Elllho, jadi bangsaku kayak gini tho ??
Saya kira bangsaku bangsa yang suci, paling bertaqwa 
sedunia.
Ndak punya dosa, selalu dirahmati Tuhan ( tiap tahun panen
banjir dan bencana dan anugerah gelar negara terkorup ).

Ini pasti rekayasa CIA ! Jangan2 si MH agen CIA nih !


ws




On Thu, 17 Feb 2005 11:11:50 -0000
  "Sang" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Emha kenapa jadi begini bangsa???
> 
> Saya menduga gara-gara Kiai untung... untung lagi diatas 
>... untung 
> lagi berkuasa... untung lagi menjabat , maka apapun 
>upeti sikattt!!
> 
> Untung = mumpung...
> 
> Kiai Hoki suka judi... untung lagi banyak duit , segera 
>spekulasi, 
> untung lagi hoki jadinya serakah....
> 
> Gimana dgn kita-kita ntar kalo berhasil diatas??? apa 
>tetap pake ilmu 
> aji mumpung!!!
> 
> 
> Sang
> 
> 
> 
> 
> 
> --- In [email protected], radityo djadjoeri 
><[EMAIL PROTECTED]> 
> wrote:
>> Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki 
>> Oleh: Emha Ainun Nadjib
>> 
>> ADA kesombongan orang berkuasa. Ada kesombongan orang 
>>kaya. Ada 
> kesombongan orang pandai. Juga ada kesombongan orang 
>saleh.
>> 
>> Kita awali dengan suatu identifikasi elementer. Semua 
>>orang adalah 
> rakyat, tetapi kalau ada penguasa, maka yang dimaksud 
>dengan rakyat 
> tentu mereka yang dikuasai. Rakyat adalah yang miskin, 
>rakyat adalah 
> yang bodoh, dan rakyat adalah yang selalu belum saleh.
>> 
>> Identifikasi yang lebih ke tingkat praksis, rakyat 
>>selalu adalah 
> pihak yang diatur pihak yang berkuasa. Kenyataan ini 
>punya peluang 
> amat besar untuk bertentangan dengan asas hakiki 
>demokrasi, serta 
> amat mencurigakan dipandang dari rasionalitas dan 
>proporsi manajemen
>> kenegaraan dan kebangsaan. Seorang polisi bisa terjebak 
>>untuk 
> menganggap dirinya adalah penggenggam hukum, dan rakyat 
>adalah 
> wilayah terapan hukum.
>> 
>> Kemudian konteks kesombongan orang kaya: dalam wacana 
>>pembangunan 
> di hampir semua kalangan, selalu rakyat adalah pihak 
>yang disebut 
> harus
>> dan sedang diberdayakan dari kelemahan ekonomi, 
>>dientaskan dari 
> kemiskinan, dan diselamatkan dari keterpurukan.
>> 
>> PANDANGAN ini amat laknat terhadap kenyataan bahwa 
>>sebenarnya 
> rakyat adalah pemilik kekayaan amat melimpah dari tanah 
>rahmat Tuhan 
> bernama Republik Indonesia. Namun, kekayaan rakyat itu 
>dijadikan 
> langganan perampokan oleh tiap penguasa. Dan setiap 
>penguasa selalu 
> tidak tahu diri berlagak menjadi pahlawan yang akan 
>melakukan 
> perubahan dari kondisi miskin rakyat menuju tidak 
>miskin.
>> 
>> Menurut parameter teknis statistik perekonomian dunia, 
>>rakyat 
> Indonesia memang rata-rata miskin, namun kenyataannya 
>rakyat adalah
>> pengupaya ekonomi yang luar biasa di bawah atmosfer 
>>kejahatan 
> negaranya sehingga aneka upaya berekonomi kerakyatan 
>itulah yang
>> berjasa mempertahankan negeri ini dari kebangkrutan 
>>total.
>> 
>> Kegiatan utama kebanyakan pejabat adalah mengacaukan 
>>stabilitas 
> kesejahteraan rakyat, menikusi administrasi keuangan 
>negara milik
>> rakyat, mencuri dengan berjemaah dan dengan modus-modus 
>>yang makin 
> tidak kasatmata. Namun, ubet ekonomi rakyat, "budaya 
>kaki lima" yang
>> cair dan longgar, menciptakan semacam "pernapasan dalam" 
>>yang 
> membuat rakyat terus survive meski hampir tak ada suplai 
>udara dari 
> negara.
>> 
>> Puluhan kali, bahkan mungkin ratusan atau ribuan kali, 
>>para 
> penjahat penunggang negara melakukan penipuan, penilapan 
>dan pencurian
>> besar-besaran atas harta rakyat yang diamanatkan 
>>manajemennya 
> kepada negara. Namun, ribuan kali pula rakyat sukses 
>mempertahankan 
> diri
>> mereka dari kebangkrutan total.
>> 
>> Meski demikian, siapa pun yang sedang berpamrih ingin 
>>berkuasa dan 
> ketika kemudian benar-benar berkuasa: selalu dengan 
>kemantapan dan
>> keangkuhan luar biasa, menyatakan akan dan sedang 
>>menyelamatkan 
> rakyat dari kebangkrutan.
>> 
>> KEMUDIAN konteks kesombongan orang pandai. Tak ada 
>>subyek yang 
> lebih nyata yang selalu diasosiasikan sebagai golongan 
>penyandang 
>> kebodohan, melebihi rakyat. Rakyat adalah orang bodoh, 
>>karena 
> setiap kali orang menjadi pandai, ia menjumpai dirinya 
>bukan rakyat 
> lagi.
>> 
>> Hampir setiap orang yang diam-diam menggolongkan dirinya 
>>sebagai 
> orang pandai, merancang diri untuk melakukan pemandaian 
>atas rakyat. 
>> Pejabat memberi penerangan terhadap kegelapan dan 
>>kebodohan rakyat. 
> Calon-calon sarjana mengajari rakyat selama kuliah kerja 
>nyata. Kaum
>> intelektual menyebar aneka wacana untuk mendobrak 
>>kesempitan 
> wawasan rakyat. Duta-duta informasi dan komunikasi 
>menabur ilmu dan 
> pengetahuan agar rakyat melek dunia.
>> 
>> Bahkan mahasiswa masuk kuliah hari pertama bisa terjebak 
>>anggapan 
> diam-diam di dalam dirinya, mulai hari itu ia melangkah 
>meninggalkan
>> kebodohan rakyat yang kemarin masih jadi bagian darinya. 
>>Kapan ada 
> rezim tumbang, harus mahasiswa yang direkognasi sebagai 
>pelaku 
>> utama. Sebab, agent of change mustahil pelakunya adalah 
>>rakyat.
>> 
>> DAN akhirnya yang paling khianat, yang paling 
>>menyakitkan hati, 
> yang mungkin Tuhan pun tidak rela: adalah tradisi 
>kesombongan orang 
> saleh.
>> 
>> Rakyat dikasih pengajian tiap hari seakan-akan rakyatlah 
>>yang 
> paling jahat hatinya dan paling kotor hidupnya. Malam 
>rakyat 
> diulamai, pagi mereka dipastori, siang mereka 
>dipendetai, sore mereka 
> dibegawani. Rakyat dibimbing agar beriman seakan-akan 
>rakyat adalah 
> siswa-siswi taman kanak-kanak. Rakyat disantuni, diajari 
>bagaimana 
> menata kalbu, padahal tak ada pakar penanggung derita 
>yang tingkat 
> keahlian dan kemampuannya melebihi rakyat.
>> 
>> Jika Quran menyebut "berimanlah kepada Allah", yang 
>>dituju adalah 
> rakyat, bukan ustadz atau ulama. "Wahai orang-orang 
>kafir"-itu 
> kemungkinan besar rakyat, mustahil Pak Kiai. 
>"Dekatkanlah dirimu 
> kepada orang saleh"- maksud Tuhan tentu hendaknya rakyat
>> mendekat-dekat kepada ustadz, bukan ustadz 
>>mendekat-dekat dan 
> belajar kepada umat.
>> 
>> Bahkan dai, mubalig, ustadz, ulama, dijunjung-junjung, 
>>namun dengan
>> parameter industri dan ukuran feodalisme, untuk akhirnya 
>> 
> ditertawakan dan ditinggalkan rakyat yang memiliki 
>feeling dan jenis 
> pengetahuan sendiri tentang siapa ulama siapa pencoleng, 
>siapa ustadz 
> siapa  bakul pasar.
>> 
>> ADA semacam feodalisme naluriah dalam psikologi kita, 
>>mungkin karena
>> tak pernah sembuh dari trauma penjajahan fisik dan nilai 
>>yang tak
>> pernah usai dalam kehidupan kebangsaan dan kemanusiaan 
>>kita. Kalau
>> mendengar kata "rakyat", tanpa sengaja langsung ada 
>>perasaan look 
>> down dan menemukan yang bernama rakyat itu ada di dasar 
>>jurang dari 
> peta
>> nilai yang kita kenal tentang kemanusiaan dan 
>>kebudayaan.
>> 
>> Saya menduga naluri feodalisme, kelas dan "kasta" itu 
>>tidak menjadi
>> kikis misalnya oleh pengalaman intelektual atau 
>>kesadaran demokrasi
>> atau egalitarianisme. Misalnya, rakyat "yang paling 
>>rakyat" adalah
>> pembantu rumah tangga. Tak sedikit contoh bagaimana 
>>seorang profesor
>> doktor, pejabat tinggi, atau ulama memperlakukan 
>>pembantu rumah
>> benar-benar sebagai "pembantu rumah tangga" yang hampir 
>>berkonsep
>> mirip perbudakan. Rumah tangga awam terbukti bisa lebih 
>>egaliter,
>> santai, dan demokratis kepada pembantu rumah tangga.
>> 
>> Salah satu latar belakangnya mungkin karena peningkatan 
>>pendidikan
>> masih tidak mandiri dari stratifikasi kelas budaya. 
>>Makin tinggi
>> tingkat pendidikan seseorang, makin menumbuhkan perasaan 
>>lebih 
>> unggul dan lebih tinggi derajatnya sebagai manusia. 
>>Dunia 
> pendidikan tidak
>> punya concern mendasar terhadap nilai kedewasaan sosial, 
>>kerendahan
>> hati kemanusiaan, kematangan jiwa atau demokrasi 
>>kebudayaan.
>> 
>> KARENA kecurangan feodal juga kemudian: TKI-TKW, 
>>umpamanya, "rakyat
>> yang paling rakyat" lainnya, kita pandang sebagai faktor 
>>noda dan
>> kehinaan sebagai bangsa. TKW dijadikan suku cadang utama 
>>kalimat
>> penghinaan atas diri kita sendiri. Kita nyeletuk dengan 
>>hati yang
>> merasa nyaman dan puas: negeri lain mengekspor 
>>produk-produk 
>> teknologi bergengsi peradaban tinggi, sementara negara 
>>kita 
> mengekspor TKI-TKW.
>> 
>> Dan, kita tidak melakukan apa pun yang lain kecuali 
>>menghina dan
>> merendahkan TKI-TKW, anak-anak kita sendiri. Tidak 
>>menolong mereka,
>> tidak membela mereka dalam kasus-kasus mengerikan yang 
>>menimpa 
>> mereka. Sebuah LSM di Jakarta melaporkan sekurang- 
>>kurangnya ada 
> tiga juta
>> kasus TKI-TKW di luar negeri tanpa satu pun pernah 
>>dibereskan pihak
>> yang berwajib dan digaji untuk pekerjaan menangani nasib 
>>TKI-TKW.
>> 
>> Pekerjaan kita hanya menghina sambil pada saat bersamaan 
>> memanfaatkan mereka di rumah tangga kita masing-masing. 
>>Kehidupan 
> sehari-hari 
>> rumah tangga kita amat bergantung pada mereka, upah yang 
>>dibayarkan 
> kepada
>> mereka adalah jumlah gaji yang tidak pantas untuk 
>>penghidupan 
>> manusia, plus bonus penghinaan dalam hati, cara berpikir 
>>dan 
> tradisi perilaku
>> budaya kita atas mereka.
>> 
>> Dengan begitu, kita adalah serendah-rendahnya dan 
>>sehina-hinanya
>> manusia sehingga karena itu pula kita memiliki keperluan 
>>untuk
>> menghina mereka. Semakin hina dan rendah jiwa seseorang, 
> semakintinggi kebutuhannya untuk memperhinakan 
>sesamanya. Memang 
> secara psikologis demikian itulah formula survival 
>kejiwaannya.
>> 
>> Bahkan kalau mereka pulang ke Tanah Air, sudah disiapkan 
>>lembaga dan
>> birokrasi yang khusus melakukan dua pekerjaan hina. 
>>Pertama,
>> menyiapkan terminal dan gate khusus untuk memperhinakan 
>>mereka. 
>> Kedua, kebijakan memperhinakan diri sendiri dengan cara 
>>memeras 
> uang jerih
>> payah mereka bekerja hina bertahun-tahun di negeri 
>>orang.
>> 
>> Pemerasan itu berlangsung eskalatif dari tahap ke tahap. 
>>Resmi 
>> maupun liar. Dan, puncak kehinaan kita adalah 
>>memperlakukan para 
> koruptor
>> keluar masuk bandara sebagai raja, sementara TKI-TKW 
>>yang balik
>> kampung menguras uang dari luar negeri untuk sumbangan 
>>besar kepada
>> devisa negara justru kita injak-injak martabatnya.
>> 
>> BANGSA yang hina melahirkan generasi demi generasi hina, 
>>memilih dan
>> menjunjung presiden dan menteri-menteri hina, mengutus 
>>dan menggaji
>> perwakilan-perwakilan hina, sambil menyusu dan 
>>mempekerjakan
>> orang-orang yang dihina, menikmati kerja dan makanan 
>>anak-anak 
>> terhina itu sambil terus memelihara di hati dan otak 
>>hinaan-hinaan 
> atas
>> mereka.
>> 
>> Pada kenyataan hakikinya, rakyat adalah Ibu Bapak 
>>sejarah yang kita
>> TKITKW-kan sepanjang masa. Rakyat adalah TKI-TKW di 
>>genggaman 
> tangan dan di bawah injakan kaki para pemegang tongkat 
>sejarah, baik 
>> tongkat kekuasaan politik, modal, wacana, dan informasi. 
>>Rakyat 
> yang ditipu
>> terus-menerus. Yang dibodohi dari era ke era. Yang 
>>dipecundangi dari
>> periode ke periode. Yang namanya disebut, 
>>dikomoditaskan,
>> diatasnamakan oleh setiap yang sedang berkepentingan 
>>untuk menguasai
>> mereka, kemudian melupakan dan melecehkan mereka begitu 
>>kekuasaan 
>> itu tergenggam di tangannya.
>> 
>> Yang tidak pernah digubris hak-hak dasarnya. Yang 
>>kemuliaan 
> posisinya
>> dipakai sebagai mahkota kekuasaan, namun dalam praktik 
>>pundak mereka
>> ditunggangi dan kepala harkat demokrasi mereka 
>>dibenamkan ke bagian
>> bawah rendaman cairan air liur teori-teori dan 
>>pidato-pidato 
> demokrasi.
>> 
>> Rakyat yang hanya punya satu kegiatan kenegaraan: yaitu 
>>dikempongi 
> oleh kekuasaan, gigi-gigi kekuatan sejarahnya dibikin 
>rampal sehingga 
> mulut kedaulatannya kempong. Rakyat yang bisa dipukuli 
>kapan saja, 
> dikelabui pagi hari diakali sore hari, dininabobo siang 
>hari dicuri 
> miliknya malam hari.
>> 
>> RAKYAT yang diperhinakan oleh gaya kepemimpinan yang 
>>memakai merah 
> darah mereka sebagai gincu. Rakyat yang dibodohi 
>sehingga akhirnya 
> tidak lagi mengenal kebodohan. Rakyat yang terus-menerus 
>dan terlalu 
> lama dihina sehingga akhirnya benar-benar menjadi hina 
>tanpa tersisa 
> sedikitpun kesadaran dan pengetahuan bahwa mereka hina.
>> 
>> Jangankan membedakan mana kehinaan mana kemuliaan di 
>>dalam
>> kompleksitas kehidupan berbangsa, sedangkan sekadar 
>>bermain sepak 
> bola kalau kalah tak tahu kenapa kalah dan kalau menang 
>salah 
> menemukan sebabnya kenapa menang.
>> 
>> Visi, wawasan, ilmu, identifikasi, dan pemetaan 
>>nilai-nilai dan 
> realitas telah menjadi suatu jenis seni rupa impresionis 
>instan. 
> Kehidupan intelektual yang menjadi muatan utama 
>komunikasi dan 
> informasi sudah mengalami aneka pecahan, 
>pengepingan-pengepingan, 
> syndrome of disconnected awareness. Bahkan dalam 
>mengomentari 
> pertandingan tinju, dalam satu ronde kita mengalami 
>pergantian 
> parameter sampai empat-lima kali, saking tidak mendasar 
>dan tidak 
> menentunya prinsip ilmu pertinjuan kita.
>> 
>> Bangsa yang sekaligus mengalami ketersesatan 
>>intelektual, politis, 
> kultural, spiritual, bahkan ketersesatan teknis untuk 
>soal-soal yang 
> sangat sederhana. Mencari Tuhan, yang didatangi dukun. 
>Mencari ulama, 
> yang dikejar pedagang. Mencari orang pandai, yang 
>ditunggu pelawak.
>> Mencari soto enak, pergi ke tukang tambal ban. Mencari 
>>pemimpin, 
> yang dijunjung bintang film. Mencari bintang, yang 
>diburu meteor. 
> Mencari tokoh, yang disongsong perampok. Plastik 
>diwarnai keemasan, 
> emas dijadikan ganjal lemari. Nasi diperlakukan sebagai 
>kerupuk, 
> terasi didewakan sebagai makanan utama.
>> 
>> Bangsa yang kehilangan parameter hampir di segala 
>>bidang. Bangsa 
> yang memilih langsung presidennya, namun tanpa melewati 
>pijakan 
> substansi demokrasi. Bangsa yang ditenggelamkan oleh air 
>bah 
> informasi tiap hari, namun semakin tidak mengerti apa 
>yang seharusnya 
> mereka mengerti. Bangsa yang sudah kehilangan ukuran 
>apakah mereka 
> sedang
>> maju atau mundur, apakah mereka sedang dihina ataukah 
>>dimuliakan, 
> apakah mereka pandai atau bodoh, apakah mereka menang 
>atau kalah. 
> Bangsa yang peta identifikasi dirinya makin terhapus, 
>sebagai 
> manusia, sebagai rakyat, atau bangsa.
>> 
>> Bangsa yang-sesekali-menjalankan hukum, namun tanpa 
>>kesadaran dan 
> hikmah hukum, tanpa kesanggupan untuk mengapresiasi 
>nikmatnya 
> berkebudayaan hukum. Bangsa yang sangat tampak secara 
>wadak sedang 
> menjalankan ajaran agama, namun hampir tak terdapat pada 
>perilakunya 
> dialektika berpikir agama, tak ada kausalitas mendasar 
>antara input 
> dan output nilai agama. Bahkan terdapat diskoneksi 
>ekstrem antara 
> praksis kehidupan beragama dengan hakikat Tuhan.
>> 
>> YANG paling beruntung dalam kehidupan sepanjang ada 
>>sejarah umat 
> manusia adalah Pemerintah Indonesia. Karena semakin hari 
>rakyatnya 
> semakin tidak paham apakah pemerintahnya berhasil atau 
>gagal. Semakin 
> tidak memiliki kepekaan dan sasmita apakah mereka 
>dicintai atau tidak 
> oleh pemerintahnya. Semakin kehilangan ukuran apakah 
>dari 
> pemerintahnya mereka sedang memperoleh kesetiaan dan 
>semangat 
> pengabdian, ataukah pengkhianatan dan proses-proses 
>penghancuran.
>> 
>> Sungguh siapa saja yang duduk dalam struktur 
>>pemerintahan negeri 
> ini adalah "Kiai Bejo", "Kiai Untung" atau "Kiai Hoki". 
>Orang yang 
> mendapatkan keuntungan meskipun tanpa bekerja. Salah 
>satu pemeo 
> membuat rumus: orang bodoh kalah oleh orang pandai, 
>orang pandai 
> kalah oleh orang berkuasa, orang berkuasa kalah oleh 
>orang kaya, 
> orang kaya kalah oleh orang bejo.
>> 
>> Setiap Pemerintah Indonesia tidak terlibat dalam 
>>konstelasi pemeo 
> itu,sebab mereka sekaligus pandai, berkuasa, kaya, dan 
>bejo.
>> 
>> * Budayawan
>> 
>> Kompas - Kamis, 17 Februari 2005 
>> 
>> 
>> 
>> 
>> Ungkapkan opini Anda di: http://mediacare.blogspot.com
>>              
>> ---------------------------------
>> Do you Yahoo!?
>>  Yahoo! Search presents - Jib Jab's 'Second Term'
>> 
>> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> 
> 
> ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor 
> 
> Post message: [EMAIL PROTECTED]
> Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
> Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
> List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
> Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 

========================================================================================
Akses Internet TELKOMNet-Instan beri Diskon s.d. 50 % khusus untuk wilayah Jawa 
Timur.
Informasi selengkapnya di www.telkomnetinstan.com atau hub 0800-1-INSTAN 
(467826)
========================================================================================
 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke