http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=9268
Ustadznya Mantan Petinju, Salatnya Bahasa Indonesia
Oleh redaksi
Kamis, 05-Mei-2005, 09:57:27
Pesantren Kontroversial di Malang
Di Ponpes I'tikaf pimpinan Ustadz KH Muhammad Yusman Roy desa
Sumber Waras Timur, Lawang, Malang, sekitar 12 Km dari pusat kota Malang,
jangan kaget jika menemukan seorang imam membaca lafal salat dengan menggunakan
dua bahasa, yakni Bahasa Arab dan Bahasa Indonesia.
MALANG - Jangan kaget juga jika para makmum atau para santri juga
melafalkan hal yang sama dalam dua bahasa. Dan begitulah yang terjadi
sehari-hari di pondok pesantren tersebut. Salat wajib lima waktu maupun semua
salat sunnah bacaan-bacaannya berbahasa Arab diikuti bahasa Indonesia.
"Yang tidak menggunakan Bahasa Indonesia hanya sewaktu adzan saja," tutur
Ustadz KH Muhammad Yusman Roy pimpinan Ponpes I'tikaf Ngadi Lelaku, Malang,
Jawa Timur kepada sejumlah wartawan yang menemui di kediamannya, Sumber Waras
Timur, Lawang, Malang, Jawa Timur.
Salat yang dilakukan Muhammad Yusman Roy dan para santrinya ini memang
tidak lazim. Sejak mulai bacaan niat sudah menggunakan Bahasa Indonesia.
Kemudian mulai takbir membaca takbir diikuti dengan terjemahannya. "Allohu
Akbar, Alloh Maha Besar...".
Demikian juga ketika memulai membaca bacaan lainnya, seorang imam salat
dengan keras membaca bacaan berbahasa Arab diikuti dengan artinya dalam bahasa
Indonesia. "Bismillahirrohmanirrohim... Dengan menyebut nama Alloh yang Maha
Pengasih dan Penyayang..." dan seterusnya.
Muhammad Yusman menjelaskan bahwa salat yang diajarkan ini meski berbeda
dalam lafal, yakni ada penambahan menggunakan bahasa Indonesia, namun syarat
dan rukunnya tetap sama. "Urut-urutan salah wajib dan salat sunnah juga sama.
Tidak ada yang beda. Perbedaan hanya dalam lafal, yakni bahasa Arab diikuti
Bahasa Indonesia," katanya.
Ajaran salat dengan menggunakan dua bahasa ini ini ternyata sudah
berlangsung sejak tahun 2002 lalu. Sekurang-kurangnya sudah ada 300 santri yang
mengikuti ajarannya dan telah tersebar di berbagai wilayah di Jawa Timur.
Ustadz Muhammad mengaku bahwa ajaran yang disampaikan kepada para santri
ini hasil kreatifitasnya sendiri. "Kenapa harus diajarkan dengan Bahasa
Indonesia, agar seluruh umat mengerti. Karena selama ini banyak umat Islam yang
melakukan salat dengan menggunakan Bahasa Arab, tetapi tidak mengerti apa arti
bacaan-bacaan yang dilafalkan," ujarnya.
Aliran Sesat
Heboh salat dengan menggunakan dua bahasa, yakni Arab disertai terjemahan
dalam Bahasa Indonesia tak dibenarkan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
(MUI). Salat yang diajarkan oleh Ustadz Muhammad Yusman Roy pimpinan Pondok
Pesantren I'tikaf, Ngadi Lelaku, Malang, Jawa Timur ini dinilai sebagai ajaran
sesat.
"Ngak ada cara Salat seperti itu. Salat yang benar harus seperti yang
diajarkan. Salatlah kamu seperti kamu lihat aku salat. Nggak boleh menambahi
sesuatu yang memang gak ada," kata Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Ma'ruf Amin.
Ma'ruf Amien menjelaskan bahwa salat harus diajarkan sesuai dengan
tuntunannya. Jika ada hal yang diperbolehkan, harus ada dasar yang membolehkan
apa. "Lha ini dasarnya apa?" katanya.
Kalau dasarnya agar orang yang salat mengetahui arti dari
bacaan-bacannya, tidak harus artinya dimasukkan dalam salat. "Yang penting
paham dulu, artinya kan bisa dipelajari tidak saat salat," kata Ma'ruf Amin.
Bagi MUI, tuntunan salat sudah baku dan tidak bisa ditambah-tambahi
maupun dikurangi. Sehingga jika ada yang menambah-nambahi, ada model baru
salat, itu tidak dibenarkan. "Sudah ratusan tahun, salat model baru dengan
menyertakan terjemahan itu tidak ada," imbuhnya.
Tidak Ramai
Meski menyebut dirinya sebagai pondok pesantren, kegiatan di Ponpes
I'tikaf Ngudi Lelaku, Desa Sumber Waras Timur, Malang pimpinan Ustadz KH
Muhammad Yusman Roy tak seramai layaknya sebuah ponpes. Setiap hari hanya
beberapa orang santri kelihatan.
Santri lainnya bertemu dengan Ustadz Roy setiap hari Jumat siang, sewaktu
mengadakan salat Jumat bersama. Selain itu, ada pertemuan rutin setiap bulan,
persisnya sewaktu bulan purnama.
Pertemuan biasanya berlangsung di salah satu bangunan yang ada di pondok
tersebut. Pondok tersebut seluas 125 X 50 meter, terdiri dari 2 bangunan. Satu
bangunan utama sebagai tempat tinggal dan satu bangunan lainnya sebagai tempat
beraktivitas, seperti menerima tamu, tempat pengajian, serta tempat salat
berjamaah.
Ustadz Roy menyebutkan bahwa sejak pondoknya berdiri pada tahun 2002,
jumlah santri mencapai 300 orang. Mereka berusia antara 30 sampai 60 tahun
tersebar di berbagai wilayah di Jawa Timur. "Para santri sudah tidak menginap
di sini lagi. Dulu memang ada yang menginap, tapi akhir tahun 2004 para santri
yang sudah selesai belajar pulang," kata Ustadz Roy.
Nah, yang menarik dari pondok yang mengajarkan salat berbahasa Indonesia
ini, rata-rata santri yang datang mempunyai masalah, seperti masalah sosial,
mantan preman, dan lain-lain. Namun, banyak juga santri yang berasal dari warga
sekitar. Mereka mengetahui adanya pondok yang mengajarkan salat bahasa
Indonesia lewat selebaran, koran dan lain-lain.
Siapakah Ustadz Roy?
Ustadz Muhammad Yusman Roy pengajar salat berbahasa Indonesia ternyata
kaya pengalaman hidup. Ia mengaku keturunan Indo-Belanda, beragama Nasrani,
pernah malang melintang menjadi preman, petinju dan akhirnya menetapkan pilihan
menjadi ustadz.
Itulah gambaran singkat Ustadz Roy, pimpinan Pondok Pesantren I'tikaf
Ngadi Lelaku, Desa Sumber Waras Timur, Lawang, Malang Jawa Timur, yang
belakangan ini menjadi pusat perhatian warga karena ajarannya yang tidak lazim.
Dalam perbincangan dengan sejumlah wartawan, Rabu (4/5), Ustadz Roy
mengaku lahir di Surabaya, 25 Mei 1955. Orang tuanya merupakan keturunan
Indonesia-Belanda. Sebelum memeluk agama Islam, ia adalah pemeluk Nasrani.
Roy mengaku banyak dibesarkan di Surabaya. Lima tahun dia malang
melintang di dunia preman. Pada tahun 80-an ia sempat menjadi petinju dan
mengaku menjadi petinju yang meng-KO lawan tercepat. "Tak sampai satu menit,
lawan bisa saya robohkan," ceritanya bernostalgia.
Saat menjadi petinju, Ustadz Roy mengaku mulai mendalami agama. Pada
tahun 1975, Roy berguru kepada Kiai Satar dari Paneleh, Surabaya untuk belajar
ilmu syariat. Selama 10 tahun mendalami Islam, dirinya merasa belum mampu
mendalami arti surat yang dibaca sewaktu salat.
Setelah belajar ilmu syariat dari tahun 1975 hingga tahun 1997, ia
kemudian mendirikan sebuah pondok dengan nama Pondok I'tikaf Jamaah Ngadi
Lelaku. "Tujuan mendirikan pondok agar lebih memahami terjemahan ayat-ayat suci
Al Quran dan hadist," ujarnya.
Pada tahun 2002 setelah menunaikan ibadah haji, Ustadz Roy memberikan
ajaran salat dengan menyelipkan bahasa Indonesia pada ayat-ayat yang
dibacakannya.
Alasan memakai Bahasa Indonesia, agar orang lain yang taat salat namun
tidak tahu arti dari ayat-ayat yang dibacakan saat salat, mereka bisa lebih
mengerti dan memahami arti ayat-ayat tersebut.
Ustadz Roy yakin apa yang diterapkannya sama sekali tidak bertentangan
dan menodai kesucian Islam, karena tidak mengubah cara salat. Ketika ditanya
kenapa pakai Bahasa Indonesia, bapak dari 10 orang putera ini beralasan Bahasa
Indonesia itu bahasa yang universal di Tanah Air.(detik.com/hah)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe : [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe : [EMAIL PROTECTED]
List owner : [EMAIL PROTECTED]
Homepage : http://proletar.8m.com/
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/proletar/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/