http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/15/opi3.htm


Cheng Ho, Islam, dan Indonesia 
Oleh: Sumanto Al Qurtuby
TAHUN 2005 ini merupakan tahun yang sangat istimewa bagi masyarakat Tionghoa di 
belahan bumi mana pun tak terkecuali Indonesia. Sebab pada tahun ini genap 600 
tahun pelayaran kolosal tokoh legendaris Tiongkok Cheng Ho sejak menginjakkan 
kaki pertama tahun 1405. Untuk menyambut ulang tahun ke-600 pelayaran Cheng Ho 
ini, masyarakat Tionghoa mengadakan berbagai aktivitas baik sosial, intelektual 
sampai ritual. 

Di Singapura juga akan digelar The Third International Conference of Institutes 
& Libraries for Chinese Overseas Studies tanggal 18-20 Agustus mendatang yang 
tujuan utamanya juga untuk mengenang sang maestro Cheng Ho. Acara ini 
diselenggarakan kerja sama Universitas Ohio, Departemen Luar Negeri Singapura 
dan International Cheng Ho Society. Kebetulan, oleh panitia saya diundang 
sebagai salah satu pembicara di forum tersebut guna mempresentasikan tentang 
Cheng Ho, Islam dan Indonesia. 

Kenapa panitia dalam hal ini Prof. Dr. Leo Suryadinata meminta saya 
menyampaikan tema di atas? Sebab menurutnya, sejarah Cheng Ho tidak bisa 
dilepaskan dengan Islam dan Indonesia. 

Historisitas Cheng Ho memang tidak bisa dilepaskan dengan Islam dan Indonesia 
yang dulu Nusantara. Cheng Ho memang layak untuk dikenang. Kisah pelayarannya 
tidak hanya menorehkan jejak sejarah yang mengagumkan di setiap negara yang 
dilaluinya ( laporan khusus Time di bawah tajuk The Asian Voyage: In the Wake 
of the Admiral, August 20-27, 2001) tetapi juga telah mengilhami ratusan karya 
ilmiah baik fiksi maupun non-fiksi serta penemuan berbagai teknologi 
kelautan-perkapalan di Eropa khususnya pascapenjelajahan sang maestro. Legenda 
Sinbad Sang Pelaut yang begitu populer di Timur Tengah juga diinspirasi oleh 
kisah legendaris Cheng Ho. Di Indonesia, terutama Jawa, juga terdapat jejak 
historis yang tak terbantahkan sebagai pengaruh misi muhibah Cheng Ho. Selain 
itu, juga cukup banyak berbagai karya sastra yang bertutur tentang Cheng Ho/Sam 
Po Kong seperti yang ditulis Remy Silado. 

Cerita lisan Dampu Awang yang begitu kuat di masyarakat pesisir utara Jawa juga 
disinyalir merupakan pengaruh dari legenda itu. 

Siapakah Cheng Ho sehingga pengaruhnya begitu besar? 

Cheng Ho sebetulnya adalah nama yang diberikan oleh Cheng Tzu atau Chu Teh yang 
lebih populer dengan sebutan Yung Lo, kaisar ke-3 Dinasti Ming yang berkuasa 
dari tahun 1403 sampai 1424. Nama asalnya adalah Ma Ho, lahir 1370 M dalam 
keluarga miskin etnis Hui di Yunan. 

Hui ini adalah komunitas muslim Tionghoa campuran Mongol -Turki. Karena jasanya 
dalam turut mengudeta Kien Wen, akhirnya Ma Ho diberi jabatan penting oleh 
Kaisar Yung Lo sebagai pemegang komando atas ribuan abdi dalem di Dinas Rumah 
Tangga Istana yang melayani kaisar sebagai polisi rahasia (Seagrave, 1999). 

Ini merupakan jabatan sangat berpengaruh bukan seperti penunjukan Paus atas 
kepala baru Opus Dei Vatikan. Sebagai bukti kepercayaan sang kaisar pada Cheng 
Ho, ia diberi mandat untuk memimpin ekspedisi laut sebagai Commander in Chief 
lewat sebuah dekrit kerajaan (Imperial Decree). Sementara wakil dan sekretaris 
masing-masing dipegang oleh Laksamana Muda Heo Shien (Husain) dan Ma Huan serta 
Fei Shin (Faisal). Bertindak sebagai juru bahasa Arab, selain Ma Huan yang 
memang mahir berbahasa Arab juga Hassan, seorang imam di bekas ibukota Sin An 
(Changan). Dalam menjalankan politik diplomasi laut ini, Kaisar Yung Lo 
mengeluarkan armada berjumlah 62 kapal besar dengan 225 junk (kapal berukuran 
lebih kecil) dan 27.550 orang perwira dan prajurit termasuk di dalamnya ahli 
astronomi, politikus, pembuat peta, ahli bahasa, ahli geografi, para tabib, 
juru tulis dan intelektual agama. Kisah itu kemudian ditulis antara lain di 
Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming). 

Sejak 1405, awal mula Cheng Ho mengadakan pelayaran sampai wafatnya, 1433 ia 
telah mengadakan pelayaran selama 7 kali dan mengunjungi lebih dari 37 negara: 
dari berbagai pelabuhan di Nusantara dan Samudra Hindia sampai ke Sri Langka, 
Quilon (Selandia Baru), Kocin, Kalikut, Ormuz, Jeddah, Magadisco dan Malindi. 
Dari Campa hingga India, dan dari sepanjang Teluk Persia dan Laut Merah hingga 
pesisir Kenya. 

Dilihat dari kuantitas dan waktu, ekspedisi Cheng Ho jauh melampaui para 
pengembara mana pun di Eropa: Chistopher Columbus, Vasco da Gama, Ferdinand 
Magellan, Francis Dranke dan lain-lain. 

Karena prestasinya yang luar biasa menjadikan Cheng Ho semakin dimitoskan dan 
diberi julukan kaisar sebagai Ma San Bao (Ma Si Tiga Permata). Julukan ini 
merupakan plesetan dari sejenis ungkapan sayang Tionghoa. 

Dalam komunitas Tionghoa dewasa ini lepas dia seorang muslim atau tidak, tokoh 
Cheng Ho ini menjadi semacam tokoh mitologi yang diagungkan. Ia tidak hanya 
dipuja dan dikagumi sebagai seorang Bahariwan Agung tetapi juga disembah 
sebagai dewa di berbagai kelenteng dengan sebutan Sam Po Kong terutama oleh 
penganut agama leluhur Tionghoa. Di kemudian hari,sang maestro ini dikenal 
dengan berbagai sebutan: Sam Poo Tay Djin, Sam Poo Tay Kam, Sam Poo Toa Lang 
dan lain-lain. 

Anakronisme Historis

Ini adalah sebuah anakronisme historis. Sebab Cheng Ho yang manusia biasa dan 
muslim itu kemudian diberhalakan sebagai dewa yang disembah di kelenteng. Lebih 
menyedihkan lagi, sejarah Cheng Ho selalu ditulis secara hagiografis yaitu 
berlebih-lebihan yang cenderung melampaui manusia lumrah bukan menggunakan 
pendekatan sejarah kritis. Akibatnya, sosok Cheng Ho tampil sebagai manusia 
yang nyaris sempurna yang hanya pantas ada di alam mitos.

Padahal Cheng Ho adalah seorang Muslim Tionghoa lumrah sebagaimana yang lain 
yang tentunya juga memiliki keterbatasan sejarah. Jasa terbesar dia barangkali 
adalah telah menjalin persahabatan antara Tiongkok dengan negara atau kerajaan 
lain di dunia ini yang diperkukuh dengan pertukaran kebudayaan yang masih 
tampak hingga dewasa ini, termasuk di Jawa. 

Memang telah terjadi apa yang saya sebut sebagai Sino-Javanese Muslim Cultures 
yang membentang dari Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang, Demak, Jepara, Lasem 
sampai Gresik dan Surabaya sebagai akibat dari perjumpaan Cheng Ho dan Tionghoa 
Islam lain dengan Jawa. 

Bentuk Sino-Javanese Muslim Cultures itu tidak hanya tampak dalam berbagai 
bangunan peribadatan Islam misalnya masjid, yang menunjukkan adanya unsur Jawa, 
Islam, Tionghoa tetapi juga berbagai seni/sastra, batik, ukir dan unsur 
kebudayaan lain. Sayang, fenomena Sino-Javanese Muslim Cultures itu tidak 
terpelihara dengan baik bahkan oleh masyarakat Tionghoa muslim sendiri. 

Banyak dari mereka yang tidak mengerti mengenai asal-usul/genealogi mereka. 
Para sejarawan Tanah Air juga sangat langka yang merawat atau memelihara 
kesejarahan akulturasi Tionghoa, Islam, Jawa ini. Mereka umumnya terkena 
penyakit intellectual laziesness atau kemalasan intelektual untuk melakukan 
penggalian sejarah yang memang minim dokumentasi tertulis ini. 

Perpustakaan Nasional juga tidak menyimpan dokumen-dokumen berharga kaitannya 
dengan kesejarahan

Jawa terutama Jawa prakolonial sebuah kurun di mana perjumpaan Tionghoa, Islam, 
Jawa mengalami intensitas tinggi. Gambaran suasana mengenaskan ini saya 
dapatkan ketika melakukan riset untuk penulisan buku Arus Tionghoa, Islam, 
Jawa. 

Oleh karena itu sangatlah wajar apabila setiap kali diadakan pembicaraan 
mengenai asal-usul Islam di Jawa,para sejarawan selalu mengulang-ulang teori 
klasik, sekaligus klise, yakni bahwa Islam yang tersebar di Jawa ini melalui 
para pedagang dari India Belakang (Gujarat) dan Timur Tengah terutama Persia. 
Padahal jika kita mau jujur, bangsa Tionghoa-lah sebetulnya yang memiliki peran 
cukup signifikan dalam proses Islamisasi di Jawa khususnya. 

Argumentasi ini tidak hanya didasarkan pada laporan sejarah yang dilakukan Ma 
Huan (seorang muslim Tionghoa yang juga sekretaris Cheng Ho) yang pada abad 
ke-15 mengunjungi pesisir Jawa tetapi juga oleh beberapa pengembara asing lain 
seperti de Baros (Portugis), Ibnu Battuta (Maghrib), dan Loedwicks (Belanda). 
Teks-teks babad lokal juga menceritakan adanya orang-orang Tionghoa muslim yang 
mempunyai pengaruh kuat dalam proses penyebaran Islam di Jawa. 

Fakta yang tak terbantahkan tentu saja adalah apa yang saya sebut Sino-Javanese 
Muslim Cultures tadi. Ukiran padas di masjid kuno Mantingan, Jepara , menara 
masjid di pecinan Banten (Jawa Barat), konstruksi pintu makam Sunan Giri di 
Gresik (Jawa Timur), arsitektur Keraton dan Taman Sunyaragi di Cirebon (Jawa 
Barat), konstruksi Masjid Demak (Jawa Tengah) terutama soko tatal penyangga 
masjid beserta lambang kura-kuranya, konstruksi Masjid Sekayu di Semarang dan 
sebagainya semuanya menunjukkan adanya keterpengaruhan budaya Tionghoa yang 
sangat kuat. 

Peninggalan sejarah yang tak terelakkan dari masyarakat Tionghoa muslim adalah 
dua masjid kuno yang berdiri megah di Jakarta, yakni Masjid Kali Angke yang 
dihubungkan dengan Gouw Tjay dan Masjid Kebun Jeruk yang didirikan oleh Tamien 
Dosol Seeng dan Nyonya Cai.

Bukti-bukti kesejarahan ini belum termasuk kelenteng kontroversial yang diduga 
kuat oleh beberapa sejarawan sebagai bekas masjid yang dibangun masyarakat 
Tionghoa muslim pada abad ke-15/16. Kelenteng-kelenteng dimaksud adalah 
Kelenteng Ancol (Jakarta), Kelenteng Talang (Cirebon), Klenteng Gedung Batu 
(Simongan, Semarang), Kelenteng Sampokong (Tuban) dan Kelenteng Mbah Ratu 
(Surabaya). Inilah sekelumit dari fakta Sino-Javanese Muslim Cultures di atas. 

Berdampingan Damai

Fakta Sino-Javanese Muslim Cultures di atas sekaligus menunjukkan bahwa 
komunitas Tionghoa di negeri ini pernah hidup berdampingan secara damai dengan 
etnis lain, Jawa,Betawi. Mereka tidak hanya saling tukar-menukar kebudayaan 
tetapi lebih dari itu juga mengadakan perkawinan silang dengan perempuan 
setempat karena kita tahu para pengembara Tionghoa pada waktu itu semuanya 
laki-laki. 

Kata nyonya yang begitu melekat dalam masyarakat kita pada awalnya berasal dari 
akar kata Hokian nio atau niowa yang berarti perempuan lokal yang dinikahi 
laki-laki Tionghoa. 

Dari sinilah maka tidak mengherankan apabila banyak masyarakat Indonesia yang 
sebetulnya masih memiliki darah Tionghoa. Ini misalnya ditunjukkan dengan 
adanya tembong biru pada pantat atau bagian bawah lain dari bayi yang baru 
lahir. Tembong biru itu mengisyaratkan bahwa si bayi mempunyai darah Mongoloid 
atau darah Tionghoa (Mongoolse Vlek).

Fakta harmoni Tionghoa -Jawa ini kemudian dirusak oleh Belanda dengan 
menerapkan politik segregasi berupa passenstelsel, keharusan bagi setiap orang 
Tionghoa untuk mempunyai surat jalan khusus apabila hendak bepergian ke luar 
distrik tempat mereka tinggal, dan wijkenstelsel, pelarangan bagi Tionghoa 
untuk tinggal di tengah kota dan mengharuskan mereka membangun satu ghetto yang 
kemudian dikenal dengan Pecinan sebagai tempat tinggal. 

Sejak itu Tionghoa menjadi terisolasi dari publik ramai, dan menjadi eksklusif. 
Fakta ini diperparah dengan adanya penulisan sejarah Jawa yang Nerlando-centris 
sehingga semakin mengucilkan peran dan eksistensi masyarakat Tionghoa 
lebih-lebih Tionghoa muslim di Indonesia. 

Apa yang saya sampaikan dalam paparan di atas tidak lain bahwa sejarah Cheng Ho 
tidak hanya milik komunitas Tionghoa tetapi juga masyarakat muslim dan bangsa 
Indonesia pada umumnya. Karena itu, semua masyarakat, tidak hanya etnik 
Tionghoa saja, hendaknya turut merayakannya dengan suka-cita. Usaha Pemerintah 
Kota Semarang dan Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) 
dalam membangun Kelenteng Gedung Batu dan jejak Tionghoa lain guna meramaikan 
ulang tahun pelayaran Cheng Ho ke-600 patut didukung oleh semua lapisan 
masyarakat. 

Kita harus menyadari bahwa Tionghoa adalah bagian integral dari sejarah lokal 
Indonesia, maka hidup bersama dalam keragaman budaya merupakan konsekuensi 
logis yang harus kita terima dengan lapang dada.(11)

- Sumanto Al Qurtuby Direktur Eksekutif Ilham Institute Semarang; tinggal di 
Harrisonburg, VA, USA 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Has someone you know been affected by illness or disease?
Network for Good is THE place to support health awareness efforts!
http://us.click.yahoo.com/rkgkPB/UOnJAA/Zx0JAA/uTGrlB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke