Anak, Biar Bayar Tapi Enak -by DBaonk-
Kata orang, makan bakso itu enak. Lha, memang ada yang nggak enak? Ada! Orang yang sama bilang, makan bakso itu yang nggak enak... mbayarnya. Urusan bayar-membayar memang sering terasa tidak mengenakkan. Apalagi kalau yang dibayar dan kompensasi yang diterima, terasa tidak seimbang. Lalu, apa hubungannya dengan Anak? Masak mbayari anak dianggap ngga enak? Bisa iya, bisa tidak.. Terlepas dari beratnya membiayai seorang anak, apalagi dengan harga susu kaleng yang semakin selangit, atau biaya masuk sekolah yang bikin mumet pikiran, punya anak itu benar-benar enak. Anak, adalah belahan raga, belahan jiwa. Itu bukan cuma kiasan. Karena secara ilmiah dalam tubuh fisik si anak, ada bagian genetik yang diturunkan dari bapak dan ibunya. Belahan jiwa juga bukan omong kosong. Yang punya anak tentu tahu rasanya, kalau terbiasa tidur bersama anak, lalu bangun di malam hari dengan ranjang yang kosong dan guling si kecil yang masih tergolek rapi. Bahkan tangis sang anak, biar cempreng kayak kaleng rombeng, kalau suatu saat raib dari keseharian rumah, misal saja karena sang anak sedang pelesir ke rumah saudara atau kakek-neneknya, bisa terasa lebih merdu dari suara KD atau chrisye. Biar lagu penyanyi kondang di setel dengan volume paling pol, kalau tidak ada duet si sempreng, suaranya penyanyi kondang malah bisa terasa seperti penyanyi belum jadi. Kalau naik kereta ekonomi, atau bis kota di Jakarta, kita bisa puyeng tujuh belas keliling mencium bau keringat orang, yang nggak mempan diobati puyer bintang tujuh pukuh sekalipun. Tapi bau asem anak sendiri yang baru habis bersepeda keliling komplek, atau bahkan asem campur aduk bau tanah dan rumput selepas main bola, bisa terasa lebih wangi dari parfum favorit. Punya anak itu enak, itu sungguh. Makanya jadi terherman-herman kalau melihat ada orang tua bunuh anak, orang tua perkosa anak, orang tua menjual anak. Betul, mbayar kebutuhan hidup si anak pasti sangatlah berat. Tapi bau asem keringat si anak, tidak pernah bisa terbeli dengan harga berapapun. Nyari di supermarket paling lengkap, di mall paling mewah pun, pasti ndak bakal nemu. Dan sekedar bau asem keringatnya, cukup berharga buat membayar segala lelah dan berat nyari duit buat mbayari sang anak. Apalagi, kalau denger celotehnya, pinternya, ada-adanya (anak kan suka "ada-ada saja") bahkan terjangannya kalau lagi bersmack-down ria. Namanya anak belum tahu kira-kira, kaki-kaki yang cuman seperempat gedenya kaki si bapak, bisa kayak tendangan Ruud Gullit kalau mampir di ulu hati. Tapi itu sakit yang nikmat. Membuat hidup terasa hidup. Kalau ngikut iklan, semua anak mestinya ditempeli "Losta Masta" di jidatnya. Anak mengajarkan banyak sama si bapak. sama si ibu. Padahal mestinya kewalik. Bapak-Ibu yang ngajari si anak. Tapi dari seorang anak, dan apa yang diajarkannya tentang kesabaran, kepolosan, rendah hati, jujur-anti munafik, kegembiraan memandang hari, dan rasa cinta bahkan sama seekor kecoak menjadi contoh nyata, bahwa ngajari dan diajari itu tidak mandang besar-kecil, lemah-kuat, pinter-bodoh, luber atau kosong mlompong isi benak seseorang. Kalau anak yang tahunya power ranger itu nyata saja bisa ngajari sesuatu sama orang tuanya, apalagi tukang kebon, apalagi supir angkot, apalagi tukang ojek, apalagi teman sejawat, apalagi orang yang beneran pinter. Lihat anak mainin kecoak, orang tua bisa kebat-kebit mikirin datangnya penyakit. Tapi apa yang dilakukan si anak saat milih membuang si kecoak di halaman daripada mites pake sendal seperti yang biasa dilakukan orang tuanya, jadi ilmu yang nggak didapet di fakultas. Kalau perbuatan si kecil yang uteknya kosong mlompong malah bisa jadi ilmu, gimana yang diperbuat orang yang benaknya luber dengan pengalaman, dengan pengetahuan? Mbayari anak memang berat, tapi tampang girang nan polosnya waktu dapet balon bergambar si busa sabun, yang meski sebiji seharga tujuh ribu mang atus jadi "cukup" senilai dengan duit segitu. bahkan lebih dari cukup, kalau tidak sangat lebih. Kegembiraaan, kebahagiaan yang memacu untuk menggali kebahagiaan yang sama dari wajah peminta-minta di kereta, dari senyum nenek tua di sekitar rumah, dari ucapan syukur bapak pensiunan di ujung gang, dari ciuman di tangan dari hansip begeng yang malam-malam ronda. dari semua orang, semua. Anak, ngajari orang tua bagaimana caranya supaya merasa mbayar itu tetap terasa enak Lebih mantep dari ajaran kyai, lebih memuaskan dari uraian ilmiah pakar humaniora, dari komentar mbingungi ekonom-politikus, Lebih jitu dari penelitian paling valid di buku-buku. Anak ngajari orang tua, bagaimana membuat hidup jadi lebih Losta Masta. Bersmack down-ria dengan hidup, biar dibanting, tapi juga membanting, tapi seusainya tetap tertawa. berpelukan. model teletubbies Sungguh, anak itu enak, meski mbayar. Alhamdulillah saya sudah punya. Situ ? Semoga.. Sentaby, DBaonk kalau iseng & bisa ngakses web, tulung komentari di http://www.dbaonk.blogspot.com ada cerpen-cerpen saya juga di sana.. tengkyu ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
