SUARA KARYA

             Suciwati:
            Ada Konspirasi Kematian Mas Munir! 


            Minggu, 10 April 2005
            Pemerintah mestinya menarik pengalaman dari peristiwa ini. Kalau 
seorang Munir yang cukup dikenal, bahkan sampai ke masyarakat internasional 
saja, kasus kematiannya tidak bisa diungkap hingga tuntas, bagaimana bila 
kejadian semacam ini menimpa pada masyarakat awam. Kasusnya bisa hilang, 
menguap begitu saja. Jadi, saya akan terus berjuang agar kasus kematian suami 
saya bisa terkuak secara transparan. Kasus semacam ini tidak boleh dibiarkan, 
dan ke depan tidak boleh terulang. 

            Kasus kematian aktivis Kontras (Komisi Orang Hilang dan Korban 
Kekerasan), Munir SH, meski terkesan lamban, mulai menemui titik-titik terang. 
Pihak aparat berwenang negeri ini sudah mulai memeriksa beberapa orang yang 
dicurigai memiliki keterkaitan kuat. Setelah Pollycarpus, penyidik Badan 
Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri kembali menetapkan dan memeriksa 
dua tersangka lainnya, yakni Oedi Irianto dan Yeti Susmiarti. Keduanya 
masing-masing adalah pramugara dan pramugari Garuda yang bertugas saat Munir 
menumpang pesawat itu dalam penerbangan. 

            Memang baru sampai di situ, apa yang telah dilakukan pihak 
kepolisian terkait dengan kematian Munir. Kasus tersebut masih dalam taraf 
pemeriksaan-pemeriksaan terhadap orang yang disangkakan. Belum sampai kepada 
siapa yang mesti didakwakan, apalagi mendudukkan seseorang di hadapan majelis 
hakim pada sebuah persidangan di pengadilan. 

            Karena itu, tidaklah mengherankan bila Suciwati (37), sang isteri 
aktivis HAM tersebut menyatakan, merasa belum puas dengan hasil yang dicapai 
aparat. Namun demikian, Suci - demikian ibu dua anak ini biasa disapa - tetap 
menghargai kinerja kepolisian. Ibu dari Alif Allende (6,5 tahun) dan Diva 
Suukyi (3 tahun) ini berharap agar dalang dari pembunuh suaminya bisa 
terungkap. 

            Lantas! Apa saja yang ingin dicapai Suci dengan perjuangannya 
selama ini? Apakah hanya sekedar ingin mengetahui siapa pelaku pembunuhan 
suaminya? Ditemui Budi Seno PS dan fotographer Andry Bey dari Suara Karya, di 
bilangan Pancoran, Jakarta Selatan, tempat di mana ia melakukan aktivitasnya 
selama ini, baru-baru ini, wanita kelahiran Malang, Jawa Timur, 28 Maret 1968 
itu memaparkan semua yang menjadi keinginannya, berkaitan dengan kematian sang 
suami. 

            Obrolan di sore hari itu berlangsung di teras belakang sebuah 
bangunan yang terletak di kawasan tenang kompleks perumahan bank. Gemericik 
suara air yang berasal dari aliran sebuah kolam kecil yang terletak tepat di 
pinggir teras tempat kami duduk, ikut 'menemani' perbincangan kami. Pada awal 
perbincangan, suara wanita bertubuh mungil ini agak tersendat, kesedihan lantas 
muncul di raut wajahnya. Maklum, ia harus kembali menceritakan, saat-saat 
ditinggalkan suami tercinta. Namun setelah sekian menit kemudian, obrolan pun 
bisa berjalan dengan lancar. Demikian petikannya! 

            Dari siapa awalnya mengetahui perihal kematian suami Anda? 

            Saya ditelepon Mas Usman Hamid, yang menanyakan apakah Cak 
(demikian Usman Hamid biasa memanggil Munir-red) sudah menelepon saya. Memang, 
kebiasaan suami saya kalau bepergian, begitu sampai di tempat tujuan langsung 
menelepon ke rumah. Waktu itu saya menjawab, 'Belum!' Malahan saya balik 
bertanya pada Mas Usman, "Ada apa?" Lalu Mas Usman mengabarkan kalau suami saya 
sudah meninggal. 

            Bagaimana reaksi Anda mendengar kabar itu? 

            Saya kaget. Tapi, saya tidak lantas percaya begitu saja. Saya lalu 
menghubungi pihak Garuda (maskapai penerbangan yang dipakai Munir untuk 
berangkat ke Belanda-red) di sini, namun tidak ada jawaban yang pasti. Saya 
kemudian mengontak pihak Garuda di Schipol (bandara di Belanda-red). Sama saja, 
saya tidak mendapat jawaban yang pasti. Lalu, saya menelepon rekan-rekan tempat 
di mana suami saya akan menginap selama di Belanda. 

            Ada jawaban yang pasti? 

            Jawaban yang saya dapat hanya suara tangis. Memang akhirnya 
dikatakan bahwa suami saya meninggal. Tapi, begitu saya menanyakan apakah sudah 
melihat jasadnya, rekan itu bilang, 'belum'. Jadi, saya masih belum yakin benar 
kalau suami saya meninggal. 

            Lalu apa yang Anda lakukan? 

            Kembali saya menghubungi pihak Garuda di sini, yang akhirnya 
membenarkan kalau suami saya meninggal dunia. 

            Suami Anda berangkat ke Belanda dalam rangka studi, tentunya 
kesehatannya benar-benar sudah di-check sebelum berangkat. Apakah ada 
firasat-firasat tertentu sebelum keberangkatannya? 

            Tidak ada, suami saya sehat-sehat saja. Makanya, waktu ada seorang 
rekan berkomentar di media massa yang menyebutkan suami saya punya penyakit 
tertentu, saya marah besar. Saya katakan, kalau tidak mengetahui secara persis 
tentang suami saya, nggak usah berkomentar. Itu membual namanya. (Diucapkan 
dengan nada tinggi-red). 

            Firasat yang tersirat? 

            Sepertinya nggak ada ya! Tapi, bila ini bisa dibilang firasat, kami 
berdua memang menjadi lebih cengeng dan romantis. Waktu itu kami berpikir, 
mungkin karena kepergian suami saya kali ini akan lebih lama waktunya. Tapi, 
akhirnya kami berpikir, ah kenapa harus menjadi cengeng? Waktu itu, suami saya 
berangkat September, toh pada Desember kita bisa ketemu. Rencananya, kalau dia 
tidak pulang, saya yang akan menyusul ke sana. 

            Karena kepergian suami Anda waktu itu akan cukup lama, apakah ada 
pesan-pesan tertentu. Misalnya untuk anak-anak? 

            Tidak ada tuh! (Suci berusaha mengingat-ingat). Memang ada sesuatu, 
kalau boleh saya bilang sebuah keajaiban. 

            Apa itu? 

            Sebelum suami saya berangkat ke Belanda, kami memang sedang 
mencari-cari rumah. Ke mana saja kami berdua mencari, selalu saja tidak cocok. 
Ketidakcocokkan itu, entah dari kami atau dari pihak penjualnya. Namun beberapa 
hari sebelum suami saya berangkat, ketika kami kembali berupaya mencari rumah. 
Kok ketemu dan langsung cocok. Kami merasa sreg, dan si penjual pun setuju. 
Selain itu, ada satu lagi. Tidak seperti biasanya, tanpa sepengetahuan saya, 
dia (Munir-red), pada suatu hari tau-tau pulang membawa televisi. Saya ini kan 
orangnya tidak menyukai pemborosan, sementara ia memang sangat hobi dengan 
elektronik. Waktu saya tanya kenapa harus membeli televisi, Ia bilang, 'ingin 
membahagiakan keluarganya'. Maksudnya, saya dan anak-anak. (Menceritakan ini, 
mata Suci sekilas berkaca-kaca-red). 

            Menyangkut pengungkapan kasus kematian suami Anda, apa yang sangat 
Anda inginkan? 

            Ya, saya ingin kasus kematian suami saya diungkap sampai tuntas. 
Jangan hanya sampai pada orang-orang yang sejauh ini disangkakan saja. Kalau 
memang mereka pelakunya, itu kan hanya yang di lapangan saja. Saya ingin 
diungkap pula otak pelaku, dalang di belakang semua ini. 

            Anda merasa ada sesuatu dengan kematian suami Anda? 

            Ya! Kematian suami saya merupakan sebuah konpirasi. Ini konpirasi 
politik. Ini direncanakan. Ada otak pelaku, ada dalang di balik semua ini. Dan, 
itu yang saya inginkan untuk diungkap. 

            Ada rumor yang menyebutkan, sebagai seorang aktivis, suami Anda 
memang sengaja akan 'dihapus'? 

            Bisa jadi! Sebagai seorang aktivis, suami saya memang disebut-sebut 
sebagai target. (Diucapkan dengan nada tegas-red). 

            Bagaimana dengan upaya pihak kepolisian selama ini? 

            Saya sangat menghargai upaya pihak berwajib. Kinerja yang selama 
ini dilakukan pihak berwajib sangat saya hargai. Namun sekali lagi, saya 
katakan, saya sangat berharap semua dilakukan sampai menemukan otak pelaku di 
balik peristiwa pembunuhan ini. 

            Yang subtansial sekali, apa yang Anda inginkan dalam upaya 
pengungkapan kasus ini? 

            Pertama, seperti berulangkali saya katakan. Ungkap kasus ini sampai 
tuntas. Artinya, jangan pelaku-pelaku di lapangan saja yang diungkap, tapi 
sampai kepada pelaku intinya, otak dari yang merencanakan semua ini, dalang 
dari semua peristiwa pembunuhan ini. 

            Yang kedua, agar pemerintah menarik pengalaman dari peristiwa ini. 
Kalau seorang Munir yang cukup dikenal, bahkan sampai ke masyarakat 
internasional saja, kasus kematiannya tidak bisa diungkap hingga tuntas, 
bagaimana bila kejadian macam ini menimpa masyarakat awam. Kasusnya bisa 
hilang, menguap begitu saja. Jadi, saya akan terus berjuang agar kasus kematian 
suami saya bisa terkuak secara transparan. 

            Anda menyebut ini sebagai sebuah perjuangan. Apakah Anda merasa 
sendiri dalam perjuangan ini? 

            Tidak! Saya banyak dibantu oleh teman-teman. Saya banyak dibantu 
oleh masyarakat, baik secara nasional maupun internasional. 

            Kembali pada kehidupan pribadi Anda. Kapan dan di mana sih pertama 
kali Anda bertemu dengan Munir? 

            Saya bertemu suami saya pertama kali di Malang, Jawa Timur pada 
tahun 1991. Waktu itu saya masih menjadi aktivis buruh di Jawa Timur. 

            - Bagaimana Anda memandang sosok Munir? 

            Ia seorang aktivis yang penuh integritas, cerdas, serta konsekuen. 

            Bagaimana sosok Munir sebagai seorang bapak dari anak-anaknya? 

            Ia seorang yang selalu menomorsatukan keluarganya. Ia meninggalkan 
semua kegiatannya bila mengetahui ada sesuatu dengan anaknya. Misalnya, begitu 
mendengar kabar salah satu anaknya sakit, ia akan segera pulang. Itu 
dilakukannya walau sedang mengikuti kegiatan yang paling penting pun. 

            Kalau sebagai suami? 

            Munir adalah tipe suami yang hangat dan romantis. Di mata saya, ia 
merupakan suami yang hebat. 

            Ada waktu-waktu khusus untuk bersama dengan keluarga? 

            Itu kami lakukan setiap hari. Khususnya, pada waktu bangun di pagi 
hari. Begitu bangun tidur (Suci menerawang mengenang masa-masa yang 
diceritakannya-red), kami tidak langsung beraktivitas. Kami selalu bercanda 
dulu di tempat tidur bersama anak-anak. Itu selalu kami lakukan setiap hari. 
Setelah sekian puluh menit puas bercanda, barulah kami melakukan kegiatan 
sehari-hari. Kadang saya, suami saya, serta anak-anak berboncengan motor. Itu 
biasanya kami lakukan pada hari Sabtu. (Suci tersenyum mengenangkan peristiwa 
ini-red). 

            Anda tahu, kalau kehidupan seorang aktivis penuh dengan 
risiko-risiko? 

            Saya mengerti itu. Tapi kehidupan ini kan memang penuh dengan 
risiko. Apa sih akhir dari kehidupan ini, itu kan kematian. Jadi, kematian 
pasti akan terjadi pada siapa saja. Hanya masalah waktu. 

            Jadi, Anda merasa tidak pernah salah pilih untuk menjadikan Munir 
sebagai pasangan hidup? 

            Pilihan saya sudah tepat. Orang seperti dia (Munir-red), sangat 
memerlukan pasangan hidup yang mampu mendukung segala pemikiran-pemikiran dan 
aktivitasnya. Saya tidak pernah merasa salah pilih. 

            Kerap mengalami teror-teror? 

            Tidak sedikit. Tapi, kami punya komitmen untuk tidak mengekspos 
teror-teror yang terjadi pada keluarga kami. 

            Pertanyaan terakhir, pernah merasa was-was atau takut menjadi 
isteri seorang aktivis? 

            Perasaan takut manusiawi sekali dan pasti dimiliki setiap orang. 
Tinggal sekarang, bagaiman kita mengelola rasa takut itu dalam pikiran kita. 
Saya dan suami saya semasa hidupnya, selalu berbagi. Ia selalu bercerita 
tentang apa yang dilakukan atau akan dilakukan. Jadi, kita bisa saling 
memberikan masukan, terutama risiko-risiko yang bakal dihadapi. Jadi, bila 
terjadi apa-apa, sudah tidak kaget lagi. 

            Terima kasih Suciwati. Selamat berjuang. Semoga kasus kematian sang 
suami tercinta bisa terungkap sampai tuntas. ***  
     
     


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
What would our lives be like without music, dance, and theater?
Donate or volunteer in the arts today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/pkgkPB/SOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke