Emha kenapa jadi begini bangsa???

Saya menduga gara-gara Kiai untung... untung lagi diatas ... untung 
lagi berkuasa... untung lagi menjabat , maka apapun upeti sikattt!!

Untung = mumpung...

Kiai Hoki suka judi... untung lagi banyak duit , segera spekulasi, 
untung lagi hoki jadinya serakah....

Gimana dgn kita-kita ntar kalo berhasil diatas??? apa tetap pake ilmu 
aji mumpung!!!


Sang





--- In [email protected], radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki 
> Oleh: Emha Ainun Nadjib
> 
> ADA kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang kaya. Ada 
kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang saleh.
> 
> Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua orang adalah 
rakyat, tetapi kalau ada penguasa, maka yang dimaksud dengan rakyat 
tentu mereka yang dikuasai. Rakyat adalah yang miskin, rakyat adalah 
yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum saleh.
> 
> Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis, rakyat selalu adalah 
pihak yang diatur pihak yang berkuasa. Kenyataan ini punya peluang 
amat besar untuk bertentangan dengan asas hakiki demokrasi, serta 
amat mencurigakan dipandang dari rasionalitas dan proporsi manajemen
> kenegaraan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak untuk 
menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat adalah 
wilayah terapan hukum.
> 
> Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana pembangunan 
di hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak yang disebut 
harus
> dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, dientaskan dari 
kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan.
> 
> PANDANGAN ini amat laknat terhadap kenyataan bahwa sebenarnya 
rakyat adalah pemilik kekayaan amat melimpah dari tanah rahmat Tuhan 
bernama Republik Indonesia. Namun, kekayaan rakyat itu dijadikan 
langganan perampokan oleh tiap penguasa. Dan setiap penguasa selalu 
tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang akan melakukan 
perubahan dari kondisi miskin rakyat menuju tidak miskin.
> 
> Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia, rakyat 
Indonesia memang rata-rata miskin, namun kenyataannya rakyat adalah
> pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfer kejahatan 
negaranya sehingga aneka upaya berekonomi kerakyatan itulah yang
> berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan total.
> 
> Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan stabilitas 
kesejahteraan rakyat, menikusi administrasi keuangan negara milik
> rakyat, mencuri dengan berjemaah dan dengan modus-modus yang makin 
tidak kasatmata. Namun, ubet ekonomi rakyat, "budaya kaki lima" yang
> cair dan longgar, menciptakan semacam "pernapasan dalam" yang 
membuat rakyat terus survive meski hampir tak ada suplai udara dari 
negara.
> 
> Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, para 
penjahat penunggang negara melakukan penipuan, penilapan dan pencurian
> besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan manajemennya 
kepada negara. Namun, ribuan kali pula rakyat sukses mempertahankan 
diri
> mereka dari kebangkrutan total.
> 
> Meski demikian, siapa pun yang sedang berpamrih ingin berkuasa dan 
ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan kemantapan dan
> keangkuhan luar biasa, menyatakan akan dan sedang menyelamatkan 
rakyat dari kebangkrutan.
> 
> KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak ada subyek yang 
lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan penyandang 
> kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, karena 
setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya bukan rakyat 
lagi.
> 
> Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya sebagai 
orang pandai, merancang diri untuk melakukan pemandaian atas rakyat. 
> Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan kebodohan rakyat. 
Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja nyata. Kaum
> intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak kesempitan 
wawasan rakyat. Duta-duta informasi dan komunikasi menabur ilmu dan 
pengetahuan agar rakyat melek dunia.
> 
> Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak anggapan 
diam-diam di dalam dirinya, mulai hari itu ia melangkah meninggalkan
> kebodohan rakyat yang kemarin masih jadi bagian darinya. Kapan ada 
rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai pelaku 
> utama. Sebab, agent of change mustahil pelakunya adalah rakyat.
> 
> DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling menyakitkan hati, 
yang mungkin Tuhan pun tidak rela: adalah tradisi kesombongan orang 
saleh.
> 
> Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah yang 
paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam rakyat 
diulamai, pagi mereka dipastori, siang mereka dipendetai, sore mereka 
dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan rakyat adalah 
siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari bagaimana 
menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung derita yang tingkat 
keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.
> 
> Jika Quran menyebut "berimanlah kepada Allah", yang dituju adalah 
rakyat, bukan ustadz atau ulama. "Wahai orang-orang kafir"-itu 
kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiai. "Dekatkanlah dirimu 
kepada orang saleh"- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat
> mendekat-dekat kepada ustadz, bukan ustadz mendekat-dekat dan 
belajar kepada umat.
> 
> Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, namun dengan
> parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya  
ditertawakan dan ditinggalkan rakyat yang memiliki feeling dan jenis 
pengetahuan sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, siapa ustadz 
siapa  bakul pasar.
> 
> ADA semacam feodalisme naluriah dalam psikologi kita, mungkin karena
> tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai yang tak
> pernah usai dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan kita. Kalau
> mendengar kata "rakyat", tanpa sengaja langsung ada perasaan look 
> down dan menemukan yang bernama rakyat itu ada di dasar jurang dari 
peta
> nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan kebudayaan.
> 
> Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan "kasta" itu tidak menjadi
> kikis misalnya oleh pengalaman intelektual atau kesadaran demokrasi
> atau egalitarianisme. Misalnya, rakyat "yang paling rakyat" adalah
> pembantu rumah tangga. Tak sedikit contoh bagaimana seorang profesor
> doktor, pejabat tinggi, atau ulama memperlakukan pembantu rumah
> benar-benar sebagai "pembantu rumah tangga" yang hampir berkonsep
> mirip perbudakan. Rumah tangga awam terbukti bisa lebih egaliter,
> santai, dan demokratis kepada pembantu rumah tangga.
> 
> Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan pendidikan
> masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. Makin tinggi
> tingkat pendidikan seseorang, makin menumbuhkan perasaan lebih 
> unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. Dunia 
pendidikan tidak
> punya concern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, kerendahan
> hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi kebudayaan.
> 
> KARENA kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, umpamanya, "rakyat
> yang paling rakyat" lainnya, kita pandang sebagai faktor noda dan
> kehinaan sebagai bangsa. TKW dijadikan suku cadang utama kalimat
> penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan hati yang
> merasa nyaman dan puas: negeri lain mengekspor produk-produk 
> teknologi bergengsi peradaban tinggi, sementara negara kita 
mengekspor TKI-TKW.
> 
> Dan, kita tidak melakukan apa pun yang lain kecuali menghina dan
> merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak menolong mereka,
> tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang menimpa 
> mereka. Sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang- kurangnya ada 
tiga juta
> kasus TKI-TKW di luar negeri tanpa satu pun pernah dibereskan pihak
> yang berwajib dan digaji untuk pekerjaan menangani nasib TKI-TKW.
> 
> Pekerjaan kita hanya menghina sambil pada saat bersamaan 
> memanfaatkan mereka di rumah tangga kita masing-masing. Kehidupan 
sehari-hari 
> rumah tangga kita amat bergantung pada mereka, upah yang dibayarkan 
kepada
> mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk penghidupan 
> manusia, plus bonus penghinaan dalam hati, cara berpikir dan 
tradisi perilaku
> budaya kita atas mereka.
> 
> Dengan begitu, kita adalah serendah-rendahnya dan sehina-hinanya
> manusia sehingga karena itu pula kita memiliki keperluan untuk
> menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, 
semakintinggi kebutuhannya untuk memperhinakan sesamanya. Memang 
secara psikologis demikian itulah formula survival kejiwaannya.
> 
> Bahkan kalau mereka pulang ke Tanah Air, sudah disiapkan lembaga dan
> birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. Pertama,
> menyiapkan terminal dan gate khusus untuk memperhinakan mereka. 
> Kedua, kebijakan memperhinakan diri sendiri dengan cara memeras 
uang jerih
> payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri orang.
> 
> Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap. Resmi 
> maupun liar. Dan, puncak kehinaan kita adalah memperlakukan para 
koruptor
> keluar masuk bandara sebagai raja, sementara TKI-TKW yang balik
> kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan besar kepada
> devisa negara justru kita injak-injak martabatnya.
> 
> BANGSA yang hina melahirkan generasi demi generasi hina, memilih dan
> menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus dan menggaji
> perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan mempekerjakan
> orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan anak-anak 
> terhina itu sambil terus memelihara di hati dan otak hinaan-hinaan 
atas
> mereka.
> 
> Pada kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak sejarah yang kita
> TKITKW-kan sepanjang masa. Rakyat adalah TKI-TKW di genggaman 
tangan dan di bawah injakan kaki para pemegang tongkat sejarah, baik 
> tongkat kekuasaan politik, modal, wacana, dan informasi. Rakyat 
yang ditipu
> terus-menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang dipecundangi dari
> periode ke periode. Yang namanya disebut, dikomoditaskan,
> diatasnamakan oleh setiap yang sedang berkepentingan untuk menguasai
> mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu kekuasaan 
> itu tergenggam di tangannya.
> 
> Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang kemuliaan 
posisinya
> dipakai sebagai mahkota kekuasaan, namun dalam praktik pundak mereka
> ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka dibenamkan ke bagian
> bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan pidato-pidato 
demokrasi.
> 
> Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan: yaitu dikempongi 
oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin rampal sehingga 
mulut kedaulatannya kempong. Rakyat yang bisa dipukuli kapan saja, 
dikelabui pagi hari diakali sore hari, dininabobo siang hari dicuri 
miliknya malam hari.
> 
> RAKYAT yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang memakai merah 
darah mereka sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi sehingga akhirnya 
tidak lagi mengenal kebodohan. Rakyat yang terus-menerus dan terlalu 
lama dihina sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina tanpa tersisa 
sedikitpun kesadaran dan pengetahuan bahwa mereka hina.
> 
> Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemuliaan di dalam
> kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekadar bermain sepak 
bola kalau kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang salah 
menemukan sebabnya kenapa menang.
> 
> Visi, wawasan, ilmu, identifikasi, dan pemetaan nilai-nilai dan 
realitas telah menjadi suatu jenis seni rupa impresionis instan. 
Kehidupan intelektual yang menjadi muatan utama komunikasi dan 
informasi sudah mengalami aneka pecahan, pengepingan-pengepingan, 
syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam mengomentari 
pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami pergantian 
parameter sampai empat-lima kali, saking tidak mendasar dan tidak 
menentunya prinsip ilmu pertinjuan kita.
> 
> Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan intelektual, politis, 
kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk soal-soal yang 
sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. Mencari ulama, 
yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang ditunggu pelawak.
> Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari pemimpin, 
yang dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang diburu meteor. 
Mencari tokoh, yang disongsong perampok. Plastik diwarnai keemasan, 
emas dijadikan ganjal lemari. Nasi diperlakukan sebagai kerupuk, 
terasi didewakan sebagai makanan utama.
> 
> Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala bidang. Bangsa 
yang memilih langsung presidennya, namun tanpa melewati pijakan 
substansi demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air bah 
informasi tiap hari, namun semakin tidak mengerti apa yang seharusnya 
mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran apakah mereka 
sedang
> maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah dimuliakan, 
apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang atau kalah. 
Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, sebagai 
manusia, sebagai rakyat, atau bangsa.
> 
> Bangsa yang-sesekali-menjalankan hukum, namun tanpa kesadaran dan 
hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi nikmatnya 
berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara wadak sedang 
menjalankan ajaran agama, namun hampir tak terdapat pada perilakunya 
dialektika berpikir agama, tak ada kausalitas mendasar antara input 
dan output nilai agama. Bahkan terdapat diskoneksi ekstrem antara 
praksis kehidupan beragama dengan hakikat Tuhan.
> 
> YANG paling beruntung dalam kehidupan sepanjang ada sejarah umat 
manusia adalah Pemerintah Indonesia. Karena semakin hari rakyatnya 
semakin tidak paham apakah pemerintahnya berhasil atau gagal. Semakin 
tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah mereka dicintai atau tidak 
oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran apakah dari 
pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan semangat 
pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses penghancuran.
> 
> Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur pemerintahan negeri 
ini adalah "Kiai Bejo", "Kiai Untung" atau "Kiai Hoki". Orang yang 
mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah satu pemeo 
membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, orang pandai 
kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh orang kaya, 
orang kaya kalah oleh orang bejo.
> 
> Setiap Pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam konstelasi pemeo 
itu,sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya, dan bejo.
> 
> * Budayawan
> 
> Kompas - Kamis, 17 Februari 2005 
> 
> 
> 
> 
> Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke