http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/18/opini/1823266.htm

 
SMS Pak Presiden 

Oleh Riswandha Imawan



TIBA-tiba Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memiliki ide membuka layanan SMS 
langsung untuk masyarakat. Ide ini semula dipakai dan sukses dilakukan Gubernur 
Gorontalo Fadel Muhammad. Namun, sukses di tingkat provinsi belum tentu sukses 
di tingkat nasional, bahkan bisa kontraproduktif karena berpotensi memunculkan 
masalah baru.

Melalui para pembantunya, Presiden menyatakan, metode ini untuk mendekatkan 
kembali dirinya dengan rakyat. Bila disimak, alasan ini bisa jadi merupakan 
pengakuan diam-diam bahwa sejak dilantik, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 
(SBY) mulai terasing dari rakyatnya. Setidaknya Presiden sadar, akibat berbagai 
kebijakan yang kontroversial, popularitasnya menurun tajam. Tampaknya citra 
diri ini yang ingin dikoreksi. Tapi upaya ini membawa konsekuensi serius.

IDE membuka hubungan langsung dengan rakyat pernah dilakukan (mantan) Presiden 
Soeharto melalui Kotak Pos 5000. Bedanya Kotak Pos 5000 disediakan hanya untuk 
pengaduan kasus-kasus korupsi; sedangkan metode SMS untuk apa saja. Mengingat 
kekecewaan rakyat terhadap performa (aparat) pemerintahan saat ini, bisa diduga 
fasilitas SMS yang disediakan akan mengalami overloaded. Masalah teknis ini 
bisa diatasi, misalnya, melalui metode hypertext yang secara otomatis membantu 
membagi masukan data ke dalam klasifikasi tertentu.

Meski demikian, metode ini sulit bekerja sempurna mengingat pesan yang 
disampaikan melalui fasilitas SMS umumnya memakai singkatan yang tidak lazim. 
Misalnya, kata "dan" yang ditulis dengan huruf "n", kata "dirjen" ditulis 
dengan singkatan "dj".

Masalah teknis lain adalah soal validitas pengirim SMS. Presiden SBY meminta 
agar tiap SMS dilengkapi identitas diri, seperti nama dan alamat jelas. 
Pertanyaannya, apakah benar orang itu yang menulis, mengingat demikian mudahnya 
kartu telepon diperoleh? Bagaimana bila isinya fitnah, misalnya menghina 
Presiden, yang terbukti membawa konsekuensi hukum di negeri ini? Metode 
interaksi melalui SMS bisa berubah menjadi arena saling memfitnah, 
dikhawatirkan bisa menambah kebimbangan Presiden untuk memutuskan.

Persoalannya, Presiden SBY tidak bisa mengabaikan hal-hal yang dikirimkan. 
Alasannya, pertama, bila selama ini pemerintah bisa menggunakan ungkapan klasik 
"aspirasi rakyat yang mana?", kini jelas jawabnya. Tidak boleh lagi Presiden 
menyatakan tidak jelas kelompok masyarakat penyampai aspirasinya. Kedua, 
sebagai konsekuensi, rakyat berharap tiap kebijakan Presiden mengacu pada 
SMS-SMS itu. Apalagi rakyat merasa sudah "membayar" melalui pengorbanan pulsa. 
Ini berbahaya bagi wibawa dan legitimasi Presiden, atau kelangsungan 
pemerintahan SBY secara keseluruhan.

Berbahaya sebab rakyat sudah merasa langsung menyampaikan aspirasinya kepada 
otoritas tertinggi negeri ini, dan Presiden berjanji akan membaca seluruh SMS 
yang dikirimkan. Ini janji pertama Presiden, sebelum kemudian sedikit dianulir 
juru bicara dengan menyatakan akan dilakukan klasifikasi dan disortir (dipilih) 
SMS-SMS yang layak dibaca Presiden. Apa pun wujud mekanismenya mengundang 
masalah.

Bila dilakukan sortir oleh pembantunya, tidak ada jaminan, informasi yang 
disampaikan ke Presiden adalah hal-hal yang harus didengar. Kultur politik kita 
masih terpaku pada penyampaian informasi yang "enak didengar" oleh patron. 
Dampaknya patron selalu mendapat informasi keliru mengenai situasi yang 
dihadapi. Kalaupun sortir dilakukan atas dasar arti pentingnya isu terkait 
program pemerintah, orang akan bertanya "siapa Presiden Indonesia saat ini?" 
Apalagi secara realistis mustahil Presiden memiliki waktu luang untuk membaca 
seluruh SMS yang masuk.

DILAKUKAN atau tidak dilakukannya sortir jelas melambungkan harapan 
(ekspektasi) masyarakat kepada pemerintah. Mengikuti teori Relative Deprivation 
(Gurr, 1970) peningkatan ekspektasi tanpa diimbangi peningkatan kemampuan 
(kapabilitas) akan membuat rakyat frustrasi, melakukan tindak kekerasan, bahkan 
melakukan revolusi. Mengapa? Karena bila pengaduan sudah sampai ke Presiden dan 
tak juga ditanggapi, kepada siapa lagi mereka harus mengadu di dunia ini?

Situasi internal kabinet pun bisa dibuat repot SMS ke Presiden. Selain unsur 
fitnah, metode SMS langsung ke Presiden bisa dibaca sebagai ketidakpercayaan 
Presiden kepada pembantunya. Presiden bisa dinilai memotong (encompassing) alur 
politik sistemik yang harus dilalui. Kelanjutan bacaan ini cukup berat. Bisa 
saja melalui metode ini Presiden dinilai sedang merekonstruksi pemerintahan 
yang sentralistis. Semua urusan langsung diurus Presiden. Bila tidak mampu, 
baru didelegasikan ke pembantunya. Sebuah ironi politik di saat pemerintah 
bertekad mewujudkan politik desentralisasi agar mekanisme politik yang mengalir 
dari bawah ke atas (bottom-up) terwujud.

Kalau penilaian berhenti di sini saja, tidak terlalu merepotkan. Menjadi repot 
bila dikaitkan dengan kemungkinan banjir fitnah dengan muara situasi 
sosial-politik yang tidak menentu, tidak kondusif bagi upaya peningkatan 
kualitas kehidupan demokrasi (deepening democracy) sebagai fokus utama bidang 
politik dalam program Indonesia Bangkit. Tidak adanya paradigma alternatif 
memaksa pemerintah secara diam-diam melanjutkan paradigma "stabilitas politik 
untuk pembangunan ekonomi" era Soeharto. Ini membuat kekacauan sosial-politik 
yang terjadi dengan mudah menggoda dan mengarahkan pemerintah kembali ke era 
otoritarianisme.

Repotnya bila muncul penilaian miring bahwa SMS saling fitnah itu dilakukan 
oleh orang-orang suruhan atau operator negara untuk menciptakan kondisi bagi 
tindakan-tindakan represif. Ini mudah dilakukan, mengingat media yang 
digunakan, handphone dan SMS, sifatnya anonim serta mudah didapatkan dalam 
jumlah tak terbatas. Mirip kontes Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Bahkan lebih 
gawat, sebab di AFI bila satu nomor terpakai tidak bisa mengirim lagi, 
sementara di SMS langsung ke Presiden bisa berkali-kali tanpa terdeteksi.

Kalau begitu untuk apa Presiden SBY mencetuskan ide ini? Niatnya baik. Hanya, 
seperti petuah para ulama "niat baik bila menggunakan metode yang salah akan 
menghasilkan mudarat bagi kita", demikian pula dengan niat Presiden. Bisa jadi 
rakyat menilai, metode SMS langsung hanya upaya memperbaiki citra Presiden yang 
cenderung menurun akhir-akhir ini. Sama sekali tidak ada jaminan terkait 
substansi kebijakan yang akan diambil.

Riswandha Imawan Guru Besar Ilmu Politik UGM


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke