimpin yang 
berkualitas dan berintegritas tinggi untuk membela masyarakat miskin yang mau 
dan mampu melakukan dengan berani dan tanpa kenal lelah. Pertanyaan, apakah 
kepemimpinan sekarang punya kualitas dan integritas semacam itu?

I Basis Susilo Dosen Ilmu Hubungan Internasional FISIP Unair


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke