http://www.sinarharapan.co.id/berita/0506/25/fea01.html


 SABDA
 Pembuat Mukjizat 
 
Oleh: Eka Darmaputera


Konon, ada dua orang berkebangsaan Arab sedang riuh berdebat di depan stasiun 
Jenewa, Swiss. Karena gerak dan ekspresi tubuh mereka yang terkenal "ramai" 
itu, seseorang menafsirkan mereka sebagai tengah bertengkar hebat. Maka, 
melaporlah ia ke polisi. Dengan mudah kita dapat menduga, isi laporan orang itu 
pastilah hasil "salah pemahaman" dan "salah penafsiran". "Khayalan" atau 
"ilusi" semata. 

Mirip seperti itu pulalah proses terjadinya apa yang saya sebut sebagai 
"ilusinasi iman". Karena ada "salah pemahaman" mengenai pokok-pokok iman 
Kristen tertentu, lahirlah "salah penafsiran". Dan bilamana pokok-pokok iman 
Kristen-yang telah disalahpahami-itulah yang disajikan ke luar, kita tahu apa 
yang terjadi. Yang disajikan itu bukanlah iman Kristen yang sebenarnya, tapi 
hasil "khayalan" atau "ilusi" belaka. "Tuhan" yang diperkenalkan juga tidak 
lebih dari hasil "spekulasi" atau "fantasi" penyajinya. Bukan Tuhan yang 
"sejati", bukan Tuhan yang "asli". 

Celakanya, karena itulah yang tersaji ke luar, itu pula yang dibaca, didengar, 
dan dilihat oleh "dunia". Bagi mereka, itulah iman Kristiani yang 
sebenar-benarnya. Dan berdasarkan itu pula, "dunia" lalu memberikan 
penilaiannya. Hasilnya? Lebih banyak menolak, ketimbang menerima.
Harus diakui, membedakan antara mana yang "ilusi" dan mana yang "asli" memang 
tidak mudah. Mengapa? Sebab yang "ilusi" itu biasanya tak seluruhnya salah. 
"Tapi yang dikatakan itu, 'kan berdasarkan Alkitab juga!," begitu mereka 
menyanggah. 

Yang tidak mereka sadari adalah bahwa-walaupun tidak 100 persen salah-yang 
mereka percayai itu cuma 50 persen benar. Dan secara kualitatif, tak ada 
perbedaan gradasi antara "50 persen benar" dan "100 persen salah", bukan? 
Walaupun cuma setengah persen, kalau salah ya tetap saja salah. 

***

DI SAMPING sulit mendeteksinya, "ilusinasi iman" juga banyak corak dan 
ragamnya. Kita telah membahas dua varian dari padanya. Yang pertama adalah 
sikap yang "dualistis" atau "mendua" terhadap Tuhan, yakni ketika yang tampak 
adalah orang begitu memperhatikan dan menomorsatukan Tuhan-nya. Namun bila kita 
teliti lebih cermat, pada sisinya yang lain, astaga, semua itu tenyata sarat 
dengan "pamrih". 

Mulut dan sikap tubuh mereka memuji dan memuja Tuhan. Namun di benak dan hati 
mereka, maksud utama mereka adalah upaya "menyogok" Dia agar "Tuhan" bersedia 
mereka "perintah-perintah"-seperti "pejabat" yang telah berhasil "dibeli" oleh 
"cukong"-siap memenuhi apa pun yang mereka minta. 

Bentuk "ilusinasi iman" yang kedua yang telah kita bahas adalah yang menyajikan 
Tuhan sebagai Tuhan yang amat pemurah. Tuhan, sang "Sinterklas Agung"! Sepintas 
lalu ini tidak salah, bukan? Bukankah Tuhan memang murah hati? 
Ya! Tapi menurut "versi" khusus ini, hanya kepada sekelompok kecil orang 
sajalah Ia "royal" menuang berkat. Sedang kepada mayoritas manusia lainnya? Ia 
menutup mata dan telinga-Nya. Dan bila Anda bertanya, mengapa Ia 
se-"diskriminatif" itu? Jawab mereka adalah: sebab mereka adalah orang-orang 
"kafir", walaupun beragama. Mereka menganut agama dan kepercayaan yang berbeda. 
***

SEMUA itu jelas-jelas berlawanan dengan sifat-sifat Tuhan yang disaksikan oleh 
alkitab, bukan? Kini kita akan membahas bentuk "ilusinasi iman" yang lain, 
yakni yang ketiga. Di sini, Tuhan diperkenalkan terutama sebagai Allah yang 
"MAHA KUASA". Allah yang "MAHA HERAN". Allah, sang "Pembuat Mukjizat". God, the 
"miracle-worker". 
Ini pun tak sepenuhnya salah, bukan? Tentu tidak! Alkitab penuh dengan 
kesaksian-kesaksian tentang betapa "ajaib"nya kemahakuasaan Tuhan! Yesus 
sendiri menjelaskan kemesiasan-Nya melalui mukjizat-mukjizat yang 
dilakukan-Nya. Kata-Nya, "Pergilah dan katakanlah apa yang kamu lihat dan kamu 
dengar. Orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, 
orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin 
diberitakan kabar baik" (Lukas 7:22). 

Jadi, di mana letak permasalahan dan kesalahannya? Jawabnya: tatkala "mukjizat" 
diberi peran yang terlalu penting, malah paling sentral dan paling krusial, 
dalam "iman kristen", padahal sebenarnya tidak;
Ketika kadar kekristenan seseorang diukur dari pernah-tidaknya ia mengalami 
mukjizat. Bila keabsahan seseorang sebagai hamba Tuhan dinilai dari 
banyak-sedikitnya mukjizat yang berhasil diperbuatnya, dan seterusnya.

***
SECARA populer, orang memahami "mukjizat" sebagai peristiwa yang ajaib, aneh, 
atau luar biasa, karena tak terjelaskan oleh akal sehat, tak sejalan dengan apa 
yang "biasa" berlaku, bahkan bertentangan dengan hukum alam yang ada. 

Bila seorang balita ditemukan masih hidup, setelah 3 hari tanpa makan tanpa 
minum tertimbun di bawah reruntuhan akibat gempa seperti terjadi di Nias 
baru-baru ini, orang berkata, "Ini sungguh suatu mukjizat!". Bila ada orang 
masih bisa keluar hidup-hidup dalam keadaan utuh, dari tengah mobilnya yang 
hancur-lebur akibat menabrak tanggul, orang juga akan berkata, "Hanya mukjizat 
yang menyelamatkannya!". 

Secara naluriah, manusia memang memiliki semacam "ketertarikan" tertentu pada 
"mukjizat" dalam pengertian yang saya paparkan di atas. Orang suka pada yang 
"aneh-aneh", khususnya bila cara atau metode yang lebih alamiah, logis dan 
normal tidak berdaya menghasilkan hasil yang diharapkan, atau ketika tingkat 
ilmu pengetahuan seseorang belum mampu menjelaskan gejala atau peristiwa yang 
terjadi. 

Tidak mengherankan bukan, bila klenik, perdukunan, dan praktik-praktik 
paranormal tetap hidup-bahkan pada waktu-waktu tertentu mengalami "boom"-di 
zaman modern ini. Bukan hanya di Dunia Ketiga, tapi juga di negara-negara 
supra-modern seperti Amerika. Nancy Reagan, konon, punya dukun langganannya. 
MOSAD, badan intelejen Israel yang terkenal hebat itu, konon selalu 
berkonsultasi dengan astrolog sebelum melakukan operasi penting. 
Sebab itu juga tidak aneh bukan, bila gereja-gereja atau aliran-aliran yang 
amat menekankan "mukjizat"-acapkali nyaris tak ada bedanya dengan dunia klenik, 
perdukunan, dan paranormal di dunia "sekuler"-kini menjadi yang paling pesat 
perkembangannya? Adapun penyebabnya tak lain adalah karena mereka lebih 
memenuhi hasrat terpendam yang ada secara naluriah pada manusia. 

***

NAMUN di sinilah letak salah satu persoalan serta ganjalan antara "dunia" 
dengan "kekristenan"-nota bene "kekristenan" yang telah mengalami proses 
"ilusinasi". Dunia menolak kekristenan dan menganggap iman Kristiani tidak 
layak lagi dipegangi oleh orang modern karena dalam pandangan mereka 
kekristenan yang memberi penekanan yang berlebih-lebihan pada faktor "mukjizat" 
tersebut, memenuhi segala persyaratan untuk disebut sebagai "tahayul". 

Pada waktu manusia dengan kemampuan akalnya serta metode ilmiahnya belum dapat 
menjelaskan gejala-gejala atau peristiwa-peristiwa yang ia alami, ia akan 
menyebut gejala atau peristiwa itu sebagai "mukjizat". Bagi suku-suku yang amat 
"primitif", membuat api sekali jadi dengan menggoreskan korek-api, adalah 
"mukjizat". Berhasil menurunkan suhu badan yang tinggi karena demam dalam 
sekejap, dengan memberikan kepada yang bersangkutan obat penurun panas, adalah 
"mukjizat". Melihat besi sebesar itu mampu terbang tinggi, adalah mukjizat".

Ya. Tapi sekarang dengan beberapa kekecualian, perkembangan ilmu pengetahuan 
serta teknologi yang terjadi nyaris mampu menjelaskan segala sesuatu secara 
rasional. Atau, kalau belum semua mampu dijelaskan secara ilmiah, yang "belum" 
itu jumlahnya semakin berkurang, dan pada satu saat pasti akan hilang. 

Bila ini yang terjadi, demikian "dunia" bertanya, satu waktu tak akan ada lagi 
apa yang disebut "mukjizat" itu. Mempercayai iman yang menggantungkan diri 
kepada mukjizat berarti sama saja dengan menggantungkan diri pada apa yang 
pasti akan lenyap. 

Jadi, apa gunanya? Bila toh ada hal-hal yang sekarang "belum" terjelaskan atau 
masih merupakan "misteri", maka pendekatan yang paling rasional menghadapi 
kenyataan tersebut, bukanlah dengan jalan menanti-nantikan "mukjizat", tapi 
dengan menggalakkan atau mengintensifkan penelitian-penelitian ilmiah. Tidak 
dengan lari ke dunia paranormal, namun mencari penjelasan-penjelasan rasional. 

Begitulah yang mestinya dilakukan. Sebab itu, kata "dunia", bila Anda memilih 
untuk mempercayai "tahayul" ya silakan saja. Tapi jelas ini bukan pilihan yang 
cerdas dan bijak! Hanya akan membuat Anda akan ikut terkubur bersama masa silam!

Tambahan pula, renungkanlah persoalan-persoalan besar yang ada di dunia ini. 
Kebodohan, kemelaratan, ketidak-adilan, wabah penyakit, dan sebagainya. Akan 
terpecahkankah ini dengan jalan "mukjizat"? Atau, hanya dapat dijawab dengan 
ber"cancut tali wondo", bekerja keras dengan otak dan tangan kita?
Demikianlah "dunia" bertanya. Apa jawab kita? n
 
  
Copyright © Sinar Harapan 2003 
 





 
 

[Non-text portions of this message have been removed]



Post message: [EMAIL PROTECTED]
Subscribe   :  [EMAIL PROTECTED]
Unsubscribe :  [EMAIL PROTECTED]
List owner  :  [EMAIL PROTECTED]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/ 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke