Akan ada sekelompok orang yang merasa punya dan menggabungkannya dengan 
norma-norma agama yang dianut.


--- In [email protected], "Sunny" <ambon@...> wrote:
>
> There is not  Asian Value because it is not homogenes and therefore can’t 
> be applied for non of the countries in the region.
> 
> From: Teddy S. 
> Sent: Saturday, December 24, 2011 11:12 PM
> To: [email protected] 
> Subject: [proletar] Re: Umat Islam Jangan Sampai Diracuni Dengan Budaya Natal
> 
>   
> http://en.wikipedia.org/wiki/Asian_values
> 
> --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "Sunny" <ambon@> wrote:
> >
> > Budaya timur itu yang bagaimana kalau ada.
> > 
> > From: Teddy S. 
> > Sent: Saturday, December 24, 2011 6:43 PM
> > To: mailto:proletar%40yahoogroups.com 
> > Subject: [proletar] Re: Umat Islam Jangan Sampai Diracuni Dengan Budaya 
> > Natal
> > 
> > 
> > Ngawur, "Mistletoe" tidak sama dengan pohon cemara.
> > Ada tradisi Barat untuk mencium gadis yang berdiri dibawah "Mistletoe" 
> > tergantung pada saat Natal. Sama halnya seperti cari posisi didekat seorang 
> > gadis cantik saat menjelang tahun baru agar bisa kebagian mencium sang 
> > gadis.
> > 
> > Uuups, ini budaya Barat.
> > 
> > --- In mailto:proletar%40yahoogroups.com, "Sunny" <ambon@> wrote:
> > >
> > > Refl Barangkali supaya tidak diracuni, maka seharusnya yang berdagang, 
> > > mempunyai toko, restauran atau transport, etc berhenti berbisnis selama 3 
> > > bulam bulan mulai 1 November s/d 31 Januari. Bagi yang mempunyai pendapat 
> > > atau usulan lebih jitu, silahkan dikemukakan.
> > > 
> > > 
> > > http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2011/12/24/17174/umat-islam-jangan-sampai-diracuni-dengan-budaya-natal/
> > > 
> > > Sabtu, 24 Dec 2011
> > > 
> > > Umat Islam Jangan Sampai Diracuni Dengan Budaya Natal
> > > JAKARTA (voa-islam.com) - Hari raya natal yang diperingati umat Kristiani 
> > > sudah menjadi budaya di negeri-negeri mayoritas Kristen. Natal yang tidak 
> > > pernah ada contohnya dan diperintahkan dalam bible ini oleh Herbert W. 
> > > Amstrong dalam bukunya The Plain Truth about Christmas terang-terangan 
> > > dikritik lantaran budaya natal ini berasal dari budaya pagan.
> > > 
> > > Masih dalam buku tersebut, atribut-atribut natal seperti pohon cemara 
> > > juga merupakan budaya pagan kuno, pohon itu disebut "Mistletoe" yang 
> > > dipakai pada saat perayaan musim panas, karena mereka harus memberikan 
> > > persembahan suci kepada matahari, yang telah memberikan mukjizat 
> > > penyembuhan.
> > > 
> > > Sementara kisah Sinterklas atau Santa Claus asalnya adalah Santo Nicolas 
> > > seorang pendeta yang diagung-agungkan oleh bangsa Yunani dan Latin.
> > > 
> > > Dari sinilah kemudian budaya natal mendunia di tengah-tengah kaum 
> > > kristiani dengan atribut-atribut pohon natal dan Sinterklas. Budaya ini 
> > > pun lama kelamaan menjalar ke berbagai negeri muslim seperti di 
> > > Indonesia. Ironisnya yang ikut meramaikan syiar agama Kristen ini adalah 
> > > umat Islam sendiri baik secara sukarela maupun terpaksa. Fakta ini bisa 
> > > kita lihat di berbagai perusahaan ataupun ritail-ritail di mal di mana 
> > > mereka yang mengenakan atribut natal seperti Sinterklas adalah 
> > > karyawan-karyawan muslim.
> > > 
> > > Melihat fenomena tersebut Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) pusat KH. 
> > > Ahmad Cholil Ridwan, Lc. mengungkapkan bahwa bagaimana pun perayaan natal 
> > > merupakan bagian dari perang budaya yang dilancarkan oleh barat terhadap 
> > > Islam. Lebih lanjut ia mengibaratkan budaya seperti bunga dalam satu 
> > > pohon sedangkan rantingnya adalah syari’at dan akarnya adalah 
> > > ‘aqidah.
> > > 
> > > “Natalan itu saya kira budaya, di mana sekarang itu sedang 
> > > perang budaya Islam dengan budaya barat. Budaya itu ibarat bunga bagi 
> > > pohon, batangnya dengan rantingnya itu kan syari’at ibadah, 
> > > ‘aqidahnya itu akar. Seperti pakaian menutup aurat itu 
> > > syari’at tapi bentuk warna, bahan, corak pakaian yang menutup 
> > > aurat itu budaya. Seperti di timur tengah, orang laki-laki Indonesia 
> > > pecinya hitam, syari’atnya adalah menutup kepala, cara menutup 
> > > kepala apakah pakai peci atau blangkon itu budaya,” jelasnya 
> > > kepada voa-islam.com Senin (19/12).
> > > 
> > > Budaya menurut ulama yang juga pimpinan SKPPMI (Syabakah Konsumen 
> > > Pengusaha Produsen Muslim Indonesia) ini bukanya tidak berbahaya, justru 
> > > menurutnya jika budaya ini telah terkontaminasi maka laksana pestisida 
> > > yang ditaburkan, meski awalnya hanya mengenai daun nantinya ranting 
> > > hingga akarnya pun juga akan kering bahkan mati.
> > > 
> > > “Budaya ini bukan tidak berbahaya justru sangat berbahaya. 
> > > Apabila pohon itu daunnya disemprot dengan racun, maka nanti seminggu 
> > > daunnya rontok sampai nanti kemudian anting dan cabangnya ikut kering, 
> > > tiga minggu hingga sebulan nanti akarnya ikut kering lalu matilah pohon 
> > > itu secara total, seperti petani kalau menghilangkan hama kan 
> > > begitu,” paparnya.
> > > 
> > > Akhirnya pengasuh Ponpes Al Husnayain ini mengimbau agar umat Islam 
> > > menolak budaya yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam seperti budaya 
> > > mengucapkan selamat natal atau mengenakan atribut-atribut natal.
> > > 
> > > “Nah, budaya barat itu racun, kalau pohon Islam itu sudah 
> > > diracuni dengan budaya barat dengan Sinterklas, ucapan selamat natal dan 
> > > lain sebagainya, akarnya itu akan ikut rusak. Jadi umat Islam harus 
> > > menyerukan bahwa budaya yang bertentangan dengan syari’at 
> > > Islam itu harus ditolak karena budaya itu harus sesuai dan sejalan dengan 
> > > syari’at Islam,” tutupnya. (Ahmed Widad
> > > 
> > > 
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>




------------------------------------

Post message: [email protected]
Subscribe   :  [email protected]
Unsubscribe :  [email protected]
List owner  :  [email protected]
Homepage    :  http://proletar.8m.com/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/proletar/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke