http://www.sinarharapan.co.id/berita/0504/02/opi03.html
Kami Menyiasati Perbedaan Tradisi Oleh Roswitha Ndraha Inilah hal pertama yang memicu pertengkaran kami sebagai suami dan istri yang baru dua minggu menikah. Seperti tradisi Batak, selama minggu pertama sesudah acara pernikahan, kami harus tinggal di rumah keluarga laki-laki. Mertuaku (dua-duanya) sudah tidak ada. Jadi, di minggu pertama kami menginap di rumah abang tertua suami saya. Di situ ada beberapa abang dan adik yang datang dari Sumatera untuk menghadiri pernikahan kami. Walaupun berat hati, aku menerima hal ini. Aku menghibur diri dengan mengatakan inilah kesempatan berkenalan dengan keluarga suamiku. Sebenarnya, aku lebih senang menghabiskan minggu pertama hanya dengan suamiku; menebus hari-hari yang hilang selama masa pacaran kami yang tiga tahun berpisah kota. Setiap hari kakak iparku memasak makanan khas Batak. Enak, dan kami menikmatinya. Setelah masa bulan madu berakhir dan kami kembali ke tempat kos, suamiku menganjurkan aku belajar masakan Batak pada kakak iparku. Itu usul yang tidak popular buatku karena aku segan ke rumah iparku. Belum lagi, sekali sebulan kami mesti ikut arisan keluarga. Setelah kurenungkan sekarang, mungkin itu baik juga, karena merupakan kesempatan mengenal keluarga suamiku lebih baik, tetapi waktu itu aku menolaknya mentah-mentah. Aku berangkat kerja pukul enam, tiba di rumah lagi pukul lima. Hampir setiap malam ada kegiatan gereja yang harus kami ikuti. Hari Minggu, aku mesti ke rumah keluargaku, mengambil barang-barangku yang tersisa. Kapan lagi bertandang ke rumah saudara? Aku merasa penolakanku beralasan. Untuk arisan keluarga yang sekali sebulan, dengan setengah hati aku menjalaninya. Aku merasa itu kegiatan membuang waktu. Kami pulang gereja pukul 11.00, langsung ke arisan. Pukul 15.00, kami harus pamit karena sorenya pelayanan gereja, padahal keluarga lain baru pada datang pukul 14.00. Belum lagi, aku sangat keberatan dengan asap rokok yang dikepulkan tak henti, yang membuatku pilek-batuk berhari-hari. Karena dalam hal belajar masak itu suamiku terus mendesak, aku nggak tahan. "Pergi saja, sana!" kataku, "tinggal sama kakakmu!" Kalimatku ini memicu pertengkaran berhari-hari. "Aku ini orang Batak. Kalau sudah menikah kita mesti mengikuti acara-acara keluarga seperti arisan. Kalau kamu nggak bisa menyesuaikan diri dengan keluargaku, kita pisah saja," kata suamiku. Aku terhenyak. Cuma begitu saja berpisah? Kami baru menikah dua minggu! "Aku keluar dari gereja. Aku mau kembali ke pekerjaanku yang lama di Semarang. Kamu di Jakarta saja. Kita bertemu sekali dua bulan," suamiku menambahkan. Aku tidak menjawab. Berhari-hari kami tidak bercakapan. Ini suasana neraka buatku. Hatiku berbicara sendiri: Siapa pria yang kunikahi ini? Kok aku tidak kenal dia? Sikap diam begini tidak lazim dalam keluarga kami. Berkali-kali aku mengajaknya bicara, tapi dia diam saja. Seolah-olah aku tidak ada di sana. Di rumah orangtuaku, kami terbiasa membicarakan masalah di antara kami dalam acara persekutuan doa malam. Sehebat-hebatnya orangtuaku bertengkar, aku seringkali mendengar mereka cekikikan di kamar sebelum tidur. Setelah beberapa hari baku diam, entah ada apa, malam itu suamiku memelukku. Bagiku, itu sudah cukup. Kami baru mulai saling mengerti. Dua belas tahun kemudian barulah aku tahu isi hatinya berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dia menulis demikian kepadaku: Akhirnya saya tahu, istri saya tidak merasa nyaman di lingkungan baru. Mula-mula saya kira karena dia tidak menyukai keluarga saya, tetapi akhirnya saya mengerti bahwa istri saya punya masalah di situ. Dia tidak biasa berkunjung ke mana pun. Keluarga istri saya nyaman bergaul di antara mereka sendiri, dan jarang berkunjung ke rumah keluarga lain. Setelah beberapa minggu, saya mendapat pandangan baru. Saya tidak bisa memaksa istri saya berubah. Jadi, sayalah yang berubah. Saya menunda kunjungan ke keluarga saya. Saya tunggu istri saya siap. Saya bantu mempersiapkan dia. Apa gunanya kami memaksakan diri, tetapi istri saya kehilangan sejahtera. Dengan abang saya, kami hanya bertemu beberapa jam, tetapi sehari-hari saya bersama istri saya. Perubahan itu menolong istri saya terbuka dan belajar bersosialisasi. Saya juga menyadari bahwa sikap memaksa istri pada mula-mula pernikahan kami sebenarnya adalah manifestasi dari kecemburuan saya. Keluarga istri saya hangat dan saling peduli. Berbeda dengan keluarga asal saya yang pecandu. Ayah-ibu saya alkoholik, saudara-saudara saya pecandu obat. Sikap diam saya dalam konflik dengan istri saya sebenarnya adalah cara saya menahan diri. Saya tidak mau memperlakukan istri saya seperti papa saya memperlakukan mama dengan kekerasan. Tapi saya tidak tahu cara menghadapinya. Jadi, sebenarnya saya pun tersiksa dengan diam itu. Dalam rumah tangga, masalah yang dilatarbelakangi oleh perbedaan tradisi memang muncul silih berganti. Aku bersyukur, kami menemukan cara menjembatani perbedaan itu. Pada tahun kedua dan ketiga kami mengalami hal lain. Tuhan memberi aku seorang anak laki-laki, bagus dan sehat. Aku bertekad mengasuh sendiri anakku. Seperti Mamaku, kataku pada suamiku.. Mama bisa mengasuh tujuh anak tanpa pembantu, masak aku tidak bisa! Suamiku berpendapat kami harus punya pembantu dan pengasuh anak. Dia berniat mengambil anak ito-nya (kakak perempuan) yang tamat SMA dan belum bekerja untuk mengasuh Josephus. Aku kurang setuju, tapi merasa tidak berdaya. Mary, keponakan kami, tiba beberapa hari sebelum aku kerja kembali. Aku tidak mau mengajari dia mengurus bayi. Aku bahkan tidak mau berakrab-akrab dengan dia. Mauku, Jo dimandikan papanya. Mary paling-paling memberi susu saja. Hari pertama aku kerja, aku geli mendengar bagaimana suamiku memandikan Jo. Lantas Mary mengajak Jo di panas matahari. Jo tidur, sore dia bangun, kembali papanya memandikannya. Begitu terus selama beberapa hari. Kemudian suamiku mengajakku berkunjung ke jemaat. Karena aku tidak mau meninggalkan Jo pada Mary, aku terpaksa membawanya. Masalah mulai timbul kalau kami mengunjungi jemaat yang sakit. Bagaimana kalau bayi kami tertular? Lagipula, aku sudah capai kerja, masih diajak kunjungan. Belum lagi kalau akhirnya Jo sakit, akulah yang harus begadang bermalam-malam. Akhirnya aku menolak diajak kunjungan. Ada saja alasanku. Aku takut anakku tertular penyakit. Itu alasan yang sering kusampaikan. Benar, kan? Kami sering bertengkar. Suatu kali suamiku sampai mengeluarkan kata-kata, "Tuhan ambil nanti anakmu, ya!" Aku sedih sekali. Aku ingin mendukung pekerjaan suamiku, tapi aku tidak mau menelantarkan anakku ke tangan orang lain. Tidak mungkin. Hatiku berkata-kata: Mudah bagi suamiku untuk membiarkan anaknya diasuh orang lain sebab dia pun mengalami demikian. Ibunya Mary adalah pengasuh suamiku saat dia kecil. Bagiku tidak gampang melakukannya. Ibuku sampai keluar dari pekerjaan waktu aku lahir. Akhirnya toh aku memang keluar dari pekerjaan, demi keluargaku. Tetapi tidak lama setelah itu, suamiku pun keluar dari pelayanan gereja penuh-waktu, salah satu penyebabnya adalah karena aku sulit mendukung pelayanannya. Tentang hal ini suami saya menuliskan, "Sesudah saya belajar konseling keluarga, saya mengerti bahwa apa pun yang saya lakukan, haruslah membangun keluarga saya. Jadi, kalau istri saya tidak mendukung, saya harus "meninjau kembali" keputusan saya bekerja di tempat itu. Pelayanan gereja cukup menuntut pendampingan istri, padahal istri saya tidak siap. Jadi, setelah lima tahun menjadi gembala jemaat, saya memutuskan meninggalkan pelayanan gereja, demi keluarga saya. Melalui keputusan itu saya mengerti bahwa Tuhan sedang memimpin saya untuk menggumuli pelayanan baru, yaitu konseling. Itulah pekerjaan yang saya tekuni sampai hari ini." Begitulah. Kami menjalani hari demi hari. Membangun komunikasi kami sebagai suami dan istri, belajar dari setiap kesalahan serta mengerti pimpinan Tuhan dalam segala peristiwa. Melalui itu semua, saya dan suami bertumbuh dalam pernikahan ini. *** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
