http://www.minggupagi.com/article.php?sid=94447

Friday, 08 April 2005 13:06

Paranormal, Profesi Paling 'Gampang' -   

--------------------------------------------------------------------------------
Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, 
maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari (HR Muslim dari sebagian 
Isteri-isteri Rasulullah Saw). SABDA Baginda Nabi Suci Muhammad Saw di atas 
jelas, praktik menebak nasib tidak dibenarkan. Konsumennya pun mubazir 
shalatnya sebulan lebih, apalagi praktisinya. Tapi di zaman modern, justru 
bermunculan praktisi yang kadang awur-awuran yang menurut Ki Gede Solo beberapa 
waktu lalu, untuk Indonesia saja (khususnya Jawa), terdapat 85% paranormal 
palsu. Tapi, saking pinternya 'bermain', mereka lolos dari pantauan petugas. 
Sedang yang frontal, kena juga batunya. 

Misalnya Rudi, warga Pati Jawa Tengah, setahun praktik perdukunan palsu, 
ulahnya terbongkar. Klien percaya eksistensinya awalnya, karena ia selalu 
mengaku keturunan Syeh Siti Jenar yang mampu mengambil harta karun berupa emas 
murni di kawasan Serang, Cilegon Banten, kebetulan sesuai tempat tinggal 
korban. Rudi juga mengaku bisa menyembuhkan berbagai aneka penyakit. Karena 
senantiasa menarik upah tinggi ketika beraksi mengobati pasien, terbongkar juga 
kiprahnya.

Lagi, tersiar kabar, dukun palsu yang mengaku mampu mengubah batu bata menjadi 
emas murni, ditangkap Kepolisian Sektor Kota Telanaipura, Jambi, belum lama 
ini. Empat bulan beraksi, Rahmananik berhasil mengantongi perhiasan emas 250 
gram dari sejumlah korban. Akhirnya terbuka juga kedoknya.

Mengapa banyak orang mengaku dukun ketika tidak punya kegiatan yang 
mendatangkan rezeki? Berbagai kalangan masyarakat berpendapat, predikat 
paranormal paling mudah dicuatkan hanya dengan sedikit keterampilan yang bikin 
orang berdecak, walau 'joged' seperti itu mengandung intrik sulap atau terbuka 
sebagai penipuan dengan mengandalkan kepandaian mengarang cerita. Bahkan, 
kadang praktiknya menyimpang dari kaidah agama. Namun, karena korban tidak 
berani melapor dengan dalih malu atau enggan berurusan dengan preman yang 
sering disewa paranormal palsu, amanlah praktik penipuan berlatar perdukunan 
itu.

Munculnya paranormal baru, mudah untuk mengidentivikasi keberadaannya. Apakah 
memiliki keterampilan atau ikut-ikutan dengan tujuan mengeruk keuntungan dari 
para penderita sakit, penyandang sukerta, pemikul sengkala atau terang-terangan 
menipu dengan kiat-kiat supranatural, baik yang dikerjakan setelah melihat 
praktik paranormal yang benar atau menciptakan kiat yang sekadar 
diserem-seremkan.

Salah satu ciri kepalsuan yang ditampilkan sendiri, "Biasanya, mereka yang 
mengaku sebagai paranormal, tidak berani ikut organisasi keparanormalan yang 
beranggotakan orang-orang yang peka terhadap sinyal alam. Jelas, takut kedoknya 
terungkap", komentar beberapa paranormal yang terlibat diskusi intern Lembaga 
Independen Persaudaraan Paranormal Indonesia (LIPPI), malam Jumat Kliwon lalu 
di Bantul.

Bahkan menurut Ki Sunarto MCC, Sekjen FKPPAI (Forum Komunikasi Paranormal dan 
Penyembuh Alternatif Indonesia) beberapa waktu lalu, di ibukota saja sulit 
dihitung dengan jari jumlah paranormal yang melakukan plesetan karena ingin 
kaya dengan cara mudah. "Kalau sudah begitu, siapa yang harus disalahkan?", 
ungkapnya retorik, walau secara implisit, paranormal asal Klaten itu 
menganggap, banyak paranormal tidak peduli dengan dunianya, petugas yang 
bingung bertindak atau lembaga formal yang tidak tahu harus berbuat apa.

Seseorang mengedarkan ramuan kemasan ahli jamu yang introvert misalnya. Ketika 
jamunya laris dan terbukti mampu menyembuhkan berbagai penyakit berat, lantas 
diklaim sebagai ramuan ciptaannya dan ia lantas mengaku sebagai jurusembuh atau 
paranormal. Salahkah perbuatan itu? Tentu saja, yang salah adalah moralnya. 
Sebab, tabiat seperti itu dapat dikategorikan sebagai kreativitas dunia 
pengobatan suplementer.

Menyangkut masalah ramuan untuk pengobatan, tentu saja Dep Kes atau Din Kes 
yang dinilai cocok sebagai lembaga pemeriksa. Tapi apa yang terjadi? Untuk 
mendaftarkan produk yang spektakuler dan dapat dibuktikan keampuhannya, 
praktisi atau peramu harus merogoh kocek, memenuhi biaya administrasi yang 
cukup besar untuk pengusaha jamu home industri. Sehingga, mereka lebih 
cenderung memilih door to door dalam mengedarkan ciptaannya. Ironis memang.

Tampaknya, analisis Ki Gede Solo ada benarnya. Sayangnya, banyak juga 
paranormal yang memiliki keterampilan, ikut-ikutan memraktikkan intrik-intrik 
ciptaan kreator abnormal. Ambil saja contoh, kasus gurah mata. Memang ada 
ramuan yang berfungsi untuk membersihkan mata dan menormalkan berbagai penyakit 
penglihatan.

Tapi seorang kreator menciptakan kiat, asal pasien dapat mengeluarkan air mata 
karena merasa pedas ketika ditiup pelan sekali, korban pun percaya dengan ilmu 
yang dimiliki praktisi. Padahal, rahasianya terletak pada jemari praktisi. 
Ketika meniup lembut, jemarinya menyentuh kelopak mata. Sebentar kemudian mata 
terasa pedas karena pada jemari, telah diolesi cabai.

Penipuan seperti itu sebenarnya tidak perlu terjadi kalau masyarakat sadar, 
mampu menilai, mana paranormal yang benar-benar memiliki ilmu atau yang 
plesetan. Setidaknya, lihat pada dinding tempat praktiknya. Kalau didapati 
sertifikat keilmuan, silakan percaya walau kadang tidak ada kaitannya dengan 
kapasitas praktiknya.

Lihat juga mediumnya. Silakan dipercaya kalau dalam kamar praktik terdapat 
peralatan, baik yang tradisional maupun modern. Tanduk, elektromagnetik, 
fibrator, jarum akupunktur, kayu pemijat dan sebangsanya. Tapi kalau terdapat 
tumpukan bekas pembakaran kemenyan, sebaiknya kembalikan moral spiritual kepada 
Yang Maha Tahu. Pakailah akal dengan memantau, logiskah asap kemenyan dapat 
menyembuhkan penyakit.

Sekali lagi, masyarakat sebaiknya meneliti terlebih dulu sebelum memilih 
paranormal yang benar-benar dapat dipercaya atau hanya 'dagang' permainan 
dengan modal besar yang dipakai untuk pasang advertensi atau membayar dolop. 
Tidak perlu khawatir untuk mengurungkan niat berobat atau konsultasi kepada 
mereka yang mengaku paranormal tetapi akhirnya hanya memeras nasabah. Bila 
merasa dipojokkan atau ditekan praktisi dari klinik tertentu, LIPPI bekerjasama 
dengan lembaga lain, baik organisasi pembela martabat wanita, advokasi maupun 
perlindungan masyarakat secara alternatif, siap membantu mereka yang terbukti 
menjadi korban paranormal palsu, praktisi plesetan atau penipu berkedok dukun.

Dalihnya, anggota lembaga pemersatu paranormal tersebut memiliki anggota yang 
menyebar di seluruh Indonesia secara amatir (dilihat dari tertib administrasi), 
tetapi profesional (dalam praktik membela korban paranormal palsu), terdiri 
atas paranormal, akupunkturis, Reiki Master, occultist, messeur, peramu jamu, 
valcon teller, praktisi tenagadalam, kiai, advokad, notaris, lurah, camat, 
polisi, tentara dan segala profesi yang ada dalam negara kesatuan. Motto 
paranormal yang praktik secara terbuka adalah, mengamalkan ilmu sambil mencari 
rezeki.

(Niesby Sabakingkin) 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
In low income neighborhoods, 84% do not own computers.
At Network for Good, help bridge the Digital Divide!
http://us.click.yahoo.com/S.QlOD/3MnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke