(Tulisan ini juga disajikan dalam website

http://perso.club-internet.fr/kontak/  )





                            JOESOEF ISAK TENTANG UMAR SAID,

                            PWAA DAN ROSIHAN ANWAR



 .

 Berikut di bawah ini adalah cuplikan dari pembicaraan Joesoef Isak pada
peluncuran buku �Perjalanan Hidup Saya� yang dilakukan pada tanggal 1
Februari 2005 di Teater Utan Kayu (Jakarta). Adalah hal yang wajar bahwa
wartawan senior Joesoef Isak, yang juga pendiri badan penerbitan terkenal
Hasta Mitra, hadir dan bahkan menjadi pembicara utama dalam peluncuran buku
itu. Sebab, Joesoef Isak adalah teman karib yang lama A. Umar Said, dan
antara keduanya sudah lama terjalin hubungan seperjuangan, baik dalam bidang
pers dan kewartawanan, maupun dalam berbagai bidang lainnya



Di depan hadirin Joesoef Isak telah memaparkan pandangannya tentang sebagian
sejarah hidup A. Umar Said dan keluarganya, tentang kegiatan di PWI Pusat,
tentang lahirnya KWAA (Konferensi Wartawan Asia Afrika). Pada kesempatan ini
ia telah banyak berbicara tentang pentingnya peran PWAA yang dimainkan pada
waktu itu.



Menurut Joesoef Isak, Umar Said yang menjadi bendahara KWAA dan PWAA
merangkap bendahara PWI Pusat mempunyai kelebihan dari wartawan-wartawan
Indonesia pada waktu itu. Dalam pandangannya, �kelebihan Umar Said dari
rekan-rekannya yang lain yalah bahwa ia tidak hanya mempunyai perhatian
kepada soal-soal politik dan kewartawanan, tetapi juga pada masalah-masalah
keuangan dan administrasi. Dalam hal ini ia hebat. Itu sebabnya, tugas-tugas
administrasi dan keuangan selalu jatuh kepadanya�, katanya.



Ia boleh bangga bahwa budget yang begitu besar untuk penyelenggaraan
Konferensi Wartawan Asia Afrika iitu, seluruhnya telah di-audit oleh akuntan
publik dan dinyatakan dikelola secara baik





SEJARAH KWAA DAN PWAA



Tentang sejarah lahirnya KWAA (dan kemudian PWAA), Joesoef Isak menjelaskan
bahwa gagasan mengadakan konferensi wartawan AA dilahirkan oleh para
wartawan Indonesia dan banyak wartawan Asia dan Afrika yang menghadiri
Konferensi Bandung dalam tahun 1955. Tetapi, dalam jangka lama sekali
gagasan ini tidak terlaksana



Embrio KWAA dan PWAA ini lahir pada waktu dilangsungkan kongres IOJ
(International Organisation of Journalists) di Budapest dalam tahun 1962,
ketika para wartawan Indonesia yang hadir dalam kongres itu (antara lain
Joesoef Isak dan Umar Said) berhasil mengumpulkan tandatangan dari para
peserta kongres untuk mendukung penyelenggaraan KWAA itu di Jakarta.



Kemudian, inisiatif yang diambil para wartawan Indonesia di Budapes ini
mendapat restu dari Presiden Sukarno. Dan sejak itu menggelindinglah gagasan
itu menuju realisasinya sehingga akhirnya lahir PWAA.



Mengenai PWAA  Joesoef menjelaskan bahwa organisasi wartawan ini tidaklah
semata-mata mengutamakan segi professional kewartawanan, walaupun pernah
menyelenggarakan kursus-kursus jurnalistik di Jakarta untuk wartawan Afrika
dll.  Sesuai dengan perkembangan situasi politik di berbagai negara
Asia-Afrika pada waktu itu, PWAA juga menaruh perhatian kepada
masalah-masalah poliitik  yang menonjol pada waktu, antara lain ditahannya
Nelson Mandela, dan masih dijajahnya banyak negara-negara Afrika.



Untuk menggalang solidaritas perjuangan berbagai rakyat Asia Afrika waktu
itu ada Konferensi Pengarang Asia Afrika yang berpusat di Colombo
(Srilanka), Konferensi Setiakawan Rakyat Asia Afrika di Kairo, Konferensi
Jurists Asia Afrika di Conakry.  PWAA adalah satu-satunya organisasi
Asia-Afrika yang bermarkas di Jakarta, dan karena itu  telah menjadi
kebanggaan PWI dan juga kebanggaan Bung Karno pada waktu itu. Tetapi keadaan
yang begitu itu hanya berjalan dua tahun, karena kemudian terjadi G30S.





TENTANG IKAPI DAN ROSIHAN ANWAR



Dalam kesempatan peluncuran buku �Perjalanan Hidup Saya� ini,  Joesoef Isak
juga menceritakan kepada hadirin  berbagai hal yang berkaitan dengan
terbitnya buku ini.  Menurut ceritanya, mula-mula ada penerbit di Jakarta,
namanya Pancur Suwah  (sekarang namanya Suara Bebas), yang membaca di
Internet tulisan-tulisan Umar Said, termasuk tulisan  yang berupa
otobiografi  Umar Said yang disiarkan di website. Penerbit ini kemudian
menghubungi  Umar Said dan minta ijin untuk menerbitkannya sebagai buku.
Dengan sendirinya Umar Said senang bahwa tulisannya akan diterbitkan sebagai
buku. Penerbit Pancur Siwah, yang anggota IKAPI dan sebagai penerbit kecil,
kemudian menghubungi IKAPI untuk minta subsidi.  Subsidi ini, sebesar 80%
dari beaya cetak, diberikan oleh IKAPI. Tetapi IKAPI, dengan sejarawan Aswi
Warman Adam dibelakangnya, menganjurkan kepada Pancur Siwah agar buku ini
dapat kata pengantar seorang wartawan senior, yaitu Rosihan Anwar.



�Anda tahu, secara politik di mana Rosihan Anwar berdiri dan di mana Umar
Said berdiri. Barangkali,  sampai sekarang masih begitu-begitu juga
posisi-posisi mereka�(ketawa dari hadirin). �Kawan dari Pancur Siwah ini
mengatakan bahwa Umar Said menanyakan mengapa harus Rosihan Anwar yang
menulis kata pengantar, lebih baik Joesoef Isak saja.�.



Kemudian Joesoef Isak menjelaskan: � Saya turut mendesak Pancur Siwah, yaitu
saudara Masri,  supaya mengusahakan kata pengantar dari Rosihan Anwar. Saya
tahu bahwa pandangan politik mereka berseberangan. Tetapi sebagai penerbit
saya bisa bicara bahwa nama Umar Said dan nama Rosihan Anwar adalah selling
(laku). Karena itu, perlu diusahakan�, katanya.



Pancur Siwah kelihatan mula-mula ragu untuk melakukannya, karena takut kalau
Rosihan Anwar  tidak mau atau takut disemprot olehnya mengapa minta kata
pengantar untuk buku Umar Said. Tetapi ternyata bahwa Rosihan Anwar mau
menulis kata pengantar itu. Dan untuk ini Joesoef Isak menyatakan
kegembiraannya.





MASALAH KELUARGA



Dalam bagian lain pembicaraannya, Joesoef Isak telah dengan panjang lebar
menceritakan bagaimana dalam 1977 ia pernah sebagai ex-tapol yang masih
dalam status tahanan kota telah mengunjungi Eropa. Dalam kunjungannya
sebagai ex-tapol yang pertama kali ke luarnegeri ini (dengan menghilangkan
tanda ET dalam kartu penduduknya) ia bertemu dengan Umar Said, yang waktu
itu sudah 13 tahun terpisah  dari istri dan 2 anaknya. Setelah kembali di
Indonesia, ia telah berusaha mencari mereka, dan ikut dalam usaha untuk
menjalin hubungan antara mereka. Sejak itu, keluarga Umar Said bisa, secara
berangsur-angsur, berkumpul kembali.



 * * *



 ===================



Keterangan : Buku � Perjalanan Hidup Saya � ini sekarang bisa didapat di
berbagai toko buku Gramedia. Untuk informasi tambahan bisa berhubungan
langsung dengan penerbitnya Pancur Siwah/Suara Bebas, yang beralamat di
jalan Gelong Baru Utara II D/11 Tomang, Jakarta 11440. Telepon 021 7090 9223
atau 0812 9659 511. E-mail : [EMAIL PROTECTED] )

















--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.0.300 / Virus Database: 266.4.0 - Release Date: 22/02/2005


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke