--- Andi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ibu Muskitawati .. > Saya juga sangat merasakan agama sangat membelengu > kehidupan sebagian besar > masyarakat kita, sebagai orang lahir dari latar > belakang muslim yang taat > saya merasa punya kewajiban membantu saudara2 kita > yg mayoritas islam. > Dengan segala resiko yang harus dihadapi saya > mungkin harus bersedia untuk > berjihad.. > Janganlah berjihad untuk membahayakan keselamatan kehidupan diri anda, karena hal itu sangatlah sia2, hayatilah tulisan saya, karena sebenarnya mereka yang percaya agama dan yang tidak percaya agama sama2 mempunyai perasaan yang sama, hanya cara2 pengungkapannya saja yang sebenarnya yang berbeda sehingga mereka tampak berbeda, sedangkan bagi yang diracuni dogma ini merasa terancam se-olah2 apa yang anda tidak percaya akan memusnahkan kepercayaan mereka yang artinya memusnahkan diri mereka. Percayalah, cukup menanamkan arti "kepercayaan" itu sendiri pada diri kita maka, merekapun bisa merasakan sama dengan apa yang anda dan saya rasakan !!!! > Saya dan teman2 aktif di beberapa milis diantaranya, > ateis indonesia yang > baru berusia setahun, saya dan teman sempat > memikirkan untuk membangun situs > sendiri akan tetapi karena sebagian besar dari kita > masih tinggal di > Indonesia kami masih diliputi kekhawatiran mengingat > situasi masyarakat kita > sangat fanatik dengan agama dan tidak memberi ruang > sedikitpun untuk > dikritik.. > Tidak bisa disangkal, agama penyebab rusaknya system, dan agama jugalah penyebab gagalnya pemberantasan korupsi. Kalo ada yang memanfaatkan kepercayaan masyarakat terhadap agama untuk kepentingan kelompok atau pribadinya (seperti Suharto), janganlah disalahkan, karena kesalahannya justru terletak pada kepercayaannya. Tanpa kepercayaan, tidak ada yang bisa memanfaatkan manusia2 yang diracuni dogma buta ini. > Saya baru beberapa hari ini di banned oleh milis > sufi islam karena tulisan2 > saya yang berjudul " Agama penyebab keterpurukan > bangsa kita". Saya merasa > kurang sekali respons logis dalam menanggapi > tulisan2 saya sebagian besar > menanggapi secara emosional tanpa mau memberikan > argumentasi logis sebagian > juga bernada ancaman, padahal saya mencoba > menulisnya dengan memberikan > bukti dan fakta dan analisa yang logis... > Janganlah kecewa kalo tulisan anda di banned di millist2 jenis demikian, karena pada galibnya millist2 tsb hanya berisi orang2 yang sama dengan identitas yang berbeda yang se-mata2 hanya menyebarkan ideologi kepercayaan mereka yang stereotype yang itu2 juga yang membosankan pembacanya. Bisa diibaratkan mereka hanya ingin mengurung diri mereka dengan filem2 yang sama yang itu2 juga yang tentunya sangat membosankan dan ingin mengintip millist2 yang berbeda. > Saya akan mencoba untuk mengumpulkan tulisan2 ibu > dari arsip milis karena > tulisan ibu sangat bagus dan begitu mengena untuk > orang2 yang berfikir > logis.. Saya juga akan mencari teman2 untuk berusaha > mencari jalan agar > pemikiran2 seperti kita tidak terbuang percuma.. > Sebenarnya pemikiran2 saya sangat mudah dihayati semua orang karena apa yang saya tuliskan pasti bisa dirasakan atau pernah dirasakan mereka baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Bedanya hanyalah kemampuan dalam mengexpressikan apa yang anda maupun yang lainnya merasakan kedalam bentuk tulisan, dan kemampuan mengexpressikan itulah yang kita masing2 berbeda, apalagi dalam menggunakan kata2 maupun kalimat yang tepat. Oleh karena itu, makin sering anda membaca tulisan saya, tentunya makin sadar anda untuk menggali kemampuan2 anda dalam mengexpressikan perasaan anda dalam bentuk tulisan yang tepat. Kemampuan mengexpressikan ini sebenarnya sangat erat kaitannya dengan level atau tingkat pendidikan seseorang. Pendidikan di Indonesia sejak sekolah Dasar tidak dilatih kemampuan mengexpressikan pikiran dan perasaan murid dalam bentuk tulisan dengan kata2 yang tepat. Berbeda dengan di Amerika yang memberi kebebasan berpikir yang se-luas2nya yang mengakibatkan berkembang dan tumbuhnya kemampuan ini dengan mudah. Itulah sebabnya, kalo anda membandingkan lulusan SMA di Amerika ini kadang2 terasa tertinggal kemampuannya dalam Matematika ataupun pengetahuan umum lainnya dibandingkan murid2 lulusan SMA di Indonesia. Namun setelah lulus sarjana, kemampuan sarjana disini melampaui jauh dari kualitas sarjana2 Indonesia. Semua ini disebabkan basis penting dari kemampuan mengutarakan atau mengexpressikan pendapat maupun hasil observasinya kedalam bentuk tulisan sebelum lulus SMA sangat ditekankan disini. Pengetahuan bermatematika maupun pengetahuan umum lainnya sangat mudah didapatkan melalui belajar sendiri maupun dari membaca, namun kemampuan mengexpressikan pikiran dalm bentuk tulisan tidak bisa dengan hanya membaca, namun harus dari latihan yang dibimbing seorang yang ahli dibidang tsb. secara step by step. Itulah sebabnya, telah berulangkali saya tekankan bahwa apa yang saya tulis itu bukanlah barang baru, bukan cuma saya saja di Amerika ini yang mampu menguraikan atau menganalisa kepercayaan seperti yang selama ini saya lakukan, hampir semua ahli2 disini sudah mampu mengolah kata dalam membeberkan fakta2 yang sebenarnya. > > Ibu mustikawati . Teruslah menulis ....tulisan ibu > sangat berguna bagi > kami semua ... > "Bebaskan masyarakat dari belengu agama" mungkin itu > judul bukunya ... > Andi > Hapuskan agama kembali pada akal dan hati nurani Janganlah membuat judul yang bombastis yang hanya dari judulnya saja, umat beragama sudah bersiap untuk tidak membacanya. Bagaimana mungkin anda bisa mengubah cara berpikir seseorang kalo mereka sudah menolak membacanya hanya dari judulnya ???? Bukankah dengan judul "Menempatkan agama pada perspektif yang realistis...." membuat daya tarik umat beragama untuk membacanya ????? Janganlah anda berdiri dipihak "anti-agama" dalam tujuan untuk mendapatkan "acceptable" mereka yang diracuni dogma agama. Carilah judul yang akseptable bagi semuanya. Dan untuk itu maka perlu saya menjelaskan perasaan saya selama ini yang tumbuh hingga berakhir dalam semua tulisan2 ini. Lebih baik saya menanamkan pemahamannya kepada anda katimbang mendebat, atau menentang apa yang kebanyakan dipercaya masyarakat. Terus terang, makin tinggi level pendidikan anda, makin tidak mungkin anda percaya kepada semua yang berbau kepercayaan. Contohnya, saya yang dilahirkan dalam lingkungan agama, sudah obsesive sekali menjalankan segala ritual2 yang dipaksakan sejak masih bayi ini. Akibatnya, meskipun saya mendapatkan bukti2 yang sangat kuat bahwa semua itu hanyalah dongeng2 bohong, namun kepercayaan itu sulit untuk dihilangkan, dan semua inilah yang selalu saya namakan dogma racun agama, karena ternyata, meskipun otak dan pikiran saya menentangnya, tetapi perasaan saya masih saja dipengaruhi dogma itu yang makin saya lawan terasa makin menakutkan diri saya dan ketakutan itu sama sekali abstract tidak bisa diterangkan, namun dalam dunia psikologi ketakutan semacam ini dinamakan "anxiety" yang berbeda dengan "worry" ataupun "scare". Dalam "worry" atau "scare" rasa takut ini ada object yang realitas penyebabnya, seperti diancam tetangga akan membunuh kita. Berbeda dengan "anxiety" rasa takut itu tidak ada penyebabnya yang bisa anda terangkan karena tidak ada "object yang real". Dan dalam hal ini "anxietas" seperti yang saya gambarkan dinamakan "obsesive compulsive" dan untuk lebih dalamnya anda bisa mempelajarinya dari buku2 psikologi. Contoh yang bisa saya berikan adalah, seringkali kita merasa tangan kita kotor, meskipun sudah kita cuci tangan, kemudian tetap kita merasa kurang bersih, naah...itulah yang dinamakan "obsessive", dan ditambah dengan kata "compulsive" apabila perasaan yang menghantui anda itu anda laksanakan dengan "mencuci tangan". Hal ini juga sama dengan perasaan anda yang tinggal sendirian dirumah dimana pintu depan harus berulang kali anda periksa meskipun anda tahu bahwa anda sudah menguncinya. Entah darimana datang lagi perasaan bahwa anda harus kembali memeriksanya untuk lebih meyakini bahwa pintu depan itu benar2 terkunci meskipun memang sudah dikunci. Demikianlah, semua umat beragama sebenarnya menderita "anxietas" dari gambaran kepercayaan yang sama yang ditanamkan oleh kitab2 suci mereka. Sementara yang tidak percaya agama juga mengalami "anxietas" yang berasal dari subject perasaan yang berbeda asalnya seperti yang saya gambarkan dalah "mencuci tangan" dan "memeriksa pintu yang terkunci" secara berulang kali. Umat beragama akan selalu berdosa kalo lupa atau alpa menjalankan ritual yang dipercaya sebagai kewajibannya. Oleh karena itu, kita baik yang percaya maupun yang tidak percaya agama sebenarnya sulit melepaskan dari bentuk "anxietas2" seperti yang saya gambarkan diatas. Namun pengertian dan pemahaman yang mendalam sajalah yang bisa mengobatinya. Demikianlah, telah berulang kali saya katakan, saya bukanlah anti-agama, saya bukanlah penentang agama, dan untuk tidak percaya agama, sama sekali tidak tidak perlu menjadikan diri anda anti-agama maupun tidak percaya agama. Anda bisa merasakan apa yang selama ini saya rasakan: saya merasa sangat comfortable apabila dihari Idulfitri kita bisa saling ber-maaf2an meskipun kenyataannya tidak ada yang perlu dimaafkan. Juga sangat senang dengan halal bihalal, pesta2 lebaran, liburan lebaran, kumpul2 dilebaran, mengikuti sholat dipagi hari, bahkan juga ikut2an berpuasa kalo ada waktu disebelum lebaran. Namun semua ritual yang menyenangkan yang membuat perasaan comfortable ini sama sekali tidak ditunjang oleh kepercayaa kepada Allah, saya tidak percaya Allah, juga saya tidak percaya AlQuran, dan saya tidak percaya Muhammad utusan Allah, dsb, dsb. Itulah sebabnya, berulang kali saya tulis, bahwa kita sama sekali tidak bisa dianggap salah untuk beragama tanpa mempercayainya. Apanya yang salah saya merasa beragama Islam tanpa percaya agama Islam, tanpa percaya AlQuran, dan tanpa percaya Allah maupun Muhammad ???? Ternyata hal yang sama juga dirasakan umat yang Kristen yang banyak di Amerika ini. Apa sih salahnya, menghayati perayaan Natal tentang kelahiran Yesus yang tidak pernah ada ???? Apa salahnya saya yang tidak percaya Yesus, namun sangat ter-gila2 kepada lagu2 Natal yang memuja Yesus ????? Apa salahnya saya yang bukan Kristen yang sama sekali tidak percaya Yesus tetapi mengikuti segala ritual Kristen dihari Natal ????? Banyak umat Kristen yang ter-gila2 pada ajaran2 sang Buddha, mereka bisa dianggap mempunyai dua kepercayaan yang berbeda, Kristen dan Buddha. Juga banyak orang2 keturunan Tionghoa teman2 saya yang tetap memuja dan menyembahyangi roh dan abu orang tuanya dimeja abu dengan makanan dan hio2 diatasnya, tetapi mereka beragama Katolik, beragama Kristen, dan ada yang beragama Islam. Untuk memberi gambaran yang kontrast, di Amerika ada perayaan Hallowen, yaitu perayaan keluarnya setan2 bergentayangan didunia ini. Waaah.... Perayaan ini memang betul2 luar biasa yang dirayakan hampir oleh semua umat beragama baik Kristen, Katolik, Yahudi, maupun Islam. Apakah anda anggap karena mereka merayakan hari besar "setan2" ini membuktikan bahwa mereka percaya kepada "setan".... sama sekali tidak. Semua ini "just for fun". Sama seperti kita merayakan dan berpartisipasi dalam "pesta Olympic Games", dimana tidak perlu kita percaya kepada Dewa2 Yunani Kuno seperti "Zeus". Bahkan meskipun kita ikut melaksanakan ritualnya penyembahan dewa2 Yunani ini, bukan sama sekali berarti kita percaya. Semua ini sebenarnya hanya sebagai hiburan yang membuat perasaan kita comfortable. Demikianlah, tak mungkin anda pungkiri, bahwa hidup kita ini sebenarnya mengejar pemuasan atau membuat comfortable perasaan kita saja. Namun janganlah mengejar atau mencari pemenuhan pemuasan perasaan ini dengan cara mengorbankan perasaan orang lainnya. Carilah cara pemuasan perasaan diri anda ini tanpa mengorbankan system yang kita ciptakan maupun lingkungan sosial yang ada disekitar kita. Janganlah menciptakan ketidak senangan diri anda akibat adanya kepercayaan orang lain yang tidak anda percaya sehingga anda merasa perlu menghancurkan dan memusnahkan mereka meskipun secara realitas mereka itu sebenarnya tidak mengganggu anda. Karena kita dan mereka itu sebenarnya sama2 mencari pemuasan yang sama dengan subject yang berbeda. Tapi karena dalam banyak hal, akibat kepercayaan dogma agama yang ditanamkan oleh Kitab2 suci ternyata bisa menimbulkan keseragaman perasaan dari kelompok besar manusia2 yang mempengaruhi mereka untuk merebut power meskipun dengan merusak system yang berlaku, akibatnya terjadi malapetaka seperti yang kita saksikan dengan negara Indonesia ini. Kitab2 suci ini memberi kewajiban kepada mereka melakukan hal2 untuk membasmi mereka yang tidak percaya.... Dan disinilah asal muasal malapetaka yang menimpa Republic Indonesia. Cukup dengan membebaskan politik dan Pendidikan dari pengaruh agama dan kepercayaan, maka semuanya akan menemukan solusi2 yang tepat. Dan dengan demikian agama tidak akan pernah bisa merusaknya. A-Theist, sebenarnya adalah kelompok yang menentang agama, mereka menjadi kelompok penentang dan pembenci agama, akibatnya mereka menjadikan diri mereka sebagai paham dalam menentang paham lainnya yang dalam hal ini agama, akibatnya, mereka tidak lebih dari umat yang diracuni dogma agama, namun dalam hal ini orang2 Atheist ini diracuni oleh dogma anti-agama. Jadi orang2 Atheist dan Theist adalah sama2 menjadi dogma yang diracuni dogma yang bertentangan tetapi sama2 jenis kepercayaan yang tidak berguna. Atheist menjadikan diri umatnya juga menjadi kepercayaan seperti kepercayaan agama, namun mereka menentang label kepercayaan agama. Demikianlah, saya menggambarkan dengan jelas bahwa hidup kita ini hanyalah pemuasan perasaan, tanpa perasaan apalah arti hidup kita ini. Hidup bisa membahagiakan kalo anda bisa memuaskan perasaan anda, dan semua teknologi, dan logika rasional ini kita gunakan untuk menciptakan tools dalam menyokong pemuasan perasaan2 kita yang membawa kebahagiaan yang bervariasi bentuknya. Dizaman dahulu kala, umat manusia menggunakan agama dan kepercayaan untuk pemuasan perasaan ini, misalnya untuk menghilangkan rasa takut akan kematian, kita manusia menanamkan kepercayaan bahwa kematian hanyalah proses menuju kepata kehidupan yang abadi. Dan sebenarnya sangat mudah membuktikan bahwa tidak pernah ada kehidupan setelah kematian. Namun dengan adanya keyakinan adanya kehidupan setelah kematian, maka manusia dibebaskan dari rasa takut terhadap kematian yang menjadi keharusan. Dizaman modern ini kita menciptakan berbagai tools yang berbeda untuk bisa meningkatkan kebahagiaan kita misalnya mobil dan pesawat udara yang bisa mencegah rasa capek ataupun rasa kehilangan waktu. Dan untuk mencari analogi yang tepat untuk kepercayaan agama, saya menggunakan filem, baik itu digedung bioskop dengan membeli karcis, maupun dengan DVD atau Video dengan membelinya di toko2 elektronik. Agama dan kepercayaan hanyalah dongeng2 bohong yang diciptakan manusia dahulu kala untuk meningkatkan kebahagiaan perasaan mereka. Demikian juga filem2 cerita digedung Bioskop maupun dalam DVD atau Video, juga sama2 merupakan dongeng2 bohong yang dibuat manusia melalui teknologi dan logika rasional untuk bisa kita nikmati sebagai hiburan yang memberi kebahagiaan dengan memanipulasi perasaan kita ini. Waktu anda menikmati tontonan filem, anda harus mencurahkan semua kepercayaan anda kedalam jalan cerita yang dikarang oleh sutradaranya. Anda tidak bisa menikmati filem yang anda tonton kalo anda tidak mau mempercayainya. Demikianlah dengan menyerahkan kepercayaan anda kepada jalan cerita filem itu, anda se-olah2 masuk dalam jalan cerita yang diatur sutradaranya. Anda merasa se-olah2 anda menjadi bagian dari situasi yang digambarkan filem itu sehingga anda bisa menikmati perasaan yang anda cari dari filem itu. Tetapi setelah selesai nonton filem, anda harus membuang kepercayaan tadi, jangan lagi mengikatkan kepada filem khayalan yang baru anda tonton tadi, karena kalo anda tetap mengikatkan kepercayaan anda kepada jalan cerita filem, sementara anda sudah berada dalam kehidupan realitas yang bukan filem, maka anda akan menghadapi "conflict of reality" yang manifestasinya bisa berupa, anda merasa orang2 yang berkepala botak adalah pemerkosa2 yang pernah anda lihat dalam filem yang anda tonton sebelumnya. Lebih berbahaya lagi, kalo kepercayaan itu demikian lekat dan kuat, bukanlah tidak mungkin anda membunuhi orang2 yang berkepala botak karena anda terobsessi oleh filem2 yang anda tonton itu. Bentuk obsessi beginilah yang menghinggapi perasaam umat beragama yang berjihad untuk kewajiban agamanya dalam menegakkan agamanya didunia yang sebenarnya berbeda. Demikianlah, agama tidak akan menjadi penyebab "conflict of reality" sepanjang anda bisa meletakkan pada tempat yang sebenarnya, yaitu hanya sebagai khayalan. Jangan menggunakan agama atau kepercayaan untuk mengambil keputusan atau menggunakan agama sebagai ukuran moral dalam menjustifikasi benar salah seseorang. Bahkan jauhkan agama kepercayaan agama anda untuk dilaksanakan sebagai UU ataupun hukuman kepada siapapun yang anda anggap melanggar kepercayaan anda. Agama dengan semua kepercayaannya bukanlah realitas, bukan fakta, bukan kebenaran, melainkan hanya perasaan dalam bentuk "angan2". Jangan mencampurkan atau menjadikan agama atau kepercayaan sebagai realitas, fakta atau kebenaran. Itulah sebabnya, saya sudah berulangkali menuliskan dengan jelas, bahwa agama sebagai "angan2" tidak mungkin dibuat definisinya, dan tidak mungkin bisa dirasakan secara sama meskipun sesama umat beragama yang membaca "kitab suci" yang sama. Membedakan "Realitas" dan "Angan2" bisa menggunakan camera photography. Realitas bisa menangkap gambar atau object yang dilihat oleh semua orang baik yang percaya maupun yang tidak percaya. Sebaliknya "Angan2" yang ditanamkan oleh "kitab2 suci" kepada umat yang percaya, tidak bisa dipotret. Wajar dong, mana mungkin sih "Angan" itu dipotret. Demikianlah, jutaan orang bisa menyaksikan terbangnya Yesus kesorga dengan melayang diangkasa raya karena kejadian ini merupakan angan2 yang ditanamkan oleh tulisan2 dalam "kitab suci" yang sama yang dibaca oleh semua yang sama dan seragam kepercayaannya. Tanpa kepercayaan dan keyakinan yang sama, tidak mungkin mereka bisa sama2 menyaksikan kejadian yang sama. Itulah sebabnya, apabila Yesus yang sedang terbang melayang diangkasa ini dipotret oleh juru2 potret, maka setelah filemnya dicuci tidak tampak gambar Yesusnya, melainkan hanya gambar biru langit yang menjadi latar belakangnya saja. Hal ini bukanlah keajaiban dari Yesusnya, melainkan keajaiban dari angan2nya itu sendiri. Alat potret kita tidak mungkin bisa memotret angan2 dalam benak setiap orang. Tidak berbeda dengan ribuan umat Islam yang sedang berhaji dulu, pernah melihat adanya nabi Ibrahim berjubah putih naik onta melayang diatas "Kabah" yang meskipun banyak yang memotretnya, namun gagal mendapatkan gambarnya karena yang dipotret itu hanya angan2 umat yang percaya yang sebelumnya ditanamkan oleh imam2 pemberi khotbah diMesjid yang dengan bantuan "kitab suci" nya berhasil menanamkan gambar yang sama dan seragama kedalam benak uamt yang percaya. Ny. Muslim binti Muskitawati. ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> In low income neighborhoods, 84% do not own computers. At Network for Good, help bridge the Digital Divide! http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Post message: [EMAIL PROTECTED] Subscribe : [EMAIL PROTECTED] Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED] List owner : [EMAIL PROTECTED] Homepage : http://proletar.8m.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/proletar/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
