http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/24/opini/1836503.htm

 
Agamawan (Harus) Melawan Kemiskinan 

Oleh Zuhairi Misrawi

KISAH Supriono (38) dan Mardiah (61) (Kompas, 13/6) betul-betul menyesakkan 
dada, meluluhlantakkan perasaan, dan membangkitkan kemanusiaan kita semua. 
Kabar itu menyimpan makna, hikmah, dan kritik sosial.

Setidaknya, kedua sosok itu merupakan kabar paling nyata bagi kita semua bahwa 
kemiskinan telah menggerogoti bangsa ini. Supriono harus mengikhlaskan 
putrinya, Khairunnisa, pulang ke alam baka karena ketidakmampuannya membayar 
biaya pengobatan.

Sedangkan Mardiah ditinggalkan putranya yang didera utang. Keduanya adalah 
korban kemiskinan yang makin ganas dan sadis. Ingar-bingar kota Jakarta 
ternyata tidak mampu mengubah nasib mereka. Kemodernan dan kegemerlapan kota 
Jakarta ternyata menyimpan duka dan kesedihan.

Demikianlah kritik para pengikut mazhab posmo, bahwa kemodernan tidak selamanya 
menggembirakan, tetapi amat mungkin melahirkan dampak-dampak terburuk, 
utamanya: kemiskinan yang bersifat masif. Mengkritisi Jakarta adalah 
mengkritisi kemodernan.

APABILA di Jakarta saja jumlah orang miskin makin meningkat, daerah-daerah lain 
yang sumber mata pencariannya tidak seluas Jakarta akan menghadapi masalah 
serupa, bahkan mungkin lebih kompleks. Bisa dipastikan, selain Supriono dan 
Mardiah, masih banyak warga yang menghadapi kemiskinan dan sulitnya mencari 
pekerjaan untuk sekadar memenuhi kebutuhan keluarga. Fakta ini menggugah 
kesadaran kolektif kita, apa yang harus dilakukan agamawan untuk memerangi dan 
mengatasi kemiskinan.

Harus diakui, meluasnya jumlah orang miskin secara implisit mengabarkan 
gagalnya agamawan membangun etika sosial, etika yang memberi perhatian kepada 
mereka yang lemah dan dilemahkan. Akibat agama terlalu sering membincangkan 
soal etika privat, tak terelakkan etika sosial cenderung diabaikan.

Buktinya, kemiskinan belum menjadi "kurikulum" dalam materi keagamaan. Padahal, 
dalam sebuah pesan suci disebutkan, "kemiskinan adalah pangkal kekufuran". 
Untuk itu, saatnya kita melakukan kritik atas pelbagai macam keberagamaan yang 
hanya memonopoli ruang privat sebagai komoditas.

Hampir setiap saat kita menonton tangisan, kepasrahan, dan ketundukan di layar 
kaca. Pertanyaannya, tangisan itu untuk apa dan siapa? Mungkinkah tangisan 
mereka untuk mengasah kepekaan atas orang-orang miskin? Atau tangisan mereka 
adalah tangisan simbolik dan sekadar hiburan sesaat?

Kritik seperti ini penting untuk membongkar praktik-praktik keagamaan yang jauh 
dari konteks sosial masyarakat. Alih-alih ingin "menangisi nasib masyarakat", 
kalangan agamawan sebagaimana dilihat oleh Olivier Roy dalam Globalized Islam: 
The Search for a New Ummah telah melakukan privatisasi agama.

Karena itu, modernisasi agama sebenarnya tidak selamanya ingin mengetengahkan 
saripati dan pesan sosial sosial agama, tetapi justru mengerdilkan hakikat 
agama, bahkan hanya menjadikan agama sebagai komoditas ekonomi.

Karena itu, amat disayangkan bila pelbagai praktik ritual terjebak dalam 
privatisasi agama. Agama tidak diposisikan dalam kerangka menyelesaikan masalah 
kemiskinan, sebaliknya justru memapankan kemiskinan. Sebab, dalam keberagamaan 
yang privat itu, agama dijadikan komoditas belaka.

Persis seperti diungkapkan Ibnu Rushd, pendekatan retorik cenderung 
dikedepankan oleh kalangan agamawan daripada pendekatan rasional bukan untuk 
menyingkap pesan kemaslahatan sosial, tetapi untuk menyesuaikan dengan konteks 
umat umumnya. Namun, untuk konteks sekarang, pendekatan retorik mengalami 
pergeseran amat jauh, hanya digunakan sebagai komoditas dan market.

DI sinilah refeleksi atas keberagamaan menjadi penting. Kisah Supriono dan 
Mardiah harus dijadikan titik tolak untuk merancang bangun keberagamaan yang 
dapat menyoroti dan menyelesaikan pelbagai problem kemiskinan di masyarakat. 
Pengalaman Teologi Pembebasan dan Islam Kiri yang berangkat dari tradisi 
agama-agama perlu diaktualisasikan kembali agar agama menjadi keyakinan, cara 
pandang, dan sikap (baca: iman) yang mampu mendongkrak kesadaran sosial. 
Kalangan agamawan harus berpikir dan bekerja keras untuk mengembalikan agama ke 
ranah sosial.

Untuk itu diperlukan beberapa hal mendasar. Pertama, perlunya perangkat 
pemahaman keagamaan yang memberikan perhatian terhadap problem masyarakat, 
utamanya kemiskinan. Peter L Berger (2005), sosiolog agama dari Universitas 
Boston, menyajikan pandangan menarik perihal pentingnya pluralisme yang 
mendorong terwujudnya prinsip kesukarelaan (the voluntary principle). Pesan 
agama yang belum digali secara maksimal adalah pesan kesukarelaan.

Belajar dari sejarah agama-agama, bahwa agama yang bisa bertahan dan berkembang 
adalah agama yang mampu menerjemahkan ajaran kesukarelaan dalam konteks sosial 
yang plural. Kesukarelaan adalah jantung agama-agama. Sebaliknya, agama yang 
tidak mampu menerjemahkan kesukarelaan akan menuai keterbelakangan dan 
keterpurukan.

Kedua, perlu langkah-langkah praksis dari kalangan agamawan untuk memberi 
solusi atas umat yang berada dalam kemiskinan. Lembaga-lembaga sosial yang 
bergerak di bidang bantuan kemanusiaan harus menjadi prioritas utama.

Ihwal pengentasan kemiskinan bagi masyarakat sekitar pesantren, Masdar F 
Mas'udi mempunyai usul menarik. Para ulama mempunyai database orang-orang 
miskin (www.islamemansipatoris.com). Hakikatnya ulama adalah pemimpin dan 
pelayan masyarakat. Karena itu, harus mengetahui nasib masyarakat. Kemiskinan 
adalah fakta yang tidak bisa diabaikan oleh siapa pun, termasuk ulama.

Ketiga, perlu sikap kritis kalangan agamawan atas pemerintah yang bertanggung 
jawab dalam mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Ini juga menjadi bagian 
langkah praksis, sekaligus dorongan moral agar pemerintah bekerja semaksimal 
mungkin.

Merebaknya penyakit busung lapar, polio, dan lumpuh di pelbagai daerah harus 
mendapat perhatian serius pemerintah. Dan kalangan agamawan bisa memosisikan 
diri sebagai kelompok penekan dan pendorong agar pemerintah menjadi pihak yang 
memberi kemaslahatan kepada publik. Institusi keagamaan, ormas, pesantren, dan 
langgar harus mendorong agar pemerintah bekerja semaksimal mungkin untuk 
mengentaskan kemiskinan di bumi pertiwi ini.

Ihwal perhatian atas kemiskinan, Tuhan memberi peringatan keras. Siapa pun yang 
mengabaikan orang-orang miskin dan menghardik anak yatim adalah mereka yang 
sebenarnya mengkhianati dan melanggar norma agama.

Apabila selama ini kita mengabaikan orang-orang seperti Supriono dan Mardiah, 
sebenarnya kita tergolong mereka yang melanggar norma agama: tidak mengasihi 
dan menyantuni orang miskin.

Karena itu, kalangan agamawan harus melawan kemiskinan dengan berbagai upaya, 
termasuk aspek penyadaran, pemberdayaan, dan peningkatan partisipasi masyarakat 
sipil untuk memberikan perhatian pada pengentasan kemiskinan.

Zuhairi Misrawi Peneliti Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat 
(P3M), Jakarta


[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke