KETIKA MASJID MENJADI SAKSI

Allah SWT menunjukkan kekuasaannya lewat masjid-masjid yang tetap 
kokoh di saat bangunan sekitar luluhlantak oleh terjangan tsunami. 
Sebuah keajaiban yang sarat pelajaran.

Kampung Cot, Meulaboh, siang hari. Sepanjang mata memandang, hanya
puing-puing bangunan yang terlihat. Ribuan bangunan yang biasanya
memayungi terik matahari kali ini tak lagi terlihat. Bangunan-bangunan
tersebut rebah berkalang tanah. Bahkan, sebagian daratan yang dulu
berdiri kokoh rumah-rumah besar tepi pantai, kini menyatu dengan 
lautan.
Tak ada lagi hiruk pikuk masyarakat pinggir pantai yang riuh 
bersahutan
dengan ombak. Suasana Senyap. Semua tinggal kenangan.

Masjid Al-Hidayah, di desa tersebut menjadi satu-satunya kenangan yang
tersisa. Masjid itu berada tepat di pinggir jalan Meulaboh-Banda Aceh
yang terputus oleh tsunami. Dari kejauhan, masjid itu terlihat tegar.
Gempa 8,9 skala richter dan kedahsyatan tsunami tak mampu menggeser
bangunan tersebut. Untuk menuju ke sana, SABILI harus menyeberang 
dengan
perahu rakitan yang terbuat dari papan dan drum bekas. Jembatan menuju
desa tersebut terputus total.

Saat tsunami datang masjid tersebut menjadi tempat berlindung sekitar
300 warga. Warga berbondong-bondong menuju masjid untuk menghindari
gelombang tsunami yang tingginya hampir menutup pucuk pohon kelapa. 
Dua
pertiga warga yang berlindung di sana terhempas keluar dan terbawa 
arus
hingga ratusan meter. Sebagian selamat dengan tetap berzikir dan
bershalawat. Sebagian lenyap.

Tengku Usman Bakar, Imam masjid tersebut yang selamat dari tsunami
menceritakan, saat kejadian warga yang berlindung di dalam masjid 
sempat
terombang-ambing oleh gelombang air. Mereka yang terus berdoa banyak
yang selamat. Tengku Usman sendiri selamat dari maut setelah air
menghanyutkannya dari dalam masjid hingga tersangkut di batang pohon
kelapa. "Itu terjadi dalam sekejap. Saat air datang, saya pasrah 
dengan
melakukan shalat sunnah. Sampai akhirnya air menerjang dari belakang 
dan
menghempaskan saya keluar masjid," kata Tengku Usman. Masjid Al-
Hidayah,
menurut Tengku, sering digunakan untuk pengajian yang bisa menyaingi
pesta hura-hura di tepi pantai. Kini di Kampung Cot, masjid itu 
menjadi
satu-satunya bangunan yang tetap utuh.

Tak jauh dari kampung tersebut, nampak di kejauhan sebuah masjid, juga
masih tegak berdiri. Letaknya persis di bibir pantai. Secara logika,
masjid tersebut menjadi bangunan yang pertama kali rebah oleh tsunami.
Sebab, berkilo-kilo meter, hampir semua bangunan rata dengan tanah.
Orang yang ditemui di sekitar desa tersebut menyebutnya Masjid Teuku
Umar. Letaknya di desa Lhok Bubun, Meulaboh. SABILI hanya sempat
memotret dari kejauhan masjid, disebabkan akses jalan yang terputus 
dan
sebagian daratan yang sudah berubah menjadi lautan.

Masjid Al-Ikhlas, Kampung Lang Kruet, Lhok Nga, juga menjadi saksi 
bisu
bencana tsunami. Saat kejadian, sekitar seratus orang berlindung di
dalamnya. Keajaiban terjadi. Menurut Mukhlis, warga sekitar yang 
selamat
berlindung di dalam masjid itu, ketinggian air saat itu sampai atap
masjid. Tapi, anehnya, air di dalam masjid hanya sebatas mata kaki.
"Kayu-kayu yang hanyut menghambat laju masuknya air," kata Mukhlis.
Warga yang berlindung selamat. Meski di hadapan terhampar reruntuhan
puing rumah-rumah mereka.

Hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari masjid itu, dari balik
reruntuhan dan pepohonan, nampak sebuah masjid lain yang juga masih
utuh. Sementara bangunan sekitar rata dengan tanah. Menurut warga,
masjid itu berada di Lampuuk, masih wilayah Lhok Nga. SABILI berhasil
memotret masjid tersebut dari kejauhan karena jalan yang terputus dan
berlumpur.

Di Ulee Lheue, Banda Aceh, Masjid Baiturrahim masih tampak tegar.
Bangunan yang berada dekat tepi pantai dan pelabuhan kecil tersebut
tetap utuh. Tsunami hanya mampu menjebol pagar dan kaca-kaca masjid
tersebut. Daerah sekitar masjid hingga berkilo-kilo meter rata dengan
tanah. Selain masjid itu, Tugu Syuhada juga tampak kokoh berdiri
menghadap laut. Tugu yang dibangun untuk mengenang para syuhada Aceh 
itu
masih menjadi primadona warga yang berkunjung ke Ulee Lheue. Saat 
senja
merapat, tugu tersebut menjadi bangunan yang indah, diapit lautan dan
bukit pinggir pantai. Kini, Masjid Baiturrahim dan Tugu Syuhada 
menjadi
magnet warga untuk menjenguknya. Ditemani angin laut sore, warga biasa
berdiri di tepi jembatan. Memandangi lautan, reruntuhan ribuan rumah 
dan
dua bangunan tangguh tersebut. "Masjid Baiturrahim sering dipakai 
untuk
shalat bagi orang yang singgah di Ulee Lheue," ujar Ismail, warga
sekitar, mengenang.

Penyusuran SABILI untuk melihat keajaiban masjid-masjid sampai ke
kecamatan Syiah Kuala. Dari kejauhan nampak sebuah masjid yang 
terletak tidak jauh dari pantai. Bidikan zoom kamera berhasil 
memotret masjid tersebut dari jarak sekitar dua kilo meter. Di 
sekitar masjid terhampar
reruntuhan, jalan yang terputus dan lumpur. Melalui warga yang ditemui
sore itu, di komplek pemakaman Tengku Syiah Kuala, SABILI baru
mengetahui masjid tersebut bernama al-Kawakib. "Itu artinya
bintang-bintang. Sekarang masjid itu menjadi bintang di tengah
reruntuhan," kata warga tersebut sambil tersenyum renyah. Pada hari
biasa, masjid ini bisa menampung sekitar seribu jamaah. Saat kejadian
ada sekitar ratusan warga yang berlindung di dalam masjid itu. Warga
tersebut, entah bagaimana nasibnya.

Dalam perjalanan menuju Meulaboh dengan menggunakan helikopter milik
pemerintah Malaysia, SABILI melihat ada beberapa masjid yang kokoh
berdiri di tengah hamparan luas reruntuhan. Lokasinya diperkirakan
berada di sekitar Calang, Lamno dan Meulaboh. Masjid-masjid tersebut
terlihat seperti titik dari kejauhan. Sebagian masjid yang terlihat 
dari
atas helikopter berhasil dibidik kamera. Sebagian lagi luput karena 
laju
helikopter yang bergerak cepat. SABILI berusaha untuk dapat memotret
masjid-masjid tersebut. Bergerak berpindah-pindah dari satu jedela ke
jendela lain untuk mendapatkan gambar dari sebuah keajaiban rumah 
Allah.
Seat bealt yang tadinya melingkar di pinggang dilepas agar bisa
bergerak. Beberapa wartawan asing yang berada satu helikopter juga
nampak sibuk membidik masjid-masjid tersebut. "Its amazing!" celetuk
salah seorang wartawan asal Amerika sambil mengeleng-gelengkan kepala
melihat masjid-masjid tersebut. Salah seorang wartawan dari sebuah
harian di Tokyo juga nampak takjub.

Menjelang kepulangan dari Meulaboh menuju Medan, SABILI masih 
mendapati
sebuah masjid yang utuh berdiri tepat di bibir jalan di Kampung Suak
Putung menuju Nagan Raya, arah Medan. Masjid dengan arsitektur kuno
tersebut seolah terasing sendiri di tengah senyap sepi reruntuhan. Tak
ada orang yang bisa ditanya soal asal-usul dan identitas masjid
tersebut.

Keajaiban masjid-masjid itu tentu menyimpan ribuan hikmah. "Ini 
isyarat bahwa kalau ingin selamat dalam hidup, maka berlindunglah 
pada Allah di masjid-masjid itu. kembalilah ke masjid," terang Alyasa 
Abu Bakar, salah
seorang tokoh masyarkat Aceh.

Menjelang gelap malam SABILI menghubungi seorang teman di Jakarta dan
menceritakan kisah keajaiban masjid-masjid tersebut. Teman itu
berkomentar, "Masjid-masjid di Aceh itu dibangun atas dasar 
keikhlasan,bukan dari uang hasil korupsi." Sempat terpikir, bisa jadi 
teman itu benar!
Catatan:
Lain kali kalau ada bahaya macam Tsunami jangan takut thd ombak tapi 
takutlah sama Allah.

Tawangalun.





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke