http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/2/25/b1.htm

Jumat Pon, 25 Pebruari 2005
 Bali

Dari Warung Global Interaktif Bali Post
Penduduk Miskin akibat Pembangunan tak Merata

Dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunannya, Kabupaten Klungkung masih 
menghadapi berbagai kendala. Sedikitnya ada tujuh kendala yang harus 
mendapat penanganan secara serius untuk tahun 2005 ini. Salah satunya adalah 
masalah masih banyaknya penduduk miskin. Kemiskinan merupakan permasalahan 
multidimensional yang meliputi dimensi sosial, ekonomi, fisik, politik atau 
kelembagaan dan bisa berbeda pada setiap kawasan dengan karakteristik 
tertentu. Keberadaan penduduk miskin yang disebutkan sebagai salah satu 
kendala atau penghambat gerak laju pembangunan, ternyata mendapat sanggahan 
dari penggemar acara interaktif Warung Global, Kamis (24/2) kemarin. Orang 
miskin bukan karena mencari kemiskinan, tetapi karena mereka tidak berdaya. 
Sesungguhnya pemerintah juga yang mengakibatkan adanya penduduk miskin 
karena ketidakmerataan pembangunan, sehingga ada yang tertinggal dalam 
menikmati kesejahteraan hidup. Oleh karena itu, sangat tidak adil menuding 
penduduk miskin sebagai penghambat pembangunan. Ini sebuah pembalikan fakta. 
Demikian antara lain opini pengunjung Warung Global, Kamis kemarin yang 
disiarkan Radio Global 96,5 FM Kinijani. Acara ini juga dipancarluaskan 
Radio Genta Swara Sakti Bali dan Radio Singaraja FM. Berikut rangkuman 
selengkapnya.


Natri Udiani mengatakan tidak setuju dengan pendapat bahwa penduduk miskin 
sebagai penghambat pembangunan. Benarkah ada penduduk yang tidak berdaya 
dianggap penghambat pembangunan? Yang menghambat itu, menurut dia, adalah 
koruptor. Natri berharap tidak ada statemen seperti ini lagi. Kenapa kalau 
sudah difisit anggarannya masyarakat miskin yang
dituding penghambat pembangunan? Seharusnya introspeksi dulu sebelum 
mengeluarkan pernyataan.
Nang Tualen di Denpasar juga mengatakan tidak sependapat atas pernyataan 
ini. Justru penduduk miskin yang dihambat,
jangan berbalik menuduh. Sejahterakan dulu rakyat kalau begitu. Sudah miskin 
dituding seperti itu, benar-benar keliru, katanya.
Indra Bangsawan di Monang-maning mengatakan hal yang sama. Ia tidak setuju 
apabila dikatakan penduduk miskin menghambat pembangunan. Malah Indra 
menuduh pemerintahlah yang menghambat pembangunan. Pemerintah sepertinya 
takut dengan orang miskin. Karena orang miskin kalau bersuara keras 
pemerintah akan jatuh. Indra mengajak, kita harus berpikir bagaimana tolok 
ukur masyarakat dalam pembangunan. Seharusnya pembangunan itu dihidupkan 
dulu, baru nanti akan tersentuh nasib orang miskin. Kalau tidak dihidupkan 
pembangunan bagaimana bisa berubah nasib rakyat. Yang mencalonkan pemerintah 
juga penduduk miskin. Hampir 50 persen penduduk Indonesia yang miskin itu 
harus dipikirkan. Harus dilihat juga negara Indonesia adalah negara yang 
banyak utang. Hal ini, menurutnya, menjadikan negara Indonesia masuk 
kategori negara termiskin. Kenyataan ini membuat pemerintah sepertinya takut 
akan kemiskinan dan takut pada rakyat miskin. Sarannya, bikinlah pemerataan 
dalam pembangunan.
Sementara Agung di Jalan Wijaya Kusuma mengatakan pembangunan terhambat itu 
karena ulah koruptor, termasuk mantan pejabat. Selama ini kalau pembangunan 
direalisasikan, umpama dari pusat dikasih seratus sampai ke masyarakat harus 
seratus, jangan disunat lagi. Agung yakin sekali pembangunan akan bagus 
kalau tidak dipotong-potong. Menurut dia, orang miskin sebenarnya punya 
moral, sehingga menyudutkan orang miskin sangat tidak benar. Ia mengajak 
semua pihak untuk melakukan introspeksi. Dirinya yakin orang miskin akan 
mendukung pembangunan sesuai dengan kemampuan mereka. Dia juga mengajak 
semua pihak, khususnya pejabat, untuk menjaga nilai-nilai moral.
Gusti di Renon mengatakan, pejabat yang mengeluarkan statemen itu tidak 
mengerti bahwa pembangunan itu untuk mengangkat taraf hidup orang miskin. 
Masyarakat kita masih jauh terpuruk. Menurut dia, yang menghambat 
pembangunan memang orang miskin, tetapi yang miskin moral.
Dewa Winaya di Tabanan menambahkan, pernyataan seperti itu merupakan sebuah 
pembalikan fakta. Fenomena kepalsuan yang menghambat pembangunan itu banyak 
sekali diciptakan oleh pemerintah sendiri. Jalan keluarnya, menurut dia, 
para pemegang kebijakan harus memegang teguh prinsip membantu rakyat.
Sementara itu, Gusar di Denpasar menilai penduduk miskin memang benar 
sebagai penghambat pembangunan, tetapi kalau orang yang tidak mampu dianggap 
menghambat, dia tidak setuju. Penduduk miskin yang miskin moral, miskin 
mental, itulah yang menghambat pembangunan. Mereka itulah yang
merampok uang rakyat. Jadi penduduk yang tidak mampu secara ekonomi 
sebenarnya lebih terhormat daripada penduduk yang miskin moral dan mental.
Ireng di Bajera mengatakan orang miskin adalah orang yang merasa kurang 
terus. Sebagai masyarakat dirinya sangat terusik dengan pernyataan pejabat 
seperti itu. Apakah pejabat yang bersangkutan sudah berusaha dulu sebelum 
menilai? Inilah akhirnya menyebabkan keluarnya pernyataan yang mengambang. 
Dia menambahkan, boleh bila kita ingin berkembang tetapi jangan mengusik 
orang miskin.
Gudes di Tabanan menambahkan, penduduk miskin itu ada definisinya. Cari dulu 
apa arti miskin. Yang dimaksud dengan miskin itu, menurutnya, tidak punya 
harta, pendidikan rendah, kesehatan kurang, tidak punya akses ke dalam
kekuasaan. Tetapi, kalau miskin dipadukan dalam keterbelakangan berarti ini 
berkaitan dengan SDM yang rendah. Faktor yang lain juga karena 
ketidaktahuan, kekurangan informasi, tidak ada interaksi sosial. Dia 
berpendapat, pemerintah sekarang harus berpikir bagaimana sekarang 
menghilangkan kemiskinan itu karena pemerintah yang bertangggung jawab. 
Kemiskinan terjadi bukan kehendak si miskin. Keadaanlah yang membuat mereka 
miskin.
Gudes menyarankan agar pemerintah menciptakan angka harapan hidup yang 
tinggi, meningkatkan gizi masyarakat, meningkatkan pelayanan kesehatan untuk 
masyarakat dan anggaran pendidikan, menggratiskan biaya sekolah dan buku, 
serta memberantas korupsi.
Ibu Dewa di Ubud mengatakan, pandangan orang miskin penghambat pembangunan 
itu salah. Saya harap pendapat ini harus dimintai klarifikasinya. Karena, 
menurutnya, koruptor pemegang peran dalam menghambat pembangunan. Koruptor 
itulah penduduk yang miskin moralnya. Tetapi kalau ada penduduk yang miskin 
harta, tetapi moralnya baik, dia sebenarnya termasuk yang meluruskan 
pembangunan.
Wirawan di Denpasar mengatakan seharusnya penghambat itu ada pada pemerintah 
sendiri di mana pemerintah tidak bisa melakukan efisiensi. Pembangunan harus 
tepat guna, tepat waktu.
Wayan Wiranata di Payangan mengatakan kebodohan, keterbelakangan itulah yang 
menghambat pembangunan, seharusnya pemerintah tahu solusinya. Rakyat adalah 
bagian dari pemerintah, tanpa adanya rakyat maka tidak ada pemerintah. 
Pemerintah juga harus meningkatkan pendidikan dan lapangan kerja.
Sinda di Jalan Siulan menambahkan, yang menyebabkan penduduk miskin inilah 
yang justru dianggapnya penghambat pembangunan dengan dalih dana perumahan, 
dana kesehatan, dana purnabakti. Sinda mengharapkan, janganlah rakyat di 
akal-akali dengan sikap seperti itu.
(bram) 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke